
Hari ini Devina akan menghabiskan banyak waktu dengan kekasihnya sesuai janji mereka, katanya Ziko ingin mengajaknya jalan-jalan dan tentu saja Devina merasa senang. Sekarang Devina sudah bersiap dia hanya tinggal menunggu kekasihnya yang katanya sedang di jalan.
Ada banyak sekali hal yang sangat ingin Devina lakukan bersama dengan kekasihnya dan lagi dia sangat-sangat merindukan Ziko. Sudah satu minggu lebih Devina hanya berdiam di rumah saja dan itu adalah hal yang cukup membosankan.
"Vina"
Panggilan itu membuat Devina menoleh dan melihat kembarannya yang berdiri di depan pintu kamar sambil tersenyum.
"Vano"
Devina tersenyum lalu berlari kecil menghampirinya dan memeluk tubuh Devano dengan sayang.
"Mau jalan-jalan ya?" Tanya Devano
"Iya sama Ziko." Kata Devina sambil tersenyum lebar
"Aku juga mau ke rumah Adara." Kata Devano
"Mau pacaran ya?" Tebak Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"Iyalah gak mau kalah sama Vina." Kata Devano
Melepaskan pelukannya Devina menatap Devano dengan senyuman lebar lalu berjinjit dan memberikan ciuman singkat di pipinya.
"Vina udah cantik?" Tanya Devina
Devina memundurkan langkahnya lalu memutar tubuhnya membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan kala melihatnya.
"Kamu selalu cantik, Devina itu gak pernah gak cantik." Kata Devano
"Vano juga ganteng terus gak pernah gak ganteng." Kata Devina
"Mau nunggu Ziko di bawah? Yuk aku temenin." Kata Devano sambil mengulurkan tangannya
Devina tersenyum dan menyambut uluran tangan itu lalu keluar dari kamar dan pergi ke ruang tamu. Ternyata disana ada Daffa yang tengah membaca berkas dengan segelas kopi yang ada di atas meja.
Devina memanggil Daddy nya dengan senyuman lalu berjalan mendekat dan memeluk Daffa dari samping membuat pria paruh baya itu tersenyum sambil membalas pelukannya serta mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Mau kemana?" Tanya Daffa
"Vina mau jalan-jalan sama Ziko, boleh kan?" Kata Devina
"Boleh, pulangnya jangan malam ya?" Kata Daffa
"Siap Daddy ehh Mommy mana?" Tanya Devina
"Mommy lagi di belakang sayang biasa Mommy kamu itu lagi senang sekali sama bunga, jadi dia ada di belakang." Kata Daffa
"Daddy tidak marah?" Tanya Devina membuat Daffa tertawa mendengarnya
"Untuk apa marah sayang? Selagi Mommy kamu senang Daddy tidak masalah apalagi kegiatan itu hanya di rumah." Kata Daffa
"Dad aku juga mau ke rumah Adara hari ini." Kata Devano
Daffa menatapnya lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan Daffa tidak bisa selalu menahannya di rumah.
"Iya, jangan pulang malam." Kata Daffa
Setelah perkataan itu ponsel Devina bergetar ternyata Ziko yang baru saja mengirim pesan dan mengatakan kalau dia sudah sampai. Senyuman manis Devina semakin menembang, dia tidak sabar ingin bertemu kekasihnya.
"Daddy Ziko udah sampai aku keluar dulu ya?" Kata Devina
"Hmm hati-hati di jalan ya?" Kata Daffa sambil mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang
"Kasih tau Mommy ya?" Kata Devina lagi
Daffa mengangguk lalu tersenyum ketika mendapatkan pelukan serta ciuman di pipi dari anaknya dan Devina juga melakukan hal yang sama pada Devano sebelum akhirnya beranjak pergi. Perlahan keadaan Devina membaik meskipun sesekali ketakutan.
Kembali pada Devina yang kini terlihat begitu bersemangat apalagi ketika melihat Ziko yang bersandar di mobil menunggu kehadirannya. Saat mata mereka bertemu Devina tersenyum senang lalu memeluknya.
"Zikoo"
"Ya ampunn pacar aku kangen yaa?" Kata Ziko
"Iyaa, kita mau kemana Ziko?" Tanya Devina sambil melepaskan pelukannya
"Kamu maunya kemana?" Tanya Ziko
"Em Vina mau makan cake." Kata Devina
Ziko tersenyum lalu membuka pintu mobil untuk kekasihnya dan dia masuk melalui pintu lainnya. Setelah memasang sabuk pengaman Ziko menghidupkan mobilnya dan melaju meninggalkan rumah keluarga Wijaya.
