
Wajah Devina terlihat begitu pucat suhu tubuhnya juga cukup tinggi dan sekarang gadis itu tengah beristirahat di uks Ibu Sarah juga sudah mengompres dahinya untuk menurunkan panas. Setelah sempat pingsan tadi Devina sudah bangun dan makan bubur yang kekasihnya belikan lalu kembali tidur setelah diberikan obat.
Devano?
Tentu saja kembarannya itu datang dengan wajah panik bahkan langsung mengomelinya juga mengatakan akan membawanya pulang, tapi beruntung ada Ibu Sarah yang mengatakan kalau lebih baik Devina istirahat dulu. Akhirnya Devano menurut hanya saja pria itu tidak kembali ke kelas dan menunggu Devina sambil duduk di dekat ranjang.
Perlakuan manis membuat Ibu Sarah merasa tersentuh apalagi tatapan mata Devano yang diliputi kecemasan membuatnya tersenyum. Sejak tadi Devano menatap kembarannya yang tertidur sambil sesekali mengusap pipinya atau tangannya.
Beruntung sekali Devina memiliki kembaran seperti Devano juga kekasih seperti Ziko. Tadinya Ziko juga memaksa untuk tinggal, tapi Ibu Sarah mengatakan kalau dia tidak mau sampai dimarahi karena membuat dua siswa membolos pelajaran untuk menunggu seorang gadis yang tertidur.
Karena itu hanya ada Devano yang tinggal.
"Dia baik-baik saja Devano hanya butuh istirahat dan makan teratur." Kata Ibu Sarah
Devano menoleh dan tersenyum tipis lalu mengangguk faham.
"Suhu tubuhnya juga sudah menurun." Kata Ibu Sarah lagi
"Hmm terima kasih Bu." Kata Devano sambil menunduk sopan
"Kamu cemas sekali ya?" Kata Ibu Sarah
Menghela nafasnya pelan Devano mengangguk sebagai jawaban, dia panik sekali ketika Nayla mengatakan kalau kembarannya pingsan.
"Saya gak mau Vina sakit bahkan meski hanya flu atau apapun itu saya gak mau." Kata Devano membuat Ibu Sarah tersenyum mendengarnya
Manis sekali anak muda ini.
"Vina beruntung sekali memiliki saudara seperti kamu." Kata Ibu Sarah
Devano hanya menanggapinya dengan senyuman lalu kembali menatap kembarannya yang tertidur dengan nyenyak. Tangannya kembali terulur untuk mengusap pipi Devina yang terasa hangat.
Kembarannya itu memang susah sekali diomongi terkadang apa yang dia atau orang tuanya larang malah Devina lakukan. Memang Devina sering mengeluh karena tingkah posesif mereka, tapi mereka juga tidak bisa mengabaikan Devina begitu saja.
Bisa dibilang sekarang mereka sudah tidak terlalu mengekang berbeda dengan dulu ketika Devano benar-benar mengikuti kembarannya kemanapun dan Devina yang dilarang keluar rumah kecuali bersama anggota keluarga. Selain itu akses ponselnya juga dibatasi termasuk kontak-kontak yang ada di ponselnya banyak dihapus tanpa izin.
Tubuh Devina menggeliat bersamaan dengan matanya yang perlahan terbuka, rasa sakit kembali menyerang kepalanya dan membuat matanya terpejam lagi dengan dahi yang berkerut.
"Vina"
"Emm"
"Pulang ya?" Kata Devano dengan lembut
Devina hanya mengangguk sebagai jawaban, dia mau beristirahat di kamarnya.
"Sakit?" Tanya Devano
"Pusinggg"
"Yaudah aku ambil tas kamu dulu ya? Kita pulang aja." Kata Devano
Devina mengangguk dan dia mendengar langkah kaki tergesa-gesa, tapi kepalanya benar-benar sakit sekarang hingga dia ingin menangis saja.
Entah berapa lama, tapi Devina merasakan pipinya kembali disentuh dan ketika membuka matanya dia melihat Devano yang sudah kembali dengan wajah cemasnya.
Cepat sekali.
Devano membantu kembarannya untuk duduk, tapi Devina langsung memegang dahinya dengan cukup kuat.
"Pusinggg"
Menghela nafasnya pelan Devano memilih untuk menggendong kembarannya saja sampai ke parkiran. Sebelumnya dia sudah meminta izin pada guru kelasnya juga Devina untuk membawa gadis itu pulang.
Sampai di parkiran Devano langsung memakaikan sabuk pengaman untuk kembarannya dan mengambil jaketnya yang ada di jok belakang lalu menyampirkannya pada tubuh Devina sebagai selimut. Setelah itu Devano berlari memutar dan masuk ke dalam mobil lalu menyetir meninggalkan area sekolah.
"Vina"
Hanya gumaman yang Devina berikan sesekali dia menarik jaket Devano yang menyampir ditubuhnya.
"Dingin?"
