
"Sudah siap Devano?"
Pertanyaan itu Devano jawab dengan anggukan pasti membuat Daffa tersenyum dan menepuk pelan pundak anaknya, mereka akan pergi ke rumah Adara hari ini untuk melamar gadis itu secara langsung. Tidak akan banyak orang yang datang hanya keluarga inti saja dan kemungkinan besar juga Julian tidak akan datang, tapi Daffa juga berharap pria itu tidak perlu datang dari pada nanti membuat keributan.
Mereka akan makan malam bersama lalu membahas beberapa hal mengenai pernikahan yang Daffa sendiri ingin dilangsungkan setelah keduanya libur kuliah agar nantinya mereka memiliki banyak waktu berdua ketika libur. Anaknya itu terlihat begitu tampan dengan balutan jas serta dasi yang membuatnya terlihat begitu mempesona dan Daffa sudah membayangkan Devano yang nantinya akan meneruskan semua pekerjaannya.
Dia ingin sekali melihat Devano menggantikannya pergi ke kantor dengan pakaian begini.
"Kemari sayang biar Mommy rapihkan." Kata Fahisa
Devano mengangguk patuh dan mendekat pada Fahisa yang merapihkan dasinya lalu mengusap sayang pipinya.
"Tampan sekali." Kata Fahisa
Devano tersenyum lalu dia dapat merasakan tangannya di genggam dengan sayang dan bersama kedua orang tuanya mereka masuk ke dalam mobil.
Awalnya mereka ingin pergi bersama dengan Devina dan Sahara juga, tapi ternyata hanya Devina saja yang bisa ikut karena Sahara sedang tidak di sini melainkan di luar kota bersama suaminya. Nanti mereka akan bertemu dengan Devina di rumah Adara sesuai permintaan Devano agar kembarannya itu tidak memutar terlalu jauh.
"Mom"
"Hm ada apa? Kamu gugup?" Tanya Fahisa
Devano tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Mommy ulang tahun." Kata Devano membuat Fahisa tertawa kecil
"Lalu?"
"Mommy mau kado apa dari Vano?" Tanya Devano
"Ini udah kado sayang dengan kamu berniat meminang seorang gadis itu sudah menjadi kado untuk Mommy." Kata Fahisa
Devano tersenyum manis membuat Fahisa merasa gemas sendiri lalu mencubit pelan pipinya.
"Cincin sudah di bawa?" Tanya Fahisa
"Udah Mom ada di saku." Kata Devano
"Ya ampun kenapa anak-anak Mommy cepat sekali dewasanya? Dulu kalian bertiga masih sering berantem di ruang tengah karena berebut remote tv." Kata Fahisa sambil tersenyum ketika mengingatnya
"Waktu berlalu dengan sangat cepat sayang." Kata Daffa sambil menoleh ke belakang
"Hm anak Mommy ini cepat sekali dewasanya apa lagi Devano." Kata Fahisa
"Mommm"
Devano merengek pelan lalu memeluk Mommy nya dengan sayang dan bersandar manja di bahunya membuat Fahisa tertawa kecil.
"Jangan jauh-jauh dari Mommy ya? Kamu sama Adara kalau sudah menikah tinggal di rumah aja cukup Vina sama Ara aja yang jauh." Kata Fahisa
"Mom udah jangan ngomong gitu Vano gak bakal kemana-mana." Kata Devano
Fahisa tersenyum dan mengusap pelan rambut anaknya membuat Devano memejamkan matanya.
Selama perjalanan Devano tak banyak bicara dia hanya diam di dalam pelukan Fahisa hingga mereka akhirnya sampai di rumah sederhana milik Adara. Secara kebetulan Devina juga baru sampai dan dia dengan penuh semangat berlari kecil menghampiri yang lainnya.
Di samping Devina ada Ziko yang tersenyum pada yang lainnya lalu mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah Adara dan di sana langsung di sambut dengan hangat oleh Juan dan istrinya.
Ya meskipun bisa di lihat bahwa istri Juan terlihat tidak begitu semangat.
