My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (35)



Sudah tengah malam Daffa masih belum bisa menemukan keberadaan anaknya dan dia frustasi apalagi mendengar Fahisa yang terus menangis. Sekarang di rumahnya ada Sahara yang tadi ditelpon oleh Fahisa dan memintanya untuk datang karena Devina hilang.


Mereka sudah melapor pada polisi, tapi masih belum ada hasil dan Daffa juga tidak bisa menemukan jejak apapun. Sekarang dia mengenggam erat ponsel Devina yang tadi Devano temukan di dekat gerbang belakang kampus dengan layar yang retak.


Harapannya untuk melacak Devina hilang sekarang Daffa hanya terus berfikir, dimana anaknya?


Mereka sudah mendatangi rumah Firga, tapi kosong dan Daffa sangat marah bahkan ruang kerjanya sudah tidak berbentuk. Ada banyak orang yang membantu Daffa, tapi mereka sama sekali tidak mendapat petunjuk dimana Devina.


"Agh sial!" Geram Daffa


Matanya terpejam, sudah dua kali dia kecolongan pertama ketika Sahara diculik oleh Kevin dan sekarang Devina. Sungguh dia benar-benar tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, bagaimana kalau Devina disakiti?


Daffa bersumpah akan membunuh mereka kalau sampai terjadi sesuatu pada anaknya!


"Ara bagaimana dengan Devina? Apa dia sudah makan? Dia tidak boleh telat makan sayang." Isak Fahisa di dalam pelukan Sahara


"Daddy pasti akan segera menemukan Vina." Kata Sahara berusaha menenangkan Mommy nya


Dia juga sangat cemas.


"Vina pasti ketakutan, dia pasti mencari kita." Kata Fahisa lagi


"Iya Mommy kita lagi berusaha cari Vina." Kata Sahara


"Mas ini gimana? Udah malam banget kita masih belum tau Devina dimana, dia pasti takut." Kata Fahisa lagi


Merasa suasana hatinya semakin tidak karuan karena mendengar tangisan istrinya Daffa keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Ternyata Devano mengikutinya dan masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun.


Daffa juga tidak menyuruh anaknya keluar dia hanya diam lalu melajukan mobilnya keluar dari area rumahnya. Selagi di perjalanan Daffa terus berfikir, dimana kira-kira Devina berada?


Anaknya pasti sangat ketakutan sekarang dia tidak pernah berada jauh dari keluarganya meski hanya sebentar.


Apa Devina sudah makan?


"Daddy aku..."


Perkataan Devano terputus ketika Daffa menambah kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Mobilnya terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa arah tujuan hingga ponselnya berdering dan Wira menelponnya.


"Halo"


'Daf kita menemukan lokasinya'


"Dimana?! Kirim sekarang juga!" Kata Daffa


'Gue yakin Devina ada disana dan gue udah hubungin polisi setempat untuk datang kesana'


Setelah mendengar itu Daffa menyerahkan ponselnya pada Devano dan meminta anaknya untuk memberi tau pesan yang akan segera masuk. Saat pesan itu masuk mata Devano membulat ketika melihatnya akan memakan waktu banyak untuk sampai kesana.


"Dimana Devano?!" Tanya Daffa tidak sabaran


Devano menyebutkan alamatnya dan berhasil membuat Daffa mengumpat sambil memukul stir mobilnya cukup kuat. Tanpa basa-basi Daffa menambah kecepatan mobilnya dan pergi ke alamat yang baru saja Wira kirimkan.


Dia harap Devina akan baik-baik saja.


'Devina tunggu Daddy sama Vano'


¤¤¤


Sudah sejak tadi Devina menangis bahkan dia menolak ketika salah satu dari mereka memberikan makanan, Devina tidak mau makan dia ingin pulang. Kaki serta tangannya juga semakin sakit bahkan Devina sampai berfikir apa dia akan hidup sampai besok?


Apa Daddy nya akan datang?


Wajah Devina semakin diliputi ketakutan ketika seseorang dengan pakaian formalnya berjalan mendekat hingga membuat dia terus mundur ke tembok. Sekarang Devina tidak bisa bergerak lagi dia menolehkan wajahnya ketika pipinya di sentuh.


