
Senyuman manis Sahara mengembang dengan sempurna ketika melihat kedatangan Devina bersama dengan kekasihnya dan tanpa menunggu lagi dia langsung mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam. Meminta mereka untuk menunggu Sahara mengambil minuman serta beberapa makanan ringan untuk keduanya lalu kembali dan bergabung bersama mereka.
Mendekat pada Kakaknya Devina memberikan pelukan sayang untuk Sahara membuat wanita itu tersenyum dan membalas pelukannya dengan erat. Setelahnya Sahara menepuk pelan pundak Ziko sambil tersenyum hingga kekasih dari adiknya itu mencium punggunh tangannya dan menyapa dengan sopan.
Sudah beberapa kali Sahara bertemu dengan Ziko dan menurutnya pria itu sangat baik juga cocok sekali dengan Devina. Mungkin kalau bagi Sahara sendiri dia itu seperti suaminya yang selalu pengertian serta tahan menghadapi sikapnya.
"Kalian gak sibuk?" Tanya Sahara
"Enggak, iya kan Ziko? Kamu enggak lagi sibuk kan?" Tanya Devina pada kekasihnya
"Iya enggak kok Kak aku lagi ada waktu luang." Kata Ziko
"Bagus deh jangan sampai lupa sama kuliahnya ya? Eh nanti Kakak mau ke kamar sebentar lihat Angga ya?" Kata Sahara
Keduanya mengangguk sambil menatap Sahara yang sekarang pergi ke kamarnya untuk melihat anaknya karena takut terbangun.
Begitu Sahara pergi Ziko mengedarkan pandangannya dan menjelajah rumah dari calon Kakak iparnya yang cukup besar meskipun tidak sebesar rumah keluarga Wijaya.
"Ziko suka gak aku ajak kesini?" Tanya Devina
"Hm suka kok." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang ketika mendengarnya
"Aku juga suka kemarin aku udah kesini sama Mommy dan Daddy terus Vano juga." Kata Devina
"Kangen ya sama Kak Ara?" Tebak Ziko
"Heem Vina gak ada teman di rumah Vano suka jahil kadang gangguin Vina terus atau cuman nanggepin hmm hmmm aja." Kata Devina
Ziko tertawa kecil mendengarnya dan bersamaan dengan itu Sahara turun sambil menggendong Airlangga yang bersandar manja di bahunya.
Kembali duduk di dekat keduanya Sahara tersenyum dan membiarkan Airlangga turun dari dekapannya. Tanpa di duga anak itu menghampiri Ziko dan bukan Devina dia memukul-mukul pelan kaki Ziko sambil menatapnya dengan lugu.
"Dia malah nyamperin Ziko bukan Vina." Kata Sahara
Devina mengerucutkan bibirnya sebal, anak Kakaknya itu memang tidak mau kalau bersama Devina mungkin karena dia suka jahil dan mencubit gemas pipinya.
Melihat Airlangga yang terus menatapnya Ziko tersenyum lalu mengangkat tubuh anak itu dan mendudukkan di pangkuannya. Tidak memberontak ketika dia bersama dengan Devina kali ini Airlangga terlihat tenang.
"Ih dia suka sama Ziko! Angga enggak boleh ini pacar Tante." Kata Devina sambil mencubit pipi Airlangga
"Ndakk"
Ziko tertawa melihatnya lalu mengusap lembut pipi Airlangga menggunakan tangannya.
"Vina sih suka gangguin Angga jadi dia gak mau kalau sama kamu." Kata Sahara
"Kan Angga gemesin kayak Kak Ara pipinya minta aku cubit." Kata Devina sambil mencubit kedua pipi Kakaknya dengan gemas
"Vina ah jangan sakit, kamu juga tuh pipinya tembem banget." Kata Sahara
"Makan terus, tapi enggak gendut Kak dagingnya ke pipi semua." Kata Ziko membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal dan Sahara yang tertawa senang
"Ihh nyebelin." Keluh Devina
"Benar kata Ziko kamu makannya banyak apalagi nyemil, tapi badannya segitu-gitu aja cuman pipinya yang tambah chubby." Kata Sahara sambil mencubit gemas pipi adiknya
"Kak Ara juga sama." Kata Devina
"Iya banyak yang bilang Kakak gendutnya pas hamil aja kalau habis lahiran badannya balik lagi." Kekeh Sahara
Devina tersenyum lalu sesaat setelahnya dia sakit perut dan ingin ke kamar mandi.
"Vina mau ke kamar mandi." Kata Devina
Berlari kecil menuju kamar mandi Sahara hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat adiknya lalu kembali menatap Ziko juga anaknya yang sekarang bersandar pada tubuh Ziko.
"Kenapa dia manja sekali sama kamu?" Kekeh Sahara
"Enggak tau Kak, tapi aku seneng soalnya aku kan anak tunggal gak ada teman." Kata Ziko
"Pasti gak enak ya?" Kata Sahara yang dijawab dengan gumaman pelan oleh Ziko
"Kak aku mau nanya sesuatu boleh?" Tanya Ziko setelah cukup lama terdiam
Saat Sahara menganggukkan kepalanya Ziko menatap ke sekeliling takut kalau Devina tiba-tiba datang dan hal itu membuat Sahara bingung sendiri.
"Kamu kenapa?" Tanya Sahara
"Takut ada Vina." Kata Ziko
"Memang kamu mau nanya apa?" Tanya Sahara dengan alis bertaut
"Menurut Kakak kalau aku menikahi Devina di usia kami yang masih sangat muda salah gak?" Tanya Ziko
Mendengar hal itu Sahara terdiam sejenak lalu tersenyum karena faham kemana arah pembicaraan pria disampingnya.
