My Possessive Twins

My Possessive Twins
28 : Pipiku Merona



"ZIKO IH NYEBELIN!"


Seruan Devina berabaur dengan suara tawa Ziko yang sedang mengangkat tinggi-tinggi ponsel milik gadisnya, dia sedang mengganggu Devina yang bermain game hingga membuat gadis itu kesal bukan main. Sambil melompat dan berjinjit Devina berusaha meraih ponselnya, tapi tidak sampai karena tubuh Ziko yang memang tinggi membuatnya kesulitan.


Merasa tidak akan berhasil Devina memukul lengan pria itu dengan buku sambil menatapnya dengan sangat tajam, tapi hal itu malah membuat Ziko merasa gemas dan bukan takut.


"Ziko balikinnnn"


Candy crush salah satu permainan kesukaan Devina yang dia mainkan ketika sedang bosan dan Ziko mengganggunya ketika sedang bermain. Teman-temannya sedang pergi ke kantin dan Devina hanya menitip minum saja karena dia tidak lapar selain itu Ziko juga membawakan kue untuknya.


"Ambil sendiri coba." Kata Ziko dengan wajah menyebalkannya


"Balikin gak?!" Kata Devina dengan mata melotot


Tertawa senang Ziko malah semakin mengangkat ponsel milik Devina tinggi dan membuat gadisnya itu semakin merasa kesal.


"Ihhh balikinnn!" Rengek Devina sambil berusaha meraih ponselnya


"Ambil sendiri Vin." Kata Ziko lagi


"Balikin Ziko nanti aku marah ya? Aku marah nih!" Kata Devina dengan mata melotot


Melihat hal itu Ziko tertawa kecil lalu mencubit gemas pipi gadisnya dan memberikan ponselnya kepada Devina.


"Jangan marah nih aku balikin, gemes banget sih." Kata Ziko sambil tersenyum


Pipi Devina memanas karena perkataan dan senyum manis Ziko, tapi dia berusaha menutupinya dengan wajah kesalnya.


"Nyebelin!" Ketus Devina


"Iya maaf jangan ngambek gitu dong jadi gemes liatnya." Kata Ziko membuat Devina semakin malu


"Ihh diem gak?!" Kata Devina


"Kok merah pipinya?" Tanya Ziko dengan sedikit cemas


Saat Ziko memajukan tubuhnya dan ingin menyentuh dahi Devina dengan cepat gadis itu menepis tangannya lalu kembali mendudukkan dirinya di bangku.


"Apasih enggak." Kata Devina


"Merah Vin, kamu sakit ya?" Tanya Ziko cemas


Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berusaha menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya dan membuat Ziko tersenyum penuh arti.


Wajah gadisnya merona dan itu karena dia kan?


"Makanya jangan main game dong mending ajak aku ngobrol, masa ada cowok ganteng gini dicuekin sih." Kata Ziko sambil tersenyum konyol


Mendengus kesal Devina menatap Ziko dengan malas membuat pria itu terkekeh melihatnya dan dia hanya diam ketika Ziko mengambil bukunya yang ada di meja lalu membukanya.


"Tulisan kamu rapih ya Vin." Kata Ziko


"Kamu udah sering bilang kayaknya." Kata Devina


Ziko tersenyum dan mengangguk singkat lalu dia meraih pena yang ada di dekatnya dan menuliskan sesuatu dibagian belakang bukunya.


"Ngapain sih Ko?" Tanya Devina penasaran


"Nulis nama aku." Kata Ziko


"Kurang kerjaan banget." Kata Devina sambil tertawa


Ziko hanya bergumam pelan menanggapinya dan tetap menuliskan beberapa baris kata disana.


"Kamu udah baca buku yang aku kasih?" Tanya Ziko membuat Devina terdiam ketika mendengarnya


Dia jadi teringat isi buku itu dan pesan yang Ziko tinggalkan untuknya


"Emm udah"


"Bagus gak?" Tanya Ziko


"Bagus, tapi cowoknya nyebelin dia jujurnya lama banget untung ceweknya gak diambil orang." Kata Devina sambil tertawa kecil


Mendengar hal itu Ziko terdiam lalu menggumamkan sesuatu yang tidak terlalu jelas untuk Devina dengar.


"Kayak aku berarti ya Vin?"


"Hah? Kenapa Ko?" Tanya Devina


Seakan tersadar dari lamunannya Ziko mendongak lalu menggelengkan kepalanya pelan dan kembali tersenyum.


"Vina"


"Emm kenapa?"


"Nanti malam temenin aku ke cafe lagi mau?" Tanya Ziko membuat Devina menatapnya dengan senyum antusias


"Mau nyanyi lagi ya?" Tanya Devina yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Ziko


"Mau gak?" Tanya Ziko


Dengan cepat Devina menganggukkan kepalanya.


"Mau, jemput ya?" Kata Devina


"Iyalah Vin dijemput masa kamu berangkat sendiri." Kekeh Ziko membuat gadisnya itu tersenyum lebar menanggapi


Setelah itu Devina kembali fokus pada ponselnya untuk membalas beberapa pesan dari teman-temannya yang ada di kantin, tapi tiba-tiba saja dia penasaran akan satu hal dan perkataan Mona terngiang ditelinganya.


