My Possessive Twins

My Possessive Twins
89 : Ajakan Devano



Ujian hari pertama berlangsung hari ini Devina sudah siap karena pelajarannya bukan Matematika, jadi dia tidak cemas dan bersikap biasa saja layaknya berangkat ke sekolah. Sedangkan Devano yang memang pandai di semua mata pelajaran tidak merasa cemas sama sekali ditambah lagi dia memang orang yang santai.


Tas yang biasa berat kini terasa ringan karena hanya berisi papan ujian serta alat tulis. Biasanya kalau nanti Devina ingin belajar lagi dia akan pergi ke perpustakaan kalau kembarannya sih tidak pernah belajar lagi karena Devano sudah belajar dari jauh-jauh hari.


Setelah menyantap sarapan mereka berdua pamit untuk berangkat ke sekolah, seperti biasa Devano memakaikan helm untuk saudara kembaranya dan memberikan jaket juga agar di pakai. Sebenarnya Devina malas, tapi dia tidak mau kalau Devano marah jadi dia memakainya tanpa protes.


"Vanoo"


"Hmm"


"Jangan kebut-kebut ya?" Kata Devina


Dia memang sedikit takut karena kejadian itu.


"Iya Vin enggak." Kata Devano


Tersenyum manis Devina langsung menaiki motor dan Devano melajukan kendaraan bermotor dua itu dengan kecepatan rata-rata karena ini masih cukup pagi juga, jadi mereka tidak perlu terburu-buru. Luka di lengan Devina sudah membaik bahkan perbannya juga sudah di lepas dan hal itu membuat Devano merasa lega.


Tadinya Daffa ingin mengantar mereka berdua ke sekolah, tapi dia ada meeting mendadak dan di tambah lagi Devano yang meyakinkan kalau dia akan membawa motor dengan hati-hati. Akhirnya Daffa mengizinkan padahal beberapa hari belakangan dia sendiri yang mengantar anak-anaknya ke sekolah.


Kembali pada Devano yang kini telah sampai di sekolah dan memarkirkan motornya bersama dengan motor murid-murid lainnya. Keduanya turun dan Devano langsung membuka helm milik kembarannya lalu menggantungkan di motor.


Devina tersenyum dan menggandeng tangan Devano lalu mereka bersama-sama memasuki kelas.


"Emm Vanoo"


"Iya Vin kenapa?" Tanya Devano sambil menoleh sekilas


"Nanti habis ini aku mau pergi sama Mona dan yang lainnya yaa? Boleh kann?" Tanya Devina dengan penuh harap


"Mau kemana?" Tanya Devano


"Mau nonton di bioskop, boleh ya?" Kata Devina


"Naik apa kesananya?" Tanya Devano


"Naik taxi mereka pada gak bawa motor hari ini." Kata Devina


Devano terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalanya dan membuat Devina tersenyum senang.


"Vano mau nanya lagiii." Kata Devina


"Hmm nanya apa?" Kata Devano


"Vano mau kuliah dimana?" Tanya Devina


"Yang jelas enggak bakal jauh-jauh kok." Kata Devano


"Emm berarti masih di kota ini kann? Vano gak bakal kuliah di luar kota atau luar negeri kan?" Tanya Devina


Devano tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, mana bisa dia berjauhan dari kembarannya. Kalau kuliah di luar kota dia malah akan tidak fokus karena memikirkan Devina dan ditambah lagi Adara.


"Aku kira Vano mau kuliah di luar kota, Vano kan pintar." Kata Devina


"Enggak Vin." Kata Devano


"Bagus deh jadi aku enggak kesepiann." Kata Devina sambil tersenyum


Saat sampai di dekat kelasnya Devina melepaskan tangan kembarannya dan mengatakan kalau dia akan pergi ke kelasnya. Devano tersenyum dan mengusap puncak kepala Devina dengan sayang.


"Hmn semangat kerjaiin ulangannya." Kata Devano


"Siap boss kamu juga yaa?" Kata Devina


Devano bergumam pelan dan setelahnya Devina pergi ke kelas lalu masuk ke dalam.


"Cessaaa"


Karena ulangan kelas di bagi menjadi dua dan Devina hanya sekelas dengan Cessa dan Gio sedangkan Mona, Nayla serta Ziko di kelas yang lain.


"Heyy Vinaaa"


Mereka duduk sendiri-sendiri dan tempat duduk mereka bersebelahan karena belum ada guru Devina mendudukkan dirinya di sebelah Cessa.


