
Melihat kembarannya yang masuk ke dalam kamar Devano tidak bisa protes dan hanya tersenyum ketika Devina berlari masuk lalu menghampirinya yang sedang berbaring di ranjang. Mendudukkan dirinya disamping Devina dia dapat melihat senyuman manis gadis itu yang Devano tau kalau itu semua karena Devina baru saja keluar bersama Daddy mereka.
Merasa gemas Devano mencubit pelan pipi Devina membuat gadis itu melepaskan tangannya lalu mendekat dan memeluknya dengan erat. Merasakan pelukan hangat dari kembarannya Devano membalas pelukan Devina dengan sayang.
"Vanooo"
"Hmm kenapa?" Tanya Devano
"Vina habis jalan-jalan sama Daddy terus dibeliin buku." Kata Devina senang
"Terus kenapa ke kamar aku?" Tanya Devano
"Enggak boleh?" Tanya Devina dengan wajah cemberut
"Bukan gitu Devina biasanya kan kamu kalau habis dari toko buku langsung ke kamar kamu untuk baca." Kata Devano
"Em Vina lagi mau disini aja sama Vano." Kata Devina manja
Devano hanya bisa tersenyum lalu mengusap rambut Devina dengan sayang.
"Tadi bilang apa ke Daddy?" Tanya Devano
"Vina protes karena gak boleh ikut terus Daddy sogok Vina dengan ajakin jalan-jalan." Kata Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"Kemana aja sama Daddy?" Tanya Devano
"Ke kedai ice cream terus makan bakso dan ke toko buku tadinya Daddy ajakin ke mall juga, tapi Vina enggak mau." Kata Devina
"Kenapa?" Tanya Devano
Biasanya Devina paling bersemangat kalau sudah di ajak ke mall.
"Emm gak papa." Kata Devina
Melepaskan pelukannya Devina menatap kembarannya itu dengan senyuman manis.
"Vanoo"
"Hmm kenapa?" Tanya Devano
"Vina boleh gak tidur disini?" Tanya Devina
"Di kamar aku?" Tanya Devano memastikan
Devina menganggukkan kepalanya sambil menatap Devano dengan senyuman.
"Heem boleh enggak? Vina mau tidur di kamar Vano." Kata Devina
"Boleh, kamu ngantuk? Tumben banget." Kekeh Devano
Sekarang masih pukul dua siang dan Devina sudah mengantuk padahal biasanya gadis itu tidak pernah tidur kalau siang.
"Iya Vina ngantuk." Kata Devina
"Mau aku temenin sampai tidur?" Tanya Devano
"Mauu"
"Nyanyiin?" Tanya Devano lagi
"Emm enggak usah peluk ajaa." Kata Devina manja
"Yaudah sini tiduran." Kata Devano
Menganggukkan kepalanya Devina berbaring di sebelah kembarannya lalu Devano langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Nanti Vina kangen kalau Vano nya pergi sama Daddy." Kata Devina
"Cuman sebentar." Kata Devano
"Vano jangan lupa kabarin Vina ya? Jangan kayak waktu itu nanti Vina marah lagi." Ancam Devina
"Iya Vina janji." Kata Devano
"Bawaiin Vina sesuatu." Kata Devina lagi
"Kamu mau apa?" Tanya Devano
"Emm apa aja." Kata Devina
"Aku bingung beli apa kalau kamu gak bilang." Kata Devano
"Ihh pokoknya Vano harus beliin sesuatu, tapi Vina gak mau bilang harus beli apa terserah Vano aja." Kata Devina
"Iya Vina"
Devina tersenyum lalu memeluk kembarannya dengan sayang membuat Devano mencium puncak kepalanya sambil mengusap rambut hitam Devina dengan penuh kelembutan.
"Tidur Vin"
"Nanti, Vano lagi ngapain tadi?" Tanya Devina
"Gak ngapa-ngapain scroll instagram aja." Kata Devano
"Gak chatan sama Adara?" Tanya Devina
"Adara lagi sibuk ngerjaiin tugas." Kata Devano
"Emm Vano gak mau nemenin Adara?" Tanya Devina
"Mau, tapi dia bilang gak usah karena habis ngerjaiin tugas dia mau ke rumah sakit." Kata Devano
"Adara sakit?" Tanya Devina
"Ayahnya"
"Om Juan? Kenapa Adara mau kesana?" Tanya Devina penasaran
"Aku gak tau mungkin karena bagaimana pun juga Om Juan tetap Ayahnya." Kata Devano
"Vano gak mau anterin Adara ke rumah sakit?" Tanya Devina lagi
"Dia bilang nanti dijemput dan aku gak bisa nolak karena kamu tau sendiri Adara." Kata Devano
"Nanti kalau Adara kenapa-kenapa gimana?" Tanya Devina
"Dia di rumah sakit Devina gak mungkin terjadi sesuatu dan lagi Adara itu pintar bela diri nanti aku minta dia kabarin kalau udah pulang karena aku mau jemput." Kata Devano
"Emm iya Adara gak kayak Vina dia bisa kemana-mana sendiri kalau Vina enggak." Kata Devina
"Setiap orang itu beda-beda Devina." Kata Devano
"Iya"
"Kamu juga tumben gak pergi sama Ziko?" Tanya Devano
"Enggak besok-besok lagi aja Vina gak enak sama Ziko dia nya beliin Vina terus, tapi Vina gak boleh beliin dia sesuatu masa makan aja Vina gak boleh bayarin." Kata Devina membuat kembarannya itu tertawa
"Vina pernah maksa Ziko supaya Vina yang bayarin makan terus dia setuju, tapi besoknya dia beliin Vina cemilan banyak banget sama make up juga." Kata Devina
"Kamu seneng?" Tanya Devano
"Seneng cuman Vina gak enak sama Ziko." Kata Devina
"Nanti bicara sama dia berdua dan bilang supaya Ziko jangan sering-sering beliin kamu sesuatu." Kata Devano
"Vina cuman boleh kasih hadiah kalau Ziko ulang tahun, tapi Ziko kasih hadiah terus." Kata Devina lagi
"Iya makanya nanti dibilangin sama Ziko." Kata Devano
Devina mengangguk lalu mengeratkan pelukannya membuat Devano tersenyum senang.
