
Malam ini Devano menemani kekasih nya pergi ke rumah orang tuanya untuk acara makan malam bersama dan Adara bilang dia tidak mau datang sendirian makanya Devano akan menemaninya. Sebelumnya Juan sendiri yang datang ke rumah Adara dan meminta anak perempuannya itu untuk datang makan malam di rumahnya.
Awalnya Adara menolak, tapi dengan sedikit paksaan Adara menerima ajakan itu dan meminta agar diizinkan mengajak Devano pergi bersamanya. Sungguh Adara bukan takut, tapi dia tidak mau datang sendirian apalagi akan ada Ibu tiri serta saudara tirinya nanti.
Sekitar pukul tujuh malam Devano sampai di rumah kekasihnya dan dia dapat melihat Adara keluar dari dalam rumah lalu masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu terlihat cantik dengan dress sederhana selutut serta rambut yang dia biarkan tergerai tanpa sedikitpun polesan make up.
"Udah siap?" Tanya Devano
Adara tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Cantik banget." Kata Devano sambil mencubit pelan pipi kekasihnya
"Van ah jangan gitu nanti aku blushing." Kata Adara membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"Gak papa dong lihat pipi kamu merah malah bikin kamu tambah cantik." Kata Devano
"Vannn"
"Iya cantik kita berangkat sekarang." Kata Devano dengan tawa kecilnya
Sejak bersama Adara dia jadi lebih hangat bahkan sering tersenyum dan tertawa kebiasaan itu juga berlaku hingga dia di rumah.
"Aku gugup Van." Kata Adara
"Kenapa gugup? Ada aku jangan takut." Kata Devano
"Hari ini sebenarnya hari ulang tahun Ayah makanya dia minta aku datang ke rumah untuk makan malam sama-sama." Kata Adara
"Kamu gak kasih hadiah?" Tanya Devano
"Udah aku kasih kemarin karena niatnya aku memang gak mau datang, tapi akhirnya luluh juga sama bujukan Ayah." Kata Adara
"Ini pertama kalinya dia mau merayakan ulang tahun sama kamu Ra." Kata Devano membuat Adara tersenyum mendengarnya
"Oh Iya aku udah kasih tau belum? Kemarin aku sama Ayah pergi ke makam Bunda berdua dan di sana Ayah minta maaf dia sampai nangis." Kata Adara
"Penyesalan selalu datang terakhir Ra." Kata Devano
"Hm kamu benar Van." Kata Adara
"Aku mau tanya sesuatu boleh?" Tanya Devano
"Boleh"
"Selama ini ibu tiri kamu atau saudara tiri kamu pernah ngelakuin apa aja ke kamu?" Tanya Devano
"Gak pernah melukai aku secara fisik Van, tapi lebih ke perasaan." Kata Adara
"Perkataan maksudnya?" Tanya Devano
Adara bergumam pelan dan menganggukkan kepalanya singkat.
"Mereka sering bilang aku bukan wanita baik-baik dan sama aja kayak Bunda bahkan pernah bilang aku wanita murahan." Kata Adara
"Sering?"
"Dulu iya kalau sekarang udah enggak." Kata Adara sambil tersenyum
Devano terdiam sejenak lalu meraih tangan Adara dan menggenggamnya dengan sayang seraya mengusapnya.
"Gak papa Van aku udah biasa." Kata Adara
"Jangan cemas aku gak akan biarin mereka bicara hal yang buruk lagi tentang kamu." Kata Devano
"Makasih"
Devano tersenyum lalu mencium punggung tangan Adara dengan sayang sebelum akhirnya melepaskan lagi tangan kekasihnya dan fokus pada jalanan di hadapannya.
Sekitar dua puluh menit di perjalanan mobil Devano berhenti di area rumah Juan yang luas dan besar, jauh berbeda dengan rumah Adara yang sangat sederhana. Helaan nafas Adara terdengar membuat Devano tersenyum dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Yuk turun"
Adara mengangguk singkat lalu turun dari mobil bersama dengan Devano dan tanpa banyak bicara Devano merangkul sayang pinggang kekasihnya.