'Kalau penasaran tanya aja Vin jangan ngambil kesimpulan sendiri, lo gak pernah tau apa maksud dari Ziko kalau lo gak tanya sendiri'


Ada satu hal yang ingin Devina tanyakan mengenai buku dan tulisan di sticky notes yang dia dapatkan dari sahabat baiknya.


Untuk apa itu semua dan apa maksudnya?


"Ziko mau nanya." Kata Devina sambil mendongak


Ternyata Ziko memang sedang menatapnya juga dan dia langsung menautkan alisnya.


"Tanya aja ngapain pake izin dulu." Kata Ziko sambil tertawa kecil


Devina terdiam sebentar dan menatap Ziko dengan ragu, tapi tetap bertanya setelahnya.


"Kamu kenapa kasih aku buku itu? Terus apa yang kamu tulis di sticky notes maksudnya apa?" Tanya Devina


Ada jeda cukup lama yang Ziko berikan sebelum dia mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Devina dan membuat gadisnya membeku ditempatnya karena perlakuan tiba-tiba itu.


Baru akan bicara sebuah suara terdengar dari balik pintu kelas dan membuat Ziko panik lalu langsung menarik tangannya juga bangun dari duduknya, tapi setelah suara tawa terdengar dia benar-benar mengumpat.


"KO ADA GURU!"


Baik Ziko ataupun Devina langsung saling menjauh ketika itu, tapi Gio yang masuk bersama teman-temannya sambil tertawa membuat mereka menunjukkan ekspresi yang berbeda.


Ziko yang menatap dengan tajam karena kesal dan Devina yang semakin memerah karena malu.


"Lagi pacaran ya?" Tanya Gio sambil tertawa dan menghampiri keduanya


"Dunia serasa milik berdua gak tau kalau dari tadi banyak yang liatin." Kata Nayla membuat mereka berdua langsung mengalihkan pandangan kesekitar


Benar ada beberapa teman sekelas mereka yang melihat dan hal itu semakin membuat Devina malu, wajahnya terasa panas.


Devina baru akan bicara, tapi perkataan Ziko setelahnya membuat dia terdiam dan yang lainnya menatap tidak percaya.


"Iya lagi pacaran." Kata Ziko yang dengan santainya merangkul Devina sambil tersenyum


"Ehh serius?"


"Udah jadian?"


"Beneran mereka udah pacaran? Ikut seneng sih ngeliatnya"


"Gemes banget akhirnya pacaran juga"


Ada beberapa perkataan teman-temannya yang terdengar di telinga Devina dan membuat dia merasa semakin malu.


Gio menatap Ziko dengan mata memicing, penuh curiga.


"Lo sama dia beneran pacaran?" Tanya Gio


"Enggak"


"Belum, tapi otw." Kata Ziko sambil tertawa kecil


"Ihh kamu nih ngomong apasih?" Tanya Devina dengan wajah memerah karena malu


"Ngomong kalau kamu pacar aku kan?" Kata Ziko


Entah sudah semerah apa wajahnya sekarang, tapi Devina benar-benar ingin pergi saja dari pada harus menghadapi godaan Ziko dan teman-temannya.


"Baru sadar dia mungkin palanya abis kepentok meja." Kata Mona membuat yang lainnya ikut tertawa


"Ehh mukanya Vina merah." Seru Cessa


"Apasih enggak!" Elak Devina


"Salting ya Vin?" Goda Mona membuat Devina menatapnya dengan tajam


"Enggak!" Kata Devina galak


"Gemes banget sih Vin sama gue ajalah jangan sama Ziko." Kata Gio membuat Ziko mengumpat dan menginjak kakinya


"Brengsek lo"


Berbanding terbalik dengan Gio yang tertawa Devina justru merasa kesal dan memukul lengan Ziko cukup kuat.


"Mulutnya!" Kata Devina


"Hajar Vin mulutnya emang minta dicium itu." Kata Gio membuat Devina melotot menatapnya


"Ihh kamu juga sama aja!" Kata Devina kesal


"Jangan marah-marah gitu dong Vin jadi makin gemes akunya." Kata Ziko membuat wajah Devina kembali memerah


"Gas terus Ko sampe jadian." Kata Cessa sambil tertawa


"Udahh jangan diledekin terus." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal


"Udah, kasian Vina nanti mukanya tambah merah." Kata Ziko membuat Devina menatapnya dengan galak


Dengan penuh kekesalan Devina memukul pelan lengan Ziko sambil mengusirnya.


"Nyebelin! Udah sana balik ke tempat duduk kamu!"


Baru ingin membalas suara bel masuk berbunyi bersamaan dengan seorang wanita paruh baya yang masuk ke kelas mereka, pelajaran kembali dimulai.


