
Masuk ke dalam kamar kembarannya tanpa izin Devina melihat tidak ada siapapun disana, tapi dia tetap masuk ke dalam dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponselnya, dia baru saja pulang setelah pergi bersama kekasihnya. Masalah keluarga Ziko yang akan datang ke rumah pria itu bilang akan datang ketika akhir pekan dan Devina hanya mengangguk patuh saja.
Menikah di usia mudia sebenarnya tidak pernah tepikir oleh Devina, tapi mengingat jika dia akan menikah bersama Ziko membuatnya merasa bahagia. Mungkin akan ada banyak rintangan atau kerikil kecil karena Fahisa juga mengatakannya, dia bilang disetiap rumah tangga pasti memiliki masalah didalamnya dan bertahan lama atau tidak pernikahan tergantung dari mereka sendiri.
Mulai sekarang Devina akan mencoba untuk bangun lebih awal setidaknya itu yang akan pertama kali dia lakukan karena sejauh ini bisa dihitung jari Devina bangun sendiri tanpa ada yang membangunkan atau tanpa jam alarm yang berbunyi. Senyuman manis Devina mengembang dia mengambil foto yang selalu ada di nakas dekat ranjang lalu menatapnya dengan senyuman.
Foto dia dan Devano.
"Vano nanti pasti kangen aku kan? Iya pasti soalnya kan Vina biasanya recokin Vano terus suka masuk kamar kalau malam nanti Vano pasti kangen." Kata Devina sambil tersenyum sendiri
Dia mengusap foto itu dengan sayang lalu menciumnya dan meletakkan kembali di tempatnya.
"Loh Vin kamu udah pulang?"
Suara kembarannya membuat Devina mendongak lalu tersenyum senang dan berlari menghampiri Devano untuk memeluknya. Tawa kecil Devano terdengar dia mengusap kepala kembarannya itu dengan sayang dan membalas pelukannya.
"Vanooo"
"Hm kenapa Devina?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan
"Mau manggil aja hehe." Kata Devina
Menggelengkan kepalanya pelan Devano melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Devina dan mengusap pipinya.
"Udah ketemu sama Ziko?" Tanya Devano
"Udah, Vano habis dari mana?" Tanya Devina sambil tersenyum
"Dari ketemu Adara habis jalan-jalan sama dia." Kata Devano membuat Devina mengangguk faham
"Vano kita makan ice cream yuk." Ajak Devina
"Mau keluar lagi?" Tanya Devano
"Ih enggak makan ice cream yang ada di kulkas." Kata Devina
"Yaudah"
Devano meraih tangan kembarannya, tapi Devina menarik tangannya dan memilih untuk memeluk lengannya dari samping sambil menyandarkan kepala di bahunya. Sampai di dapur Devina melepaskan pelukannya lalu berlari ke kulkas dan mengambil dua kotak ice cream yang ada disana.
Setelahnya Devina mengajak kembarannya itu untuk pergi ke ruang tengah lalu dia menghidupkan tv dan duduk disamping Devano.
"Vanoo"
"Hm"
"Vano pasti udah tau kan kalau Vina sama Ziko mau emm..."
"Iya tau." Kata Devano pelan
Devina menoleh lalu menatap Devano yang kini tersenyum padanya.
"Vano jangan sedih nanti Vina kesini terus nanti Vina telponin Vano terus dan gangguin Vano juga." Kata Devina membuat Devano tertawa mendengarnya
"Memang siapa yang sedih?" Tanya Devano
"Ih jadi enggak? Vano gak sedih mau Vina tinggal? Vano gak sedih jauh dari Vina? Jahatt Vano gak sayang sama Vina." Kata Devina cemberut
Berniat pergi Devina menatap kembarannya dengan galak ketika tahannya ditangan dan diminta untuk kembali duduk.
"Vano jahattt"
Mata Devina sedikit berkaca-kaca ketika mengatakannya membuat Devano tersenyum dan mengusa pipinya dengan sayang.
"Bercanda Devina." Kata Devano
"Enggak lucuu!" Kata Devina marah
"Iya maaf aku bercanda doang." Kata Devano membuat Devina memukul lengannya cukup kuat
"Vano bercandanya gak lucuu! Vina gak suka." Kata Devina marah
Beranjak dari tempat duduknya Devina pergi ke kamar setelah menaruh ice creamnya dengan kasar di atas meja membuat Devano menghela nafasnya pelan lalu menyusulnya hingga ke kamar.
Devina menepis tangan Devano dengan kesal, tapi kembarannya itu tetap menahan tangannya dan malah memeluknya.
