
Jadwal perkuliahan Devina hari ini sangat banyak bahkan dari pagi hingga sore dan hanya ada jeda di waktu makan siang saja. Hal ini terjadi karena ada dua dosen yang memindahkan jadwal untuk besok di hari ini dan jujur Devina sangat lelah.
Sekarang sudah pukul empat dan dia masih berada di kampus juga dosen yang sedang mengajar belum menunjukkan bahwa dia akan segera mengakhiri pelajaran. Jujur Devina sangat ingin pulang sekarang dia sudah panas dan ingin mandi, tapi tidak selesai juga.
Rasanya dia ingin protes saja, tapi tidak berani.
Wajah Devina sudah terlihat muram, dia ingin pulang!
Waktu terus berjalan hingga jam hampir menunjukkan pukul lima dan dosennya baru ingin mengakhiri perkuliahan membuat Devina menghela nafasnya lalu mulai membentuk sebuah senyuman. Memasukkan semua bukunya ke dalam tas Devina menatap kedua temannya sebentar.
"Gue mau nemenin Intan, lo pulangnya gimana Vin?" Tanya Hanifa sambil memakai tasnya
"Di jemput kok ini juga mau minta jemput sama Vano." Kata Devina sambil tersenyum
"Yaudah gue sama Hanifa duluan ya?" Kata Intan
Devina mengangguk lalu melambaikan tangannya pada mereka berdua dan melangkahkan kakinya ke perpustakaan utama karena Devina biasa menunggu disana. Namun, saat ingin menelpon Devina baru ingat kalau dia harus menjilid tugas yang akan dikumpulkan besok pagi.
Dia bisa lupa kalau tidak melakukannya sekarang, jadi Devina memilih untuk pergi ke foto copy di belakang kampus dan berjalan seorang diri. Tidak terlalu jauh setelah berjalan tak sampai sepuluh menit Devina sampai dan dia langsung menyerahkan tugasnya lalu meminta untuk dijilid warna biru.
"Sama kertas polio satu bungkus terus pena dan tipex juga." Kata Devina
Ada cukup banyak orang yang di foto copyan sehingga memakan waktu cukup lama untuk menunggu giliran Devina, tapi yang penting dia sudah mengatakan apa yang dia butuhkan.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya semua selesai Devina membayar dan memasukkan semuanya ke dalam tas lalu berjalan kembali ke kampus. Saat tengah berjalan ponsel Devina bergetar dan ternyata Devano yang menelpon.
"Halo Vano"
'Kamu masih belum pulang? Ini udah sore banget loh Vin udah mau gelap juga'
"Udah kok ini Vina habis ke foto copyan tadi, Vano jemput aja nanti aku nunggu di dekat perpustakaan ya?" Kata Devina
'Yaudah tunggu ya? Sebentar lagi aku sampai'
"Iya hati-hati Vano jangan kebut." Kata Devina
Kembali melanjutkan langkah kakinya Devina merasa kalau keadaan kampus sudah sepi sekali rasanya hampir tidak ada orang disana meskipun masih ada beberapa motor juga mobil yang terparkir. Memilih untuk mengabaikannya Devina tetap melangkahkan kakinya menuju perpustakaan utama.
Mungkin karena lewat di gerbang belakang kampus makanya sepi, tapi masalahnya kalau ke gerbang depan malah semakin jauh dan lagi Devina biasa ke foto copyan di belakang kampus bersama kedua temannya.
Gerbang belakang memang lebih dekat dengan gedung perkuliahannya dan di gerbang belakang juga tidak ada gerbang untuk keluar masuk kendaraan hanya gerbang kecil untuk para mahasiswa yang pulang dari kampus ke kostan.
Selain itu memang perkuliahan tidak pernah sampai malam bahkan biasanya jam setengah lima itu sudah batas habisnya jam perkuliahan. Biasanya yang masih tetap berada di kampus itu mereka yang mengikuti kegiatan atau organisasi kampus.
Saat ponselnya kembali berbunyi Devina mengeluarkannya dan melihat bahwa Mommy nya yang menelpon. Dengan senyuman Devina langsung mengangkatnya dan mengatakan bahwa dia akan segera pulang.
"Iya Mom sebentar lagi Vina pulang Vano lagi di jalan." Kata Devina
'Vina kamu dimana sayang?'
"Daddy? Vina lagi di jalan tadi habis dari foto copyan ini bentar lagi sampai." Kata Devina
'Kamu sama siapa?'
"Sendirian Daddy....."
Suara Devina terputus begitu saja ketika dia melihat beberapa orang dihadapannya.
Langkah kaki Devina bergerak mundur ketika melihat mereka menyeringai sambil berjalan mendekat.
"Daddy Vina takut"
Devina kembali mengatakan hal itu di ponselnya, dia melihat tiga orang berbadan besar dengan tato di tangan juga leher mereka.
Berbalik ke belakang Devina berlari ke arah gerbang belakang lagi.
