My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (6)



Setelah kejadian dimana Devano mendengar perkataan Ziko kemarin pria itu jadi semakin posesif pada Devina bahkan ketika mereka pulang pagi ini dari rumah Kakaknya Devano mengecek ponsel Devina lagi. Sedikit kesal sebenarnya, tapi Devina hanya membiarkan saja dia malas berdebat dengan Devano nanti juga kalau dia pura-pura menangis atau merajuk Devano akan diam.


Begitu sampai di rumah Devina mengambil ponselnya yang ada di Devano lalu pergi ke kamarnya, dia harus bersiap karena sebentar lagi harus ke kost Hanifa untuk mengerjakan tugas. Memasuki rumah Devina bertemu dengan orang tuanya dan langsung saja dia memeluk mereka satu persatu.


"Sudah pulang sayang? Mommy kira kalian akan pulang sore." Kata Fahisa


Biasanya anak-anaknya itu sangat betah kalau sudah berada di rumah Sahara makanya dia sedikit bingung ketika pagi-pagi mereka sudah pulang.


"Vina mau kerjaiin tugas ke kostan teman Mommy." Kata Devina


"Kesana sama siapa sayang? Sama Devano atau mau diantar Pak Hadi?" Tanya Daffa


Devina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Nanti Ziko yang anterin aku Daddy." Kata Devina


Daffa ingin menanggapi, tapi Devano sudah lebih dulu bicara dan membuat Devina menatapnya dengan sebal.


"Gak usah nanti aku aja yang anterin kamu." Kata Devano


"Gak mau orang udah janjian sama Ziko." Kata Devina galak


"Batalin sini aku telpon." Kata Devano sambil berusaha merebut ponsel Devina


"Ihh gak mau! Mommy lihat Vano!" Kata Devina sambil memukul lengan kembarannya dan memeluk Fahisa


"Vano kamu ini kenapa? Biarkan saja Devina pergi sama Ziko biasanya juga begitu kan?" Kata Fahisa


"Kenapa? Apa ada sesuatu dengan Ziko sampai kamu tidak mengizinkan Devina pergi sama dia?" Tanya Daffa yang selalu tau kalau anaknya punya alasan untuk semua yang dia lakukan


Devina langsung menatap Devano dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, awas saja dia akan marah kalau Devano bilang ke Daddy nya.


Dia akan marah!


"Enggak ada Dad aku juga mau keluar makanya aku ajak Vina bareng aja." Kata Devano


"Benar?" Tanya Daffa memastikan


"Iya Dad"


"Yaudah Vina sama Vano aja berangkatnya." Kata Daffa membuat Devina mengerucutkan bibirnya


"Tapi, kan udah janjiann sama Ziko Daddyy." Rengek Devina


"Ya kamu bilang aja akan berangkat sama Vano." Kata Daffa


"Ihh Daddyy"


"Mas udah ah biarin aja kamu juga Vano, biarin Vina mau pergi sama Ziko." Kata Fahisa


Devina langsung menatap Fahisa dengan senyuman membuat Fahisa merasa gemas dan mencubit pelan pipinya.


Begitu Devano ingin protes Fahisa kembali bicara.


"Udah, sekarang Vina siap-siap katanya mau ngerjaiin tugas." Kata Fahisa


Devina mengangguk dan berlari kecil ke kamarnya membuat Devano langsung menyusulnya.


"Vina berangkat sama aku aja"


"Gak mauuuu!"


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah kedua anaknya itu dan dia sedikit tersentak ketika suaminya merangkul dan menariknya untuk mendekat.


"Ayo berangkat"


Tersenyum manis Fahisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki suaminya, mereka memang akan pergi ke rumah Dara.


Kembali lagi pada Devina yang menyembunyikan ponselnya dan membuat Devano berdecak kesal sambil terus mengikutinya. Pokoknya untuk sementara dia tidak akan membiarkan Devina pergi dengan kekasihnya.


"Vano sanaaa aku mau ganti baju! Katanya kamu mau pergi ke rumah teman kamu juga!" Ketus Devina sambil berusaha mendorong tubuh kembarannya


Bukan pergi Devano malah membalikkan tubuhnya dan menahan tangan Devina sambil menatapnya dengan sebal.


