
Sudah tiga hari mereka kelas dua belas tidak lagi berangkat ke sekolah dan Adara sudah mulai merasa bosan di rumahnya, dia tidak ada kegiatan apapun. Berbeda dengan orang-orang yang memiliki banyak teman Adara tidak dan lagi Adara juga sayang untuk mengeluarkan uang yang mungkin akan berguna untuk hal yang lebih penting.
Meskipun bosan Adara sedang berusaha mencari-cari pekerjaan paruh waktu pun tidak masalah setidaknya untuk mengisi waktu luang sekalian dia bisa mengumpulkan uang. Di hati kecilnya masih ada niat untuk kuliah, tapi entahlah Adara masih memikirkannya berulang kali.
Tabungan dari Bunda nya mungkin cukup untuk beberapa semester dan uang peninggalan Kakeknya masih bisa dia gunakan untuk makan, tapi Adara masih ragu. Fikirannya terbagi antara kuliah atau kerja atau keduanya dan seandainya bisa dia akan melakukan keduanya.
Kerja saat malam mungkin bukan ide yang terlalu buruk kan?
Dia bisa mencari pekerjaan di tempat karauke atau rumah makan yang buka selama dua puluh empat jam. Saat tengah sibuk dengan fikirannya pintu rumah diketuk membuat Adara mau tak mau beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
Ternyata Devano.
Senyumnya mengembang dan dia memeluk kekasihnya itu sekilas lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam. Sebelumnya mereka memang memiliki janji, tapi Adara tidak tau kalau Devano akan datang lebih cepat.
"Kamu datang cepat banget, kita janjian jam sebelas." Kata Adara sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh
"Hmm gak sabar mau ketemu kamu." Kata Devano membuat Adara berdecak kesal
Devano suka gombal sekarang.
"Di rumah bosan Dar apalagi Vina pergi sama pacarnya ya aku juga lah." Kata Devano
Adara tertawa kecil dan menyuruhnya untuk duduk lalu mengambilkan minum untuk kekasihnya.
"Emm aku cuman ada air putih." Kata Adara sambil meletakkan gelas di meja
"It's okay aku juga kesini mau ketemu kamu bukan mau minum." Kata Devano
"Kita mau kemana?" Tanya Adara
"Cafe atau kamu punya tempat tujuan lain?" Tanya Devano
"Cafe dan taman?" Usul Adara
"Usulan diterima." Kata Devano membuat Adara tersenyum senang mendengarnya
"Aku baru selesai beres-beres rumah." Kata Adara
"Capek?" Tanya Devano
"Enggak lah masa capek." Kekeh Adara
"Siapa tau." Kata Devano sambil mengangkat bahunya
"Van"
"Hmm butuh sesuatu?" Tanya Devano
"Aku... emm mungkin kita jangan ke taman, tapi...."
"Kenapa? Katakan saja." Kata Devano dengan lembut
"Aku mau ke makam Bunda." Kata Adara sambil menatap Devano dengan raut wajah sendunya
"Tentu kita akan kesana sesuai keinginan kamu." Kata Devano
Tersenyum manis Adara memeluk Devano dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Van"
"Aku udah janji sama Bunda kamu kalau aku bakal jagaiin dan selalu ada untuk kamu." Kata Devano
Menghela nafasnya pelan Adara tersenyum lalu mengatakan kalau dia akan bersiap dan pergi ke kamarnya. Dalam diam Devano memperhatikan kekasihnya, dia tau kalau Adara sedang menahan kesedihan sekarang.
Kekasihnya itu pasti merindukan sosok Ibu apalagi mereka sebentar lagi lulus dan biasanya seorang anak akan menunjukkan ijazah nya pada orang tua merek dengan senyuman kan?
Tapi, Adara tidak dia hanya sendirian dan pasti gadis itu merasa sangat sedih makanya Devano selalu berusaha untuk menghiburnya.
Dia ingin membuat Adara tau bahwa ada Devano disampingnya.
Entah berapa lama, tapi Devano menunggu cukup lama hingga Adara keluar dengan kaos yang dilapisi cardigan serta celana jeans juga topi yang dia gunakan. Gadis itu tersenyum membuat Devano juga tersenyum dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan Adara.
Mereka bersama-sama keluar dari rumah dan tidak lupa Adara juga mengunci pintu rumahnya. Memasuki mobil yang Devano bawa mereka pergi meninggalkan area rumah Adara menuju cafe yang biasa Devano dan Devin datangi.
"Van"
"Hmm"
"Kamu tetap kuliah di kota ini kan?" Tanya Adara takut
"Iya Dar aku gak bakal kemana-mana." Kata Devano
"Aku takut soalnya cuman kamu yang aku punya sekarang." Kata Adara
"Bukan aku, tapi keluarga aku juga." Kata Devano membuat kekasihnya itu tersenyum
Ya, benar sesekali Fahisa, Sahara, dan Devina mengirim pesan padanya entah untuk sekedar basa-basi atau apapun itu yang jelas mereka melakukannya.
