My Possessive Twins

My Possessive Twins
58 : Truth or Dare?



"Vanoo"


Kehadiran Devina ke kelas kembarannya membuat semua mata menatap ke arahnya dengan bingung, tapi Devina tidak peduli dia tetap berlari kecil menghampiri kembarannya. Beberapa saat yang lalu bel istirahat baru saja berbunyi dan Devina yang keluar lebih dulu langsung bergegas ke kelas Devano.


Jam setelah istirahat nanti ada tugas yang harus dikumpulkan dan Devina lupa kalau bukunya masih di meja belajar. Sebelumnya dia sudah mencoba menelpon kedua orang tuanya, tapi mereka berdua sedang tidak ada di rumah dan sekarang Devina kebingungan.


Menghampiri kembarannya dengan wajah cemas bercampur sedih Devano langsung bertanya dan meminta Devina untuk tenang.


"Kenapa Vin?" Tanya Devano dengan lembut


Nada bicara Devano membuat orang-orang terpana biasanya pria itu selalu berbicara dengan dingin, tapi ketika bersama Devina suara dan tatapannya lembut sekali.


"Habis ini pelajaran Pak Haidar terus ada tugas terus bukunya ketinggalan di rumah." Kata Devina


Helaan nafas Devano terdengar, kebiasaan sekali kembarannya ini sering kali melupakan hal-hal penting.


"Telpon Mommy sama Daddy udah?" Tanya Devano


Devina langsung menganggukkan kepalanya.


"Udahh mereka lagi gak di rumah, gimana jadinya?" Tanya Devina cemas


"Ayuk Vin aku temenin ke rumah kamu." Kata Erick sambil menaik turunkan alisnya


"Sama aku aja deh Vin." Kata Alex ikut-ikutan


"Ihh aku serius tau gak bercanda!" Kata Devina galak membuat mereka berdua tertawa


"Aku juga serius Vin, mau aku temenin gak?" Tanya Alex lagi


Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Devina untuk keluar dari kelas.


"Ayok aku anterin pulang." Kata Devano


Sampai di luar kelas ada Ziko yang sedang menunggunya tadi pria itu memang sudah menawarkan untuk mengantar Devina pulang, tapi Devina tidak mau merepotkan.


"Vano bentarrr"


Berlari kecil menghampiri kekasihnya Devina mengatakan kalau dia akan pulang bersama kembarannya lalu kembali ke sekolah setelah mengambil buku tugasnya.


"Padahal aku bisa antar kamu." Kata Ziko sedikit kecewa, tapi tidak masalah dia tidak marah


"Kamu di sekolah aja nanti kalau aku belum masuk bilang aja aku lagi di toilet atau masih di perpus yaa?" Kata Devina


Ziko hanya mengangguk lalu mengatakan pada Devina agar berhati-hati.


Tersenyum manis Devina menganggukkan kepalanya dan menghampiri Devano lalu bergegas pergi sebelum bel masuk berbunyi. Sebenarnya satu alasan pasti yang membuat Devina hanya ingin diantar kembarannya karena mereka akan mudah mendapat izin untuk keluar.


Entahlah Devano selalu mudah untuk keluar masuk gerbang sekolah seperti tidak ada satpam saja disana.


Sampai di parkiran Devano langsung menyerahkan helm pada Devina lalu melakukan motornya dan berhenti di gerbang utama sekolah. Masih tetap di motor Devina memperhatikan kembarannya yang terlihat sedang berbicara dan tanpa ada perdebatan pria paruh baya itu mengangguk faham lalu membuka gerbang agar mereka bisa lewat.


"Makasih Pak"


Setelah mengucapkan kata terima kasih Devano kembali naik ke atas motornya dan melajukan kendaraan beroda dua itu meninggalkan sekolah. Sebenarnya bukan hanya sekali dua kali buku tugas Devina tertinggal di meja belajarnya, tapi biasanya Devina akan menelpon orang tua mereka dan nanti bukunya akan diantarkan.


Devina memang memiliki kebiasaan seperti itu baru menyiapkan pelajaran ketika pagi hari lalu kalau sedang buru-buru buku yang ada di meja belajarnya akan tertinggal.


Saat motor Devano berhenti di rumah Devina langsung turun dan membuat Devano sedikit kaget hingga menegurnya, tapi gadis itu tidak peduli dan malah berlari masuk. Menggelengkan kepalanya pelan Devano mengikuti langkah kaki kembarannya masuk ke dalam rumah dan ketika Devina pergi ke kamarnya dia memilih untuk ke dapur, minum air dingin.