Pria dihadapannya tidak seram, tapi Devina yakin dia pasti orangnya yang sudah menyuruh ketiga orang tadi untuk membawanya.


"Dengar gadis kecil menurutlah padaku dan makan." Kata pria itu


"Enggak!"


Wajah pria itu memerah menahan amarah lalu dia mengambil piring berisi makanan yang tadi dan memaksa Devina untuk makan. Air mata Devina kembali jatuh ketika kedua pipinya ditekan dengan kuat agar dia membuka mulutnya.


Tangan Devina yang bebas membuat dia mendorong pria itu hingga jatuh lalu Devina kembali memegang pipinya yang terasa sakit.


"Kau! Aku sudah berbaik hati tidak melakukan apapun, tapi bukannya menurut kamu malah membangkang gadis kecil!" Katanya marah


Devina tetap diam, tapi dia langsung memberontak ketika tangannya di tarik.


"Lepass lepasinn aku gak mauu lepas!" Kata Devina sambil menangis


Devina terus berusaha menarik tangannya bahkan menahan kakinya untuk melangkah dan membuat pria itu menariknya lalu mendorong tubuh Devina hingga jatuh ke sofa. Saat pria itu mendekat Devina terus bergerak mundur sambil mengeratkan genggaman tangannya.


"Kau benar-benar membuat aku marah gadis kecil." Katanya


Saat wajah pria itu semakin mendekat Devina secara refleks menamparnya dan hal itu semakin membuatnya marah.


"Kau akan menyesal! Akan aku buat orang tuamu juga menyesal!" Bentaknya


Devina menolehkan kepalanya ketika pria itu menyentuh rambutnya lalu pipinya dan Devina semakin menangis, dia takut.


"Orang tua kamu itu sudah keterlaluan! Akan aku buat dia menyesal atas apa yang telah dia lakukan padaku." Bisiknya tepat ditelinga Devina


"Enggak jangan." Mohon Devina ketika pria itu mendekatkan wajahnya


"Tidak akan ada yang bisa menemukanmu." Katanya dengan penuh penekanan


Devina menggelengkan kepalanya pelan sambil menangis dan memanggil Daddy nya dengan kuat, meminta pertolongan.


"Enggak Daddy pasti tolongin Vina"


Devina semakin memberontak ketika pria itu menyentuh pipinya lagi dan dia berteriak kencang ketika wajah itu semakin mendekat.


Hanya sedikit lagi bibir itu mungkin akan menyentuh wajahnya hingga suara pintu yang didobrak terdengar dan pria itu ditarik paksa. Merasa aman Devina memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis dengan hebat, dia takut pria itu ingin menyentuhnya.


"Brengsek!"


Suara itu Devina sangat mengenalnya itu suara Daddy, tapi Devina tidak mau melihat, dia takut.


Isakannya terdengar begitu kuat hingga ketika Devina merasakan sentuhan di pundaknya dia bergerak mundur karena takut, tapi ketika suara Devano terdengar dia mendongak.


"Vano?"


Devano mengangguk singkat lalu membawa Devina ke dalam pelukannya membuat Devina menangis dengan keras sambil mencengkram kuat pundaknya.


"Takut... Vina takut... orang tadi jahat." Isak Devina


"Sst aku disini Vina sama Daddy jangan takut." Bisik Devano


Devina mendongak lalu melihat Daddy nya yang tengah memukul pria itu bahkan meskipun pria itu sudah babak belur.


"Daf udah"


Tubuh Daffa ditarik agar berhenti memukul pria itu dan dengan nafas tak beraturan Daffa menjauhkan tubuhnya lalu meminta polisi yang datang bersama mereka untuk menangkap semua orang yang terlibat. Setelahnya Daffa melihat anak perempuannya yang menangis di pelukan Devano dan membuat dia bergegas menghampirinya membuat Devano melepaskan pelukannya.


Daffa langsung memeluk anaknya dengan sayang dan membuat Devina semakin terisak. Setelah cukup lama Daffa melepaskan pelukannya dan memperhatikan Devina yang terlihat sangat berantakan.


Bajunya kotor, rambutnya berantakan, matanya sembab lalu ada bekas merah juga di pipinya entah karena pukulan atau apa dan yang membuat Daffa semakin marah ada banyak luka yang dapat dia lihat.


