
Sepanjang perjalanan pulang Devano menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu kembarannya dengan mata yang terpejam, berusaha untuk meredam sakit kepala yang dia rasakan. Sesekali Devina mengusap pipinya dengan lembut membuat Devano merasa sangat nyaman, dia juga manja kalau sedang sakit.
Devano sangat jarang sakit makanya ketika sakit dia akan sangat manja meskipun tidak semanja kembarannya. Sama seperti Devano yang selalu cemas ketika dia sakit sekarang juga Devina merasakan hal yang sama dan mungkin sedikit berlebihan.
"Vano badannya makin panas." Kata Devina pelan
"Hmm"
Hanya gumaman pelan yang bisa Devano berikan karena kepalanya benar-benar terasa sakit sekarang, dia ingin segera sampai rumah dan beristirahat.
"Kepalanya pusing ya?" Tanya Devina
"Heem"
"Vano kenapa bisa sakit?" Tanya Devina sedih
"Gak tau"
"Vano kalau belajar sampai malam ya?" Tanya Devina
"Kadang-kadang"
"Vano kan udah pinter harusnya jangan sampai malam-malam belajarnya." Kata Devina
"Hmm"
"Ngantuk ya?" Tanya Devina lagi
"Pusing"
"Yaudah tidur dulu nanti aku bangunin kalau udah sampai rumah." Kata Devina
Devano hanya mengangguk lalu memejamkan matanya membuat Devina menggenggan tangan kembarannya yang terasa hangat dengan sayang. Kembarannya yang selalu perhatian dan memberikan kasih sayang yang berlimpah untuknya.
Sungguh Devina sangat menyayangi Devano entah kalian akan percaya atau tidak, tapi yang jelas Devina sangat sedih sekarang. Meskipun hanya demam dan dia juga tau kalau Devano tidak pernah sakit dalam waktu yang lama tetap saja Devina merasa cemas.
Nafas Devano mulai teratur dan pria itu sudah tertidur meski tidak terlalu lelap. Tersenyum tipis Devina membuka ponsel kembarannya yang berdering dan melihat pesan yang masuk, dari Adara.
Van aku udah sampai rumah
Devina membalas pesan itu dengan mengatakan kalau dia dan kembarannya sedang dalam perjalanan pulang.
^^^Aku sama Vano lagi dijalan pulang^^^
^^^Dia tidur sekarang^^^
^^^Kasihan :(^^^
Terlihat bahwa Adara sedang mengetik lalu beberapa saat setelahnya rentetan pesan masuk ke ponsel kembarannya.
Besok kalau masih sakit jangan boleh sekolah Vin
Tadi juga pas ngerjaiin ujian terakhir dia gak fokus megangin kepala terus
Devina menghela nafasnya pelan dan menatap kembarannya sebentar lalu mengusap pipinya dengan lembut. Sering mengatakan kalau dia bandel dan keras kepala, tapi Devano sendiri juga sama.
Sekitar dua puluh menit perjalanan akhirnya merek sampai di rumah dan dengan penuh kelembutan Devina membangunkan kembarannya yang tertidur dengan nyenyak.
"Vano bangun sudah sampai rumah." Kata Devina sambil mengusap lembut pipinya
Devano yang memang tidak tidur terlalu nyenyak dengan mudah membuka matanya, tapi ketika mendongak dia memegang dahinya kuat karena pusing menyerangnya.
"Pusing ya?" Tanya Devina pelan
"Heem"
Devano menyandarkan tubuhnya di jok mobil membuat Devina mengerucutkan bibirnya.
"Yuk aku bantuin, Vano ke kamar dulu istirahatnya disana." Kata Devina
Bergumam pelan Devano melihat kembarannya yang keluar dari mobil lalu membuka pintu yang ada di dekatnya dan mengulurkan tangannya. Berusaha menahan rasa pusingnya Devano merasakan tangan Devina yang melingkari dipinggangnya dan tanpa sadar dia tersenyum.
Tanpa banyak bicara Devina membantu kembarannya untuk masuk ke dalam dan mereka langsung bertemu dengan Fahisa yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi. Raut wajahnya cemas dia langsung membantu Devina dan bersama-sama membawa Devano ke kamarnya.
Sampai kamar Devano merasa lega dan langsung menjatuhkan dirinya di ranjang. Dengan telaten Devina membuka sepatu serta kaus kaki yang dipakai oleh Devano lalu menyelimuti kembarannya sampai batas leher.
"Udah makan siang belum?" Tanya Fahisa
Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Mommy ambilkan ya? Vina ayo ke bawah dulu kamu harus makan." Kata Fahisa
Dengan cepat Devina menggelengkan kepalanya, dia tidak mau pergi.
"Sama Vanooo"
"Vin makan dulu aja." Kata Devano pelan
"Ihh nanti Vano dulu." Kata Devina
Fahisa menghela nafasnya pelan dan mengatakan kalau dia akan mengambil makan lalu meninggalkan kedua anaknya di kamar.