Entah kenapa tidak ada security padahal biasanya ada dan tidak ada pekerja yang biasa membersihkan area kampus.
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga dia merasakan tasnya di tarik dan dia terhuyung ke belakang.
Devina berteriak minta tolong, tapi seseorang membekap mulutnya hingga suaranya menghilang.
Devina sangat takut.
¤¤¤
Sejak tadi Fahisa memperhatikan kalau suaminya terlihat gelisah dia berkali-kali bicara di telpon sambil marah, entah bicara dengan siapa Fahisa belum berani untuk bertanya. Saat suaminya itu duduk sambil memijat dahinya cukup kuat Fahisa datang membawakan minum untuk suaminya yang langsung Daffa ambil dan habiskan dalam sekali tenggak.
Sudah sejak pagi Daffa terlihat gusar dia hanya ke kantor hingga siang lalu pulang ke rumah dan memeriksa sbeberapa berkas bahkan ada banyak sekali kertas berserakan di lantai. Baru sekarang Fahisa berani mendekat, dia juga cemas karena Daffa belum makan siang sejak tadi.
"Mas kamu kenapa?" Tanya Fahisa dengan lembut
Daffa menggelengkan kepalanya pelan sambil memijat dahinya lagi. Melihat hal itu Fahisa menghela nafasnya pelan lalu mengusap pipi suaminya dengan sayang.
"Ada masalah apa? Kamu dari tadi gelisah banget bahkan sampai gak makan siang." Kata Fahisa
"Kamu tau Firga? Aku sudah memberikan kepercayaan kepadanya untuk proyek baru kami di Bandung, tapi dia menghancurkan semuanya dan memakai semua dana yang ada entah untuk apa." Kata Daffa
"Lalu bagaimana? Apa itu buruk?" Tanya Fahisa
"Aku sudah bicara sama Kak Farhan juga Davian lalu aku secara sepihak memutus kerja sama kami dan dia tidak terima, entah bagaimana bisa orang gila seperti dia berkeliaran." Kata Daffa marah
"Lalu kenapa kamu cemas?" Tanya Fahisa
"Dia tidak terima dan mengancamku Fahisa masalahnya kamu tau bahwa kita bukan sekali dua kali menghadapi masalah seperti ini kan?" Kata Daffa
Fahisa menganggukkan kepalanya.
"Aku takut dia berbuat nekat kamu ingat bahwa dulu Sahara juga hampir menjadi korban kan? Beruntung saat itu kita berhasil mencegahnya." Kata Daffa
Fahisa kini faham memang dulu Sahara pernah hampir diculik untuk dia dan suaminya melihat. Saat itu sama Daffa ada masalah dengan rekan kerjanya juga.
"Anak-anak kemana?" Tanya Daffa cepat
"Vano lagi sama Adara dan Vina masih di kampus." Kata Fahisa
"Jam segini? Telpon Devina sekarang." Kata Daffa
Sekarang sudah hampir jam setengah enam tidak biasanya Devina belum pulang ke rumah.
Fahisa mengangguk lalu mengambil ponselnya dan menelpon anak mereka.
'Iya Mom sebentar lagi Vina pulang Vano lagi di jalan'
Mendengar itu Daffa langsung mengambil ponsel Fahisa dan berbicara dengan anaknya.
"Vina kamu dimana sayang?" Tanya Daffa
'Daddy? Vina lagi di jalan tadi habis dari foto copyan ini bentar lagi sampai'
"Kamu sama siapa?" Tanya Daffa cemas
'Sendirian Daddy.....'
"Devina? Halo Devina? Sayang kamu masih disana?" Tanya Daffa ketika Devina tidak mengatakan apapun lagi
Melihat ponselnya panggilan itu masih tersambung dan Daffa kembali mengangkatnya hingga dia mendengar suara anaknya yang begitu pelan.
'Daddy Vina takut'
Tanpa mengatakan apapun Daffa langsung menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar rumah.
Meninggalkan Fahisa yang ikut merasa cemas.
¤¤¤
Raut wajah bingung Devano terlihat ketika dia tidak menemukan Devina disana dan Devano langsung menelpon kembarannya, tapi tidak ada jawaban. Sontak saja hal itu membuatnya cemas apalagi kampus sudah sangat sepi bahkan langit mulai menggelap.
Mengedarkan pandangannya ke segala arah Devano tidak melihat siapapun hanya beberapa motor yang terparkir saja. Kemudian dia ingat perkataan Devina yang mengatakan bahwa Devina pergi ke foto copyan.
Kembali menyalakan motornya Devano melaju ke arah gerbang belakang, tapi sama dia tidak menemukan siapapun. Bersamaan dengan itu ponsel Devano berdering dan ternyata Daffa yang menelpon.
"Halo Daddy"
'Vano kamu sama Devina?'