"Cessa nanti jadi kann?" Tanya Devina


"Jadi dongg pulang sekolah ya?" Kata Cessa


"Iya aku udah bilang Vano kata dia enggak papa." Kata Devina


"Sipp akhirnya kita bisa pergi bareng-bareng." Kata Cessa senang


Mereka memang susah sekali untuk pergi bersama karena salah satu pasti ada yang tidak bisa. Saat Devina bisa salah satu dari mereka tidak bisa dan sebaliknya juga sama kalau mereka bisa maka Devina yang tidak bisa.


Kadang Cessa kesal sendiri.


"Kamu udah belajar Ces?" Tanya Devina


"Gue? Jelaslah Vin belum." Kata Cessa sambil tertawa


"Ihh nanti kamu jawabnya gimana? Atau kamu udah dari lama ya belajarnya?" Tanya Devina


"Pakai kata hati Vin haha enggak lah mana ada gue belajar dari lama." Kata Cessa membuat Devina menggelengkan kepalanya pelan


Cessa memang terlalu santai.


"Ehh Vin tau gak?" Tanya Cessa


"Enggak, ada apa Ces? Ada gosip yaa?" Tanya Devina


Cesaa menganggukkan kepalanya membuat Devina menatapnya dengan penasaran.


"Apa? Apaa?" Tanya Devina antusias


"Temen kita ada yang baru jadian." Kata Cessa


"Ihh beneran?! Siapaaa?" Tanya Devina


"Nayla"


"Hah?! Beneran? Sama siapa? Kok aku gak tauuu?" Tanya Devina dengan suara yang cukup keras hingga bebera orang menoleh ke pada mereka


"Sstt jangan keras-keras ini rahasia Vin." Kata Cessa


"Iya maaf aku terlalu bersemangat, sama siapa Cess?" Tanya Devina dengan suara yang normal


"Sama Bastian temennya Ziko." Kata Cessa membuat mata Devina membulat sempurna


"Ih kok bisaa?" Tanya Devina


"Ziko yang comblangin." Kata Cessa sambil tertawa


"Sejak kapann?" Tanya Devina


"Baru kok Vin tadi malam makanya nanti dia mau traktir kita makan." Kata Cessa sambil tertawa


"Ihh aku masih kaget." Kata Devina


"Udah Vin nanti dia pasti bakal kasih tau lo, Mona aja belum tau dan lo jangan bilang kalau udah tau ya?" Kata Cessa yang dijawab dengan anggukan oleh Devina


"Hey kalian berdua sedang gosip yaa?"


Suara itu membuat mereka berdua menoleh dan melihat Mona yang masuk ke dalam kelas bersama Nayla dan Ziko. Senyum Devina mengembang ketika Ziko menatapnya dan dia langsung melambaikan tangan pada pria itu.


"Zikoo"


Devina tertawa lalu menyapa mereka berdua dan ketiganya duduk di dekat Devina serta Cessa, bel masuk memang masih cukup lama selain itu kelas mereka juga tidak terlalu jauh.


"Ahh sedih masa aku gak sekelas sama kamu Vin." Kata Ziko


"Makanya nama jangan Z." Kata Mona


"Ck. Apasih Mon? Lo punya dendam pribadi sama gue ya?" Ketus Ziko


Devina hanya tertawa melihat keduanya, memang Mona dan Ziko itu selalu ribut untuk masalah sepele.


"Vin nanti jalan yuk pulang sekolah." Ajak Ziko


Belum sempat Ziko menjawab Mona sudah lebih dulu bicara dengan wajah menyebalkannya.


"Sorry yaa Ziko kita udah duluan ngajak Devina dan nanti kita bakal pergi ke mall." Kata Mona


"Bener Vin?" Tanya Ziko


Devina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kok gak bilang? Aku ikut ya?" Kata Ziko


Devina baru akan menjawab, tapi teman-temannya sudah lebih dulu bicara.


"Enak aja!" Kata mereka sewot


"Ini tuh girls time ya Ziko jangan ganggu!" Kata Cessa


"Iya Ziko besok lagi ajaa." Kata Devina


Ziko menghela nafasnya pelan dan mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Yaudah, sekarang keluar kelas dulu sama aku." Kata Ziko


Mengulurkan tangannya Devina tersenyum dan menggenggam tangan itu lalu mereka berdua keluar dari kelas. Tidak jauh mereka hanya duduk di depan dan Ziko juga tidak mengatakan apa-apa hanya diam saja, jadi Devina yang mulai bicara.


