My Possessive Twins

My Possessive Twins
33 : Si Keras Kepala



Sepulang dari pasar malam Devano dikejutkan dengan kehadiran dokter di rumahnya dan lagi perkataan Bi Santi yang mengatkan kalau kembarannya yang sedang di periksa. Secepat kilat Devano pergi ke kamar Devina dan sudah ada orang tuanya serta seorang pria berjas putih yang sedang bicara dengan Daffa.


Di ranjang ada Devina yang wajahnya terlihat begitu merah membuat Devano cemas dan langsung menghampirinya. Ternyata bukan hanya wajah, tapi leher juga lengan Devina sangat merah.


Baru akan bertanya Fahisa sudah lebih dulu menghampirinya dan meminta Devano untuk pergi keluar sebentar, dia tidak mau mengganggu Devina yang baru saja tertidur. Saat sampai di luar Devano langsung bertanya dengan wajah cemasnya, dia tidak bisa melihat Devina sakit.


"Mommy kenapa Vina bisa kayak gitu?" Tanya Devano


"Dia memakan udang." Kata Fahisa


"Udang? Gimana bisa? Memang Mommy masak udang?" Tanya Devano


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan, anak dan suaminya memang tidak jauh beda.


Sama-sama memiliki alergi terhadap udang dan sama-sama suka membuat orang rumah panik karena tiba-tiba alerginya kambuh.


Tentu saja sama seperti sang suami Devina memakan udang dan mengatakan kalau dia hanya makan sedikit.


Astaga benar-benar Fahisa jadi mengingat kejadian ketika dia hamil dulu.


"Tidak Vano, tapi kembaran kamu itu delivery makanan dan ternyata makanan itu mengandung udangnya." Jelas Fahisa


"Memangnya Vina tidak tau kalau itu ada udangnya?" Tanya Devano


"Dia pasti tau, tapi sama seperti Daddy kamu Vina pasti tetap membelinya kamu tau dia seperti apa kan?" Kata Fahisa membuat Devano menghela nafasnya pelan


"Vina gak bakal kenapa-kenapa kan Mom?" Tanya Devano cemas


"Semoga akan membaik besok, tapi Mommy harap dia tidak akan demam." Kata Fahisa


"Mommy biar Vano tidur di kamar Vina dan jagaiin Vina." Kata Devano membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


"Tidak usah sayang biar Mommy saja, kamu tidur di kamar besok harus sekolah." Kata Fahisa


"Besok Vano gak usah sekolah mau jagaiin Vina aja di rumah." Kata Devano


"Loh jangan dong masa gak mau sekolah." Kata Fahisa


"Gak bisa kalau gak ada Vina nanti kepikiran terus." Kata Devano


Mendengar hal itu Fahisa tersenyum, anak-anaknya sudah dewasa sekarang dan Devano benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria yang bisa diandalkan juga sangat melindungi keluarganya.


"Gini aja Vano tidur di dalam, tapi besok tetap sekolah ya? Jangan cemas nanti kalau ada sesuatu Mommy bakal telpon, oke?" Kata Fahisa


Devano terdiam dan ingin protes, tapi melihat wajah penuh harap Fahisa akhirnya dia mengangguk patuh.


"Vano nanti tidurnya di sofa kok Mommy." Kata Devano membuat Fahisa tersenyum dan mengusap kepala anaknya dengan sayang


"Kalau ada apa-apa panggil Mommy sama Daddy ya?" Kata Fahisa


Devano mengangguk dan tak lama setelahnya pintu terbuka ketika Daffa juga dokter bernama Daniel itu keluar dari kamar kembarannya. Setelah mengatakan sesuatu pada Fahisa dokter itu mulai menjauh dari pandangan mereka.


Tepat setelah itu Fahisa langsung bertanya tentang apa saja yang dikatakan oleh Daniel, apa alerginya parah?


Bukan apa Fahisa hanya cemas kalau tiba-tiba anaknya seperti Daffa dulu, demam tinggi hingga menggigil ketika malam.


"Dia makan cukup banyak makanya wajahnya merah sekali dan tubuh Devina juga mulai panas, tapi Daniel sudah memberikan obat." Kata Daffa membuat Fahisa menghela nafasnya pelan


"Vina sama saja seperti kamu suka ngeyel kalau dibilangin." Kata Fahisa kesal


"Kok jadi aku sayang?" Tanya Daffa


"Apa lagi? Kamu juga dulu sama seperti Vina tau-tau badannya gatal lalu merah-merah dan demam ternyata makan udang tanpa sepengatahuan aku atau Mami." Kata Fahisa sambil menatap suaminya dengan sengit


Melihat hal itu Devano menghela nafas


nya pelan sekarang orang tuanya sering berdebat.