"Tidak Dad justru aku sedang di kampus mencari Vina tadi dia bilang akan menunggu di perpustakaan, tapi tidak ada." Kata Devano
Devano dapat mendengar umpatan yang Daffa keluarkan dan hal itu semakin membuatnya panik bukan main.
Apa sesuatu terjadi pada Devina?
Mendadak dada Devano sesak tanpa alasan.
¤¤¤
Mata Devina perlahan terbuka ketika dan dia merasa tangannya begitu sakit lalu ketika sadar bahwa sekarang dia berada entah dimana rasa takut kembali menyerangnya. Entah dimana dia sekarang, tapi tempat ini begitu kotor mungkin gedung usang atau rumah tak terpakai Devina tidak tau yang jelas dia takut.
Tangannya terikat dan Devina semakin takut ketika matanya menangkap tiga sosok pria yang tadi dia lihat di kampus. Keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya dan jantung Devina berdetak dengan sangat cepat.
Daddy tolongin Vina, batin Devina takut.
Salah satu dari mereka berjalan mendekat membuat Devina mengalihkan pandangannya karena takut.
"Cantik juga"
Devina ingin menangis dia sangat takut.
Sampai akhirnya suara deringan ponsel membuat orang itu pergi dari hadapannya untuk mengangkat telpon.
"Sudah Pak kami sudah melakukan pekerjaan dengan aman dan sekarang gadis itu sudah ada di tempat yang anda perintahkan." Kata orang itu
Devina berusaha melepaskan tangannya dan menahan sakit ketika kulitnya bergesekan dengan tali.
"Lepasin aku! Lepasin atau Daddy akan menghukum kalian!" Kata Devina yang malah membuat ketiga orang itu tertawa
"Pria yang kau sebut Daddy itu bahkan tidak tau kau dimana gadis kecil mana mungkin dia akan datang." Kata salah satu dari mereka
"Enggak! Daddy pasti cari aku dan akan datang kesini!" Kata Devina yakin
"Berhenti bicara gadis kecil! Selagi aku masih baik tutup mulutmu." Kata salah satu dati mereka dengan raut wajah menyeramkan
"Daddy pasti nolongin aku dia..."
Devina diam ketika orang itu meletakkan pisau di lehernya dan tanpa Devina minta air matanya jatuh, dia sangat takut.
Sekarang mungkin sudah malam dan Devina sangat takut, dia mau pulang dan memeluk Devano atau orang tuanya.
Masih berusaha melepaskan ikatan talinya Devina mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil memikirkan hal yang harus dia lakukan.
Hingga Devina mendapat sebuah ide.
"Aku mau ke kamar mandi." Kata Devina pelan
Mereka mendongak untuk menatap Devina lalu salah satu dari mereka mendekat dan melepaskan ikatan tangannya sambil menarik Devina untuk berdiri. Mendapat perlakuan kasar itu Devina menggigit bibir bawahnya pelan bahkan tubuhnya di dorong ketika dia ada di kamar mandi.
Menahan tangisnya Devina menutup pintu lalu mengedarkan pandangannya dan dia melihat sesuatu. Entah akan berhasil atau tidak, tapi Devina harus kabur.
Ada balok kayu yang cukup besar disana dan Devina mengambilnya lalu menyembunyikan di balik tubuhnya. Membuka pintu dengan perlahan Devina memukul kepala pria itu dengan cukup kuat hingga membuatnya meringis lalu dia mendorongnya dan berlari ke pintu yang ada disamping.
Sebelumnya dia melihat pintu yang terbuka makanya Devina berani nekat, tapi begitu mendengar seruan Devina semakin takut apalagi ketika ketiga pria itu mengejarnya. Devina terus berlari dia semakin takut ketika tau bahwa dia tidak mengenali daerah ini bahkan mereka dikelilingi pepohonan dan langit sudah menggelap bahkan tidak ada rumah di sekitar mereka.
"Vano tolonginn aku"
Devina mulai menangis kakinya terasa berat dan dia jatuh tersungkur ketika jalan yang dia tapaki menurun. Tangis Devina semakin terdengar ketika dia merasakan sakit di kaki juga tangannya, tapi tidak ini bukan waktunya menangis.
Berusaha untuk bangun Devina kembali mencoba untuk berlari, tapi tidak bisa secepat tadi dan dia tau kalau dia tidak bisa kabur ketika rambutnya di tarik dari belakang hingga membuatnya berteriak sakit. Tubuh Devina terhuyung ke belakang rambutnya di tarik dengan kuat dan membuatnya semakin menangis sambil memanggil pelan Daddy nya.
"Daddy tolongin Vina"
Devina dipaksa berjalan hingga ke tempat semula bahkan dia di dorong hinggat terjatuh membuat kaki dan tangannya semakin terasa perih.
Semakin merasa takut Devina memeluk lututnya sambil menutup kedua kupingnya dengan kedua tangannya dan terisak hebat.
"Tolong Vina takut"
¤¤¤
Halo aku update😋
Kita up 3 hari ini yaaa😚