"Udah tidur katanya mau tidur." Kata Devano
Devina hanya bergumam pelan dan mulai memejamkan matanya ketika menikmati usapan lembut di kepalanya.
Tak butuh waktu lama bagi Devina untuk terlelap di dalam pelukan Devano karena setiap kali Devano memeluknya dia akan merasa tenang dan nyaman.
Sangat mudah untuk tertidur setiap kali dia berada di pelukan Devano.
¤¤¤
"Adara"
Suara itu Adara abaikan dengan mata yang menatap ke arah lain, enggan untuk melihat Ayah nya yang sekarang menatapnya dengan penuh kesedihan. Sungguh Adara tidak mau datang, tapi entah kenapa ada sisi lain di dirinya yang mendorong dia untuk datang kesini.
Saat masuk dan melihat Ayah nya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus ditangannya membuat dada Adara sesak, dia mengingat Bunda nya. Kemudian batinnya bertanya-tanya tentang alasan kedatangannya untuk melihat pria yang sudah mengabaikan dia dan Bunda nya.
Untuk apa?
"Kenapa saya harus datang kesini?" Tanya Adara dengan raut wajah dingin
Kali ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan.
"Tidak boleh Ayah menemui kamu?" Tanya Juan
"Sejak kapan kamu menjadi Ayah saya dan bersikap layaknya seorang Ayah?" Tanya Adara yang berhasil membuat Juan merasa sesak
"Sejak dulu"
"Dulu? Sejak dulu saya hanya mengenal Bunda dan Kakek." Kata Adara
"Maaf"
"Maaf untuk apa? Untuk menelantarkan saya dan Bunda? Menjual rumah peninggalan Kakek? Tidak datang ke pemakaman Bunda? Memaksa untuk memberikan semua peninggalan Kakek untuk saya?" Tanya Adara memastikan
"Semuanya"
"Kenapa saya harus memaafkan?" Tanya Adara
"Mungkin karena saya Ayah kamu." Kata Juan pelan
"Ayah?"
"Kamu pasti sangat membenci Ayah ya?" Tanya Juan
Adara hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun memmbuat Juan menghela nafasnya pelan lalu meraih tangan Adara yang untungnya tidak dia lepas.
"Maaf untuk semuanya"
Belakangan ini Juan terlalu banyak fikiran mulai dari pekerjaan hingga Adara serta Ella yang akhirnya membuat dia kini ada di rumah sakit karena tekanan darahnya yang tinggi.
Semua bermula dari sebuah paket yang datang ke kantornya tanpa nama, tapi sepertinya dia tau siapa yang mengirim.
Devano, pasti dia.
Tapi, sepertinya Juan perlu berterima kasih karena paket itu benar-benar membuatnya terluka dan merasa sangat tidak berguna.
Sebuah album foto berisikan foto Adara dan Ella bahkan yang menyakitkan ada foto dia juga disana.
Bukan itu yang menyakitinya, tapi sebuah kertas yang berisikan tulisan tangan Adara.
Dia tau Devano pasti mengambilnya tanpa sepengetahuan Adara karena tidak mungkin Adara sendiri yang mengirimkannya.
Dia merasa sangat jahat dan tidak berguna.
¤¤¤
Bunda
Adara bikin album foto yang isinya foto kita berdua sama foto Kakek juga dan ada foto... Ayah
Sebenernya Adara gak mau kasih foto Ayah, tapi Bunda bilang orang itu tetap Ayahnya Dara dan aku gak mau kecewaiin Bunda makanya aku tetap kasih satu foto dia disana
Aku kangen banget sama Bunda
Pengen banget peluk Bunda lagi kayak biasanya, tidur sama Bunda, bantuin Bunda bersih-bersih dan makan masakan Bunda
Aku kangen
Bunda aku masih ingin tau, kenapa Bunda tidak pernah benci sama Ayah?
Aku benci banget sama Ayah karena aku gak pernah sekali pun dapat kasih sayang dari dia
Aku benci Ayah....
Dari dulu Adara cuman berharap bisa dipeluk Ayah, tapi yang Adara dapat malah pukulan
Bunda
Bunda bisa bacara suratnya kan?
Adara sayang banget sama Bunda semoga disana Bunda bahagia ya?
Jangan khawatir sama Adara karena disini Adara juga bahagia dengan Devano yang selalu temani Adara
Lucu ya Bunda?
Orang asing justru bersikap layaknya keluarga, tapi keluarga malah bersikap layaknya orang asing
Sampai ketemu lagi Bunda
Adara sayang Bunda
¤¤¤
Masih pada nungguin aku kan😭
Maaf banget gak update-updateee😭 Aku minta maaf yaaa😳
Oh iya masalah cerita Vano-Dara masih aku fikirin ya? Insya Allah aku buat juga😊
Sekali lagi maaf baru bisa updateee, jadi merasa bersalahhh😭