Sepatu Devina sudah terlepas jadi dia ikut naik ke atas ranjang dan duduk di dekat kembarannya lalu mengusap rambut hitam Devano dengan lembut.
"Sana makan dulu." Kata Devano
"Enggak nanti ajaa." Kata Devina
Tak lagi memaksa Devano memejamkan matanya sambil menunggu Mommy nya mengambil makan siang untuknya.
Pasti Fahisa akan mengambilkan obat untuknya dan Devano yakin dia akan langsung membaik nantinya.
"Hmm"
"Vano cepet sembuh yaa?" Kata Devina
"Besok juga sembuh." Kata Devano
"Awas kalau enggak." Kata Devina galak
Devano hanya tersenyum lalu meraih tangan Devina yang ada di kepalanya dan meletakkan di pipinya.
Sesaat setelahnya Fahisa masuk ke dalam dengan membawa makan siang untuk anak laki-lakinya. Ikut tersenyum melihat kedua anaknya Fahisa meminta Devano untuk bangun dan minum obat serta makan.
"Tadi Daddy suruh telpon dokter..."
"Jangan." Kata Devano pelan
"Hmn enggak, tapi Daddy bilang kalau besok kamu masih panas dan pusing Daddy akan telpon Dokter Daniel." Kata Fahisa
Devano hanya menganggukkan kepalanya, dia yakin kok kalau besok sudah membaik.
Saat Fahisa ingin menyuapi anaknya Devina langsung mengatakan kalau dia yang akan melakukannya. Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa membiarkan Devina menyuapi Devano karena kalau Devina sakita Devano selalu melakukan hal yang sama.
"Ayo Vano makan yang banyak." Kata Devina
Devano hanya tersenyum dan menerima suapan demi suapan yang diberikan kembarannya.
"Kamu juga makan." Kata Devano
"Iya nanti Vano duluan." Kata Devina
Tersenyum singkat Devano mengambil sendok dari tangan Devina lalu menyuapi gadis itu juga.
"Ishh Vano dulu kan Vano yang sakit." Kata Devina
"Kamu juga makan." Kata Devano
Menghela nafasnya pelan Devina membuka mulutnya dan menerima suapan dari kembarannya. Dalam diam Fahisa tersenyum senang melihat anak-anaknya yang saling perhatian satu sama lain.
"Mommy makan juga?" Kata Devina
"Enggak sayang Mommy baru aja selesai makan." Kata Fahisa
Devina mengangguk faham dan kembali menyuapi kembarannya. Merasa gemas dengan kedua anaknya Fahisa mencubit pipi mereka dengan pelan.
Mereka berdua hanya tersenyum sambil menatap Fahisa dengan lugu.
Astaga kenapa menggemaskan sekali anak-anaknya?
¤¤¤
"Tidur Vin"
Perkataan Devano dijawab dengan gelengan singkat oleh kembarannya dan malah mengeratkan pelukannya pada Devano. Setelah makan malam Devina memaksa untuk menemani kembarannya tidur dan Devano tidak bisa menolak karena ketika dibilang jangan Devina langsung ingin menangis.
Sudah dibilang kalau Devano tidak bisa menolak keinginan Devina.
Sejak tadi Devina memeluk kembarannya dan mengatakan kalau dia baru akan tidur ketika Devano tidur. Suhu tubuh Devano sudah menurun membuat Devina merasa lega dan tidak lupa dia memberikan kabar pada kekasih Devano.
"Vanoo aku mau jujur, tapi kamu jangan marah." Kata Devina
"Jujur apa?" Tanya Devano pelan
"Dari kelas sebelas semester dua Vina pernah daftar beasiswa di salah satu kampus yang ada di Korea Selatan...."
Baru mengatakan itu Devano lansung menatapnya dengan tajam, lihat kan?
Beruntung Devina tidak meneruskannya bisa habis dia dimarahi Devano.
"Sudah lulus sampai tahap ketiga dan tinggal tahap terakhir, tapi gak Vina lanjutin." Kata Devina
Mendengar hal itu Devano merasa lega dan tatapannya mulai melembut.
"Kenapa?" Tanya Devano
"Takut kalau harus jauh dari Mommy sama Daddy dan Vano juga." Kata Devina sambil mengeratkan pelukannya
"Aku juga gak bakal kasih izin." Kata Devano
"Hmm Vina tau makanya Vina gak bilang." Kata Devina
"Terus kamu mau kuliah dimana?" Tanya Devano
"Ikut Vanoo"
"Jangan ikut-ikut." Kata Devano
"Ihh maksudnya kampusnya kalau jurusannya Vina mau pilih sendiri." Kata Devina
Devano mengangguk faham lalu memiringkan tubuhnya dan memeluk Devina dengan sayang.
Mana sanggup dia berjauhan dari Devina.
¤¤¤
Kemaleman gak ya ini selesai reviewnya😂😂
Besok double up lagi gaa??