Entah secepat apa langkah kaki Devina hingga dia secara tiba-tiba menepuk pelan bahunya lalu berada di hadapan Devano dan membuatnya hampir tersedak.


"Udah?"


"Udah bukunya ada di meja belajar." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


Mendorong dahi Devina kebelakang dengan jari telunjuknya Devano membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal.


"Kebiasaan banget"


"Namanya juga lupaaa!" Kata Devina kesal


"Iya kebiasaan banget jadi orang pelupa." Kata Devano


"Ihh aku gak pelupa cuman kadang-kadang gak inget aja." Kata Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya


"Yaudah terserah kamu, lapar gak?" Tanya Devano


Dengan wajah cemberut Devina menganggukkan kepalanya, dia lapar sekali.


"Nanti kita ke super market kamu beli susu sama roti." Kata Devano


"Siap bosss"


Mengusap puncak kepala kembarannya dengan sayang Devano langsung mengajak Devina untuk bergegas.


Devina beruntung sekali memiliki kembaran seperti Devano yang sangat perhatian dan tidak pernah marah padanya.


Devano itu spesial.


¤¤¤


Sampai tepat waktu Devina tersenyum senang sambil masuk ke dalam kelas dan beruntung sekali gurunya belum datang dia jadi tidak harus menjelaskan apapun. Menghampiri Mona dan duduk disampingnya Devina malah melihat teman-temannya yang juga sedang menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu.


Sebenarnya sedikit aneh juga Pak Haidar belum datang mengingat pria paruh baya itu sangat tepat waktu, tapi tidak masalah guru juga bisa telat kan?


Yang penting Devina sudah berhasil menyelematkan dirinya dan mendapat buku tugas agar dia tidak dikenakan hukuman.


"Vin"


"Emm kenapa?'' Tanya Devina sambil mengeluarkan susu yang tadi dia beli dari dalam plastik


"Mau tau gak?" Tanya Mona


"Mauu"


"Lo bakal kesel kalau tau." Kata Nayla


"Iya gue yakin banget lo bakal kesel sekesel keselnya." Kata Cessa juga


"Memangnya kenapaa?" Tanya Devina sambil menatap mereka dengan penasaran


Mereka belum sempat menjawab, tapi suara Gio dibelakang memberikan jawaban yang membuat Devina terdiam dengan raut wajah kecewa. Secara refleks dia menatap Gio dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya seolah mengatakan kalau dia tidak bohong.


"Pak Haidar gak masuk"


Bibir Devina langsung mengerucut sebal, yang benar saja?!


Dia sudah ketakutan setengah mati mengingat betapa galaknya Pak Haidar, tapi ternyata gurunya itu tidak masuk.


"Kamu kata siapa? Bohong kan? Pasti bohong Gio kan suka bohong." Kata Devina


"Bener kok Vin tadi Jenni yang bilang katanya di kelas lain Pak Haidar juga berhalangan masuk." Kata Ziko


"Ihh nyebelinnn!"


Mereka tertawa kecil melihat Devina yang sangat kesal, tapi memang beberapa saat setelah Devina berangkat Jenni datang dan mengatakan itu semua. Sebelumnya Mona dan yang lainnya sudah berusaha menghubungi Devina, tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya.


"Kita udah coba nelpon lo Vin, tapi gak di angkat." Kata Mona


"Hp nya ada di tas." Kata Devina


Nayla tertawa lalu menyodorkan susu yang ada di meja pada Devina dan meminta gadis itu meminumnya.


"Udah udah minum dulu." Kata Nayla


"Sebell"


Sambil berseru kesal Devina mengambil susu itu dan langsung meminumnya membuat Ziko yang duduk tepat dibelakangnya tertawa kecil.


"Gak papa Vin tugasnya tetep di kumpul kok." Kata Ziko


Mendengar hal itu Devina langsung menoleh dan menatapnya dengan mata berbinar, salah satu hal yang sangat Ziko sukai.


"Beneran? Kenapa gak bilangg?" Kata Devina


"Heem bener orang kamu udah marah-marah duluan." Kata Ziko


"Ya gimana enggak aku kan udah panik ngajakin Vano pulang." Keluh Devina


Merasa gemas Ziko mencubit pipi Devina cukup kuat hingga membuat kekasihnya itu kesal dan memukul tangannya.


