
"Awhh"
Suara ringisan Devina terdengar bersamaan dengan kuah bakso yang tumpah ke tangannya juga piring yang terjatuh ke bawah lalu pecah di dekat kakinya. Kantin yang semula ramai mendadak hening dan semua mata menatap ke arah Devina juga seorang siswi yang terlihat terkejut serta takut disaat yang bersamaan.
Tanpa sengaja dia menabrak Devina yang sedang berjalan karena tadi dia memang tengah berbicara dengan temannya. Sekarang gadis itu terlihat takut dia bukan tidak tau kalau Kakak kelas yang dia tabrak itu memiliki kembaran yang dingin dan amat posesif serta kekasih yang sama posesifnya juga.
"Kak maaf aku gak sengaja." Katanya dengan cepat
Devina baru akan bicara, tapi Ziko sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Makanya jalan pake mata dong! Udah tau rame jalan tuh liat ke depan." Kata Ziko marah
Dia langsung meraih tangan Devina yang terlihat basah.
"Panas ya?" Tanya Ziko lembut
Devina menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku minta maaf Kak aku gak sengaja." Kata gadis itu lagi
Bahkan dia menunduk dan tidak berani mendongak.
"Enggak papa." Kata Devina
"Tapi, Vin...."
"Dia kan enggak sengaja." Kata Devina pelan
"Maaf Kak." Kata gadis itu lagi
Ziko menghela nafasnya pelan lalu mengajak Devina untuk pergi ke uks dan membersihkan tangannya. Baju dan rok Devina juga sedikit kotor, tapi itu bukan masalah Devina malah merasa kasihan pada gadis tadi.
"Ziko"
"Hmm"
"Harusnya aku ganti uang dia dulu tadi." Kata Devina yang membuat Ziko merasa kesal
"Untuk apa? Dia yang nabrak kamu." Kata Ziko kesal
"Tapi, makanan dia jadi tumpah...."
"Salah dia sendiri." Kata Ziko ketus
"Tapi, kalau dia gak ada uang untuk beli lagi gimana? Kalau dia lagi lapar gimana? Kita balik dulu yuk biar aku ganti uangnya." Kata Devina
Mendengar hal itu Ziko jadi gemas sendiri.
"Gak usah Vin." Kata Ziko
"Tadi mangkuknya juga pecah terus lantainya kotor, kita balik lagi aja ya?" Kata Devina lagi yang tidak dijawab apapun oleh kekasihnya
Tangan Devina yang digenggam memaksa gadis itu untuk mengikuti langkah kaki Ziko yang membawanya ke uks. Tadi Mona dan yang lainnya pergi ke kelas untuk mengambil uang, jadi Ziko dengan Devina yang pergi duluan untuk mencari tempat.
Sampai di uks Ziko meminta Devina untuk pergi ke kamar mandi dan membasuh tangannya dengan air selagi dia pergi ke kelas untuk mengambil jaketnya.
"Kamu tunggu sini ya?" Kata Ziko
"Nanti dia...."
"Tunggu disini ya?" Kata Ziko lagi kali ini dia mengatakan dengan penuh penekanan
Akhirnya Devina mengangguk dan setelah kekasihnya itu keluar dari UKS dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh tangannya yang memang terasa sedikit panas juga kakinya. Sepatu dan kaos kakinya juga jadi basah, tapi Devina masih terus berfikir pada gadis tadi.
Dia tidak salah hanya tidak sengaja saja.
Menghela nafasnya pelan setelah selesai Devina keluar dari kamar mandi, dia sudah melepas sepatu dan juga kaos kakinya.
"Kamu kenapa Vin?"
Pertanyaan itu membuat Devina kaget hingga memundurkan langkahnya dan ketika mendongak dia melihat kembarannya yang entah datang dari mana. Wajahnya panik dan dengan tergesa dia menghampiri Devina lalu meraih tangannya.
"Panas?" Tanya Devano
Devina menggelengkan kepalanya pelan.
Ayolah ini bukannya air mendidih yang akan membuat kulitnya melepuh.
