
Sejak dilihat oleh Devina kedua orang dihadapan gadis itu kini jadi canggung dan salah tingkah bahkan keduanya merona membuat Devina tertawa senang karena berhasil menciduk mereka berdua. Setelah ini dia bisa membalas kalau Devano memarahi dia dengan Ziko dan Devina juga jadi memiliki bahan ledekan untuk kembarannya.
Sekarang Devina baru saja ingin keluar dari kamar sambil tertawa dan ketika membuka pintu dia berhadapan dengan Daddy nya yang juga ingin masuk. Melihat hal itu Devano membulatkan matanya terkejut lalu Adara langsung merasa gugup juga takut dan tentu saja hal itu membuat Devina kembali tertawa.
Dia jadi ingin menjahili mereka berdua.
"Vina kenapa ketawa-ketawa gitu?" Tanya Daffa heran
"Itu Daddyy tadi pas Vina masuk Vano...."
"Vinaa"
Devina menoleh lalu tertawa ketika melihat wajah memerah kembarannya, lucu sekali.
"Kenapa dengan Vano sayang?" Tanya Daffa
"Itu Daddy Vano...."
"Enggak ada apa-apa Dad." Kata Devano kembali memotong ucapan kembarannya
"Ada apa Devina? Katakan pada Daddy." Kata Daffa
Devina mengangguk lalu meminta Daffa untuk mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat mata Daffa membulat. Setelah selesai Devina berbalik lalu menunjukkan cengirannya dan berlari sambil berseru.
"Ampunn nanti aku dicubit Vanoo"
Begitu Devina menghilang Daffa masuk ke dalam kamar membuat kedua orang itu semakin gugup bahkan Adara tidak berani untuk mendongak dan hanya diam sambil memainkan jari tangannya. Saat dia melihat sepasang kaki di dekatnya jantung Adara semakin berdetak dengan cepat, dia takut.
Daffa berdeham pelan sebelum mengatakan sesuatu dan hal itu malah semakin membuat keduanya panik.
"Apa benar Devano?" Tanya Daffa
Devano mendongak untuk menatap Daddy nya entah apa yang sudah kembarannya itu bicarakan. Saat akan menjawab Daffa kembali bicara dan membuat Devano diam lalu tersenyum.
Dia kira Devina benar-benar mengatakannya?
"Apa benar kamu ingin mengajak Adara bertunangan?" Tanya Daffa
Kalau pertanyaan itu Devano langsung menjawabnya.
"Iya Dad"
Daffa menautkan kedua alisnya lalu menatap Adara sebentar dan kembali menatap anaknya.
"Itu bagus mungkin kamu sama Vina bisa melangsungkan pertunangan bersamaan." Kata Daffa
"Emm mungkin juga tidak Dad soalnya Adara masih belum memberikan jawaban." Kata Devano
Daffa terdiam sebentar lalu mengangguk sebagai jawaban, dia tidak mau terlalu ikut campur biarkan saja ini menjadi urusan anaknya.
Daffa hanya akan melakukan pertunangan mereka ketika mereka sendiri yang meminta.
"Daddy mengerti dan tidak perlu terburu-buru kalian juga masih kuliah, yaudah Daddy keluar dulu pintunya jangan di tutup." Kata Daffa
Devano mengangguk patuh lalu menatap Daddy nya yang berjalan keluar dari kamar dan setelahnya Devano menatap kekasihnya yang sejak tadi belum mengeluarkan suara. Terlihat sekali kalau Adara merasa gugup bahkan wajah hingga ke telinganya memerah membuat Devano tersenyum melihatnya.
"Adara"
Sedikit tersentak Adara mendongak lalu tersenyum.
"Jangan melamun." Kata Devano
"Iya enggak." Kata Adara sambil tersenyum
Tangan Devano terangkat untuk mengusap kepala kekasihnya dengan sayang.
"Maaf ya? Tadi Devina jadi lihat janji gak bakal gitu lagi." Kata Devano
"Iya maluu tau Vann." Kata Adara membuat Devano tertawa dan mencubit pelan pipinya
"Iya maaf gak bakal kayak gitu lagi kalau di rumah, tapi kalau di luar rumah gak tau... aw iya maaf." Kata Devano ketika dia mendapat pukulan dari kekasihnya
"Kamu kok sekarang gitu sih Van?" Kata Adara sebal
"Iya maaf"
Adara berdecak sebal lalu menepis tangan Devano yang mencubit pipinya lagi.
"Iya iya enggak lagi jangan ngambek." Kekeh Devano
Adara menghela nafasnya pelan lalu menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman manis. Sungguh sekarang Devano memang menyebalkan dan suka membahas hal-hal yang cukup sensitif bagi Adara.
Ya, meskipun Devano hanya membahas hal seperti itu dengannya, tapi kan tetap saja dia malu.
Seperti tadi Devina melihat mereka dan Adara ingin menghilang saja.
¤¤¤
"Iya Zikoo benerann"
Devina tertawa ketika menceritakan hal itu pada kekasihnya lewat panggilan vidio yang mereka berdua lakukan. Kekasih Devano atau Adara belum pulang makanya Devina memilih untuk pergi ke kamar lalu bertelponan dengan Ziko sambil mengisi waktu luangnya.
Tentu saja Devina bukan Devano yang suka mengganggu, dia akan membiarkan kembarannya itu menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya.