"Enggak, kamu mau menikahi Devina?" Tanya Sahara
"Iya, hanya saja Kak orang tua aku minta agar aku memikirkannya lagi dan mengatakan untuk tidak terburu-buru, tapi aku kefikiran terus," Kata Ziko.
Menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal Ziko dapat melihat Sahara yang tersenyum ke arahnya.
"Apa aku terlalu buru-buru?" Tanya Ziko
"Kenapa kamu ingin menikahi Devina?" Tanya Sahara
"Karena aku cinta sama dia dan aku gak mau ada orang lain yang merebut Vina dari aku, selain itu Kak aku sangat ingin bisa menghabiskan waktu bersama dengan Devina setiap harinya." Kata Ziko
"Sudah bicara sama Vina?" Tanya Sahara
"Sudah bahkan ke Om Daffa juga." Kata Ziko
"Apa kata mereka?" Tanya Sahara lagi
"Vina bilang dia belum siap dan Om Daffa mengatakan hal yang sama seperti Papa, tapi Om Daffa bilang kalau Devina mau dia tidak akan menolak." Kata Ziko
Ziko diam sambil mendengarkan, dia benar-benar penasaran karena dalam dirinya masih ada keinginan besar untuk segera menikah dengan kekasihnya.
"Kakak juga sudah menikah dan terkadang ada beberapa perdebatan yang Kakak alami, kamu memang harus mempertimbangkan banyak hal untuk maju ke ikatan pernikahan." Kata Sahara
"Iya Kak terima kasih." Kata Ziko
Sahara hanya tersenyum menanggapinya hingga dia mendengar suara Devina lalu melihat adiknya itu datang sambil membawa ice cream dan menunjukkan cengirannya.
"Kak Ara aku minta ice cream yang ada di kulkas satu ya? Boleh kan?" Tanya Devina
"Iya"
Devina tersenyum senang lalu membuka ice cream miliknya dan memakannya.
"Auuu"
Perkataan Airlangga sambil menunjuk ke arah Devina membuat Sahara menghela nafasnya pelan.
"Angga mau ini?" Tanya Devina
"Auu"
"Emn enggak boleh ini punya Tante." Canda Devina
"Mama auu"
"Emang boleh Kak?" Tanya Devina
"Sedikit aja." Kata Sahara
Mengangguk faham Devina menyendokkan sedikit ice cream miliknya dan memberikan pada Airlangga yang langsung senang. Setelah memberikan keponakannya Devina kembali memakan ice cream miliknya.
"Pelan-pelan Vin." Kata Ziko yang refleks mengusap sudut bibir Devina menggunakan ibu jarinya
Devina diam lalu melirik Kakaknya yang tersenyum menggoda membuat Devina merasakan panas di wajahnya.
Dia merona, tapi Ziko terlihat biasa saja.
¤¤¤
"Vanoooo"
Devano sedang mengerjakan tugas miliknya ketika Devina masuk ke dalam kamarnya dengan wajah sedih serta terlihat ingin menangis. Tentu saja hal itu membuat Devano cemas dan langsung menghampirinya lalu bertanya apa yang membuat gadis itu sedih.
Memasang wajah sedihnya Devina mengangkat ponselnya yang basah membuat Devano langsung mengambilnya. Ponsel itu mati mungkin karena kemasukan banyak air bahkan masih ada air yang menetes ketika Devano ambil.
"Kenapa?" Tanya Devano
"Vina lagi cuci muka terus hp nya jatuh ke bak mandi." Kata Devina
"Kenapa bawa hp ke kamar mandi?" Tanya Devano sambil menghela nafasnya pelan
"Vina lagi telponan sama Mona makanya di bawa ke kamar mandi kan cuman mau cuci muka." Kata Devina
"Terus gimana?" Tanya Devano
"Enggak tau." Kata Devina sedih
"Makanya Vina jangan bawa hp ke kamar mandi." Omel Devano
"Gimana Vanoo? Hp nya mati." Kata Devina sambil mengukuti Devano yang berjalan keluar kamar
Devano berjalan ke dapur dan menimbun ponsel Devina dengan beras yang ada di sana.
"Kenapa digituin?" Tanya Devina
"Coba lihat sampai besok kalau gak bisa hidup bawa ke tempat service hp." Kata Devano
Mengerucutkan bibirnya Devina mengangguk singkat membuat Devano tersenyum tipis lalu mencubit pipinya dengan gemas.
"Makanya jangan bandel kalau di omongin." Kata Devano
"Kan tadi lagi telponan sama Mona." Kata Devina
"Iya tetap aja gak boleh, jangan bawa hp ke kamar mandi lagi." Kata Devano
"Iya enggak"
"Eh kalian ngapain?" Tanya Fahisa
Keduanya menoleh dan melihat Fahisa yang membuat Devina langsung memasang wajah cemberut lalu memeluk Mommy nya.
"Mommy hp Vina jatuh ke bak mandi terus mati." Kata Devina
"Salah dia Mom bawa hp ke kamar mandi." Kata Devano
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan ketika mendengarnya. Sudah menjadi kebiasaan mungkin sudah sebanyak empat kali Devina mengalami hal seperti itu sejak masih SMP.
"Kalau besok belum bisa hidup juga bilang aja sama Daddy." Kata Fahisa
"Iya"
"Yaudah tidur udah malam." Kata Fahisa
Menganggukkan kepalanya Devina memeluk lengan Devano dan mengajaknya untuk kembali ke kamar.
"Vano tungguin aku sampai tidur"
¤¤¤
Halo aku updateeee😋