Setiap kali mendapat pesan dari Fahisa dia tersenyum senang karena merasa seperti memiliki Ibu lagi.
Dara apa kabar sayang?
Lain kali main ke rumah sama Vano ya?
Kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya? Jangan makan sembarangan apalagi yang instan
Benar semua pesan itu pernah Fahisa kirimkan untuknya.
Mata Adara menerawang ke depan, dia merasa begitu bahagia memiliki Devano juga keluarga pria itu yang peduli padanya.
Berbeda dengan Ayah kandungnya sendiri yang malah sering kali memberikan pukulan serta makian untuknya.
'Bunda mau tau? Dara seperti memiliki keluarga baru sekarang Devano dan keluarganya benar-benar baik, aku sangat beruntung kan?' Batin Adara
"Alex ngajakin main basket besok, mau ikut gak?" Tanya Devano
"Nanti aku sendirian males ah Van." Kata Adara
Masalahnya Devano tidak akan mengizinkan dia untuk ikut bermain.
"Ada Vina juga." Kata Devano
"Yaudah ikuttt"
Tertawa kecil Devano mencubit pipi Adara dengan gemas dan tak lama setelahnya pesanan mereka datang, tapi bersamaan dengan itu ponsel Devano berdering.
"Siapa Van?" Tanya Adara
"Daddy." Kata Devano sambil menunjukkan layar ponselnya
"Angkat dulu nanti penting." Kata Adara
"Bentar ya Dar." Kata Devano sambil sedikit menjauh
Hanya percakapan singkat karena Daffa cuman bertanya dia pergi kemana dan Devina juga, tadi Daffa memang tidak ada ketika mereka berdua pergi.
Saat ingin kembali Devano melihat Adara yang juga tengah memainkan ponselnya dan dia iseng mengambil gambar dari samping lalu kembali duduk di dekatnya.
"Udah?" Tanya Adara sambil meletakkan ponselnya di meja
"Hmm udah cuman nanya aku sama Vina kemana soalnya tadi Daddy gak di rumah." Kata Devano
Adara mengangguk faham lalu tersenyum pada kekasihnya.
"Dar"
"Iya?"
"Kamu cantik"
Adara tersenyum dengan wajah merona membuat Devano tertawa kecil melihatnya.
Kekasihnya mudah blushing sekarang.
¤¤¤
"Ihh Ziko susahhhh"
Rengekan Devina terdengar ketika dia masih belum mengerti juga dengan apa yang dia pelajari. Sekarang mereka ada di cafe dan Devina ingin belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi, tapi begitu sulit dia tidak bisa memahaminya.
Menggerakkan kakinya dengan kesal Devina meletakkan kepalanya di meja dan menarik menempelkan kertas itu ke setengah wajahnya. Melihat hal itu Ziko tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan padahal dia bilang untuk istirahat dulu.
"Vin udah minum dulu nih." Kata Ziko
Devina mendongak dengan raut wajah tidak bersemangat, tapi malah terlihat menggemaskan di mata kekasihnya.
"Susah nanti aku gak lolos tes." Kata Devina
"Gak mungkin, kamu aja lolos waktu tes beasiswa kan?" Kata Ziko
"Tapi, bedaaaa"
"Sama, udah jangan difikirin ini minum dulu." Kata Ziko
Mengerucutkan bibirnya Devina menurut dan meminum minuman yang tadi dia pesan lalu memejamkan matanya.
"Sebel bangett masa gak bisa-bisa." Kata Devina yang masih meras kesal
Tertawa kecil Ziko merapihkan kertas-kertas yang ada di meja lalu meminta Devina untuk menyimpannya.
"Simpen dulu kalau udah capek jangan dipaksaiin." Kata Ziko
Mengangguk patuh Devina memasukkan lagi semuanya ke dalam tas dan meminum minumannya lagi lalu memakan kentang goreng yang tadi mereka pesan, tapi sudah dingin.
"Senyum dulu." Kata Ziko
Bukan senyum Devina malah mengerucutkan bibirnya sebal.
"Mau dicium ya?" Tanya Ziko membuat Devina melotot dan menatapnya dengan galak
"Ihh mulutnya!" Kata Devina galak
"Maaf makanya senyum." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Devina menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
"Kalau senyum kan cantiknya nambah." Kata Ziko yang membuat kekasihnya kini tersenyum lebar
Memang Ziko sama seperti Devano selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Menaikkan tangannya Devina meminta Ziko untuk melakukan hal yang sama, meskipun tidak mengerti Ziko melakukan hal yang sama dan dia tersenyum ketika tau apa yang kekasihnya lakukan.
Devina menautkan jari-jari mereka hingga saling menggenggam dengan erat.
"Punya Vinaa"
Ya, Ziko memang hanya milik Devina.
¤¤¤
Season 2 nya mau lanjut disini atau di work lainn??