Devina mengangguk disertai gumaman.
"Apa kita pergi ke rumah sakit aja Vin?" Tanya Devano yang langsung dijawab dengan gelengan singkat oleh kembarannya
"Pulangg"
Menghela nafasnya pelan Devano menambah laju kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah. Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari lima belas menit akhirnya Devano sampai juga di rumah dan dia bergegas menggendong Devina.
Saat masuk ke dalam Fahisa langsung berlari dengan wajah cemasnya, tadi Devano memang mengabarkan kalau dia akan membawa Devina pulang. Memasuki kamar Devina dibaringkan ke ranjang dengan sepatu serta kaos kaki yang sudah lebih dulu dilepaskan dan Fahisa segera menarik selimut tebal itu untuk menghangatkan tubuh anaknya.
"Tadi Vina pingsan mungkin selain karena flu dia juga cuman sarapan sedikit." Kata Devano
"Makan siang?" Tanya Fahisa
"Sudah tadi Vano belikan bubur, tapi badannya masih panas dan kepalanya pusing." Kata Devano
Menghela nafasnya pelan Fahisa segera menghubungi suaminya agar menelpon Daniel dan meminta pria itu untuk memeriksa anak mereka. Memang begitu Devina sangat tidak bisa kehujanan bahkan meski hanya sebentar.
"Mommyyy"
Saat tengah menelpon Devina memanggilnya dan Fahisa langsung menghampiri anak itu sambil menunggu sang suami menjawab panggilannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Fahisa sambil mengusap lembut puncak kepala anaknya
Devina terbatuk dan mengeratkan selimutnya kala hawa dingin menyerangnya.
"Dinginn"
Bukan Fahisa, tapi Devano bergegas pergi ke lemari dan mencari selimut yang lainnya lalu menyelimuti tubuh Devina lagi.
"Halo Mas"
'Iya sayang ada apa?'
"Mas sekarang Vina di rumah kata Vano tadi dia pingsan..."
'Pingsan? Ada apa sayang? Apa sakitnya semakin parah? Bawa ke rumah sakit saja'
Suara Daffa terdengar panik dan selalu begitu pria itu akan menyuruh untuk langsung membawa ke rumah sakit saja padahal mereka tau kalau anaknya tidak suka dengan semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit.
"Telpon Daniel saja suruh periksa Vina kalau memang perlu baru kita bawa ke rumah sakit." Kata Fahisa
'Tapi, lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja Fah....'
"Mau berdebat di telpon atau aku akan menelpon Daniel sendiri?!" Tanya Fahisa kesal
'Baik aku telpon dan dalam lima belas menit aku sampai rumah'
Tanpa memberikan tanggapan Fahisa langsung mematikan telponnya dan kembali fokus pada Devina yang terlihat pucat.
"Mau minum?" Tanya Fahisa
Devina mengangguk lemah membuat Fahisa bergegas pergi untuk mengambilkan air hangat.
Selagi Fahisa keluar Devano semakin mendekat dan menyentuh dahi kembarannya yang terasa begitu panas, dia cemas. Tidak butuh waktu lama Fahisa kembali dan langsung membantu anaknya untuk minum.
"Mommy pusing." Rengek Devina
"Iya tahan ya sayang sebentar lagi dokter Daniel akan datang." Kata Fahisa dengan lembut
"Mommy kita bawa ke rumah sakit saja ayo." Kata Devano cemas
"Iya sayang enggak." Kata Fahisa
Dia menatap anak laki-lakinya dengan senyuman tipis, Devano dan Daffa memang sama.
Sambil menunggu Daffa juga Daniel datang Devina mulai terlelap dan dengan hati-hati Devina menarik selimut anaknya hingga sebatas leher. Disampingnya ada Devano dengan wajah yang terlihat begitu cemas, anaknya itu memang sangat sensitif kalau sudah menyangkut tentang Devina.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Daffa sampai bersama dengan Daniel dan pria paruh baya itu bergegas menghampiri anaknya yang tertidur dengan wajah pucat.
"Apa kita perlu bawa ke rumah sakit? Wajahnya pucat sekali." Kata Daffa sambil mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut
"Biar aku periksa dulu kalau masih bisa di rawat di rumah akan lebih baik." Kata Daniel
Mereka mengangguk dan memberikan tempat untuk Daniel agar bisa memeriksa Devina. Saat akan diperiksa Devina membuka matanya sebentar, tapi kembali memejamkannnya ketika rasa pusing menyerangnya.
Cukup lama Daniel memeriksa dan setelah selesai dia menghampiri Daffa lalu mengajaknya untuk bicara di luar saja agar Devina bisa beristirahat. Bukan hanya Daffa, tapi Fahisa juga ikut sedangkan Devano memilih untuk tetap di dalam.
