My Possessive Twins

My Possessive Twins
30 : Taken By Ziko



Kata cinta yang keluar dari bibir sahabat baiknya membuat Devina tidak bisa berkata-kata dan hanya diam dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Masih terdengar jelas ditelinganya suara Ziko yang mengatakan cina dan hatinya menghangat, dia bahagia mendengarnya.


Semua rasa ragu yang sempat Devina rasakan lenyap begitu saja dan tatapan tedu Ziko serta senyum manisnya membuat jantung Devina semakin menggila. Saat tangan Ziko mengusap lembut tangan mungilnya Devina tersentak dan sekali lagi Ziko tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya untuk pergi menghampiri yang lainnya karena sebentar lagi dia akan tampil.


Mendadak perkataan teman-temannya terngiang di telinga Devina membuat senyum manisnya perlahan terbentuk.


'Ziko itu suka sama lo Vina! Kesel deh gak peka-peka'


'Kasih kepastian dong Vin masa digantung terus Zikonya'


'Ziko korban friendzone ya? Kasian Vina nya gak peka'


Peka, mungkin Devina memang tidak peka, tapi bukan salahnya juga Ziko sendiri hanya diam dan Devina tidak merasa kalau sahabatnya itu menyukai dia dan bodohnya lagi dia malah mengira kalau Ziko menyukai Adyra.


Saat sahabat baiknya itu naik ke atas bersama ketiga temannya untuk tampil Devina tersenyum ketika Ziko menatap matanya dengan dalam. Suara tarikan nafas terdengar di mic dan Ziko mulai bicara dia mengatakan bahwa mereka akan membawakan tiga buah lagu serta satu lagu spesial yang akan Ziko nyanyikan seorang diri.


'Aku bakal nyanyi sebuah lagu spesial untuk kamu'


Devina tersenyum dengan begitu lebar dan menahan debaran jantungnya yang menggila ketika alunan musik mulai terdengar.


Memainkan jari-jari tangannya karena gugup Devina kembali tersenyum ketika sahabat baiknya mulai bernyanyi dengan suara indah yang selalu dia sukai dan dengarkan setiap harinya.


Di bagian belakang teman-trman Ziko menatap tidak percaya ketika melihat temannya bernyanyi dengan suara yang merdu bahkan Mona sampai membuka sedikit mulutnya karena kaget.


Memang Ziko pernah bernyanyi ketika di rumah, tapi suaranya tidak pernah semerdu itu bahkan bisa dibilang fals.


Ternyata Ziko menyimpan bakat yang tak pernah mereka tau.


"Gila gue gak nyangka kalau suara Ziko bagus dan dia keren banget pas main gitar." Kata Cessa sambil memandang ke depan dengan takjub


"Devina gila sih kalau sampai nolak Ziko." Kata Nayla yang disetujui dengan yang lainnya


"Sangat gila, Ziko kurang apa coba? Apalagi kalau sama Devina kita tau gimana perhatiannya dia sama Vina kan? Gimana bisa Vina gak peka banget jadi orang?" Kata Mona sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Sebenernya bukan salah Vina doang sih, tapi Ziko juga yang gak pernah mau nyoba untuk maju, kalian inget kan waktu di kantin dia bilang asal Vina bahagia dia gak masalah." Kata Gio


"Tapi, waktu tau Alex bilang sayang dia kebakaran jenggot." Kata Mona membuat yang lainnya ikut tertawa mendengarnya


"Dia sebenernya gak rela kalau Vina sama Alex, tapi dia terlalu takut untuk jujur karena gak mau kalau Vina malah ngejauh." Kata Cessa


"Dia orang yang saling suka gue yang gemes." Kata Mona


"Gue heran kenapa Ziko pas di sekolah kalau nyanyi suaranya fals?" Tanya Nayla membuat yang lainnya menatap ke arahnya


Mereka juga bingung karena ketika di sekolah Ziko menyanyi dengan suara biasa, tapi ternyata pria itu punya suara yang indah dan pandai bermain gitar juga.


"Gue yakin kalau anak sekolah pada tau pasti banyak deh yang jadi fansnya Ziko." Kata Cessa


"Dia bobrok gitu aja banyak yang suka." Ujar Gio


Memang banyak yang menyukai Ziko karena dia tampan dan ramah, tapi kalau tau hal ini pasti bakal makin banyak deh yang suka sama dia.