"Zikoo nanti kita jalan-jalan ya?" Kata Devina
"Iya, habis makan cake nanti kita ke mall gimana?" Saran Ziko
"Mauu"
Setelahnya Ziko kembali fokus pada jalan di hadapannya dan membiarkan Devina yang sibuk berbalas pesan dengan teman-temannya. Sebenarnya Ziko sudah ada janji dengan Gio untuk berkumpul bersama yang lainnya, tapi dia batalkan karena ingin bertemu kekasihnya.
Apalagi ini Devina sendiri yang meminta, jadi Ziko tidak bisa dan tidak boleh menolaknya. Bagi Ziko saat ini Devina yang paling penting setelah kedua orang tuanya.
Kalau Devina butuh sesuatu atau butuh seseorang maka Ziko akan datang kepadanya. Banyak temannya yang bilang bahwa Ziko ini bucin banget sama Devina dan dia tidak menyangkalnya karena hal itu memang benar.
Ziko sudah berada pada titik dimana dia tidak akan pernah membiarkan Devina lepas dari genggamannya.
Sekitar dua puluh lima menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga dan Ziko langsung membuka pintu untuk kekasihnya. Saling menautkan jari keduanya masuk dan mencari tempat yang kosong lalu memesan.
"Ziko"
"Iya Vin"
"Bosan gak sama Vina?" Tanya Devina
"Kenapa nanya kayak gitu?" Tanya Ziko
"Emm mau tau aja." Kata Devina sambil tersenyum
"Enggak, aku selalu nyaman dan suka ada di dekat kamu." Kata Ziko
"Ziko marah gak kalau dibilang bucin?" Tanya Devina
"Enggak"
"Kenapaa?" Tanya Devina membuat Ziko terkekeh melihat wajah kekasihnya yang terlihat penasaran
"Memang aku bucin kan?" Kata Ziko sambil mengeluarkan ponselnya
Ziko memperlihatkan case phone lucu yang sebenarnya tidak cocok untuk seorang pria.
"Kalau gak bucin aku gak bakal mau pakai ini." Kata Ziko
"Kalau gak bucin ini bukan foto kamu." Kata Ziko lagi
Masih ada lagi Ziko membuka galeri ponselnya dan menunjukkan bahwa ada lebih dari lima ratus foto di dalam folder bertuliskan Baby.
"Kalau aku gak bucin aku gak akan simpan foto kamu sebanyak ini." Kata Ziko
Devina tersenyum lalu merebut ponsel itu dari tangan Ziko dan benar ada banyak sekali foto dia disana belum lagi beberapa vidio yang entah dari mana bisa Ziko dapatkan.
"Ziko sayang banget sama aku?" Tanya Devina
"Banget"
"Aku juga." Kata Devina senang
"Kamu tau gak Vin? Aku gak nyangka kita bakal kayak gini padahal dulu kamu sering ngomel sama aku." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
"Ya dulu Ziko nyebelin kalau sekarang ngangenin." Kata Devina
Mendengar hal itu Ziko tersenyum lalu mencubit pelan pipinya dan tak lama setelahnya pesanan mereka datang membuat Devina tersenyum senang. Dua caka serta dua minuman yang tadi di pesan kini sudah ada di atas meja.
Mata Devina berbinar, dia sangat ingin makan cake dan sekarang Ziko membelikan untuknya.
"Makan habis itu kita jalan-jalan." Kata Ziko
Devina mengangguk dan tersenyum sambil menatap kekasihnya.
¤¤¤
Sudah setengah jam Ziko berada di mall bersama dengan kekasihnya dan mereka tengah berkeliling, tadi Devina habis minta diantar untuk membeli jam tangan. Saat di toko juga mereka sempat berdebat karena Ziko yang ingin membayarkan jam tangan yang Devina beli, tapi Devina menolak karena Daddy nya sudah memberikan uang.
Bahkan Ziko sampai dihadiahi cubitan oleh Devina ketika pria itu mengeluarkan uang dan ingin membayar. Akhirnya Ziko mengalah karena Devina mengancam akan ngambek dan mendiaminya.
"Pokoknya Ziko jangan gitu lagi! Vina kan udah di kasih uang sama Daddy." Kata Devina
"Ya gak papa Vin aku kan...."
