My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (23)



Kemarin merupakan hari yang paling spesial untuk Adara karena untuk pertama kalinya dia merasa berharga dan sadar bahwa masih ada orang yang peduli padanya. Selesai acara kejutan tadi ketika mereka pergi ke kamar Devina dan ketiga temannya bergantian memeluk Adara sambil mengucapkan selamat ulang tahun.


Ada hadiah juga yang ketiganya berikan dan Adara tau bahwa ini adalah pertama kalinya ulang tahun dia dirayakan dengan cukup meriah. Dulu Adara hanya merayakannya bersama Bunda atau Kakeknya, iya hanya berdua tanpa ada orang lain yang menyertainya termasuk Ayahnya sendiri.


Bahkan pria paruh baya itu tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun hanya kata umpatan yang selalu Adara dapatkan dari Juan.


'Anak sialan kenapa kamu tidak mati saja?!'


Adara ingin tertawa kala mengingatnya, pernah bayangkan anak berusia lima tahun mendapat perlakuan kasar seperti itu dari Ayahnya sendiri?


Sering kali mendapatkan kata kasar juga perlakuan kasar membuat Adara juga tumbuh menjadi gadis yang tidak memiliki simpati. Sering kali dia bertengkar hingga Bunda selalu memberikan peringatan agar dia berubah, tapi Adara tidak pernah dengar.


Ada satu kejadian yang mengganjal di hati Adara dan tidak akan pernah bisa dia lupakan.


'Kamu wanita murahan yang menghancurkan segalanya! Sudah saya bilang untuk menggugurkan kandungan itu, tapi kamu malah memepertahankannya!'


Kala itu Bunda nya di dorong hingga membentur lemari tepat beberapa minggu setelah kematian Kakeknya dan ketentuan hak warisan di bacakan. Warisan yang mengatur bahwa sebagian harta peninggalkan Kakeknya adalah milik Bunda dan Adara.


'Dia tidak bersalah! Adara hanya anak yang tidak tau apa-apa, kenapa aku harus membunuhnya?'


Adara mengintip kala itu dia melihat Bunda nya bicara dengan air mata yang mengalir di pipinya hingga dia melihat Juan menampar Bunda nya dengan keras.


Saat itu Adara marah dia berlari masuk dan memeluk Bundanya yang membuat Juan semakin marah hingga menjambak kuat rambutnya. Setelah kematian Kakeknya semua sikap kasar Juan padanya keluar.


'Jangan sakiti anakku! Adara sayang keluar'


Adara tidak pernah keluar dia diam sambil terus memeluk Bundanya dengan erat dan mengabaikan sakit dikepalanya akibat jambakan kuat yang dia terima.


'Jangan sakitin Bunda'


Bukan berhenti Juan menarik Adara dan mendorongnya hingga jatuh lalu menjambak Bunda nya. Saat itu Adara tidak memikirkan apapun dia hanya mengambil buku tebal yang ada di meja lalu memukul Juan dengan kuat.


'Pergi jangan sakitin Bunda!'


Setelah itu Adara ditarik paksa hingga dia meringis kesakitan apalagi ketika tubuhnya di hempas dan Juan menutup pintu. Saat itu telinga Adara menjadi saksi begitu banyak barang yang dibanting serta betapa kerasnya isakan Bunda nya dan Adara sama sekali tidak mau beranjak dari tempatnya.


Adara terus mengetuk pintu hingga entah berapa lama, tapi ketika Juan keluar dia melihat Bunda nya yang terbaring di lantai.


'Bundaa'


Ada darah segar mengalir di sudut bibirnya dan ada begitu banyak pecahan kaca di lantai. Saat itu Adara sadar bahwa kebahagiaan tidak akan pernah berlaku untuknya.


"Adara?"


Perlahan suara itu masuk ke dalam telinga Adara membuat dia tersentak dan menoleh. Melihat Devano yang ada di belakangnya Adara tersenyum tipis lalu menghapus air matanya.


"Kenapa?"


Tadi Adara bangun lebih awal lalu dia pergi ke halaman belakang dan merendam sedikit kakinya ke dalam kolam renang sambil menatap matahari yang perlahan muncul.


"Enggak"


Helaan nafas terdengar bersamaan dengan wajah Adara yang dibawa untuk menatap ke Devano.