"Siapa yang nabrak kamu?" Tanya Devano
"Dia enggak saja Vano." Kata Devina sambil melepaskan tangannya dan berjalan menuju ranjang uks
Devina tidak tidur hanya duduk saja dan Devano berdiri dihadapannya.
"Bajunya kotor." Kata Devano
"Emm Ziko lagi ambilin jaket." Kata Devina
Tidak bertanya lagi Devano meraih tangan Devina dan mengusapnya dengan lembut.
"Enggak papa Van itu kan bukan air mendidih, lihat deh gak papa." Kata Devina pelan
Tidak ada tanggapan Devano hanya diam membuat Devina menghela nafasnya pelan.
"Vano enggak..."
"Di loker kamu gak ada rok?" Tanya Devano sambil menatap kembarannya
"Emm ada"
"Yaudah aku ambilin nanti diganti roknya." Kata Devano
Devina mengangguk dan memperhatikan kembarannya yang sekarang berjalan menjauh. Beberapa saat setelahnya Ziko masuk dan membawa jaket yang tadi dia kenakan lalu memberikannya pada sang kekasih.
"Udah?"
"Hmn udah sepatu sama kaos kakinya basah." Kata Devina
"Ini pakai dulu." Kata Ziko
"Nanti kamu?" Tanya Devina
"Gak usah makelah gak papa." Kata Ziko santai
Devina tersenyum dan mengambil jaket itu lalu memakainya.
"Lapar gak?" Tanya Ziko
"Gak terlalu"
"Mau roti atau susu?" Tanya Ziko lagi
"Susu aja yang kayak biasanya." Kata Devina sambil tersenyum
"Yaudah aku beliin dulu, mau disini atau di kelas?" Tanya Ziko
"Disini aja tadi ada Vano di lagi ambilin rok di loker." Kata Devina membuat kekasihnya itu mengangguk faham
Sambil menunggu Ziko dan juga Devano sekarang Devina mengeluarkan ponselnya untuk melihat akun media sosialnya. Terkadang Devina merasa kalau kembarannya suka berlebihan hal yang padahal sepele dibuat seolah-olah begitu besar.
Saat tengah asik memainkan ponselnya pintu UKS terbuka dan Devina dibuat terkejut ketika Alex masuk dengan dipapah oleh Erick juga Yuda. Wajah pria itu terlihat seperti sedang menahan sakit dan mata Devina mengikuti mereka hingga Alex dibaringkan di ranjang sebelahnya.
"Aghh"
"Makanya Lex dibilang jangan tuh jangan." Kata Erick jengah
"Iya nyusahin lu udah tau berat." Kata Yuda
"Berisik." Kata Alex
"Alex kenapa?" Tanya Devina
Suara lembut itu membuat ketiganya menoleh, bahkan mereka tidak sadar bahwa Devina juga sedang berada di UKS.
"Biasa Vin keseleo." Kata Yuda
"Iya ini masih nunggu Pak Jay." Kata Erick menambahkan
"Keseleo terus." Kata Devina
"Emang Vin tadi udah dibilang gak usah ikut maen karena kemaren gini juga, masih aja ngeyel." Kata Erick
Alex meletakkan tangannya di dahi dan kembali meringis karena merasakan sakit. Beberapa saat setelahnya Pak Jay dengan pakaian olahraganya masuk dan menghampiri anak didiknya.
Kemarin Alex memang terkilir dan dia sudah memperingati anak itu untuk berhenti main beberapa waktu ke depan, tapi memang dasar anak itu tidak bisa dikasih tau.
Devina bergidik ngeri ketika gurunya itu memegang kaki Alex dan membuatnya berseru karena merasa sakit. Beberapa saat setelahnya Devina dibuat tersentak ketika bahunya disentuh dan ternyata Devano yag baru saja datang.
"Temen lo Van." Kata Erick ketika melihat Devano yang tengah melirik Alex
Devano tertawa kecil, memang Alex susah sekali dibilangi jangankan oleh gurunya bahkan orang tuanya saja sering kali tidak didengar.
"Emang suka nyari penyakit." Kata Devano
Kembali menatap kembarannya Devano menyerahkan rok yang tadi dia ambil di loker dan Devina langsung turun lalu pergi ke kamar mandi.
"Makanya Lex....."
