My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (112)



Tiga hari sebelum pernikahan Devina dan Ziko dilangsungkan Sahara menginap di rumah bersama dengan sang suami serta anaknya. Keluarga kecil Daffa kembali berkumpul di satu rumah yang sama menjelang pernikahan Devina.


Bukan hanya kebahagiaan, tapi ada kesedihan pula yang dirasakan karena Devina sebentar lagi akan menikah dan ikut bersama sang suami meninggalkan rumah. Bahkan Daffa sendiri sering melamun kalau mengingat anaknya akan segera menikah dan tinggal bersama sang suami.


Sebentar lagi Devina akan tinggal bersama keluarganya yang baru, keluarga suaminya.


"Ya ampun adiknya Kak Ara sudah mau menikah." Kata Sahara sambil mengusap sayang pipin Devina


Devina sendiri hanya tersenyum saja ketika mendengarnya lalu dia mendekat dan memeluk Kakaknya dengan sayang.


"Kakak senang kamu menikah, semoga kamu sama Ziko selalu bahagia sayang." Kata Sahara


"Makasih Kak." Kata Devina dengan senyuman manisnya


"Iya sama-sama sekarang kita turun udah waktunya makan malam." Kata Sahara


"Kak Ara"


Devina menahan tangan Sahara ketika mereka ingin keluar dari kamarnya.


"Iya Devina ada apa?" Tanya Sahara sambil menatap adiknya


"Waktu Kakak menikah, apa Kakak merasa sedih juga karena harus meninggalkan Mommy sama Daddy dan adik Kakak?" Tanya Devina


Mendengar hal itu Sahara tersenyum lalu dia duduk disamping Devina dan mengusap kepalanya dengan sayang.


"Kakak sedih karena sejak kecil Kakak selalu sama kalian, tapi seiring berjalannya waktu semua akan membaik dan Devina kamu bukan meninggalkan melainkan pergi untuk sebentar karena apa? Karena kamu masih bisa kembali kalau meninggalkan itu artinya kamu tidak kembali lagi." Kata Sahara


"Vina sedih"


"Itu hal yang wajar Devina karena Kakak juga begitu dulu, tapi kamu tenang ya? Nanti semua akan membaik kamu gak pergi jauh Devina kamu masih bisa sering main kesini sama seperti Kakak." Kata Sahara


Devina tersenyum mendengarnya lalu mengangguk faham membuat Sahara mengusap kepalanya dengan sayang.


"Sekarang kita turun dan makan malam ya?" Ajak Sahara


Devina bergumam pelan sebagai jawaban lalu menyambut uluran tangan Sahara dan keduanya bersama-sama pergi ke ruang makan. Di sana semuanya sudah berkumpul hanya dia dan Sahara saja yang belum bahkan si kecil Airlangga sudah duduk manis dipangkuan Daffa.


Tersenyum lebar Devina mendudukkan dirinya disamping Devano yang langsung mencubit gemas pipinya. Setelah itu Fahisa langsung meminta mereka semua untuk makan dan tidak lupa dia mengambilkan makan untuk sang suami.


"Daddy sini Angga nya." Kata Sahara


"Eh jangan sayang biar Angga sama Daddy aja." Kata Daffa sambil memainkan pipi Airlangga dengan gemas


"Daddy kamu lagi mau main sama cucunya sayang biarkan saja." Kata Fahisa


"Iya aku rindu sekali sama Angga." Kata Daffa sambil mencubit pelan pipinya


"Kenapa kalau Vina yang cubit Angga nangis? Tapi kalau dicubit yang lainnya dia enggak nangis." Kata Devina kesal


"Dia tau kamu nakal." Kata Devano sambil mencubit gemas pipi kembarannya


"Ish aku gak nakal!" Kata Devina


"Pasti ramai sekali ya Mi kalau mereka berdua sudah bertengkar." Kata Arjuna pada mertuanya


"Tentu saja Juna kadang Mami sampai pusing sendiri." Kata Fahisa sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Mereka memang gitu Mas sukanya ribut, tapi kalau salah satu gak ada dicariin." Kata Sahara


"Udah yuk makan dulu nanti keburu dingin." Kata Fahisa


Semuanya mengangguk lalu mulai menyantap makan malam mereka dalam diam dengan Daffa yang makan disuapi oleh istrinya karena dia asik sekali bermain bersama cucunya.


Memang begitu Daffa kalau sudah bertemu cucunya senang sekali sampai tidak mau melakukan hal yang lain lagi selain bermain bersama cucunya.


Dia tidak tau lagi akan sesepi apa rumahnya kalau Devina sudah menikah nanti.


