My Possessive Twins

My Possessive Twins
42 : Ziko Cemburu



Rasa canggung menyelimuti Devina ketika dia menemani kembarannya latihan dan kembali bertemu Alex yang sejak tadi terus menatap ke arahnya, dia merasa tidak nyaman juga takut kalau Ziko melihat lalu marah. Sebenarnya Ziko memintanya untuk tidak datang ke lapangan, tapi Devano memaksanya untuk ikut dan kalian tau kalau Devina tidak bisa menolak permintaan Devano apalagi kembarannya itu habis merajuk kemarin malam.


Kali ini Devina hanya sendirian tanpa Adara karena gadis itu sedang mengikuti kelas tambahan mengingat dulu dia sering sekali membolos hingga ada banyak nilai yang kosong. Sudah sekitar satu jam Devina duduk disini dan menunggu kembarannya bermain basket sambil memainkan ponselnya, menunggu balasan dari sang kekasih.


Tadi Ziko mengatakan dia akan pergi bersama Gio dan yang lainnya ke tempat tongkrongan mereka biasanya, tapi pria itu belum menghubunginya lagi. Menghela nafasnya pelan Devina mengalihkan pandangannya ke depan dan tersenyum tipis sambil memperhatikan mereka yang sedang asik bermain.


Sampai akhirnya Alex tiba-tiba terjatuh lalu meringis kesakitan sambil memegangi kakinya membuat teman-teman yang lain serta sang pelatih menghampirinya. Dari jauh Devina melihat seorang pria paruh baya yang memegang pergelangan kaki Alex lalu melakukan sesuatu yang membuat pria itu meringis kesakitan.


Suaranya keras sekali hingga Devina bergidik ngeri dan sesaat setelahnya dia papah lalu didudukkan tak jauh dari tempatnya duduk. Dapat dia lihat ada Alex yang banjir keringat dan pria itu juga berkali-kali meringis kesakitan.


Devano mengatakan sesuatu lalu menepuk pelan pundaknya sebelum kembali ke lapangan bersama yang lainnya.


Di tempatnya Devina menggigit bibir bawahnya pelan lalu beranjak dari tempat duduknya dan duduk tepat disebelah Alex membuat pria itu menoleh sebentar. Berkali-kali Devina ingin bicara, tapi entah kenapa dia merasa canggung dan bingung harus memulai dari mana.


"Em Alex"


Kembali menoleh Alex menatapnya dengan alis bertaut.


"Kaki kamu sakit banget ya?" Tanya Devina


"Mau ngerasaiin?" Canda Alex membuat Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat


Alex tertawa kecil melihat wajah gadis disampingnya yang terlihat lucu.


"Sakit, tapi nanti juga sembuh cuman kram aja." Kata Alex


Mengangguk faham Devina kembali bingung harus mengatakan apa, tapi kini Alex yang memulai sebuah percakapan.


Hanya sekedar mengobrol tidak masalah bukan?


"Tumben kamu nemenin Vano." Kata Alex


"Biasanya kan memang gitu." Kata Devina sambil tertawa kecil


"Belakangan ini enggak kan?" Kata Alex


Nada bicaranya bukan seperti pertanyaan, tapi pernyataan yang membuat Devin terdiam lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tadi dipaksa Vano jadi aku ikut aja dari pada nanti dia marah." Kata Devina


"Nurut banget sama itu curut satu." Kata Alex membuat Devina tertawa mendengarnya


"Aku gak mau Vano marah." Kata Devina


"Tapi, kalau kamu kesini pacar kamu bakal marah kan?" Tanya Alex


Devina terdiam sambil tersenyum tipis, sebenarnya Ziko bukan marah hanya tidak suka saja.


"Tadi aku udah bilang sama dia kok." Kata Devina


"Kamu bahagia ya Vin?" Tanya Alex


"Kamu nanyaiin itu terus." Kata Devina sambil tertawa


Ikut tertawa Alex menghela nafasnya panjang dan menatap lurus ke depan, Devina orang pertama yang membuatnya tidak rela ketika melihat dia bersama pria lain selain dirinya.


"Mastiin aja kalau kamu gak bahagia aku bakal rebut kamu dari dia." Kata Alex


Mendengar hal itu Devina terdiam, dia merasa tidak nyaman dengan pembicaraan mereka sekarang.