Tersenyum tipis keduanya masuk ke dalam rumah dan di dalam Juan yang melihat hal itu langsung tersenyum lalu bergegas menghampiri keduanya.
"Adara kamu datang juga dari tadi Ayah nungguin kamu sama Vano datang." Kata Juan
"Malam Om." Sapa Devano sambil mencium punggung tangan Juan dengan sopan
"Malam Van sini masuk yang lain sudah nunggu." Kata Juan
Keduanya mengangguk lalu berjalan beriringan menuju ruang makan dan ketika sampai di ruang makan suasana berubah hening, semua mata menatap ke arah mereka berdua.
"Sini sayang duduk dulu." Kata Juan
Begitu Adara dan Devano duduk berhadapan keduanya dapat merasakan tatapan dingin dari istri Juan terutama mengarah pada Adara.
"Terima kasih sayang sudah datang." Kata Juan
"Iya Yah"
"Yaudah kita makan dulu." Kata Juan
Dengan keadaan canggung yang menyelimuti semua orang mulai menyantap makan malam mereka tanpa banyak bicara. Bukan tidak menyadari Adara tau bahwa sejak tadi tatapan tidak suka dilayangkan untuknya oleh ibu tiri serta saudara tirinya, tapi dia memilih untuk tidak ambil pusing.
"Gimana kuliah kamu?" Tanya Hellena
"Hm baik Tante." Kata Adara
"Gak ada masalah untuk administrasi?" Tanya Hellena lagi
"Enggak masih ada uang peninggalan Bunda sama Kakek." Kata Adara
"Ada pacarnya juga Ma bisa minta dia." Kata Julian dengan santainya
"Julian!"
"Gue bukan cewek matre." Kata Adara
Wajahnya memerah menahan amarah dan Devano langsung menggenggam tangan Adara yang ada di bawah.
"Kamu jangan ngomong sembarangan tentang Adara udah kamu lebih baik makan aja." Kata Juan
"Julian sudah jangan buat keributan ini ulang tahun Ayah kamu." Kata Hellena membuat anaknya itu diam
"Maafkan Julian ya Ra." Kata Juan
Adara hanya menanggapinya dengan senyuman lalu kembali menyantap makan malamnya tanpa banyak bicara, dia sudah terbiasa apalagi mendengar perkataan Julian yang memang sering mengatakan hal itu ketika dia masih di sekolah.
Berbeda dengan Adara yang merasa biasa Devano justru sangat kesal hingga rasanya dia ingin memukul wajah Julian jika saja dia tidak punya sopan santun.
"Ra hadiah dari kamu Ayah suka makasih ya?" Kata Juan
"Iya Yah itu bukan hadiah mahal." Kata Adara
"Enggak papa Ayah suka karena itu dari kamu." Kata Juan
Adara hanya tersenyum berbeda dengan Julian yang berdecih pelan mendengar percakapan Ayahnya serta saudara tirinya.
Begitu selesai makan malam Juan mengajak yang lainnya untuk pergi ke ruang tamu dan mengobrol sebentar disana. Sebenarnya ketika ingin mengundang Adara untuk datang istri serta anaknya melarang dia, tapi Juan tidak peduli dia ingin merasakan makan malam bersama dengan Adara.
"Ayah mau bilang makasih karena kamu sudah datang dan Devano Terima kasih sudah menemani Adara." Kata Juan
Devano mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Tunggu sebentar ya? Ada yang mau Ayah ambil di kamar." Kata Juan
Begitu Juan pergi hanya ada Devano bersama Adara serta Hellena dan Julian yang duduk berhadapan.
"Lo apain Papa sampai baik gitu?" Tanya Julian
Adara hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan itu dia malas berurusan dengan Julian.
"Setau gue kuliah di jurusan lo itu butuh biaya besar, dapat uang dari mana lo Ra? Jadi simpenan orang ya? Ah atau dari godaiin Devano?" Tanya Julian
"Julian! Papa kamu bisa marah nanti." Tegur Hellena
"Kenapa Ma? Aku kan nanya dia ini cuman tinggal sendirian masa iya bisa kuliah tanpa kerja pasti jadi wanita simpenan dia, memang sama aja kayak Bunda nya itu." Kata Julian
"Gue gak mau ribut Julian! Jadi lebih baik lo diam." Kata Adara
"Kenapa? Apa yang gue omongin itu fakta lo memang sama....."