"Sakitttt"


"Maaf abisnya gemes." Kata Ziko membuat yang lainnya mendengus kesal


"Terus aja terusss." Kata Gio dengan wajah masamnya


"Gak pernah inget sama orang lain." Sindir Mona


"Aku jomblo aku diam." Kata Nayla sambil menutup rapat-rapat mulutnya


"Aku jomblo aku iri." Kata Cessa dengan wajah memelas


Devina menoleh dan tertawa melihat kelakuan teman-temannya.


Terkadang dia juga tidak habis fikir kenapa Ziko selalu menunjukkan perhatian dan sikap manisnya kepada Devina di hadapan orang-orang, tapi Devina tidak bohong kalau dia senang meskipun terkadang Devina malu karena diperlakukan begitu.


"Jadi kita jam kosong kan? Emm kita mau ngapain?" Tanya Devina mengalihkan pembicaraan


Mereka diam terlihat seperti sedang berfikir dan beberapa saat setelahnya Cessa langsung berseru senang karena telah mendapat ide.


"Gue tauuu"


"Apa?" Tanya mereka bersamaan


"Noo"


Ziko dan Gio menjawab bersamaan, tapi tidak masalah mereka juga tifak harus main.


"Oke"


Nayla dan Mona menjawab bersamaan yang berarti tinggal Devina yang belum memberikan jawaban, dia takut.


Masalahnya teman-temannya itu selalu memiliki pertanyaan yang menjebak atau dare yang sering kali membuat Devina malu hingga ingin menghilang saja dari bumi.


'Truth yaa Vin! Kita mau nanya siapa cowok yang lagi lo suka dan sejak kapan?'


Karena permainan ini juga teman-temannya tau kalau dia suka pada Alex, meskipun Mona dan Ziko sudah lebih dulu tau.


'Oke Dare! Vina sekarang lo chat Alex bilang aku kangen kamu Lex'


Nah itu dare yang pernah dia dapatkan dan Devina berani bersumpah dia malu sekali bahkan dia berkali-kali menolak ajakan Devano untuk menemaninya latihan dengan berbagai alasan.


"Ahh Vina mah gak asikk." Kata Nayla


Devina menatap mereka bergantian lalu menghela nafasnya pelan dan mengangguk setuju membuat mereka berseru senang.


"Peraturannya kalau sekali kena lo milih truth berarti pas lo kena lagi harus milih dare!" Kata Cessa


Mereka hanya mengangguk setuju dan Devina juga hanya diam sedangkan kedua pria dibelakangnya itu terlihat penasaran.


Cessa mengeluarkan sebuah pena dan menaruhnya di atas meja.


"Siap ya? Siapa yang mau muterin? Gue aja?" Tanya Cessa


"Iya lo aja Ces." Kata Mona


Menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat Cessa memutar pena itu hingga berputar dan yang lainnya menunggu dengan penasaran kemana benda itu akan menunjuk.


Ditempatnya Devina terus membatin agar bukan dirinya yang kena kalau bisa sampai permainan selesai jangan sampai dia kena.


"Monaaa!"


Menghela nafasnya pelan Devina langsung terusenyum dan ikut menatap Mona dengan raut wajah penuh kegembiraan. Berbeda dengan Mona yang memasang wajah masamnya, kenapa dia selalu kena pertama kalau sedang bermain?


Menyebalkan!


"Truth or dare sweety?" Tanya Cessa membuat Mona mendengus kesal


Dia terlihat seperti sedang berfikir, tidak ada yang bagus diantara keduanya, tapi setidaknys Truth akan lebih baik dari pada dare yang akan membuatnya malu.


"Truth"


"Aku aku mau nanyaaa." Kata Devina dengan penuh semangat


Cessa tertawa sebentar lalu mempersilahkan Devina untuk mengajukan pertanyaan membuat gadis itu tersenyum senang.


"Kamu pernah bilang kalau kamu pernah suka sama temen sekelas kita, siapa?" Tanya Devina membuat Mona melotot mendengarnya


"Ehh serius Vin?" Tanya Nayla dan Cessa tidak percaya


"Iya pernah Mona pernah bilang gitu." Kata Devina


"Wihh siapa tuh Mon yang berhasil bikin lo jatuh cinta?" Tanya Gio dari belakang


Dia dan Ziko yang dari tadi menyimak ikut penasaran.


Wajah Mona mulai memerah dia terlihat salah tingkah untuk menjawabnya.


Mungkin tadi lebih baik kalau dia memilih dare saja.


"Siapaa Mon?" Tanya Devina penasaran


Menghela nafasnya pelan Mona menjawab dengan suara pelan, tapi berhasil di dengar yang lainnya.