"Berangkat sama aku aja! Sini gak hp kamu." Kata Devano


"Gak mauuu"


"Vina mana sini hpnya?" Kata Devano


"Ihh gak mauuu!" Rengek Devina


"Kamu gak boleh pergi sama Ziko nanti kalian aneh-aneh." Kata Devano galak


"Enggak Vanooo"


"Aku gak percaya." Kata Devano


"Ihh kamu kayak gak pernah aja! Aku yakin kamu pasti pernah juga kan sama Adaraa! Ngaku gakk?" Tuding Devina sambil menunjuk wajah Devano dengan telunjuknya


"Enggak apasih?" Kata Devano sambil mengalihkan pandangannya


Jangan sampai Vina tau, batin Devano.


"Bohong kan?! Kamu pasti pernah jangan-jangan sering ya?" Tuding Devina lagi


"Enggak"


Memicingkan matanya Devina melepaskan diri dan mengambil ponsel Devano di saku jaket yang masih pria itu kenakan.


"Aku telpon Adaraa aku mau nanya sama dia." Kata Devina membuat Devano melotot


"Vina apaan sih?" Kata Devano


"Tuh kan panik! Berarti Vano juga pernah aku bakal telpon Adara." Kata Devina sambil berlari kecil menjauhi Devano


Dia mencari nomor Adara dan menekan tombol telpon disana, tapi Devano yang lebih tinggi juga lebih cepat darinya berhasil merebut ponsel itu dari tangan Devina. Merasa kesal dan gemas Devano mencubit pipi Devina dengan cukup kuat hingga membuat kembarannya itu meringis sambil menepis tangannya.


"Kepo bangett"


"Vano sakit tauuu." Keluh Devina sambil mengusap kedua pipinya dengan tangan


"Enggak orang pelan kok." Kata Devano


Devina tentu saja kesal mendengarnya dia langsung memukul tangan Devano dengan kuat.


"Sakittt Vano cubitnya kuat." Keluh Devina


Wajahnya cemberut membuat Devano langsung melihat pipi kembarannya yang sedikit memerah.


"Yaudah maaf"


"Sakittt"


Menghela nafasnya pelan Devano mengusap pipi kembarannya dengan lembut dan menciumnya bergantian.


"Udah, masih sakit gak?"


Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Kebiasaan yang sering Devano lakukan setiap habis mencubit pipinya dengan kuat, menciumnya.


"Udah Vano keluar aku mau ganti baju." Kata Devina


"Sama aku aja berangkatnya." Kata Devano membuat Devina langsung memasang wajah cemberutnya


Menghela nafasnya pelan akhirnya Devano mengalah dari pada kembarannya itu merajuk.


"Jangan aneh-aneh sama Ziko ya?"


Setelah Devano keluar Devina membuka pintu kamar mandi yang dia kunci dan mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam sana.


Ada pesan dari Ziko.


Aku otw bentar lagi ya Vina sayang


Devina tersenyum membacanya, dia senang sekali karena Ziko selalu memiliki waktu untuknya.


¤¤¤


Sekarang Ziko berada di kost Hanifa untuk menunggu kekasihnya selesai kerja kelompok, tentu saja bukan dikamar karena kost tempat Hanifa tinggal ada semacam ruang tamu di depan ketika akan masuk ke dalam kostan. Selagi menunggu Devina dia bermain game di ponselnya tanpa mengganggu kekasihnya itu mengerjakan tugasnya.


Sebenarnya teman-temannya mengajak dia untuk berkumpul, tapi entahlah Ziko malas dia ingin bertemu Devina saja. Sudah tiga hari ini mereka tidak bertemu karena jadwal kuliah Ziko yang selalu bertabrakan dan tugas kuliah yang menyibukkan mereka berdua.


Biasa bertemu setiap hari tentu saja tiga hari itu waktu yang lama apalagi mereka hanya berbalas chat. Diam-diam Ziko mendengar percakapan kekasihnya dengan kedua temannya.


"Dia mau nungguin lo sampai selesai Vin?"


"Iya katanya"


"Sweet banget, gak bosan apa ya?"


"Gak tau biarin aja"


Tentu saja Ziko bosan, tapi tidak masalah setelah ini dia akan mengajak kekasihnya untuk jalan-jalan. Setelah memenangkan game yang dia mainkan Ziko beralih mengambil ponsel Devina yang ada di meja dan Devina hanya membiarkannya saja.


Seperti biasa Ziko melihat ada banyak sekali pesan yang masuk ke dalam ponsel kekasihnya dan beberapa ada yang tidak dibalas oleh kekasihnya. Selepas itu Ziko membuka aplikasi instagram kekasihnya dan bersamaan dengan itu sebuah notifikasi masuk.


Lucas_ started following you


Membuka akunnya Ziko berdecak kesal ketika melihat orang itu adalah Kakak tingkat Devina, masih saja ganjen. Tanpa mengatakan apapun Ziko langsung blokir akunnya instagram Devina tidak ada fotonya sendiri.


