
Memperhatikan wajah kembarannya yang masih tertidur lelap membuat Devano tersenyum sambil mengusap lembut pipinya, dia belum beranjak sedikit pun dari tempatnya. Sejak tadi Devano terus memeluk kembarannya hingga sekitar satu jam lamanya Devano perlahan menjauhkan tubuhnya dan menatap Devina dengan senyuman.
Masih ada jejak air mata disana membuat Devano dengan hati-hati mengusapnya. Hidung Devina juga terlihat memerah karena terus menangis.
Sungguh Devano sangat tidak bisa melihat Devina seperti tadi, menangis dan terlihat begitu ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa efek penculikan itu bisa sangat besar untuk Devina hingga tempat yang sama membuat dia kembali ketakutan.
Saat tengah sibuk memperhatikan Devina ponselnya yang ada di saku bergetar dan membuat Devano dengan hati-hati mengangkatnya.
Ternyata dari Ziko.
'Van memang Vina kenapa? Tadi Alex kasih kabar ke gue katanya Vina pulang ke rumah'
Suara Ziko terdengar sangat cemas ditelinganya.
"Trauma nya kambuh dia lewat gerbang belakang kampus dan teringat kejadian dimana dia diculik." Kata Devano
'Kenapa dia bisa kesana?'
"Temennya, Vina udah minta untuk jangan lewat sana dan ya lo bisa tau kelanjutannya gimana kan?" Kata Devano
'Terus Vina gimana sekarang?'
"Udah ditenangin sama Daddy sekarang dia tidur." Kata Devano membuat Ziko menghela nafasnya lega
'Nanti siang atau sore gue ke rumah'
"Hm yaudah"
Tanpa menunggu jawaban lagi Devano mematikan sambungan telponnya dan meletakkan ponselnya di bawah bantal.
"Em Vanoo"
Devina bergumam pelan membuat Devano kembali memeluknya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Aku disini Vina." Bisik Devano
Pelukan Devina mengerat dan Devano dapat melihat ada keringat yang mengalir bersamaan dengan Devina yang terus bergumam pelan.
"Vano... Vano tolongin aku"
Mendekatkan wajah ke telinga kembarannya Devano berbisik pelan sambil mengusap sayang kepalanya.
"Aku disini Vin jangan takut, aku ada disini." Kata Devano
Perlahan Devina kembali tenang dia tidak bergumam lagi karena pelukan serta usapan sayang yang Devano berikan untuknya.
"Jangan kayak gini Vin." Kata Devano sedih
Menghela nafasnya pelan Devano memejamkan matanya dan berusaha untuk ikut tertidur bersama dengan kembarannya.
Dia harap ketika bangun Devina akan semakin membaik.
¤¤¤
Nafas Devina memburu dia memeluk Daddy nya dengan begitu erat ketika mimpi buruk itu kembali menghampirinya. Wajahnya kembali pucat dengan keringat dingin yang memasahi tubuhnya, tadi Devano sedang ke kamar mandi dan tak lama setelahnya Devina terbangun lalu memanggil Daddy nya berkali-kali.
Sekarang Daffa berusaha menenangkan anaknya yang terlihat begitu ketakutan dengan Fahisa juga Devano yang melihat Devina dengan sedih. Tangan Devina mencengkram kuat lengan baju Daffa dia berusaha mencari ketenangan di dalam pelukannya.
"Vina"
"Daddy takut Vina takut." Kata Devina
"Jangan takut sayang ada Daddy disini." Kata Daffa sambil menciumnya dengan sayang
"Mommy takut Vina takut." Kata Devina
"Sayang jangan takut Vina aman di rumah." Kata Fahisa
"Mereka datang lagi... mereka datang." Kata Devina takut
"Tidak sayang mereka tidak akan pernah datang lagi." Kata Daffa
"Mereka mau sakitin Vina lagi." Kata Devina semakin ketakutan
"Devina tenang sayang, hey ada Daddy disini." Kata Daffa
"Mereka mau culik Vina lagi.. mereka mau pukul Vina lagi.. Daddy jangan pergi temenin Vina." Kata Devina
Daffa mengepalkan tangannya kuat, kejadian itu sangat berbekas di ingatan anaknya dan membuat Devina begitu tersakiti.
"Daddy disini sayang tidak akan kemana-mana." Kata Daffa
"Vina takut... mereka jahat"
"Hey Devina sayang jangan takut hmm? Mereka ada di penjara, jadi tidak mungkin kesini." Kata Daffa
Melepaskan pelukannya Daffa menangkup wajah anaknya dan mengusap sayang pipinya.