Juan langsung mengajak yang lainnya untuk duduk dan sejak pertama masuk pandangan Devano terus terpaku pada Adara yang terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna peach yang sangat pas untuknya. Sejak tadi Adara juga sama, dia merasa terpesona dengan Devano yang sangat tampan.
Di samping Fahisa ada Devina yang melambai-lambai pada Adara, dia senang karena tidak ada Julian.
"Terima kasih untuk semuanya Juan." Kata Daffa sambil tersenyum
"Ini bukan apa-apa memang seharusnya sudah begini." Kata Juan
"Ah iya ada Sahara yang tidak bisa datang karena sedang di luar kota." Kata Daffa
Daffa mengangguk singkat lalu menatap Adara yang sedang menundukkan kepalanya.
"Kamu terlihat cantik Adara sekarang Devano pasti sangat terpesona melihat kamu." Kata Daffa membuat Adara mendongak dengan pipi merona
"Terima kasih"
Devano masih terus menatap Adara dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
Malam ini dia akan melamar gadis yang sangat dia cintai, Devano tidak akan pernah melupakannya.
°°°°
Sejak kecil Adara tidak banyak merasakan kebahagiaan sebaliknya dia lebih sering menangis dan kesepian bahkan hal itu sampai membuat Adara berpikir bahwa hidupnya akan selamanya begitu, tidak akan ada kebahagiaan untuknya. Namun, semuanya berubah sejak Devano datang dan merubah banyak hal di hidupnya pria itu memberikan begitu banyak warna di hidupnya.
Berawal dari Devano yang mendadak peduli dan dia yang selalu ketus hingga berakhir dengan Adara yang tidak pernah bisa memberikan penolakan untuk Devano. Bisa di bilang Devano sudah membuat Adara bangkit dari segala keterpurukan.
Bunda yang koma lalu pergi untuk selamanya.
Dia yang suka bertengkar dan berkelahi hingga mendapat banyak cacian dari Juan juga Julian.
Devano selalu ada bahkan sampai akhirnya Juan berubah itu juga karenanya sungguh Adara tidak tau harus berterima kasih seperti apa lagi.
"Kamu cantik banget Ra"
Perkataan itu membuat Adara tersandar dari lamunannya dan menatap Devano yang duduk di sampingnya. Mereka berada di ruang tengah karena yang lainnya memberikan izin untuk Devano yang katanya mau bicara berdua dengan Adara.
"Makasih, kamu juga ganteng banget aku sampai gak bisa ngomong apa-apa." Kata Adara
Devano tersenyum dan menyampirkan helaian rambut Adara ke belakang telinganya dengan mata yang tidak pernah lepas dari sosok cantik di sampingnya.
"Van aku beruntung banget punya kamu ya?" Kata Adara
"Hm"
"Aku takut banget waktu kamu bilang kata menyerah, aku gak mau kamu pergi." Kata Adara
"Enggak pergi sayang aku masih disini sama kamu." Kata Devano
"Iya kamu juga udah lamar aku cincin ini buktinya." Kata Adara sambil melihat cincin yang melingkar manis di jari manisnya
Devano hanya bisa tersenyum sambil terus menatap Adara.
"Kamu spesial banget di hidup aku Van makasih banyak untuk semua yang udah kamu kasih untuk aku," Kata Adara.
Adara menatap Devano dengan begitu tulus.
"Makasih banyak untuk semua kasih sayang dan perhatian yang kamu berikan untuk aku, makasih juga udah selalu ada untuk aku, aku sayang banget sama kamu." Kata Adara
"Aku juga Ra"
"Mau peluk kamu Van." Kata Adara pelan
Devano tersenyum dan tanpa mengatakan apapun membawa gadis itu ke dalam pelukannya lalu Devano mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Sebentar lagi hanya sebentar lagi mereka akan terus bersama dan Adara akan menjadi orang yang pertama kali Devano lihat ketika ingin tidur juga bangun dari tidurnya.
Sebentar lagi pula kata kekasih atau tunangan akan berganti menjadi istri.
Istri kesayangan Devano.
°°°°
Apakah Devano bisa di bagi menjadi dua😌
Ganteng banget deh Tuan Muda Devano🤣 Udah cocok jadi CEO menggantikan Daddy Daffa belum nih🤣