My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (16)



Sejak hari dimana Devano melakukan percakapan yang sangat serius dengannya Adara tidak bisa tidur dengan tenang, dia terus kepikiran dan mendadak cemas serta takut kalau Devano benar-benar akan menyerah padanya. Mungkin saja Devano akan benar-benar lelah dengannya dan berhenti karena Adara yang terlalu lama memberi kepastian.


Belum lagi dua hari belakangan Devano sedikit sibuk hingga mereka hanya berbalas pesan dan tidak sempat saling bertemu yang sayangnya hal itu membuat Adara semakin merasa cemas. Sekarang dia sedang diam di rumah sambil menopang dagunya di antara kedua tangan dan menatap lurus ke depan.


Sungguh Adara merindukan Devano dan dia ingin bicara pada pria itu, tapi rasanya sulit sekali. Saat tengah melamun Adara tersentak karena suara ketukan di pintu dan hal itu membuat Adara bergegas membuka pintu karena mengira Devano yang datang.


Ternyata dia salah Ayahnya yang datang.


"Ayah, masuk dulu Yah"


Adara meminta Ayahnya duduk lalu dia bergegas ke belakang untuk mengambil minum dan kembali ke ruang tamu.


"Ayah gak bilang mau datang." Kata Adara


"Maaf, tadi baru pulang dari kantor terus mampir kesini." Kata Juan


Adara mengangguk faham lalu tersenyum sambil menatap Ayahnya.


"Kamu kenapa? Kayaknya lagi banyak fikiran." Kata Juan


Adara tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Sini cerita sama Ayah." Kata Juan sambil menyentuh pelan pundak anaknya


Adara sekali lagi menggelengkan kepalanya pelan, tapi dia terlihat seperti ingin menangis.


"Kenapa Adara? Berantem sama Vano?" Tanya Juan


Menghapus air mata yang jatuh tanpa dia minta Adara menatap Ayahnya yang tersenyum padanya.


"Kenapa?" Tanya Juan


"Adara takut"


"Takut? Takut kenapa? Apa Julian ganggu kamu?" Tanya Juan


"Adara takut Vano pergi." Kata Adara pelan


"Kenapa? Kalian ada masalah?" Tanya Juan dengan penuh kelembutan


Adara menggelengkan kepalanya pelan lalu dengan suara pelan dia mulai bercerita pada Ayahnya tentang Devano juga alasan dia menolak ajakan menikahnya. Memakan waktu cukup lama untuk bercerita dan Juan mendengarkan dengan penuh pengertian lalu setelah selesai dia memeluk anak perempuannya itu dengan sayang.


Semua salahnya jika saja dulu dia menerima semuanya pasti Adara akan hidup dengan keluarga yang utuh dan tidak perlu merasa malu begini.


"Sudah jangan sedih Vano gak akan ninggalin kamu." Kata Juan


Melepaskan pelukannya Juan mengusap pipi anaknya itu dengan sayang dan tersenyum.


"Semua salah Ayah kan? Harusnya kalau Ayah gak berbuat bodoh kamu akan hidup dengan keluarga yang utuh." Kata Juan


"Enggak..."


"Adara, dia sangat mencintai kamu jangan pernah ragu sama Devano karena kamu tau? Devano yang buat Ayah akhirnya sadar dengan semua hal jahat yang pernah Ayah lakukan sama kamu dan Bunda." Kata Juan


Adara menatap manik mata Ayahnya yang penuh penyesalan.


"Kamu akan bahagia bersama dengan dia, jadi sayang jangan pernah malu atau mengangguk kamu tidak sebanding dengan dia, kamu sama seperti Bunda kalian berdua wanita yang hebat." Kata Juan


Adara merasakan tangan lembut yang menghapus air matanya dengan sayang.


"Kapan pun itu Ayah akan selalu ada untuk mengantarkan kamu ke pelaminan, jangan pikrikan apapun dan percaya sama Devano, dia sangat mencintai kamu." Kata Juan


Adara tersenyum dan mengangguk faham membuat Juan ikut tersenyum lalu mencubit pelan pipinya.


"Udah anak Ayah jangan nangis lagi"


°°°°


Setelah cukup lama disibukkan dengan tugas juga ujian akhirnya Devano bisa menemui kekasihnya hari ini dan dia sangat senang rasanya tidak sabar untuk memeluk Adara. Selesai memasukkan semua bukunya ke dalam tas Devano berjalan keluar kelas setelah mengatakan pada Alex kalau dia pulang lebih dulu dan tidak ikut latihan.


Cukup lama di perjalanan Devano akhirnya sampai juga dan dengan penuh semangat dia langsung turun dari mobil lalu mengetuk pintu rumah kekasihnya. Tak butuh waktu lama pintu kamar terbuka dan Devano dapat melihat Adara yang tersenyum padanya.


Tanpa banyak bicara Devano masuk ke dalam lalu memeluk Adara dengan sayang.


"Kangen banget sama kamu Ra"


Adara tersenyum dan membalas pelukan itu lalu setelah saling melepaskan pelukan Adara menutup pintu dan meminta Devano untuk duduk.


Pergi ke dapur untuk mengambil minum Adara kembali dengan segelas air ditangannya.


"Baru pulang kuliah?" Tanya Adara


"Iya, udah kangen banget makanya langsung kesini." Kata Devano


"Aku juga kangen." Kata Adara dengan senyuman


"Sini mau peluk." Kata Devano


Tertawa kecil Adara mendekat dan memeluk Devano dengan erat sambil bersandar manja di bahunya.


"Van"


"Hmm"


"Gimana kuliah kamu?" Tanya Adara


"Baik, tapi lagi banyak tugas makanya gak bisa ketemu kamu." Kata Devano


Adara mengangguk faham lalu menatap Devano dengan senyuman.


"Van"


"Iya Adara kenapa?" Tanya Devano


"Kamu bilang bakal nunggu aku sampai aku siap kan?" Kata Adara


"Iya, kenapa kamu udah siap?" Canda Devano


"Udah"


Perkataan itu membuat Devano diam dan mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Adara yang pipinya memerah malu.


"Ra jangan bercanda ya? Aku gak Terima kalau kamu habis ini bilang cuman bercanda." Kata Devano


"Enggak bercanda, aku serius setelah kamu ngomong hal itu aku kepikiran terus dan tadi habis bicara sama Ayah juga." Kata Adara


Devano tidak bisa menahan senyumnya dia langsung mendekat dan menatap wajah Adara yang membuat gadis itu semakin merona.


"Serius kan?"


Adara hanya mengangguk membuat Devano tersenyum senang lalu memeluknya dengan erat, tidak bukan erat, tapi sangat erat hingga Adara merasa sedikit sesak.


"Aku bakal bilang Daddy ya?"


Hanya gumaman pelan yang Adara berikan dan dia bersandar di bahu Devano sambil tersenyum.


Entah kenapa rasanya lega sekali setelah mengatakan hal itu pada Devano.


°°°°


Aku update nih hehe🥰


Visual Devano cocok pict pertama atau kedua?