"Regan"


Mendengar jawaban itu mereka teridam dengan raut wajah tidak percaya, Regan?


Regan Fernandez?


Regan si anak jurnalis yang duduk di bagian paling belakang.


Cessa baru ingin bicara, tapi Gio sudah berseru dan membuat wajah Mona memerah dengan sempurna karena semua mata menatap ke arahnya.


"HAH? LO PERNAH SUKA SAMA REGAN? BENERAN MON?"


Merasa kesal Mona melempar buku tulisnya dan mengenai tubuh Gio membuat pria itu sadar kalau perkataannya membuat semua mata menatap ke arah mereka.


"Bujangan lo Gio!"


Menghela nafasnya panjang Mona berusaha bersikap biasa dan mengaak yang lainnya untuk melanjutkan permainan mereka.


"Lagian udah lama gue udah gak suka lagi." Kata Mona


"Ahh masa?" Goda Cessa membuat Mona menatapnya dengan sangat tajam


"Diem gak lo?!" Ancam Mona


"Ampun Mak." Kata Cessa sambil tertawa


Berdeham pelan tangan Cessa kembali memegang pena dan memutarnya.


Mereka berseru senang ketika pena itu menunjuk ke arah Devina. Akhirnya yang ditunggu-tunggu mereka selalu ingin tau banyak hal tentang Devina.


"Kita udah punya pertanyaan untuk lo." Kata Nayla dengan penuh semangat


Devina hanya diam dan menunggu pertanyaan yang akan mereka ajukan.


"Lo sama Ziko pacaran udah pernah ngapain aja? Pelukan atau udah pernah ciuman?" Tanya Cessa


Mata Devina membulat dan pipinya memerah ketika mengingat tadi malam dia mencium pipi Ziko.


Rasanya Devina mau menghilang saja dari bumi.


"Wihh bagus nih pertanyaannya." Kata Gio ikut nimbrung


"Emm maluuu jawabnya." Kata Devina lucu


"Yaudah pernah pelukan gak sama Ziko?" Tanya Mona


Devina mengangguk dengan wajah yang memerah.


"Ciuman pernah gak?" Tanya Cesaa membuat wajah Devina semakin memerah


"Emm disini." Kata Devina sambil menunjuk pipinya


Mereka berseru heboh hingga yang lain menatap mereka dengan penasaran. Sedangkan Devina sudah terdiam dengan wajah memerah sempurna dan Ziko hanya tersenyum melihatnya.


"Menang banyak Ziko gue juga mau." Kata Gio


"Enak aja punya gue itu"


Secara refleks Ziko mendorong Gio padahal pelan, tapi mungkin Gio yang sedang tidak fokus langusung oleng dari kursinya dan terjatuh. Suasana hening seketika lalu suara tawa menggema ketika sadar bahwa Gio terjatuh.


Berbeda dengan yang lain Devina malah merasa bersalah lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya.


"Ziko kamu nih jahat banget, sini Gio aku bantuin." Kata Devina membuat Gio menatapnya sebentar lalu tersenyum


"Jangan Yo sini gue aja yang bantuin lo bangun." Kata Ziko


Tidak terima kalau tangan lembut Devina bersentuhan dengan tangan pria lain.


Tapi, seolah ingin balas dendam Gio mengambut uluran tangan Devina dan berdiri sambil menatap Ziko dengan menyebalkan.


Dia juga pura-pura meringis.


"Sakit ya?" Tanya Devina


"Gak Vin! Orang cuman jatoh dari kursi." Kata Ziko yang sewot karena kekasihnya malah bertanya


"Sakit banget Vin." Kata Gio


"Apasih Yo! Lebay banget." Kata Ziko sewot


"Kamu juga ngapain dorong-dorong sih mana malah ngetawaiin bukannya nolongin." Omel Devina


Bukan menjawab Ziko malah mencubit kedua pipi Devina dengan gemas, dia tidak suka kalau gadis itu perhatian dengan pria lain.


Bahkan meskipun itu Gio.


"Gio tuh bohongan lebay aja dia." Kata Ziko


Mendengus kesal Gio langsung memasang wajah kesalnya.


"Iya gue terus yang salah gue teruss"


Kasihan Gio.


¤¤¤


Kasian Gio😢


Memang kalau partnya banyak gak bosen bacanyaa😋


Kemarin aku nanya aja kok belum ada niat untuk namatin cerita ini haha😂 Masih sayang banget sama Vina dan Vano❤