Kembali pada Ziko yang sekarang sudah sendirian tanpa teman-temannya yang lain.


Helaan nafas Ziko terdengar bersamaan dengan tawa kecilnya dan dia mulai bicara sambil menatap Devina lalu tersenyum manis, mendadak rasa gugup menyerangnya.


"Saya ehmm... saya akan membawakan satu lagu lagi." Kata Ziko gugup


Semua pasang mata menatap ke arahnya termasuk Devina yang menatapnya dengan senyuman manis juga rona merah di pipinya, Ziko gila melihatnya.


Dehaman kembali terdengar Ziko merasa sangat gugup bahkan tangannya mulai berkeringat dan menggenggam erat gitarnya.


"Lagu ini untuk seseorang yang sangat berarti untuk saya." Kata Ziko pelan


Memandang kesegala arah Ziko tersenyum geli ketika melihat teman-temannya menatap dengan tajam karena dia tidak kunjung bicara.


"Lagu spesial untuk orang spesial, Devina aku nyanyi lagu ini untuk kamu." Kata Ziko


Banyak pasang mata menelusuri isi cafe mencari orang yang Ziko maksud dan ada juga yang memberikan seruan, siapa lagi kalau bukan teman-temannya?


Ditempatnya Devina semakin merasa gugup dan ketika mendengar suara yang sangat dia kenal Devina menoleh lalu matanya membulat sempurna melihat teman-temannya yang tersenyum padanya.


Sial, wajahnya semakin memanas.


Saat suara Ziko kembali terdengar Devina mengalihkan pandangannya ke sana dan menatap pria yang tengah tersenyum tulus ke arahnya.


"Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections"


Menyanyikan sepenggal lagu itu Ziko membuat orang-orang bersorak dan tepuk tangan apalagi ketika dia mengatakan kalimat terakhir sebelum dia memainkan musiknya.


"I love you Vin and i really do. Maaf karena baru berani bilang sekarang"


Devina membeku apalagi ketika orang-orang mulai menatapnya dan berbisik karena menemukan orang yang dimaksud si penyanyi, Ziko.


'Kamu cantik banget sih Vin jadi makin sayang'


'Ya ampun gemes banget sama sayangku kalau lagi ngambek'


'Liat kamu cemberut gitu aku jadi pengen peluk kamu Vin'


'Ngambek ya? Sini peluk dulu'


'Senyum Vin biar tambah cantik'


Sekarang Devina baru sadar kalau sahabatnya itu sangat-sangat perhatian dan selalu menghiburnya, tidak pernah mau kalau didiamkan olehnya. Sejak awal kenal Ziko adalah orang yang selalu menghiburnya meskipun dia menyebalkan, tapi Ziko selalu tau cara untuk membuat senyumnya mengembang.


Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me


I’ll give my all to you


You’re my end and my beginning


Even when I lose I’m winning


‘Cause I give you all of me


And you give me all of you


I give you all, all of me


And you give me all, all of you


Setelah menyelesaikan penggalan akhir lirik lagunya Ziko tersenyum lalu menunduk dengan sopan membuat orang-orang bertepuk tangan heboh. Mata Devina mengikuti langkah kaki Ziko yang menghampirinya membuat orang-orang ikut menatap ke arahnya, dia semakin gugup dan malu.


Tanpa peduli keadaan disekitarnya Ziko duduk dihadapan Devina lalu tersenyum manis.


"Suka gak penampilan aku?" Tanya Ziko dengan suara yang begitu lembut


Ikut tersenyum Devina menganggukkan kepalanya.


"Suka hehe makasih ya Ziko." Kata Devina gugup


Mengangguk singkat Ziko mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu meraih tangan Devina dan meletakkannya disana.


Sebuah gelang sederhana.


"I love you Vin"


Sekali lagi mendengar pernyataan itu membuat jantung Devina kembali menggila, dia diam karena bingung harus memberikan jawaban apa.


"Vin pacaran yuk? Aku cinta kamu Vin meskipun kita masih muda dan banyak yang bilang kalau anak muda itu masih labil, tapi aku gak peduli karena yang aku tau aku cinta kamu, sangat." Kata Ziko


"Maaf karena baru berani jujur, tapi perasaan ini aku udah pendam sejak kita mulai dekat." Kata Ziko lagi


Devina ingin berbicara, tapi dia bingung harus mulai dari mana.