"Aghh berisikk"
Tak butuh waktu lama bagi Devina untuk keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri Devano. Sekarang gadis itu tengah memperhatikan Alex yang terlihat berusaha mengatur nafasnya setelah Pak Jay selesai dan kakinya mulai terasa tidak terlalu sakit.
"Dah kita orang balik ke kelas Lex, lo tidur aja mumpung ada kesempatan." Kata Erick sambil tertawa
"Iya biasanya lo kan selalu cari cara untuk bolos ini gak usah." Kata Yuda
"Brengsek"
Mereka tertawa mendengar umpatan Alex lalu pergi kembali ke kelas.
"Duluan ya Vin." Kata mereka
"Iyaa"
Mereka pergi dan Devano juga hanya tersisa Alex dengan Devina disana, tadinya Devina juga ingin kembali ke kelas, tapi Ziko belum kembali. Akhirnya Devina memilih untuk duduk di tepi ranjang yang tadi dan memainkan ponselnya.
Disampingnya ada Alex yang mungkin sudah tertidur atau belum dia tidak tau, tapi pria itu tidak banyak bicara.
"Vin"
Suara itu membuat Devina menoleh dan menatap Alex yang tengah melihat ke arahnya.
"Kok bisa di uks? Kamu lagi sakit?" Tanya Alex pelan
Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak tadi ada yang gak sengaja nabrak aku terus tangan sama kaki aku ketumpahan kuah bakso makanya kesini habis cuci tangan sama kakinya terus ganti rok juga." Kata Devina
Alex mengangguk faham dan mengalihkan pandangannya lagi.
"Kamu nih bandel banget ya Lex?" Tanya Devina membuat Alex terkekeh mendengarnya
"Baru tau Vin?" Tanya Alex
"Jangan gitu Alex memang gak sakit apa kakinya." Kata Devina
"Hmm"
Hanya gumaman pelan yang Alex berikan dan tak lama kemudian pintu UKS terbuka. Dengan senyuman Ziko masuk ke dalam dia sudah membelikan susu untuk kekasihnya dan kaos kaki juga.
"Ini aku beli kaos kaki juga." Kata Ziko membuat Devina tersenyum
"Makasihhh"
Melihat Ziko yang masuk ke dalam Alex langsung memunggungi mereka berdua dan memejamkan matanya.
Entahlah terkadang dia masih merasa tidak terima.
Devina memakai kaos kaki itu lalu bersama dengan Ziko meninggalkan UKS dan kembali ke kelas mereka karena bel masuk sudah mau berbunyi.
"Alex aku duluan ya? Cepet sembuh." Kata Devina tulus
Hanya gumaman pelan yang Alex berikan dan Devina tersenyum lalu memakai sepatunya.
"Katanya basah sepatunya." Kata Ziko
"Luarnya aja kok nanti kalau udah sampai kelas aku buka lagi." Kata Devina membuat Ziko mengangguk faham
Digenggamnya tangan sang kekasih dan mereka berdua bersama-sama melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Aku mau naruh ini di loker dulu." Kata Devina sambil menunjukkan plastik berisi rok juga kaos kaki miliknya
"Gak dibawa ke kelas aja?" Tanya Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan.
"Nanti aja pas pulang aku ambil." Kata Ziko
Sekali lagi Ziko hanya mengangguk faham dan mengikuti kemauan kekasihnya.
¤¤¤
Saat pulang sekolah Devina dan teman-temannya terjebak hujan ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah Mona padahal sudah setengah perjalanan. Sekarang mereka sedang berteduh di salah satu ruko yang tutup bersama beberapa pengendara lainnya dan hujan juga malah semakin deras.
Di tempatnya Devina mengeratkan jaket milik Ziko yang dia pakai dan semakin memundurkan langkahnya ketika angin membuat air hujan mengani mereka sedikit. Hawa dingin mulai menyerangnya ketika angin dan hujan semakin deras ditambah lagi suara gemuruh yang mulai terdengar.
Devina mulai takut.
Tadi cuaca masih cerah dan tidak ada tanda-tanda ingin hujan. Ketika suara gemuruh dan petir semakin sering terdengar Devina mengeluarkan ponselnya untuk mematikannya.