"Bercanda Vin aku tau kamu bahagia karena terlihat dengan jelas." Kata Alex


Helaan nafas Alex terdengar dia merasa miris karena ketika mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya orang itu malah mencintai orang lain. Mungkin itu adalah karma untuknya karena sering memainkan hati wanita yang tulus menyukainya.


Devina bahagia


Dia bahagia bersama pria lain dan Alex harus menerimanya kan?


"Kamu juga harus bahagia Alex." Kata Devina sambil tersenyum manis


"Aku bahagianya kalau sama kamu." Kata Alex yang kembali membuat Devina terdiam


Raut wajah tidak nyaman Devina membuat Alex tertawa miris, dia sudah benar-benar kalah.


"Bercanda Vinaaa." Kata Alex sambil tertawa


"Jangan ngomong gitu akunya gak enak sama kamu Lex." Kata Devina sedih


Merasa bersalah karena membuatnya tidak nyaman Alex meminta maaf.


"Iya maaf gak gitu lagi." Kata Alex


Devina hanya mengangguk singkat lalu meraih ponselnya yang sekarang bergetar dan dengan cepat dia langsung membukanya, berharap kalau kekasihnya yang membalas. Memang benar Ziko yang membalas pesannya, tapi balasannya membuat Devina terdiam dan merasa kesal.


Kenapa sih Ziko tidak mau percaya padanya?


Balasan Ziko seolah menunjukkan kalau pria itu marah padanya, tapi apa salah Devina?


Dia juga tidak berbuat macam-macam bahkan sekarang Devina duduk diam dengan memakai jaket juga tas yang dia letakkan di atas paha, menutup bagian tubuhnya yang bisa terlihat.


Harusnya Ziko tau kalau dia tidak mungkin berbuat macam-macam apalagi ada Devano bersamanya.


Aku sama Gio tadi kan udah bilang


Iya, kayaknya sampai sore Vin


Kamu kabarin kalau udah sampai rumah


Meras kesal Devina hanya membalas dengan satu kata lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memasang raut wajah sebalnya.


Iya


"Kenapa Vin kok murung gitu?" Tanya Alex penasaran


Devina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


Baru ingin bertanya Devano berjalan ke arah mereka sepertinya mereka sudah selesai latihan karena semuanya pada berjalan ke pinggir lapangan. Tanpa banyak bicara Devano mengajaknya untuk pulang dan Devina hanya menurut berjalan disampingnya dengan tangan yang digenggam.


Sepanjang perjalanan Devina terlihat tidak bersemangat membuat Devano menatapnya dengan bingung. Sepertinya Devina sedang tidak mood atau jangan-jangan dia sedang datang bulan karena sejak tadi Devina terlihat biasa, tapi sekarang dia terlihat murung.


"Vin"


"Kenapa sih?" Tanya Devano penasaran


"Kenapa apanya?" Tanya Devina membuat pria itu berdecak kesal mendengarnya


"Kenapa diem aja? Tumben banget biasanya kamu cerewet." Kata Devano


"Kalau aku berisik kamu kesal sekarang aku diem ditanyaiin." Kata Devina kesal


"Kamu keliatan sedih, kenapa?" Tanya Devano


Menggelengkan kepalanya pelan Devina enggan untuk menjawan karena memberikan jawaban sama saja membuat hubungannya dalam bahaya. Bisa-bisa Devano langsung meminta dia untuk memutuskan kekasihnya yang sudah membuatnya tidak bersemangat.


Entahlah Devina tidak marah hanya kecewa saja karena Ziko tidak percaya padanya dan terus berfikiran buruk.


"Jangan cemberut, mau kemana?" Tanya Devano


"Kemana apanya?" Tanya Devina bingung


Berdecak kesal Devano mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas hingga membuatnya mengerucutkan bibir karena merasa sebal.


"Kamu mau kemana? Aku ajak jalan-jalan, tapi jangan cemberut kayak gitu tambah jelek soalnya." Kata Devano


Mendengar hal itu Devina mendengus kesal, tapi tersenyum dan mengajak Devano pergi ke toko buku lebih baik dia menyibukkan diri dengan novel nanti malam. Sudah dari sekarang Devina berjanji dia tidak akan membalas pesan dari kekasihnya sampai besok dan memutuskan untuk tidak menghidupkan ponselnya semalaman.


"Pulang dulu ganti baju, oke?" Kata Devano


Devina menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat membuat Devano tersenyum melihatnya.


Hanya itu yang selalu Devano inginkan.


Senyuman manis Devina yang tidak pernah memudar meski hanya satu detik.