¤¤¤


"Kak Ara sini aja mau pelukk"


Sahara tersenyum mendengar permintaan adiknya lalu mendekat dan memeluk Devina yang tengah duduk bersandar di ranjang. Adiknya itu memang sangat manja dia jadi ikut sedih karena tau Devina akan menikah dan menjauh dari orang tuanya serta Devano pasti mereka akan kesepian tanpa kehadirannya.


Setelah dia menikah orang tuanya sering sekali mengatakan bahwa Devina adalah obat rindu karena gadis itu yang ceria, manja, dan cerewetnya minta ampun hingga membuat rumah terasa ramai. Selain itu Sahara juga dapat melihat kesedihan di mata Devano setiap kali dia menatap mata Devina.


Tentu saja Devano akan sangat sedih karena Devina sudah seperti separuh hidupnya mereka tidak pernah berada jauh untuk waktu yang lama.


"Hm"


"Vina.. Vina takut." Kata Devina


"Takut kenapa hm?" Tanya Sahara


"Vina takut kalau Vina salah ambil keputusan dengan menikah di usia muda." Kata Devina


"Enggak ada yang salah dengan hal itu Devina, tapi jangan terlalu difikirkan ya? Kamu sudah mengambil keputusan dan artinya apapun hasilnya nanti kamu harus bisa menerimanya." Kata Sahara


Devina menatapnya dalam diam membuat Sahara tersenyum dan mengusap sayang pipinya.


"Kakak yakin kamu sama Ziko bakal bahagia selalu karena Ziko sangat mencintai kamu dan sama halnya dengan kamu yang sangat mencintai dia." Kata Sahara


Devina tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Sahara yang kini mengusap kepalanya.


"Kakak gimana sama kandungan Kakak?" Tanya Devina yang mulai mengalihkan pembicaraan


Sahara tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Baik sayang Kakak sering check up juga ke dokter." Kata Sahara


"Em sehat-sehat ya keponakannya Vina dan Kakaknya Vina juga harus sehat." Kata Devina sambil mengusap perut Sahara dengan sayang


"Sekarang tidur ya?" Kata Sahara pada adiknya


"Em Kakak gak papa kalau mau ke kamar nanti Angga nangis." Kata Devina


"Iya yaudah Kakak kamu kembali ke kamar untuk melihat Angga ya? Vina langsung tidur." Kata Sahara


Devina mengangguk patuh lalu menatap Sahara yang berjalan menjauh dan menghilang dari balik pintu. Tersenyum tipis Devina tak langsng tidur dia hanya diam sambil menatap lurus ke depan.


Semakin dekat dengan pernikahan Devina semakin merasa sesak jika teringat bahwa dia akan meninggalkan rumah yang berisikan semua orang yang sangat dia sayang.


Devina merasa sangat berat untuk pergi.


¤¤¤


"Mas"


Fahisa memanggil Daffa yang sejak tadi melamun hingga membuat suaminya itu tersentak dan langsung menatapnya dengan senyuman tipis. Ikut tersenyum Fahisa naik ke atas ranjang lalu mengusap pipi suaminya dengan sayang membuat Daffa memejamkan matanya.


Sesaat setelahnya Daffa memeluk Fahisa dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, tempat dimana dia selalu mencari kenyamanan. Tinggal tiga hari lagi dia bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Devina, hanya tiga hari.


"Mikirin Vina ya?" Tebak Fahisa


"Iya Hisa aku kefikiran Devina terus, hanya tiga hari lagi sebelum pernikahan." Kata Daffa


"Tujuh hari juga Devina akan tinggal disini, sudah jangan sedih." Kata Fahisa dengan senyuman


"Hm aku tidak bisa Fahisa membayangkan akan berjauhan dengan Devina saja sudah membuatku sangat sedih." Kata Daffa


"Kamu gak boleh gitu Mas cepat atau lambat juga anak-anak kita akan menikah." Kata Fahisa


"Nanti kita kesepian." Kata Daffa pelan


"Ada Vano nanti kalau kangen sama Vina kita bisa minta main kesini atau kita yang kesana, sama seperti Sahara Mas." Kata Fahisa lagi


"Apa aku seperti ini juga ketika Sahara akan menikah?" Tanya Daffa membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


"Lebih parah kamu bahkan menangis." Kata Fahisa


"Hm begitu ya? Lalu aku harus apa?" Tanya Daffa


"Tersenyum dan berbahagialah untuk pernikahan anak kita." Kata Fahisa


Daffa tersenyum lalu mengangguk singkat sebagai jawaban, dia akan melakukannya.


Benar kata Fahisa cepat atau lambat anak-anak mereka juga akan menikah.


¤¤¤


Hola aku updatee hehee💞