"Tadi nangis kenapa?" Tanya Devano dengan lembut


Adara tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak papa." Kata Adara pelan


"Adara kamu kenapa?" Tanya Devano lagi


"Enggak ada Van cuman keinget Bunda." Kata Adara


"Kangen ya sama Bunda?" Tanya Devano yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Adara


"Kangen banget, aku gak pernah dapat kejutan kayak tadi malam dan biasanya kalau ulang tahun Bunda cuman buatin kue atau masak makanan kesukaan aku." Kata Adara


Devano tersenyum singkat lalu membawa Adara ke dalam pelukannya.


"Adara"


"Hmm"


"Aku ada sesuatu kamu tunggu sini ya?" Kata Devano


Adara melepaskan pelukannya dan menatap Devano dengan alis bertaut, tapi Devano tidak mengatakan apapun dia beranjak dan berlari kecil ke dalam. Tak butuh waktu lama Devano kembali dengan kotak hadiah yang dia bawa.


"Mommy kasih ini untuk kamu." Kata Devano


"Itu apa?" Tanya Adara


Devano menggelengkan kepalanya pelan dan menyerahkan kotak itu kepada kekasihnya. Begitu kotak itu ada digenggamannya Adara membuka perlahan.


Dan dia tidak bisa menahan senyumnya.


Sebuah kalung cantik berbandul bulan ada disana dan ada sebuah foto juga yang membuat Adara langsung mengambilnya.


"Foto yang waktu itu ketika kamu ke rumah." Kata Devano


Adara tersenyum, dia memang pernah berfoto bersama dengan Fahisa ketika pergi ke rumah kekasihnya.


"Makasih"


"Waktu aku bilang mau kesini Mommy ngomel karen aku gak bilang dari awal, katanya dia mau nyiapin kado dan akhirnya ada kalung itu yang baru Mommy beli dan belum sempat di pakai." Kata Devano


"Mau bantu pakein untuk aku?" Tanya Adara


Devano tersenyum lalu mengambil kalung itu dan memakaikan untuk kekasihnya.


"Cantik"


"Aku suka kalungnya." Kata Adara


Tersenyum manis Devano mengusap pipi kekasihnya itu dengan sayang, tapi suasana itu terganggu dengan suara Devina.


"Ihh Vanoo lagi pacaran yaa?"


Menoleh ke belakang Devano tertawa kecil lalu menjauhkan tangannya dan Devina berjalan mendekat sambil duduk disebelah Adara.


"Pagi Daraa"


"Hm pagii"


"Kamu bangunnya cepet banget." Kata Devina


"Iya kebangun." Kata Adara sambil tersenyum


Devina mengangguk singkat lalu ikut menurunkan kakinya hingga mengenai air kolam.


"Aku mau berenang." Kata Devina


"Enggak"


"Iya mau udah lama deh gak pernah renang." Kata Adara


"Enggak!"


Keduanya menatap Devano dengan sebal, tapi pria itu terlihat biasa saja.


"Kenapaa?" Tanya Devina


"Disini banyak cowok." Kata Devano


"Ya memang kenapa? Kan masih pakai baju." Kata Devina


"Iya Van gak papa sih lagian juga kan disini." Kata Adara


"Enggak!" Kata Devano tetap pada pendiriannya


"Aku mau renang." Kata Devina


Devano berseru kesal ketika Devina malah menceburkan dirinya ke kolam lalu tertawa sambil menatap kembarannya.


"Vina naikk!" Kata Devano


Sesekali dia menoleh karena takut teman-temannya atau Ziko datang.


"Vano aja yang turun, ayo Dara juga turun." Kata Devina


Tanpa menunggu jawaban Devina menarik tangan Adara hingga dia masuk ke dalam kolam renang.


"Astaga kalian kenapa malah turun?" Kata Devano kesal


"Ishh Vano gak asik." Keluh Devina


Dengan jahil Devina mencipratkan air ke arah Devano hingga berkali-kali membuat kembarannya itu berseru kesal.


"Turun Vanoo turunnn"


"Vinaa!"


Bersamaan dengan itu Alex keluar bersama dengan yang lainnya termasuk Ziko karena mendengar suara ribut.


"Wahh pada berenang"


Devano langsung menoleh dia menatap teman-temannya dengan tajam dan meminta mereka untuk pergi.