"Perlu kita bawa ke rumah sakit?" Tanya Daffa cepat
"Tidak perlu kalian masih bisa merawatnya di rumah aku akan berikan resep obatnya, tapi kalau suhu tubuhnya tidak juga turun selama tiga hari bawa di ke rumah sakit." Kata Daniel
Fahisa menghela nafasnya lega begitu juga dengan Daffa, dia bida sedikit tenang sekarang.
"Beri dia bubur dulu untuk beberapa hari ini dan jangan biarkan dia memakan atau minum sesuatu yang dingin terutama es." Kata Daniel lagi
Keduanya kembali mengangguk lalu Daffa mengikuti Daniel yang ingin membuatkan resep obat untuk anaknya. Sedangkan Fahisa kembali masuk ke dalam kamar dan menghampiri anaknya yang belum tertidur lagi.
"Mommyy"
Panggilan itu membuat Fahisa mendekat dan duduk di tepian ranjang.
"Ada apa hmm?" Tanya Fahisa lembut
"Nanti Mommy tidurnya sini aja sama Vina." Kata Devina manja
"Iya sayang"
"Mommy jangan kemana-mana." Kata Devina lagi
"Iya sayang Mommy akan temani Vina ya?" Kata Fahisa
Beberapa saat setelahnya Daffa masuk ke dalam dan menghampiri anaknya, dia kesal sekali karena Devina yang tidak menurut ketika diminta untuk tidak berangkat ke sekolah.
"Daddyy"
Tersenyum tipis Daffa mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Daddy kan sudah bilang sayang jangan sekolah dulu biar kamu istirahat di rumah, tapi tidak mau menurut." Kata Daffa membuat Devina hanya diam
Disalahkan lagi.
"Iya Vin tadi pagi kan sudah dibilang libur dulu sekolahnya." Kata Devano ikut-ikutan
Fahisa menghela nafasnya pelan dan memperingati mereka berdua untuk berhenti.
"Udah ah jangan bilang gitu lagi." Kata Fahisa
"Tapi, Devina memang susah sekali diomongi sekarang Fahisa kemarin dia hujan-hujanan lalu makan ice cream ketika malam dan lihat sekarang." Kata Daffa kesal
Devina memejamkan matanya ketika rasa sakit kepala menyerangnya dan orang tuanya malah sibuk berdebat.
"Mommy pusingg"
Setelah anaknya mengatakan hal itu Fahisa menyeret kedua pria itu keluar dari kamar Devina, dia kesal karena mereka tidak bisa melihat keadaan.
Bahkan meskipun Devina salah tidak seharusnya memarahi anak itu ketika sedang sakit.
Setelah menutup pintu Fahisa menatap mereka bergantian dengan tajam.
"Kalian! Kenapa malah sibuk menyalahkan Devina? Dia itu lagi sakit bahkan meskipun salah tidak seharusnya kalian marahi ketika dia lagi sakit begini." Omel Fahisa
"Fahisa aku..."
"Apa?! Kamu juga Vano Mommy yakin pasti ketika berangkat sekolah kamu memarahi Devina kan?" Kata Fahisa membuat Devano diam
Helaan nafas terdengar Fahisa benar-benar tidak mengerti jalan fikiran kedua pria dihadapannya.
"Sudah Mommy bilang jangan dimarahi Devano!" Kata Fahisa kesal
"Fahisa sudahlah...."
"Kamu juga sama Mas! Jangan dimarahi Devina kalian ini kenapa sih? Sudah lebih baik kaliam berdua kembali kamar biar Devina sama aku." Kata Fahisa
"Tapi, Fahisa..."
"Tapi, Mom..."
"Apa lagi?! Mau membantah?" Tanya Devina galak
Daffa menghela nafasnya pelan dan berlalu pergi ke ruang kerjanya, tapi Devano tidak dia tetap diam ditempatnya.
"Vano kembali ke kamar!" Kata Fahisa
Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Devano!"
Bukan pergi ke kamar Devano malah ingin membuka pintu kamar kembarannya yang tentu saja ditahan oleh Fahisa.
"Devano dengar Mommy tidak? Kembali ke kamar biar Vina sama Mommy!" Kata Fahisa
"Vano mau sama Vina." Kata Devano pelan
Dengan lembut Devano melepaskan tangan Fahisa dan pergi ke kamar kembarannya membuat wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan.
"Devano"
Seolah tidak mau mendengar Devano pergi ke sofa dan menidurkan dirinya disana.
"Vano mau disini Mommy gak mau kemana-mana." Kata Devano
"Oke, tapi ganti baju kamu dulu." Kata Fahisa
"Nanti saja"
Fahisa menghela nafasnya pelan dan memilih untuk berhenti bicara dengan anaknya.
Perlu kalian ketahui kalau Devano bisa melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya jika itu menyangkut Devina.
Seperti membantah ucapan Fahisa.
"Vano mau sama Vina"
Dan Devano selalu mengatakan hal itu setiap Fahisa memintanya untuk pergi ke kamarnya sendiri.
¤¤¤
Update update updateee😉
Nextttt??