Ziko melarangnya, jadi hanya ada foto Devina dengan dia, Devano atau teman-temannya.


"Vin"


"Hmm"


"Aku mau ke depan bentar ya?" Kata Ziko


"Mau kemana?" Tanya Devina sambil mendongak dan menatap kekasihnya


"Beli kuota lupa kalau kuota aku udah habis, mau nitip sesuatu?" Tanya Ziko


"Emm beliin makanan ya?" Pinta Devina sambil memasang senyum manisnya


"Oke"


Setelah mengatakan itu Ziko berlalu pergi dan meninggalkan Devina bersama kedua temannya. Begitu Ziko pergi Intan langsung bersuara dan menanyakan sesuatu pada Devina.


"Vin, dia marah gak waktu tau Kak Lucas deketin lo?" Tanya Intan


"Kepo banget sih Tan." Kata Hanifa


"Ck. Berisik kan cuman nanya keliatannya dia cinta banget sama Vina makanya penasaran." Kata Intan


Devina tersenyum dan menjawabnya dengan jujur.


"Marah, dia langsung blokir nomor Kak Lucas di hp aku." Kata Devina


Intan mengangguk faham, kelihatan sekali kalau Ziko itu tipe cowok yang posesif.


"Vin nanti lo yang print sama jilid ya?" Kata Hanifa


Devina hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Gue ngapain?" Tanya Intan


"Lo coret nama lo sendiri dari daftar kelompok." Kata Hanifa ketus


Devina tertawa mendengarnya sedangkan Intan langsung memasang wajah cemberut.


"Gue kan bantuin." Kata Intan


"Bantu apa? Ngetik satu paragraf?" Kata Hanifa sebal


"Ih ya ampun temanku marah." Goda Intan sambil menoel pipi Hanifa membuat gadis itu menepis tangannya


"Apaan sih?!" Kata Hanifa


Devina tertawa kecil melihatnya, dia jadi ingat Mona dan Cessa yang sering bertengkar.


Astaga Devina jadi merindukan mereka.


¤¤¤


"Ziko mau ajak aku kemana?"


Devina menanyakan hal itu ketika mobil Ziko tidak menuju ke arah rumahnya. Sekitar pukul dua siang Devina baru selesai mengerjakan tugasnya dan hanya tinggal print serta jilid nanti.


Begitu selesai ternyata Ziko tidak mengantarnya pulang, tapi mengajaknya entah kemana. Tentu saja Devina tidak menolak dia juga ingin jalan-jalan.


"Ke taman, mau?" Tanya Ziko


"Mauu"


Sekitar sepuluh menit akhirnya mereka sampai di taman dan Ziko langsung mengajak Devina untuk turun. Tidak terlalu ramai mungkin karena sudah siang karena biasanya taman ramai ketika pagi dan sore.


"Tadi Kakak tingkat kamu itu follow instagram kamu, tapi udah aku blokir." Kata Ziko


"Hmm blokir aja aku juga risih Ziko, tapi dianya kayak gitu terus di kampus juga muncul terus." Kata Devina dengan wajah cemberutnya


"Dia gak aneh-aneh kan?" Tanya Ziko memastikan


"Enggak kok soalnya kan ada Hanifa dia itu galak tau kayak Mona." Kata Devina


"Kalau dia aneh-aneh bilang ya?" Kata Ziko sambil tersenyum


Devina hanya menganggukan kepalamya sebagai jawaban.


"Beli ice cream mau gak?" Tanya Ziko


"Mauu"


Ziko tersenyum lalu mengajak Devina untuk pergi membeli ice cream, dia rindu sekali pergi berdua dengan Devina karena mereka jarang bertemu sekarang. Senyum Devina mengambang dengan sempurna ketika dia mendapatkan ice cream yang kekasihnya belikan dan membuat Ziko merasa gemas lalu mengacak pelan rambutnya.


Tidak pernah ada wanita selain Devina yang bisa membuat Ziko benar-benar tergila-gila padanya.


Wanita yang membuat Ziko jatuh cinta dengan begitu dalam.


Tersenyum manis Ziko meminta Devina untuk berdiri disana lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto Devina dengan ponselnya.



Melihat hasil fotonya Ziko tersenyum dan bergumam pelan.


"Cantik"


Devina tersenyum dan berlari kecil menghampiri Ziko untuk melihat hasil fotonya.


"Cantik Vinaa"


Ziko mengatakannya sambil mencubit pelan pipi kekasihnya.


¤¤¤


Update nihh hehe😂