
Memainkan jari tangannya tidak tentu arah Devina merasa sangat gugup ketika dia ditanya masalah yang menimpanya di kampus oleh beberapa pihak yang berwenang dan termasuk pihak kampus yang turut datang. Sekarang Devina berada di kantor polisi bersama dengan dua orang yang sudah menyakitinya tanpa alasan dan hal itu benar-benar membuatnya gugup meskipun ada yang menemaninya.
Tadi Devina kesini bersama dengan Daffa, Devano, dan Ziko yang sekarang berada di dekatnya sayangnya hal itu tidak lantas membuatnya tenang. Ada rasa takut untuk bicara sejujurnya apalagi dua orang itu juga ada di dekatnya dan menatapnya.
Devina mendongak lalu menatap mereka bergantian dan berhenti lama pada Daddy nya yang menganggukkan kepala sambil tersenyum menenangkan.
"Bisa ceritakan kepada kami kronologisnya?" Tanya seorang pria dengan seragam polisi
Devina mengangguk singkat lalu mulai bicara dengan wajah menunduk tanpa mau menatap siapapun.
"Semua ini memang karena Daddy nya! Dia memenjarakan Ayah saya dan karena hal itu keluarga kami berantakan!" Kata seorang pria dengan wajah memerah karena amarah
Mendengar Daddy nya disalahkan Devina mendongak dan menatapnya dengan kesal.
"Kenapa salah Daddy?! Daddy gak mungkin memenjarakan seseorang tanpa alasan dan masalah keluarga kalian kenapa harus menyalahkan Daddy? Harusnya kalau tidak mau hal seperti ini terjadi dia jangan melakukan kesalahan." Kata Devina
Keadaan hening untuk sesaat Devina meremas kuat roknya untuk meredam rasa takut setelah berbicara hal itu dihadapan banyak orang.
"Meskipun keluarga, tapi tidak benar kalau masih tetap membelanya ketika dia salah bahkan malah sampai ikut melakukan kejahatan hanya untuk balas dendam." Kata Devina pelan
Sekali lagi keadaan kembali hening tidak ada satupun orang yang bicara sampai akhirnya seorang petugas kepolisian mengatakan bahwa Devina sudah bisa pulang. Masih dengan kepala tertunduk Devina mengucapkan terima kasih, tapi sebelum pergi dia mendongak untuk menatap kedua orang yang telah menyakitinya.
Menggigit bibir bawahnya pelan Devina berjalan keluar diikuti dengan Ziko yang mengikutinya karena Daffa dan Devano masih harus disana untuk beberapa hal. Keluar dari area kantor polisi Ziko menahan lengan kekasihnya lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya membuat Devina memejamkan matanya.
Rasanya tenang dan dia merasa aman berada di dekapan kekasihnya.
"Kata Daddy dan Vano kamu boleh pulang duluan, mau pulang?" Tanya Ziko
Melepaskan pelukannya Ziko menyampirkan rambut Devina kebelakang telinga lalu tersenyum sambil menatapnya.
"Em Vina mau ke suatu tempat." Kata Devina
"Kemana?" Tanya Ziko
"Mau ke rooftop di kantor Daddy." Kata Devina
"Okay nanti aku akan kasih tau Om Daffa." Kata Ziko
Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu menggenggam tangan Ziko mengikutinya hingga ke tempat dimana mobilnya terparkir. Setelah masuk ke dalam Devina langsung memakai sabuk pengamannya dan menatap Ziko yang mulai melajukan mobilnya.
Selama perjalanan Devina hanya diam sambil sesekali menatap kekasihnya lalu tersenyum hingga akhirnya mereka sampai di perusahaan. Turun dari mobil Devina memeluk lengan kekasihnya dan mengajaknya masuk ke dalam perusahaan.
Mereka pergi ke rooftop yang merupakan tempat kesukaan Devina dan Devano ketika mereka datang ke perusahaan. Setelah lift berhenti mereka naik sedikit tangga lagi lalu membuka pintu dan saat itulah mereka sampai di rooftop.
Devina tersenyum lalu berlari kecil membuat Ziko langsung mengikutinya dan mereka berhenti di dekat tembok pembatas.
"Hati-hati Vin." Kata Ziko panik ketika Devina melihat ke bawah
Berbeda dengan Ziko yang merasa panik Devina justru tertawa, dia juga tidak mungkin melompat lagian kan dia hanya melihat ke bawah saja.