"Jangan takut, ada Daddy disini dan ada Mommy sama Vano juga." Kata Daffa
Devina diam lalu mengangkat wajahnya dan melihat Mommy serta Devano yang menatapnya.
"Daddy"
"Iya Devina"
"Mereka gak akan datang lagi kan?" Tanya Devina pelan
"Janji sama Vina." Kata Devina sambil mengangkat jari kelingkingnya
Tersenyum tipis Daffa menautkan jari kelingkingnya disana lalu mengusap pipi Devina dengan sayang.
"Vina mau tidur lagi?" Tanya Daffa
"Vina lapar." Kata Devina
"Lapar? Mommy sudah masak untuk Vina nanti Mommy ambilkan." Kata Fahisa
"Vina mau makan disana aja." Kata Devina
Fahisa tersenyum mendengarnya lalu mendekat dan mengulurkan tangannya pada Devina yang langsung anaknya itu sambut dengan lembut. Dirangkulnya tubuh Devina dengan sayang dan Fahisa membawanya keluar kamar menuju ruang makan untuk menikmati makan siang.
Sekarang sudah masuk waktu makan siang makanya Devina pasti sudah merasa lapar. Sampai di ruang makan Devina duduk sambil memperhatikan Fahisa yang menyiapkan makan untuknya juga Devano dan Daddy nya yang duduk di hadapannya.
Setelah selesai Fahisa meletakkan piring di hadapan anaknya juga secangkir minum yang telah dia isi penuh.
"Mommy makasih"
Fahisa hanya tersenyum sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang.
"Vina mau Mommy suapin?" Tanya Fahisa
"Enggak Vina makan sendiri aja." Kata Devina
Menatap makanan yang sudah ada dihadapannya Devina mulai menyuapi makanan itu ke mulutnya dan mengunyah dengan perlahan.
"Vina mau sesuatu? Ice cream mungkin?" Tanya Daffa
Devina mendongak lalu menatap Daddy nya sebentar dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Vina gak mau apa-apa." Kata Devina pelan
Tidak bisa memaksa Daffa hanya diam dan kembali menatap anaknya yang masih makan dengan perlahan. Anaknya itu kalau sedang tidak baik-baik saja tidak akan pernah bisa dipaksa.
"Vin nanti sore Ziko mau kesini." Kata Devano
Perkataan itu membuat Devina mendongak dan menatap kembarannya lalu perlahan sudut bibirnya menarik membentuk sebuah senyuman.
"Benar Vano?" Tanya Devina
"Heem tadi dia telpon." Kata Devano
Kali ini senyuman Devina terbentuk dengan sempurna membuat Devano juga Daffa ikut senang melihatnya.
Mereka semakin yakin bahwa Ziko adalah pria yang tepat untuk Devina.
¤¤¤
"Gimana keadaan kamu Vin?"
Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang Ziko ajukan ketika dia sampai dan masuk ke dalam kamar Devina dengan pintu yang dibiarkan terbuka lebar. Bukan menjawab Devina langsung memeluk kekasihnya begitu pria itu duduk di dekat ranjangnya.
Memejamkan matanya Devina menikmati pelukan Ziko dan tersenyum senang, perasaannya mulai membaik. Sedangkan Ziko yang tidak mau bertanya lagi hanya bisa membalas pelukan itu sambil mengusap kepala Devina dengan penuh kelembutan.
"Aku khawatir banget Vin." Kata Ziko
"Vina udah enggak papa." Kata Devina pelan
"Kata Vano kamu tadi mimpi buruk." Kata Ziko
"Iya Vina takut, tapi Daddy udah buat Vina gak takut lagi." Kata Devina
Melepaskan pelukannya Ziko menangkup wajah kekasihnya dan menngusap sayang kedua pipi Devina.
"Jangan takut ya? Aku sama Om Daffa dan Devano gak akan biarin kamu sampai terluka." Kata Ziko
"Ziko, aku ngerepotin gak?" Tanya Devina
"Enggak, jangan mikir kayak gitu." Kata Ziko
"Tadi Bella marah-marah sama Vina karena Vina minta dia untuk ke foto copyan di depan." Kata Devina
"Dia marahin kamu?" Tanya Ziko
"Em sedikit dia ngomel, tapi suaranya keras." Kata Devina
"Aku perlu marahin dia?" Tanya Ziko
"Enggak, dia gak salah kok." Kata Devina
Menghela nafasnya pelan Ziko mencium keningnya lama membuat Devina tersenyum senang.
"Jangan takut ya?"
Devina menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Ziko dengan sayang.
"Makasih udah khawatir sama Vina"
¤¤¤
Yuhuuu aku updateee😚