"Sana jangan pada disini." Usir Devano


"Dih picik lu aja dari tadi disana." Kata Alex


Devano mendengus kesal dan dengan paksa mendorong tubuh mereka keluar, tapi empat berbanding satu tentu saja kalah.


"Gak usah pada turun!" Ketus Devano


Tak sampai disitu Mona dan yang lainnya datang lalu mereka berseru senang ketika melihat Devina juga Adara disana. Tanpa fikir panjang mereka langsung turun dan bergabung disana setelah Devina mengajak mereka.


"Mona siniii berenang." Ajak Devina dengan penuh semangat


Melihat hal itu Devano langsung mengajak yang lainnya keluar dan mencari makan.


"Udah keluar! Gak mungkin kan mau rame-rame." Ketus Devano


Mereka mendengus kesal dan hanya mengikut saja ketika Devano mengajak mereka untuk mencari makan.


Devano masih saja posesif.


¤¤¤


"Devinaa!"


Mata Devano melotot dia berlari ke arah Devina yang baru saja naik dari kolam renang dengan pakaian basah semua, tapi dengan santainya berjalan ke arah mereka ketika Devano dan yang lainnya pulang dari membeli makan. Memang tidak ada yang salah Devina memakai kaos hitam yang tidak membuat apapun tercetak dan Devina juga memakai celana panjang.


Menoleh ke belakang Devano mendengus kesal lalu membalik badan Devina dan mendorongnya pelan agar berjalan ke depan. Devina mengerucutkan bibirnya kesal karena tadi dia ingin melihat makanan apa yang mereka beli.


"Vano ihh lepasinn!" Keluh Devina


"Kamu masih basah semua itu bajunya ngapain jalan-jalan! Lihat kan basah lantainya nanti kamu jatuh." Kata Devano


Devina menghela nafasnya pelan lalu diam ketika Devano membawanya ke kolam renang dimana yang lainnya juga ada disana. Tanpa mau melihat ke sana Devano berbicara dan meminta mereka untuk makan lebih dulu.


"Gue sama yang lain udah beli makan, kalian udahan dan mandi terus makan." Kata Devano


Setelah mengatakan itu Devano memperingati Devina lagi dan pergi menghampiri teman-temannya. Sekarang yang lainnya berada di dapur sedang menyiapkan makan untuk masing-masing.


Begitu Devano datang mereka berhenti sebentar lalu melanjutkan kegiatannya lagi ketika Devano mengambil piring.


"Masih pada berenang tah?" Tanya Alex


"Udah pada mau balik gue suruh makan." Kata Devano


"Wah licik lo ngeliatin mereka tadi ya?" Tuding Alex membuat Devano mendengus kesal lalu menatapnya dengan tajam


"Gue bukan cowok mesum! Sumpah gue nyesel ngajak lo Lex." Kata Devano


"Ehh tidak boleh begitu Devano kalau tidak aku aku pasti tidak seru nanti gak ada yang godain Devina." Kata Alex


Ziko meletakkan sendoknya dengan kasar lalu menatap Alex sengit.


"Lo dari kemaren ngajak ribut terus!" Ketus Ziko


"Apa? Gue nih biasa aja kalian aja yang lebay." Kata Alex santai


Mendengus kesal Ziko sedikit menarik kursi dengan kasar lalu duduk untuk memulai sarapannya.


Saat mereka tengah makan yang Devina dan yang lainnya datang dan tentu saja kali ini mereka sudah selesai mandi juga berganti baju. Mengambil piring dan menyiapkan sarapannya Devina duduk disamping sang kekasih lalu tersenyum padanya.


"Van kita pulang jam berapa?" Tanya Mona ketika dia sudah bergabung di meja makan


"Jam tiga mungkin biar gak sampe malem." Kata Devano


Mereka mengangguk faham lalu kembali menyantap sarapan dalam diam. Sebenarnya Devina masih ingin disini, tapi dia harus kuliah dan tidak mungkin juga tinggal disini terus.


"Vin nanti kita jalan-jalan yuk?"


Devina tersentak ketika mendengar bisikan di telinganya, tapi ketika dia menatap sang kekasih senyumnya muncul dan dia langsung mengangguk.


Jalan-jalan bersama Ziko sebelum mereka pulang kedengarannya akan menyenangkan.


¤¤¤


Part selanjutnya akan penuh dengan keuwuan Vina-Ziko😂


Aduhh updatenya kepagian gak iniii😋