"Disini indah banget kalau malam." Kata Devina
"Benarkah?" Tanya Ziko
"Heem dulu Vina sering kesini sama Vano dan Kak Ara bahkan kalau malam biasanya kamu kesini kalau Daddy lembur." Kata Devina
"Kedengarannya menyenangkan." Kata Ziko
"Memang Ziko seru tau kita sering tiduran terus melihat ke atas dan menatap bintang sama bulan sambil nunggu ada bintang jatuh." Kata Devina
"Sayang kita kesininya sore." Kata Ziko
"Hm gak papa." Kata Devina sambil tersenyum
"Kamu udah merasa lebih baik?" Tanya Ziko
"Udah kok Vina gak papa." Kata Devina
Devina berbalik lalu mengajak Ziko ke tempat lainnya dan berbaring disana membuat Ziko membulatkan matanya terkejut, tapi Devina malah menepuk tempat disampingnya.
"Sini Ziko tiduran samping Vina." Kata Devina
Tidak memberikan penolakan Ziko berbaring disamping Devina dan mereka sama-sama menatap ke atas sambil tersenyum.
"Kata Mommy semua hal-hal sulit akan segera berlalu, jadi jangan pernah menyerah atau putus asa akan sesuatu." Kata Devina
"Hm Tante Hisa benar." Kata Ziko
Ziko melakukan hal yang sama dan menatap Devina dengan alis bertaut.
"Apa?"
"Mommy bilang dia suka banget sama Ziko dan bakal senang kalau Vina nikah sama Ziko." Kata Devina
"Aku kan memang akan menikahi kamu." Kekeh Ziko
"Iya Vina tau, awas aja kalau Ziko gak nikahin Vina! Nanti Vina bakal ke rumah Ziko dan kasih maksa Ziko nikahin Vina." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya
"Mana mungkin aku gak mau nikahin kamu sayang." Kata Ziko
Devina tersenyum dan kembali berbalik lalu dia mengangkat tangan kanannya dan menatap tangan itu dengan senyuman.
"Cincin dari Ziko gak pernah mau Vina lepas." Kata Devina
Ziko ikut tersenyum lalu melakukan hal yang sama.
"Cincin ini juga gak pernah aku lepas." Kata Ziko
Devina bangun dan memutar tubuhnya menatap Ziko yang masih berbaring.
"Sini tangan Ziko." Kata Devina
Meraih tangan kekasihnya Devina menautkan jari-jari mereka lalu mencium tangan Ziko hingga berkali-kali.
"Vina"
Devina tersenyum manis dia menatap kekasihnya dan menggunakan tangan yang lainnya untuk mengusap wajah Ziko dengan penuh kelembutan.
"Vin kamu ngapain?" Tanya Ziko
"Em lagi merhatiin calon suaminya Vina." Kata Devina yang sukses membuat Ziko terkejut bukan main
Mendadak dia salah tingkah lalu bangun dan menatap Devina dengan penuh ketulusan.
"Alis Ziko bagus banget aku suka"
Devina menyentuh alis kekasihnya dan mengusapnya pelan membuat Ziko memejamkan matanya.
"Bulu matanya juga lentik terus hidungnya mancung banget"
Devina mengatakan hal itu sambil mencapit gemas hidung kekasihnya dan setelahnya dia terdiam dengan mata yang terus menatap Ziko juga senyuman yang selalu terbentuk.
"Bibir Ziko merah banget kayak pakai lips...."
Ziko benar-benar tidak bisa menahan diri lagi dia langsung mencium Devina cukup lama.
Takut ada yang tiba-tiba melihat Ziko menjauhkan wajahnya dan mengusap lembut bibir bawah kekasihnya.
"Ziko cium Vina terus"
Setelah mengatakan hal itu Devina memeluk kekasihnya sambil memejamkan matanya.
Setiap kali bersama Ziko rasanya Devina selalu berhasil melupakan semua hal yang mengganggu fikirannya.
Menatap wajah Ziko seolah membuat semua bebannya menghilang bahkan mata pria itu seolah mengatakan.
'Lupakan sejenak dan tersenyumlah bersamaku'
¤¤¤
Ziko timeee💞
Siapa nih yang kangen Ziko-Vina romantis lagii😂
Okay setelah ini gak bakal ada konflik lagi yaaa😄 Aku bakal buat kisah manis mereka semuaa sebelum akhirnya akan aku tamatin😶
Kapan Thor tamatnya?
Oh rahasia aku yang jelas siap-siap kalau tiba-tibba di akhir cerita bakal ada kata....
The end
Hayo siap-siap kalo nanti aku bilang tamat yaaa😂