"Bisa diam Julian?! Jaga bicara lo jangan pernah bicara hal yang buruk tentang Adara." Kata Devano
Julian hanya berdecih pelan lalu bersandar pada sofa dan tidak mengatakan apapun lagi.
"Adara"
Panggilan itu membuat Adara mendongak dan menatap Juan yang berjalan mendekat lalu duduk tepat disampingnya.
"Kamu bawa ini ya? Minggu depan Ayah ke rumah kamu." Kata Juan
Adara hanya mengangguk singkat sebagai jawaban dan menerima paper bag yang Juan berikan untuk nya, dia tidak tau apa yang ada di dalamnya.
"Kalau gitu aku sama Vano langsung pulang ya Yah? Rumah Vano jauh takut kemalaman dia pulangnya." Kata Adara
"Suruh tidur di rumah lo aja sekalian Ra, udah biasa kan?" Kata Julian
"JULIAN!"
"Kami pulang Om lain kali tolong ajari anak Om untuk menjaga ucapannya saya tidak suka ada orang yang merendahkan tunangan saya begini." Kata Devano
Setelah mengatakan hal itu Devano meraih tangan Adara dan mengajaknya untuk pulang membuat Adara menatap Juan yang terlihat merasa bersalah padanya.
"Ayah aku pulang dulu makasih makan malamnya." Kata Adara sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke depan
Raut wajah Devano benar-benar tidak bersahabat hingga Adara masuk ke dalam mobil pria itu juga tidak langsung menyalakan mobilnya, dia hanya diam dengan tangan terkepal kuat.
Secara refleks Adara menggenggam tangan itu membuat Devano menoleh dan menatapnya.
"Gak papa Van." Kata Adara
Devano menghela nafasnya pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dulu aku pasti bakal marah dan gak akan fikir panjang untuk mukul Julian, tapi lama-lama capek juga tau lagian untuk apa aku marah kalau aku gak merasa, dia cuman bicara omong kosong," Kata Adara.
Perkataan itu membuat Devano menatapnya dan Adara tersenyum manis padanya.
"Ya meskipun aku sakit hati dengan ucapannya, tapi tetap aja Van aku gak mau tanggapin ucapan mereka." Kata Adara
Devano tersenyum dan mengusap pipi Adara dengan sayang.
"Kamu banyak berubah Ra aku bangga banget sama kamu." Kata Devano
"Kamu yang ajarin aku kan?" Kata Adara dengan senyuman
"Aku gak pernah ajarin kamu apapun, tapi kamu yang memang banyak berubah sayang." Kata Devano
"Yaudah yuk pulang udah malam." Kata Adara
"Kalau ada yang bilang hal buruk tentang kamu kasih tau aku ya? Aku gak akan pernah biarin orang-orang bicara buruk tentang cantiknya aku." Kata Devano
"Van aku baper loh." Kekeh Adara
"Ra aku serius loh." Kata Devano
"Iya Iya aku bakal bilang karena sekarang aku udah terbiasa jujur sama kamu." Kata Adara
"Memang itu yang harus kamu lakukan, kamu harus tau Ra kalau aku paling gak suka orang yang aku sayang nyembunyiin sesuatu dari aku." Kata Devano
"Iya Van"
Devano tersenyum dia mencium sekilas kening Adara sebelum akhirnya menghidupkan mobilnya dan melaju pergi meninggalkan area rumah orang tua Adara.
"Kita pulang nanti kamu langsung istirahat gak usah nungguin aku sampai rumah dulu"
Adara hanya mengangguk saja sebagai jawaban, ternyata Devano sangat tau kebiasaan barunya.
Si tampan yang perhatian.
°°°
Update dulu yukkk Vano sama Adara nya udah lama nih gak menyapa🥰