Tanpa mengatakan apapun lagi Daffa menggendong anaknya lalu membawa ke mobil dan mendudukkannya di jok belakang bersama dengan Devano. Setelahnya Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan tingga menuju rumah, dia tidak akan memaafkan mereka atas perbuatannya pada Devina.


Tidak akan pernah!


"Vina?"


Devina tidak mengatakan apapun hanya ada suara isakan dan dia hanya diam sambil memeluk erat Devano karena merasa sangat takut. Tangannya mencengkram kuat ujung kaos Devano dan membuat kembarannya itu merasa cemas sambil mengusap lembut punggung Devina dengan sayang.


Cukup lama mereka diperjalanan hingga akhirnya sampai dan Daffa langsung menggendong anaknya, membawa Devina masuk ke dalam. Kedatangannya langsung disambut dengan penuh kecemasan oleh semua orang yang ada di rumah.


"Fahisa bantu Devina mengganti pakaiannya"


Fahisa mengangguk sambil mengikuti langkah kaki suaminya disusul dengan Sahara dan mereka masuk ke dalam kamar. Sampai sekarang Devina masih belum mengatakan apapun dan tidak ada yang bertanya juga.


Mengambil baju untuk anaknya Fahisa membantu Devina untuk menggangi bajunya yang sudah sangat kotor setelah Daffa dan Devano keluar dari kamar.


"Vina"


Devina tidak mengatakan apapun dan hanya menurut saja hingga pakaiannya kini sudah berganti dengan yang baru.


"Ara cepat ambil kotak P3K." Pinta Fahisa ketika melihat luka di tubuh anaknya


Sahara mengangguk lalu membuka pintu dan berlari untuk mengambil kotak P3K yang ada di bawah.


Daffa bersama Devano kembali masuk untuk melihat keadaan Devina yang masih belum membaik. Sama sekali tidak ada suara yang gadis itu keluarkan.


"Devina"


Tetap tidak ada jawaban.


"Vina"


Kali ini Devano menyentuh pundaknya dan membuat Devina mendongak untuk menatapnya lalu dia menoleh dan melihat Fahisa.


"Mommy?"


"Iya sayang ini Mommy." Kata Fahisa sambil mengusap pipi Devina dengan lembut


Mata Devina kembali berkaca-kaca dia langsung memeluk Fahisa dengan sangat erat dan menumpahkan isak tangisnya.


"Mommy... Vina takut... takut..."


"Iya sayang Mommy disini jangan menangis." Kata Fahisa


"Orang itu.... dia menyentuh Vina... takut Vina kira Vina akan mati." Isak Devina


"Sst tidak sayang sekarang kamu aman disini sama Mommy, Daddy, Kak Ara, dan Vano." Kata Fahisa


"Vina... dipukul mereka... dorong Vina juga dan mereka... bawa pisau lalu mengancam Vina." Kata Devina sambil mengeratkan pelukannya


"Daddy akan membalas mereka semua." Kata Fahisa


"Daddy jahat... Daddy biarin mereka sakitin Vina." Kata Devina


Fahisa tidak mengatakan apapun hanya diam sambil mengusap punggung Devina dan berusaha menenangkannya.


"Vano juga jahat... Vano jahat katanya Vano bakal ngelindungin Vina... dia bohong Mommy... Vina takut." Kata Devina lagi


"Devina sudah ya? Jangan menangis sayang." Kata Fahisa


"Mereka... mereka jambak rambut Vina... kuat sekali.. sakit Mommy." Kata Devina lagi


"Maaf sayang, sudah ya? Jangan nangis Mommy janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Kata Fahisa sambil menghapus air mata Devina dengan sayang


Bukan berhenti Devina justru semakin menangis dengan nafas yang mulai tak beraturan membuat Fahisa merasa cemas dan langsung memberikan minum.


Belum sempat meminumnya Devina merasa kalau kesadarannya direnggut secara paksa dan dia tidak mendengar apapun selain panggilan namanya yang cukup kuat.


Dia lega karena mimpi buruknya telah berakhir.


¤¤¤


Satu lagi nanti yaaa😂