"Udah jangan marah, aku minta maaf." Kata Devano
"Gak mau Vano jahat sama Vina!" Kata Devina sambil berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh
"Vina maaf"
"Jahat Vina gak suka! Vano bercandanya gak lucu!" Kata Devina marah
"Iya Devina maaf." Kata Devano
"Ihh sanaaa!" Kata Devina kesal
"Vina marah pokoknya." Kata Devina
"Iya maaf aku harus apa biar kamu gak marah?" Tanya Devano
"Beliin aku jajan yang banyakk." Kata Devina
"Yaudah Vina mau beli apa?" Tanya Devano
"Em Vina mau beli pizza sama boba sama takoyaki." Kata Devina
"Yaudah aku pesan dulu." Kata Devano
"Tapi, Vina masih marah." Kata Devina
"Katanya enggak." Kata Devano
"Masihh"
"Terus biar gak marah harus gimana lagi?" Tanya Devano sambil tersenyum
"Peluknya manaa?"
Tertawa kecil Devano mendekat dan membawa kembarannya itu ke dalam pelukannya membuat Devina memejamkan matanya, merasa begitu nyaman.
"Vano jangan bercanda kayak gitu lagi." Kata Devina
Devano bergumam pelan sebagai jawaban lalu setelahnya melepaskan pelukan dan mengajak Devina untuk duduk. Mengeluarkan ponselnya Devano memesan makanan yang tadi Devina sebutkan membuat senyum manis kembarannya itu mengembang dengan sempurna.
"Sudah Devina?" Tanya Devano
Devina mengangguk dengan wajah menggemaskannya membuat Devano tidak bisa tahan untuk tidak mencubit pipinya.
"Gemes banget sih Vina." Kata Devano
"Vano beneran gak bakal kangen aku?" Tanya Devina
"Kangen Vin aku bakal kangen banget sama kamu." Kata Devano sambil mengusap sayang pipinya
"Vina juga bakal kangen banget sama Vano." Kata Devina
"Yaudah gak usah dipikiran masih cukup lama." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya
Devina mengangguk patuh lalu memeluk kembarannya itu dengan sangat erat hingga cukup lama sampai makanan yang Devano pesan datang. Setelah mengambil serta membayarnya Devano memberikan itu semua kepada Devina dan membuat kembarannya itu tersenyum senang lalu memeluknya.
"Ayo makan sama akuu"
Ya ampun Devano akan sangat merindukan kembarannya nanti.
¤¤¤
Ada banyak sekali pertimbangan yang Daffa pikirkan hingga berkali-kali ketika dia pada akhirnya memutuskan untuk memberikan izin pada Ziko menikahi anaknya di usia mereka yang masih cukup muda. Saat ini Daffa hanya akan percaya saja pada Ziko yang dia yakini akan menjaga serta membuat anaknya bahagia.
Melihat Ziko yang selalu ada ketika Devina membutuhkannya membuat Daffa yakin bahwa pria itu adalah pria yang tepat untuk anak kesayangannya Devina. Sebenarnya Daffa belum berniat melepasnya, tapi dia juga tidak mau menahan Devina dan malah membuat hal yang tidak diinginkam terjadi.
Selain itu Devina pernah bercerita juga tentang keluarga Ziko yang baik padanya, jadi dia tidak perlu cemas lagi.
"Mas"
Daffa mendongak lalu tersenyum pada Fahisa yang datang ke ruang kerjanya sambil membawa segelas kopi.
"Sini sayang." Kata Daffa
Fahisa mengangguk patuh lalu duduk dipangkuan suaminya dan membuat Daffa langsung memeluknya.
"Kamu sedih karena Vina akan menikah?" Tanya Daffa
"Hm sedih, tapi senang juga karena aku tau mereka saling mencintai." Kata Fahisa
"Iya kamu benar hal itu yang membuat aku memutuskan untuk membiarkan mereka menikah." Kata Daffa
"Tenang saja Mas." Kata Fahisa
"Aku tenang sayang lagi pula Devina tidak tinggal jauh dari kita aku masih bisa sering melihatnya sama seperti Sahara dulu aku juga berat untuk melepasnya, tapi seiring berjalan waktu aku terbiasa." Kata Daffa
Fahisa tersenyum mendengarnya, benar sekali apa yang baru saja suaminya itu katakan dan hal yang sama akan berlaku juga pada Devina nantinya.
"Aku akan siapkan pernikahan yang meriah untuk Devina"
¤¤¤
Yuhuu aku update lagii ada part khusus mommy and daddy😘
Oh iya aku minta maaf kalau kurang maksimal ceritanya ya soalnya ini kalo nulis ganti-gantian hp nya😶
Love youu semuanya😻