My Possessive Twins

My Possessive Twins
51 : Si Posesif Ziko



Sering kali Devina berharap bisa seperti wanita lain yang bebas tanpa ada aturan dan dia juga ingin seperti teman-temannya yang mudah bergaul serta selalu bercerita ketika ada masalah. Selama ini Devina hidup dengan banyak aturan dari orang tua juga kembarannya dan dia jarang sekali bercerita kepada orang lain entah keluarga atau teman-temannya.


Di awal sekolah dulu Devina sering kali protes dengan sikap Devano apalagi ketika mereka pernah satu kelas. Saat pertama masuk kelas Devano menyuruhnya untuk duduk sebangku dengannya dan Devano juga selalu menatap tajam serta penuh curiga orang-orang yang mau berkenalan dengannya.


Hanya Mona dan Ziko yang waktu itu tetap berani mengajaknya mengobrol meskipun ada tatapan tajam Devano yang memperhatikan. Satu tahun berada di kelas yang sama Devina langsung merengek dan meminta agar dipisahkan kelasnya dari Devano.


Bukan tidak suka, tapi Devina terlihat seperti menutup diri dan Devano juga jadi dinilai sombong oleh orang-orang. Akhirnya mereka pisah kelas hanya saja tetap bersampingan dan Devano juga tetap mengawasinya bahkan di awal-awal kembarannya itu sampai mengantar dia masuk ke dalam kelas.


Seperti anak sekolah dasar yang diantar orang tuanya sampai ke dalam.


Sekarang seiring berjalannya waktu Devina hampir tidak pernah lagi protes dia hanya berusaha untuk mengerti dan lagipula Devano juga Daddy nya sudah tidak terlalu mengekangnya. Waktu dulu Devina tidak pernah keluar bersama teman-temannya ketika akhir pekan karena hanya Devano yang diizinkan untuk menemaninya kalau ingin pergi.


Karena itu semua Devina terbiasa dengan orang posesif.


"Hai Vin"


"Vinaa"


"Ehh ada Devina apa kabar?"


"Vina makin cantik deh"


"Hai cantik"


Ada begitu banyak sapaan ketika Devina ingin pergi ke kelasnya dan memdengar banyak pria yang menyapa serta terang-terangan menggoda tentu saja Ziko sangat tidak suka. Dengan posesif Ziko merangkul Devina lalu mempercepat langkah kakinya membuat kekasihnya itu sedikit kewalahan karena Ziko terlalu cepat.


"Ihh Ziko pelan-pelan jalannya." Keluh Devina


Setelah cukup jauh dari banyak rombongan Ziko menghela nafasnya pelan dan memperlambat langkah kakinya.


"Maaf aku gak suka banyak yang manggil-manggil kamu kayak gitu." Kata Ziko jujur


Devina tertawa mendengarnya padahal dia hanya menanggapi dengan senyuman, tapi ternyata Ziko terlalu pencemburu.


"Aku kan gak nanggepin mereka." Kata Devina


"Tapi, kamu senyum ke mereka." Kata Ziko kesal


"Ya terus aku harus gimana? Masa diem aja." Kata Devina sambil menahan senyumnya


"Jangan senyum ke mereka! Mereka nanti suka sama kamu." Kata Ziko


"Ihh nanti aku dikira sombong." Kata Devina


"Biarin"


"Lagian kan cuman senyum aja, memang apa salahnya?" Tanya Devina dengan begitu polosnya


Hanya senyuman?


Bagi Ziko itu lebih dari sebuah senyuman karena pertama kali Ziko jatuh hati ketika melihat senyum manis dan penuh ketulusan milik Devina. Selain itu senyuman manis gadia itu membuatnya berkali-kali lipat lebih cantik dan Ziko tidak mau kalau sampai para lelaki itu menyukai gadisnya.


"Jangann"


"Ihh anehh masa orang nyapa aku diem aja." Kata Devina yang masih tidak mengerti


"Aku cemburu Vin." Kata Ziko kesal


"Kok cemburu? Aku kan gak ngapa-ngapain cuman balas sapaan mereka pakai senyum, kayak gini." Kata Devina sambil membentu sebuah senyuman yang begitu manis


Melihat hal itu Ziko ikut tersenyum lalu mencubit gemas pipi kekasihnya dan mengajak Devina untuk masuk ke dalam kelas. Memasuki kelas Devina langsung berlari menghampiri Mona yang sudah sejak tadi berada di kelas.