Tapi, kilat juga suara petir yang cukup keras membuatnya kaget dan menjatuhkan ponselnya.
"Ehh kenapa Vin?" Tanya Mona yang membantu temannya itu mengambil ponselnya
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan mengambil ponselnya lalu mematikannya kemudian memasukkan ke dalam tas.
"Vin lo gak papa kan?" Tanya Cessa ketika melihat wajahnya yang sedikit pucat
"Enggak papa." Kata Devina sambil tersenyun tipis
Dia takut petir dan dia mau pulang.
Devina mau pulang.
"Vin serius? Gue telpon Vano aja ya?" Kata Nayla sedikit cemas
Dia ingin mengeluarkan ponselnya, tapi Devina langsung menahannya.
"Jangann gak boleh main hp lagi hujan dan petir terus kita di tempat terbuka juga." Kata Devina dengan cepat
"Tapi, lo beneran gak papa?" Tanya Nayla memastikan
Devina terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
Merasa takut sesuatu terjadi Mona mendekat ke arah Devina dan merangkulnya.
"Padahal tadi terang-terang aja." Kata Mona
"Iya hujan nih suka tiba-tiba aja." Kata Cessa
"Menghabiskan waktu kita kan jadinya." Tambah Nayla
Ketiga teman Devina terlihat tenang, tapi tidak dengan gadis itu yang merasa sangat cemas juga takut. Sejak tadi dia merapalkan doa agar hujan segera berhenti dan dia bisa pulang.
Saat suara gemuruh terdengar lagi Devina merapatkan tubuhnya Mona membuat gadis itu jadi ikut cemas juga. Apalagi wajah Devina yang sedikit pucat dengan tangan yang juga terasa sangat dingin.
"Gue telpon Vano aja deh." Kata Mona
"Ih jangannn"
Devina sangat takut kalau ada yang memainkan ponsel ketika hujan apalagi saat suara petir saling bersautan.
Entah berapa lama hujan itu turun, tapi ketika hari menjelang sore hujan mulai reda dan membuat Devina ikut lega. Meskipun masih gerimis Devina mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan saja karena takut kalau nanti hujan kembali deras.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan dan setelah menempuh waktu selama sepuluh menit motor mereka berhenti di rumah Mona. Setelah memasukkan motor ke dalam garasi mereka masuk ke dalam rumah yang cukup sepi kata Mona orang tuanya sedang bekerja dan adiknya mungkin ada di kamar.
"Vin lo ganti baju pakai baju gue gih biar gak sakit, kalian juga." Kata Mona
Membuka kamarnya Mona menyuruh mereka untuk mengambil pakaian di lemarinya.
"Baju aja deh Mon roknya biarin." Kata Cessa
Setelah mengambil baju milik Mona dan berganti sekarang mereka berkumpul di ranjang gadis itu sedangkan Mona entah pergi kemana. Merasa lebih hangat Devina mengambil ponselnya dan menghidupkannya karena takut Devano menelpon.
Benar ada banyak sekali panggilan tak terjawab.
Baru ingin menelpon Devano sudah menelpon kembali dan langsung diangakat oleh Devina.
'Vin, udah dimana? Tadi kehujanan gak? Sekarang dimana?'
"Di rumah Mona enggak kok gak kehujanan." Kata Devina membuat kedua temannya menatap gadis itu
Mereka tau siapa yang menelpon.
'Pulangnya jam berapa?'
"Emm nanti agak malam." Kata Devina
'Nanti telpon ya?'
Devina hanya bergumam pelan lalu mematikan panggilan telponnya dan tak lama setelahnya Mona masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat yang tadi dia buat.
Senyum Devina mengembang dia jadi ingat perbuatan kembarannya yang selalu membawakan teh hangat kalau sedang hujan.
"Makasih Mona." Kata Devina
Mona mengangguk singkat dan membiarkan teman-temannya untuk minum, dia juga sudah berganti pakaian di bawah.
Tadi Devano menelpon dan menanyakan Devina sambil mengatakan.
'Kalau hujan dia biasa minum teh hangat'
Perhatian sekali Devano pada kembarannya.
¤¤¤
Yeeee updatee😉