"Hey itu sudah lama sekali..."


"Perlu aku ingatkan berapa kali kamu mengulang hal seperti itu Mas? Setiap kali aku marah kamu akan bilang kalau kamu hanya makan sedikit dan tidak tau kalau bakal sampai seperti itu, sama seperti Devina." Kata Fahisa memotong ucapan suaminya


Saat pertama kalu alergi Daffa kambuh Fahisa memang sedang mengandung kedua anaknya, tapi ternyata Devina yang menurun.


Masalah wajah Devina memang sangat mirip dengan Fahisa, tapi untuk sikap keras kepala dan ngeyelnya itu sangat-sangat mencontoh dari suaminya.


"Sekarang Devina juga sama saat aku omeli dia bilang kalau hanya makan sedikit dan tidak tau kalau bakal sakit, astaga kalian benar-benar mirip." Omel Fahisa


Daffa hanya diam mendengarnya, sekarang istrinya sudah cerewet dan sering mengomel tidak seperti dulu, tapi Daffa suka Fahisa terlihat lucu.


Merasa kesal karena kedua orang tuanya malah mengomel di depan pintu Devano memisahkan keduanya lalu masuk ke dalam kamar kembarannya.


"Sudah Mommy Daddy kenapa malah ribut?" Tanya Devano sambil menggelengkan kepalanya pelan


Setelah menutup pintu Devano berjalan dan duduk di dekat ranjang sambil memperhatikan kembarannya yang sedang tertidur. Kata Mommy nya Devina baru minum obat makanya dia tertidur sekarang.


Wajahnya merah sekali membuat Devano kembali menghela nafasnya pelan lalu mengusap lembut pipi kembarannya.


"Kenapa bandel banget sih Vin? Merah semua kan badannya udah tau paling gak bisa kalau makan udang, tapi masih aja." Kata Devano


Sama seperti Daddy nya Devina memang memiliki alergi yang cukup parah terhadap beberapa makanan laut apalagi udang kalau makan sedikit saja tubuh Devina pasti akan terasa panas lalu gatal, tapi dia tetap saja ngeyel.


Saat diomeli Devina selalu memberikan alasan dan tidak pernah kapok meskipun Fahisa memarahinya.


'Mommy cuman sedikit pasti tidak akan kenapa-kenapa'


'Mommy sedikit saja ya? Enak tau Vina suka'


'Mommy boleh ya?'


Saat dimarahi Devina akan menurut, tapi setelahnya dia akan diam-diam makan yang berakhir dengan alerginya yang kambuh lalu dia akan merengak dan meminta maaf sambil berjanji tidak akan mengulangi.


Hanya saja Devina tetap mengulanginya.


"Ehmm"


Devina bergerak dari tidurnya dengan tangan yang menuju lehernya, mungkin merasa gatal.


"Vina"


Mata Devina terbuka dan menatap kembarannya dengan lemah.


"Ada yang sakit?" Tanya Devano dengan lembut


"Gatal semua Vanoo." Rengek Devina


"Makanya jangan bandel kalau di omongin." Kata Devano membuat Devina langsung cemberut mendengarnya


"Jangan marah." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Devano mengusap dahi kembarannya dengan lembut lalu tersenyum tipis.


"Badan kamu panas Vin." Kata Devano cemas


Devina tidak menanggapi dia hampir frustasi karena tubuhnya benar-benar gatal rasanya ingin menangis, dia menyesal sekarang.


Saat Fahisa bertanya juga dia berbohong dan mengatakan kalau dia memesan burger, mungkin dia kena karna karena ngeyel juga berbohong pada orang tuanya. Sejak kecil Devina memang sangat-sangat alergi dengan yang namanya udang makan sedikit saja dia pasti gatal-gatal bahkan pernah sekali sampai dia harus pergi ke rumah sakit karena demam tinggi.


"Vanooo"


"Emm kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Devano


"Aku mau nangissss"


"Kenapa Vin?" Tanya Devano bingung dan juga cemas


"Gatal semua Vanoo." Keluh Devina


"Aku panggil Mommy dulu ya?" Kata Devano


Pria itu berlari kecil keluar kamar, dia bingung harus melakukan apa dan ternyata orang tuanya masih berada di dekat kamar kembarannya.


"Mommy"


Fahisa langsung menoleh dan menghampiri anaknya.


"Ada apa sayang?" Tanya Fahisa


"Vina sudah bangun." Kata Devano


Kalimat itu membuat Fahisa faham dan langsung pergi ke kamar anaknya meninggalkan sang suami dengan Devano.