"Udah pacarannya?" Tanya Mona membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal


"Ihh siapa yang pacaran?" Kata Devina


"Ya lo lah masa gue." Kata Mona sewot


"Mona lagi pms ya?" Tanya Devina membuat yang lain tertawa mendengarnya


Berbeda dengan Mona yang berusaha tersenyum dan memaklumi temannya yang sangat-sangat polos ini.


Devina seperti kertas putih kosong yang belum tercoret oleh tinta.


"Vin nanti jadi temenin gue kan?" Kata Cessa yang dijawab dengan anggukan oleh Devina


Tadi Cessa memang minta ditemani karena yang lainnya tidak bisa dan Devano juga sudah mengizinkan.


"Tadi udah bilang Vano juga." Kata Devina


"Mau kemana memang Vin? Kok gak bilang sama aku?" Kata Ziko yang tiba-tiba kembali muncul


"Ko udah lagi sana sama Gio lo lebay banget sumpah ngikutin Devina kemana-mana." Kata Cessa


"Iya padahal di kelas, tapi tetap aja gak mau jauh-jauh." Tambah Nayla


"Iri dihh suka-suka gue lah Vina kan pacar gue." Kata Ziko


Menahan kekesalan rasanya sikap posesif dan menyebalkan Ziko sudah mulai bisa mereka mengerti.


Beneran deh sekarang Ziko sama sekali gak mau jauh dari Devina kemana-mana diikutin dan jadi jarang banget ngumpul sama Gio plus yang lainnya kalau lagi di sekolah.


Vina ke perpustakaan ikut.


Vina ke kantin ikut.


Vina dipanggil ke ruang guru dia nungguin di depan.


Vina mau jalan ke parkiran diikutin.


Denger Vina ada janji untuk pergi keluar langsung sibuk dan nanya mau kemana terus kadang ngikutin juga.


Kan sebel ya?


"Mau nemenin Cessa beli flashdisk sama charger laptop dia yang rusak." Kata Devina


Ziko mengangguk faham lalu beranjak pergi, tapi sebelumnya dia mengacak gemas rambut kekasihnya dan pergi menghampiri teman-temannya.


Menghela nafasnya lega mereka langsung menggerutu ketika Ziko benar-benar pergi dan membuat Devina tertawa melihatnya. Memang sekarang Ziko sangat-sangat posesif dan selalu mengikutinya kemanapun.


"Kesel gue sumpah gak mau pergi bener ngikutin Devina terus kemana-mana." Kata Mona


"Udah kayak bakal diculik aja." Kata Cessa


"Masalahnya ini di kelas dan dia masih tetap ngikutin aja padahal kan gak bakal ilang." Kata Nayla


"Padahal dulu gak segitunya malah dulu sering ninggalin Devina di kelas kalau pas pada ke kantin." Kata Cessa lagi


"Ya beda situasinya Ces ini kan udah jadi pacar faktanya seseorang kalau udah jadi milik orang lain bakal lebih dilirik." Kata Mona


"Padahal aku biasa aja gak terlalu nanggepin juga kalau ada yang nyapa atau ngajakin ngobrol." Kata Devina


"Lo cantik sih makanya Ziko takut lo diambil orang." Kata Mona


"Ih kalian jangan bilang kayak gitu terus doang kan yang cantik bukan aku doang, tapi kalian dan semua cewek juga." Kata Devina sedikit kesal


"Iya deh Vin enggak lagi." Kata Mona


"Aku udah biasa sama prilaku posesif gitu soalnya dari dulu Daddy sama Vano memang memperlakukan aku kayak gitu dan kalian juga tau gimana Vano dulu selalu ngikutin aku kemana aja." Kata Devina


Mereka mengangguk setuju karena Devano memang seposesif itu dulu bahkan banyak orang yang mengira kalau pria itu menyukai Devina karena perlakuannya yang bisa dibilang berlebihan.


Sering kali Devano mengusap kepala Devina, mencubit pipinya, atau menggenggam tangannya dihadapan banyak orang. Namun, ketika mereka berdua sudah dekat dengan orang lain kabar itu menghilang dan tidak ada lagi yang membahasnya.


"Kadang gue mau jadi lo Vin." Kata Nayla


"Kadang aku mau kayak kalian." Kata Devina


Lalu mereka tertawa bersamaan terkadang memang seperti itu seseorang selalu mengharapkan bisa menjalani hidup seperti orang lain.


Sebenarnya apa yang mereka benar-benar inginkan?