"Ishh gak bolehh Ziko udah banyak kasih aku, awas kalau kayak gitu lagi Vina gak mau pergi sama Ziko." Kata Devina galak
"Iya Vin gak gitu lagi." Kata Ziko
Devina tersenyum dan memeluk lengan kekasihnya membuat Ziko ikut tersenyum.
"Aku mau beli kemeja deh Vin temenin ya?" Kata Ziko
Devina mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Ziko ke salah satu toko pakaian pria yang menjual kaos serta kemeja.
"Vina pilihin ya?" Kata Devina dengan semangat
Tanpa menunggu jawaban Devina langsung memilih kemeja yang ada dan membuat Ziko menggelengkan kepalanya pelan.
"Em Ziko sukanya warna apa?" Tanya Devina sambil menoleh
"Yang jelas bukan pink." Kekeh Ziko
"Ishh kamu ngeledekin aku ya?" Kata Devina sebal
"Enggak Vin terserah deh kamu pilihan aja yang menurut kamu bagus untuk aku." Kata Ziko
Tersenyum senang Devina memilih beberapa kemeja lalu memberikannya pada Ziko setelah dia mendapatkan empat. Saat ditanya pendapat kekasihnya itu Ziko hanya mengangguk saja dan setuju karena semua warnanya hitam.
"Vina bayar ya?" Kata Devina membuat Ziko melotot mendengarnya
"Jangan berani kamu bayarin baju aku." Kata Ziko
"Ih kenapa? Vina gak pernah beliin apa-apa untuk Ziko lagian Vina kan ada uang masih ada di dompet." Kata Devina
"Uang itu dari Daddy kamu jangan kamu pakai untuk aku, simpan aja aku juga bawa uang dan tadi kamu larang aku untuk bayarin jam yang kamu beli, jadi aku juga sama." Kata Ziko
Devina mengerucutkan bibirnya sebal, tapi tidak bisa menolak juga padahal dia mau membelikan sesuatu untuk Ziko karena dia jarang sekali melakukannya.
"Sekali aja." Kata Devina
"No"
"Hm yaudah, tapi nanti pas makan aku yang bayar ya?" Kata Devina
Ziko ingin menolak, tapi raut wajah Devina yang penuh harap membuat dia menghela nafasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya.
"Yaudah sekarang Ziko bayar dulu." Kata Devina senang
Pergi ke kasir Ziko membayar apa yang telah dia beli lalu setelahnya mereka keluar dan sekarang keduanya bingung ingin pergi kemana. Mengedarkan pandangannya Devina mengajak Ziko ke toko boneka, bukan untuk membeli sebenarnya dia hanya ingin melihat saja.
Di dalam sana ada begitu banyak boneka yang terlihat lucu dengan berbagai ukuran juga mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar.
"Lihat deh gede banget bonekanya." Kata Devina
"Kamu mau?" Tanya Ziko
"Ya enggak lah Vina kan bukan anak kecil." Kata Devina
"Kamu masih kecil Vin ini buktiknya tingga kamu cuman segini aku." Canda Ziko
Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu memukul lengan kekasihnya dengan cukup kuat.
"Ihh nyebelin! Bukan aku yang pendek, tapi kamu yang ketinggian." Kata Devina kesal
Ziko tertawa lalu mendekat dan mencium puncak kepala Devina yang membuat kekasihnya itu melotot sambil memukul kuat lengannya.
"Kamu tuh kalau ada yang lihat gimana?!" Seru Devina
"Kenapa sih Vin? Biasanya malah di bibir kan?" Kekeh Ziko semakin membuat Devina melotot
"Ziko! Diem gakk! Nanti ada yang denger gimanaa?" Kata Devina dengan wajah memerah sempurna
Beruntungnya hanya ada mereka berdua lalu penjaga toko yang ada di kasir, tapi tetap saja Devina sangat malu.
"Gemes banget sih pipinya merah gitu, sini Vin cium dulu." Goda Ziko
Devina semakin kesal lalu mencubit kuat lengan kekasihmya dan berjalan menjauh.
"Vina sayang"
Ziko tertawa ketika Devina menoleh dan menatapnya dengan sengit. Tanpa rasa bersalah Ziko mempercepat langkah kakinya lalu merangkul Devina dan mencium pipinya.
"Zikooo!"
¤¤¤
Zikoo udah mulai berani yaa mentang-mentang mau tunangan😈