Kalau sudah begini dia akan begadang semalaman.


Devina sangat manja kalau sedang sakit.


¤¤¤


Terjaga hingga tengah malam Devina baru bisa tidur sekitar pukul tiga dan sampai sekarang dia masih tertidur dengan lelap membuat yang lainnya merasa lega. Semalam Devina menggigil dan terus meracau membuat Devano tidak mau beranjak sedikitpun dari sisi kembarannya bahkan sekarang dia menolak untuk pergi ke sekolah.


Awalnya Fahisa melarang keras dan memaksa Devano untuk tetap pergi ke sekolah, tapi Daffa mengatakan biarkan saja dari pada anaknya malah tidak fokus ketika belajar. Sekarang Devano masih ada di kamar kembarannya dan menunggu hingga mata indah itu terbuka.


Tangan Devano mengambil ponsel milik Devina di nakas yang tidak dikunci karena Devina memang tidak pernah memasang password diponselnya. Menurut Devina itu tidak perlu karena tidak ada apa-apa di dalam ponselnya jadi biarkan saja.


Ada banyak pesan dari Ziko dan teman-teman kembarannya, tapi dahi Devano berkerut melihat nama Ziko yang disertai emoticon love disana.


Ziko♡


Dibuka pesan itu karena Devano harus memberikan kabar pada kekasih kembarannya kan?


Vinaa kamu gak sekolah?


Kamu kenapa sayang?


Kamu sakit? Ada yang anterin surat ke kelas :(


Kamu sakit apa Vin? Kenapa gak bilang?


Kalau sudah bangun nanti balas pesan aku ya sayang♡


Menggelengkan kepalanya pelan Devano mengetikkan pesan singkat disana.


Vina skt alerginy kmbh - Vano


Tanpa mau melihat balasan lagi Devano kembali meletakkan ponsel itu di nakas lalu menatap Devina yang sudah mulai membuka matanya.


Keadaan Devina sudah mulai membaik tubuhnya sudah tidak terlalu merah, tapi tubuhnya masih panas.


Saat matanya terbuka dengan sempurna Devina langsung menatap kembarannya dan membuat Devano bergegas bertanya, apa ada yang dia butuhkan?


Sambil membantu kembarannya untuk duduk Devano mengambilkan air hangat untuknya. Di tempatnya Devina terdiam dia merasa terharu dengan perhatian Devano apalagi ketika tanpa sengaja dia melirik jam yang tergantung di dinding.


Pukul delapan


Apa Devano tidak pergi ke sekolah?


Setelah meminum air hangat yang diambilkan oleh Devano dia segera bertanya, kenapa Devano ada disini dan bukan disekolah?


"Aku gak sekolah." Kata Devano membuat Devina terkejut mendengarnya


"Kenapa?" Tanya Devina pelan


"Mau jagaiin kamu lah." Kata Devano


Bibir Devina mengerucut ketika mendengarnya, tidak menyangka kalau Devano sangat perhatian kepadanya dia jadi mau peluk.


"Sini mau pelukkkk"


Devano tertawa mendengarnya lalu naik ke atas ranjang dan membiarkan Devina memeluknya. Ada rasa hangat yang Devano rasakan ketika kulit mereka bersentuhan, suhu tubuh kembarannya memang masih panas.


"Kan ada Mommy." Kata Devina pelan


"Memang gak boleh? Aku kangen kamu Vin di sekolah kamu nempel sama Ziko terus." Kata Devano membuat Devina tertawa mendengarnya


"Kamu juga sama Dara terus." Balas Devina


Tersenyum singkat Devano melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah kembarannya dan mencium singkat keningnya.


"Aku ambilin makan ya? Kamu makan terus minum obatnya." Kata Devano


Saat Devano baru beranjak Devina memanggilnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Devano tersenyum.


"Maaf udah buat khawatir." Kata Devina


Kembali mendekat Devano mencubit gemas pipi Devina.


"Jangan bandel lagii"


Devina mengangguk sambil menatap kembarannya dengan senyuman.


Dia sudah kapok


Untuk sekarang


Tidak tau kalau nanti sudah sembuh hehe


¤¤¤


Aduhh turunannya Daddy Daffa ngeyel banget😑


Btw makasih sudah ingetin aku yaa hehe suka lupa diri emang kalau udah nulis😂


Koreksi terus kalau ada salah ya😉


Aku mau bikin cerita yang bisa kalian nikmatin dengan enjoyyy😊


Makasih banyakk dan maaf kemarin gak update nanti malam kita up lagi, okeee😉


BIG LOVEE untuk kaliann❤❤❤❤