"Ziko aku mau ngomong." Kata Devina


"Apa?" Tanya Ziko sambil tersenyum


"Emm makasih ya untuk kotak musiknya aku kalau gak bisa tidur hidupin itu terus." Kata Devina


Ziko tersenyum senang, waktu itu dia bingung sekali ingin membeli apa dan ketika ingat kalau Devina sering kali susah tidur akhirnya Ziko membelikan kotak musik.


"Hmm sama-sama kamu suka kan?" Tanya Ziko


"Sukaaa bangettt." Kata Devina


"Lebih suka kotak musiknya atau orangnya?" Tanya Ziko membuat Devina tertawa


"Dua-duanyaa sukaa." Kata Devina


Melihat senyum Devina yang membuat matanya menyipit Ziko jadi gemas sendiri lalu mencubit pelan pipinya.


"Gemes bangett"


Devina juga meras gemas pada kekasihnya yang sangat cemburuan.


¤¤¤


"Saudara Adara apa yang anda isi tadi?"


Pertanyaan dari Erick membuat Adara tertawa ulangan tadi memang sedikit sulit dan beberapa soal Adara jawab dengan asal karena dia tidak tau jawabannya. Berbeda dengan Devano yang mengisi jawaban dengan lancar dan mengumpul paling awal dari yang lainnya, tidak ada yang heran karena Devano memang selalu begitu.


Sekarang mereka istirahat dan pelajaran kedua akan berlangsung lima belas menit lagi. Mereka tidak ke kantin dan tetap berada di kelas, hanya Yuda yang terpisah ke kelas lain.


"Gue jawabnya zig zag." Kata Adara asal


"Parah lo Dar belajar apa lo selama ini?" Kata Alex


"Belajar mukulin anak orang.. awww iya maaf Van." Kata Adara ketika Devano mencubit pipinya


Yang lainnya tertawa melihat itu semua, memang sekarang Devano sangat sensitif kalau ada yang membahas masalah Adara yang dulu suka berantem.


"Cium aja Van biar diem." Kata Alex membuat Devano mendengus kesal


"Diem Lex!" Ketus Devano


"Udah Lex diem lo salah mulu kalau di depan Vano." Kata Erick sambil tertawa


Devano mengabaikan perkataan mereka dan mengajak Adara untuk pergi ke kantin, dia tau gadis itu belum makan apapun sejak pagi. Tentu saja Adara tidak bisa menolak karena meskipun sudah berkali-kali mengatakan tidak Devano tetap melakukan apa yang dia mau.


Sampai di kantin Adara mengatakan kalau dia ingin minum susu dan makan roti saja. Mengangguk faham Devano meminta Adara untuk menunggu selagi dia pergi ke koprasi dan membeli susu serta roti.


Tak butuh waktu lama Devano kembali dengan membawa sekotak susu juga roti lalu dia duduk disamping Adara dan meminta gadis itu untuk memakannya sebelum kembali ke kelas.


"Makan dulu." Kata Devano


Adara baru akan bicara, tapi Devano sudah lebih dulu memotongnya.


"Kamu gak sarapan kan? Yaudah makan dulu aja masih cukup kok waktunya." Kata Devano


"Di kelas aja deh." Kata Adara


Devano mengangguk dan sambil berjalan ke kelas Adara meminum susu yang tadi Vano belikan, dia memang tidak sempat sarapan karena kesiangan.


"Dar"


"Hmm"


"Nanti aku mau ajak kamu pergi, bisa gak?" Tanya Devano


"Bisa, memang mau kemana?" Tanya Adara


Devano tersenyum lalu mengatakan sesuatu yang membuat Adara terdiam.


"Ke rumah Kakak aku"


Apa Devano sedang bercanda?


Dia sudah pernah bertemu dengan Sahara ketika ulang tahun kekasihnya dan Adara berani bersumpah dia bahkan tidak berani menatap wajahnya.


Kakak Devano benar-benar cantik meskipun sudah bersuami dan memiliki anak.


Hal itu membuat Adara semakin tidak percaya diri.


"Kamu bercanda kan?" Tanya Adara


Devano tertawa lalu mencubit pelan pipi kekasihnya.


"Seriuslah nanti pulang sekolah kita ke rumah Kak Ara"


Ya ampun Adara mau kabur saja.


¤¤¤


Hari inii kita double up aja yaa😉


Karakter favorit kalian siapa nihh di cerita ini aku penasaran???


Kalo aku sih jelas si kembarr😚