"Aku pakein ke tangan kamu ya?" Kata Ziko


Devina mengangguk lalu sedikit mengangkat lengan bajunya ketika Ziko memakaikan gelang indah itu ke tangannya.


"Emm Ziko"


"Iya?"


"Aku juga"


"Aku juga apa?"


"Ihh aku juga"


"Iya aku juga apa Vin?" Tanya Ziko membuat Devina cemberut dengan pipi memerah


"Aku juga suka kamu." Kata Devina cepat


Mengerjapkan matanya berkali-kali Ziko tersenyum senang setelah sadar perkataan yang gadisnya ucapkan.


Kalimat yang selalu ingin dia dengar dari bibir Devina.


Aku juga suka kamu


Aku juga suka kamu


Aku juga suka kamu


Dengan senyuman Ziko kembali bertanya.


"Jadi, mau jadi pacar aku kan?"


Devina ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih Vin"


"Kembali kasih Ziko"


"Masih gak nyangka, kamu beneran suka aku?"


"Jadi maksudnya aku bercanda?"


"Enggak maaf bukan gitu aku cuman gak nyangka"


Tersenyum tipis keduanya menoleh ketika suara siulan terdengar dan teman-teman mereka sedang menatap dengan tatapan menggoda membuat Devina kembali merona.


"Kenapa yang lainnya bisa ada disini?" Tanya Devina


"Aku yang minta mereka datang." Kata Ziko


Mengerutkan dahinya bingung Devina kembaki bertanya.


"Untuk?"


"Untuk emm? Untuk kasih tau mereka kalau kamu milik aku sekarang"


Devina tertawa dengan detak jantung yang menggila dan pipi memerah.


"Makasih"


"Kembali kasih sayangnya Ziko"


Ya, Devina benar-benar menjadi sayangnya Ziko sekarang.


¤¤¤


"Pacar baru Alhamdulillah"


"Untuk dipamerin ke sekolah"


Wajah cemberut Devina langsung terbentuk mendengar perkataan Gio ketika dia dan Ziko menghampiri yang lainnya. Memberikan sedikit jarak Devina langsung menghampiri Mona dan duduk disampingnya.


Mendengar ledekan temannya Ziko tertawa dan menoyor kepala pria itu hingga membuatnya ikut tertawa. Sedangkan Devina menatap Mona yang tersenyum ke arahnya, senyuman bahagia.


Ternyata Mona benar kalau Ziko itu suka padanya.


Tatapan menggoda dari teman-temannya membuat Devina kembali merona, dia malu sekali.


"Ihh jangan diliatin terusss"


Tertawa kecil Mona merangkul sahabat baiknya dan mengucapkan selamat.


"Uuu akhirnya gak jomblo lagi sayangku." Kata Mona


Devina hanya tersenyum menanggapinya.


"Lega gak Ko?" Tanya Cessa membuat Ziko tertawa kecil mendengarnya


"Bangett"


Ya, Ziko sangat merasa lega setelah mengungkapkan perasaannya.


Ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan.


¤¤¤


Ada yang berbeda ketika Devina turun dari motor Ziko lalu menyerahkan helm yang tadi dia kenakan kepada pria itu dan tersenyum sambil menatapnya. Biasanya Devina akan langsung pamit dan mengatakan kepada Ziko untuk berhati-hati, tapi sekarang Devina menghabiskan waktu bermenit-menit untuk menatap wajah Ziko, kekasihnya.


Sama halnya dengan Devina yang diam Ziko juga menatap gadisnya dengan senyuman, masih belum menyangka kalau sekarang gadis itu adalah kekasihnya.


"Vin"


"Emm"


"Makasih"


"Makasih untuk apa?" Tanya Devina


Suaranya begitu lembut hingga membuat Ziko tersenyum.


"Semuanya"


Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih juga dan maaf"


"Kenapa maaf?" Tanya Ziko bingung


"Maaf karena gak peka sama perasaan kamu." Kata Devina


"Gak usah minta maaf bukan salah kamu juga." Kata Ziko


Devina mengangguk sambil tersenyum singkat lalu mengatakan bahwa dia harus masuk ke dalam.


"Selamat malam dan mimpi indah"


Dengan jeda sedikit Ziko mengatakan sesuatu yang membuat pipi Devina kembali memerah.


"Sayang"


¤¤¤


Satu aja yaa hari ini digangguin temen lagi nihhh😂


Besok aku double update😉


Makasihhh❤ Mana pendukungnya Ziko?


Seneeng gakk😂