Kembali ke tempat duduknya Ziko mencubit pelan pipi Devina dan membuat gadisnya itu memukul lengannya pelan. Senyuman manis Ziko terbentuk ketika dia mendudukkan dirinya disamping Gio, menyenangkan melihat wajah memerah gadisnya.


"Jadi mau maju nih?" Kata Gio pelan


Ziko tertawa kecil lalu mengangguk membuat sahabat baiknya itu tersenyum dan menepuk pelan pundaknya.


"Semoga berhasil Ko jangan lupa traktiran." Kata Ziko


Menuliskan sesuatu di buku Ziko menggeser bukunya hingga Gio dapat melihat dan membacanya.


"Dateng aja nanti malam ajakin yang lain juga kalau mau." Kata Ziko pelan


Menautkan alisnya Gio tersenyum bahagia, akhirnya sahabat baiknya itu mau bertindak juga.


"Makan gratis gak nih?" Tanya Gio


"Gas lah makan minum gratis." Kata Ziko membuat Gio tertawa mendengarnya


Dia yakin seratus persen kalau Devina pasti juga mencintai sahabat baiknya.


Mereka cocok dan saling mencintai juga, tapi sama-sama lemot.


Sayang sekali.


Harusnya sudah sejak lama mereka bersama.


¤¤¤


"Van sumpah gue bisa sendiri"


Rasanya Adara ingin menghilang saja dari pada harus ditatap oleh hampir seisi kantin karena Devano yang ingin menyuapinya bahkan teman-teman mereka menatap dengan tidak percaya, malunya gak ada obat. Hari ini dia memang sudah masuk sekolah dan karena tadi bilang dia tidak nafsu makan lalu hanya memakan beberapa suap Devano dengan kurang ajarnya malah menyendokkan kembali makanan ke mulutnya.


Seolah tidak peduli pria itu tetap pada pendiriannya, dia akan berhenti kalau Adara mau makan sendiri. Namun, gadis itu tetap enggan untuk makan dan beralasan sudah kenyang padahal baru beberapa sendok dia makan separuh saja tidak ada.


"Sumpah merinding gue liatnya." Kata Erick


"Romantis juga ternyata Vano kalau pacaran." Kata Alex sambil tertawa kecil


"Ternyata gini ya kalau cowok dingin lagi ngebucin." Kata Yuda


Wajah Adara memerah, dia malu sekali.


"Van udah gue makan sendiri aja, beneran bakal gue habisin." Kata Adara


"Suapin ajalah Van biar uwu." Kata Alex membuat Adara menatapnya dengan sangat tajam


Tidak mendengar celotehan gadis disampingnya Devano kembali meletakkan sendok di piring Adara dan menyuruhnya untuk makan.


"Yaudah makan mumpung belum bel masuk." Kata Devano


Menghela nafasnya lega Adara kembaki menyantap makanannya atas paksaan Devano, dia sudah bilang kan kalau dia tidak bisa menolak?


"Masih sakit ga lukanya?" Tanya Devano


"Enggak"


"Masih pusing?" Tanya Devano


"Enggak Van udah dong jangan tanya terus malu, mereka ngeliatin terus." Kata Adara kesal


Yang lainnya tertawa mendengar prtes dari Adara, tentu saja gadis itu merasa malu karena biasanya dia menjadi pusat perhatian karena berkelahi bukan karena perlakuan manis Devano untuknya.


"Biarin aja mereka kan jomblo." Kata Devano santai


Perkataan Devano membuat teman-temannya berdecak kesal dan mengumpat pria itu yang sayangnya sama sekali tidak membuatnya kesal.


"Brengsek lo Van"


"Kata itu lebih cocok untuk Alex kayaknya." Kata Devano


"Kan sensian banget sih lo Van sama gue." Ketus Alex


Mengangkat bahunya acuh Devano kembali mengalihkan pandangannya kepada Adara yang baru saja menghabiskan makanannya.


"Udah?"


Adara bergumam pelan sebagai jawaban dan dia mengajak gadis itu serta yang lainnya untuk kembali ke kelas.


"Van"


"Hmm"


"Gue nanti mau pulang sama Satria ya?" Kata Adara membuat Devano menoleh dan menatap dengan tajam


"Enggak"


"Gak kemana-mana kok Van langsung pulang." Kata Adara


"Enggak sama gue aja." Kata Devano


Raut wajahnya menggambarkan bahwa dia tidak mau dibantah.


"Gue udah janji sama dia...."


"Batalin"


"Van kenapa sih? Kan cuman pulang bareng doang." Kata Adara lagi


Dia sedikit berbisik agar teman-temannya yang berjalan di depan tidak mendengar perkataan mereka.


Baru akan bicara Devano sudah mengatakan hal yang membuat Adaa menutup bibirnya rapat-rapat.


"Jangan gue cemburu"


Sial


Sial


Sial


Devano kurang ajar selalu saja bisa membuatnya diam.


¤¤¤


Maaf yaa kemaren gak update😂


Mau nulis dirusuhin temen😂 diajak maen sampe sore jadi gak sempet nulis😆


Tenang masih ada lagi kok yang bakal di update😉