Dia akan menyingkirkan siapa saja yang membuat senyuman manis kembarannya memudar.


¤¤¤


Malam ini Ziko uring-uringan di dalam kamar karena kekasihnya tidak membalas pesannya bahkan sekarang ponselnya tidak aktif dan Devina tidak mengatakan apapun. Sebelumnya Ziko sudah bertanya dengan yang lainnya juga, tapi tidak ada jawaban mereka bilang Devina tidak membalas pesan yang dikirimkan.


Sepertinya ini semua karena sikap kekanakannya tadi yang mengabaikan Devina serta membalas pesannya dengan malas. Semua salahnya karena terlalu dibutakan dengan rasa cemburu padahal harusnya dia percaya pada kekasihnya yang tidak mungkin bermain dibelakangnya.


Devina bukan gadis seperti itu dan harusnya Ziko tau serta tidak perlu cemas.


Hatinya semakin kacau ketika sore tadi Devina mengirimkan pesan yang cukup panjang ke ponselnya.


Pesan yang membuat Ziko merasa bersalah.


Kamu gak percaya sama aku Ziko?


Kamu marah karena aku ikut Vano latihan kan? Harusnya kamu tau dari dulu aku selalu ikut Vano entah itu tanding atau latihan dan harusnya kamu juga tau kalau aku gak mungkin aneh-aneh disana apalagi ada Vano


Memang aku cewek kayak apa dimata kamu? Kamu bilang iya, tapi akhirnya kamu ngambek juga dan gak mau balas pesan aku atau sekalinya balas kayak gak niat


Padahal udah berkali-kali aku bilang kalau aku cuman suka sama kamu, tapi masih aja gak percaya


Oke, kali ini Ziko mengaku kalau dia salah dan bisa dibilang sangat-sangat salah karena tidak mempercayai kekasihnya.


Sungguh Ziko hanya takut kalau Devina pergi dari sisinya padahal dia sudah sangat menyayangi gadis itu dengan sepenuh hatinya. Rasanya Ziko hanya ingin membawa Devina dan mengurungnya agar tidak ada yang berani melirik gadisnya lagi.


Dia percaya Devina sangat, tapi dia tidak percaya dengan pria lain.


Merasa kepalanya hampir pecah Ziko langsung menghubungi Mona untuk bercerita.


Sama seperti kekasihnya Mona juga tempat Ziko bercerita kalau tentang masalah Devina bukan yang lainnya.


Dia memilih Mona karena gadis itu tidak pernah membongkar rahasianya dan lagi Mona sangat dekat dengan kekasihnya.


'Paan sih Ko? Pacar lo bukan gue ngapain nelpon gue coba?!'


Saat diangkat Ziko langsung disemprot dengan omelan Mona, tapi dia tidak peduli mereka memang sering ribut kalau di sekolah.


"Vina marah sama gue." Kata Ziko


Helaan nafas terdengar lalu sesaat setelahnya Mona bertanya.


'Marah kenapa?'


Sedikit memberi jeda Ziko mulai menceritakan masalahnya pada Mona yang sekarang merasa sangat kesal hingga ingin memukul kepala temannya itu dengan kuat.


"Sekarang ponselnya gak aktif kayaknya dia sengaja." Kata Ziko


'Kalau gue Vina bukan cuman gak gue balas, tapi gue blokir sekalian'


"Mon gue serius! Gue bingung nanti Vina cuekin gue gimana?" Tanya Ziko frustasi


'Makanya Ziko lo tuh jangan cemburuan, percaya sama Devina dia bukan cewek yang bakal ngerusak kepercayaan lo'


Menghela nafasnya pelan Ziko mengaku kalau dia salah.


"Terus gimana Mon?" Tanya Ziko


'Gue jomblo, tapi selalu aja jadi tempat curhat orang pacaran'


"Mon bantuin gue." Kata Ziko membuat Mona berdecak kesal


'Lo berdua ya gak pdkt gak pacaran selalu deh gue yang ikut ribet, untung temen'


Akhirnya Mona memberikan saran kepada Ziko agar pria itu bisa berbaikan dengan sahabatnya besok dan yang paling penting dia meminta Ziko untuk berhenti cemburuan.


Mona benar-benar akan buka jasa curhat online kalau begini caranya.


¤¤¤


Mona jadi temen aku yuk biar aku ada temen curhat :)


Karakter siapa yang paling kalian suka di cerita ini?


Hehe kalau aku sih semuanya😂


Nanti malam up lagi😉