"Terusss kamu tau gak? Pas aku mau keluar dari kamarr ada Daddy, jadi aku kerjaiin aja dia sekalian." Kata Devina sambil tertawa
Ziko tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat kekasihnya yang terlihat begitu bahagia, tapi bagus nanti kalau Devano memarahi mereka ada balasan yang dapat mereka berikan.
'Emang jahil banget sih pacar aku'
"Habisnya Vano juga suka gangguin aku sihh! Tapi, tadi mereka mukanya sampai merah." Kata Devina lagi
'Ya kan habis kamu pergokin'
"Aku seneng deh bisa ngerjaiin Vano tadi." Kata Devina
Raut wajah Devina sangat menggemaskan dan membuat Ziko jadi ingin menemuinya saja.
"Iya aku tinggalin mereka berdua hehe aku kan kangen Ziko mau telponan." Kata Devina sambil tersenyum
Astaga Ziko semakin merasa gemas melihatnya.
'Aku juga kangen banget'
"Besok jalan-jalan yaa? Kita ke mall nonton bioskop terus makan." Ajak Devina dengan penuh semangat
'Enggak mungkin nolak sayang'
"Ziko lagi di rumah?" Tanya Devina
'Enggak lagi di rumahnya Nizam'
"Ihh jadi kamu vidio call aku di rumah teman kamuu?" Tanya Devina dengan mata membulat
Melihat hal itu Ziko tertawa lalu menganggukkan kepalanya pelan.
'Iya, memang kenapa?'
"Memang Ziko gak maluu?" Tanya Devina
'Ngapain malu Vin? Lagian mereka pada main ps tuh'
Ziko membalik kameranya ke belakang dan memperlihatkan teman-temannya yang sedang bermain ps tadinya dia juga main, tapi ketika Devina menelpon Ziko langsung berhenti.
Mengobrol dengan Devina lebih asik dari pada bermain ps.
Hanya beberapa saat lalu Ziko membalik lagi kameranya dan membuat Devina kini kembali berhadapan dengan wajah kekasihnya.
"Ziko gak ikut main?" Tanya Devina
'Enggak kan aku kangen sama kamu, jadi mendingan ngobrol sama kamu aja'
Devina tersenyum senang mendengarnya.
"Ihh sayang banget deh sama Ziko." Kata Devina
'Aku juga ehh Vin kemarin aku bicara lagi sama Mama dia nanya masalah pertunangan'
Devina bergumam pelan sambil menatap kekasihnya.
'Setelah jalan-jalan besok kamu mau ke rumah? Mama mau bicara katanya'
"Emm boleh nanti Vina bilang ke Daddy sama Mommy." Kata Devina
'Vin'
"Hmm"
'I love you Vin'
Devina tersenyum senang mendengarnya meskipun sudah berkali-kali Ziko mengatakannya, tapi Devina terus merasa jantungnya berdetak dengan cepat setiap kali mendengar penyataan cinta kekasihnya.
"I love you too Zikoo"
Ziko ikut tersenyum dan jadi semakin ingin memeluk Devina sekarang, mendekapnya dengan erat.
Dia tidak pernah merasa bosan atau ragu terhadap Devina.
¤¤¤
"Ihh ada yang habis kepergokk"
Decakan kesal Devano terdengar ketika malam hari Devina masuk ke dalam kamar sambil terus menggodanya dengan raut wajah menyebalkan. Sekarang Devina duduk disampingnya lalu menusuk-nusuk pipinya dan terus menggoda Devano hingga Devano kesal lalu mencubit pipi Devina cukup kuat.
Merasa sakit Devina memukul lengan Devano agar melepaskan tangan pria itu dipipinya lalu balas mencubit pipi Devano. Pokoknya malam ini dia akan terus menggoda Devano sampai pria itu kesal.
"Jangan jahat ya? Aku aduin Daddy loh tadi Vano mau cium-cium anak orang." Ancam Devina dengan wajah galaknya
"Aku aduin balik kamu juga pernah." Ancam Devano
"Ish picikk"
Devina memasang wajah kesal lalu mencubit pipi Devano dan menariknya dengan gemas.
"Vin sakit ihh." Keluh Devano
Melepaskan tangannya Devina tertawa kecil lalu memeluk Devano dari samping membuat kembarannya itu tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Kamu sekarang lagi nyebelin." Kata Devano
"Ya kan balas dendamm soalnya Vano suka gangguin aku sama Ziko." Kata Devina
"Jawab ajaa." Kata Devano
Devina melepaskan pelukannya dan menatap Devano lagi lalu mengatakan hal yang membuat Devano kembali memasang wajah kesalnya.
"Vanoo bohong kan? Waktu itu Vina tanya katanya gak pernahh ihh bohong pasti sering kan? Lebih sering dari Vina iya kan? Iya kann? Ayo Vano ngaku.... aaa haha gelii"
Devina tertawa ketika kembarannya itu menggelitik pinggangnya dan dia berusaha melepaskan tangan Devano dari pinggangnya.
"Ihh gelii"
"Makanya jangan nyebelin." Kata Devano
Masih dengan tawanya Devina menangkup wajah Devano lalu mencium keningnya.
"Sekarang Vano gak bisa ledekin Vina lagiii"
Devano hanya bisa tersenyum sambil mengacak rambut kembarannya itu dengan gemas.
¤¤¤
Yahh Vano gak bisa marah lagii kalau Ziko cium Vina haha nanti di bales dehh sama merekaa😂