"Jujur kadang aku ngerasa kalau aku itu lemah banget jadi cewek bahkan dibentak aja nangis aku mau jadi cewek yang kuat, tapi orang-orang disekitar aku buat hal itu gak mungkin." Kata Devina sambil tersenyum tipis


"Tapi, orang lain mau punya hidup kayak lo Vin." Kata Cessa


Devina mengangguk faham, dia tau bahkan sangat tau.


"Mereka mau karena mereka gak tau rasanya." Kata Devina


"Tapi, lo bahagia kan?" Kata Nayla


Devina tersenyum manis, dia sangat tidak tau diri kalau dia tidak bahagia mendapatkan apa yang selalu orang lain inginkan.


Keluarga yang sempurna


Kekasih yang perhatian dan posesif


Teman-teman yang selalu ada untuknya


Apa lagi yang dia harapkan?


"Gak mungkin kalau aku gak ngerasa bahagia dengan itu semua"


Terkadang Devina merasa kalau hidupnya terlalu sempurna.


¤¤¤


Seperti yang sudah dijanjikan Devina menemani teman baiknya untuk membeli flashdisk juga charger laptop sepulang sekolah karena mereka memang pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Menggunakan motor yang biasa Cessa bawa sekarang mereka mampir ke kedai ice cream dan menghabiskan sedikit waktu disana sebelum pulang ke rumah.


Satu lagi yang sering Devina bayangkan, pergi ketempat yang dia mau menggunakan kendaraan sendiri tanpa harus ada supir atau yang menemaninya. Namun, dia sangat tau kalau hal itu hampir mustahil karena Daddy nya dan Devano tidak akan pernah memberi izin.


"Gue kesel banget sama adek gue Vin sumpah masa charger gue dibanting karena dia marah gak gue kasih pinjem hp dan sekarang gue harus keluar duit untuk beli charger, dikira murah kali ya?" Gerutu Cessa sambil memakan ice creamnya dengan penuh kekesalan


Devina tertawa mendengarnya dia tau adik laki-laki Cessa yang kalau kata Cessa sok pendiam ketika ada orang lain, tapi bar-bar kalau sedang bersamanya.


"Pasti kalau kamu nyalahin dia Mama kamu malah balik nyalahin kamu." Tebak Devina


"Iya bener banget! Mama gue malah bilang 'makanya dipinjemin' ya ampun sumpah gue kesel banget lagian tangan adek gue tuh ngerusak udah berkali-kali dibeliin hp rusak terus yang kebanting lah, kejebur bak mandi, hilang ihh sebel banget!" Kata Cessa dengan penuh amarah


"Sabar Ces jangan marah-marah." Kekeh Devina


"Memang adek itu selalu benar di mata Mama." Kata Cessa


Devina hanya tertawa kecil menanggapinya lalu mengambil ponselnya yang bergetar.


Ada pesan dari Ziko dan Devano disana.


Ziko : Vinaaa


Ziko : Sayanggg


Ziko : Sent you a photo



Ziko : Udah pulang belum aku mau telponnn?


Tertawa kecil Devina membalas pesan dari kekasihnya.


^^^Ihh dapat dari mana foto ituu???^^^


^^^Jahattt^^^


^^^Aku belum pulang^^^


Sesaat setelahnya Devina membuka pesan dari Devano dan langsung membelasnya agar pria itu tidak marah.


Devano : Udah dimana?


Devano : Kalau udah sampe rumah bilang


Selalu seperti itu padahal baru sekitar empat puluh lima menit dia pergi.


^^^Masih di kedai ice cream^^^


^^^Iyaaa nanti aku kasih tau^^^


Meletakkan ponselnya di atas meja Devina kembali memakan ice cream yang ada di meja. Sekarang dia harus mengabari banyak orang kalau mau pergi.


"Vin"


"Iya?"


"Lihat nih kelakuan cowok lo." Kata Cessa sambil tertawa dan menunjukkan ponselnya


Mengambil ponsel itu Devina tersenyum, tapi wajahnya mulai memerah karena malu.


Sial!


Ziko : Ces


Ziko : Cessa woyy jagaiin cewek gue


Ziko : Awas jangan boleh ada cowok lain yang lirik-lirik nanti sebagai balasan gue kenalin lo ke cowok


Ziko : Jagaiin jangan sampe ada yang berani deketin dia!


"Posesif banget"


Cessa tertawa sedangkan Devina terdiam dengan wajah memerah.


'Zikoo ngapain sihh pake chat Cessa segala kan maluuu'


¤¤¤


Hai haii aku update nihh😉


Double up gakk???