My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (103)



"Vina maunya warna pink!"


Perkataan itu seolah sudah menjadi perintah yang harus dilakukan membuat Ziko hanya bisa menatap kekasihnya itu dengan penuh permohonan, mereka lagi membicarakan masalah pernikahan mulai dari gaun hingga dekorasi. Sejak awal pembahasan Devina terus menekankan hal yang sama bahwa dia mau semuanya berwarna pink dan Ziko juga harus setuju.


Setiap kali Ziko ingin protes Devina akan memasang wajah galaknya dan mengatakan kalau dia mau semuanya berwarna pink. Sekarang keduanya lagi berada di rumah Ziko mengobrol dengan santai di halaman belakang rumah.


"Vin masa aku pakai pink." Kata Ziko dengan wajah memelasnya


"Iya harus! Pokoknya pink Vina gak mau kalau ada warna lain!" Kata Devina tanpa mau diganggu gugat


"Jangan pink semua bisa pakai putih atau silver atau hitam." Kata Ziko


"Ih gak mauuu." Kata Devina


"Vina mau yaa? Masa aku pakai baju pink." Kata Ziko


"Enggak papa bagus." Kata Devina dengan senyuman


"Vina sayang jangan pink semua ya?" Kata Ziko


"Enggak! Vina enggak mempan dirayu juga pokoknya pink!" Kata Devina lagi


"Vinn"


"Ih maunya warna pink!" Kata Devina dengan wajah cemberut


"Ya ampun sayang aku..."


"Ziko enggak sayang Vina." Kata Devina


"Bukan gitu Devina, tapi kan..."


"Tuh kan yaudah terserah Ziko." Kata Devina kesal


"Yaudah iya sayang semuanya warna pink." Kata Ziko


"Ziko kepaksa bilangnya." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal


"Enggak Vina." Kata Ziko sambil mencubit pelan pipinya


"Bener ya? Mau kan warna pink?" Tanya Devina lagi


"Iya mau"


Tersenyum senang Devina memeluk Ziko dengan sayang membuat pria itu tersenyum senang apalagi ketika Devina mencium singkat bibirnya.


"Sayang Ziko"


Merasa gemas Ziko mencubit pelan pipi gadis itu lalu setelahnya mengajak Devina untuk pergi makan siang. Orang tuanya sedang tidak ada di rumah, jadi Ziko akan mengajak kekasihnya untuk makan di luar saja.


"Yuk makan"


Mengangguk patuh Devina menerima uluran tangan Ziko lalu keduanya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Setelah memakai sabuk pengaman Ziko langsung melajukan mobilnya meninggalkan area rumah dan pergi ke restoran yang sering menjadi tempat mereka berdua makan


Sepanjang perjalanan Devina banyak sekali melihat-lihat foto gaun pernikahan yang ada di sosial media lalu tersenyum ketika membayangkan dia akan memakainya juga, rasanya tidak sabar.


"Vina mau warna kayak gini." Kata Devina membuat Ziko melirik sebentar dan mengangguk singkat


"Heem terserah kamu." Kata Ziko


"Vina mau gaun seperti ini dia panjang terus tidak terlalu terbuka seperti keinginan Daddy dan Vano terus gaun ini bagus sekali." Kata Devina


"Kamu pasti akan terlihat sangat cantik Devina." Kata Ziko


"Nanti Vina mau tanya sama Kak Ara." Kata Devina


"Iyaa"


"Ziko udah bilang sama teman-teman kuliah Ziko belum? Tanggapan mereka bagaimana? Terus terus Tiara?" Tanya Devina dengan antusias


"Hm udah mereka ikut senang meskipun suka ngeledekin sih, tapi gak ada masalah dan Tiara dia diam aja aku kan kasih taunya bareng-bareng sama yang lain juga, kalau kamu?" Tanya Ziko


"Vina udah kasih tau juga mereka ikut senang kan Devina gak banyak teman dekat di kampus terus Kak Lucas juga tau padahal Vina enggak kasih tau." Kata Devina membuat Ziko langsung menoleh untuk menatapnya


"Lucas? Dia bilang apa?" Tanya Ziko tidak suka


"Em dia nanya bener apa enggak terus Vina jawab bener dan dia cuman bilang selamat aja." Kata Devina


Ziko mengangguk faham lalu kembali melirik Devina yang benar-benar sedang fokus dengan ponselnya.


"Vin kamu beneran gak mau beli cincin yang baru?" Tanya Ziko


Devina menghentikan kegiatannya lalu melihat Ziko dan kemudian menatap tangan kanannya.


"Enggak mau Vina suka cincin yang ini." Kata Devina


"Kenapa? Mungkin kamu bakal suka cincin yang lain." Kata Ziko


"Pokoknya enggak mau Vina maunya yang ini aja." Kata Devina lagi


"Yaudah kalau itu memang mau kamu." Kata Ziko


"Memang kenapa? Ziko enggak suka cincin yang ini ya?" Tanya Devina


"Enggak bukan gitu aku cuman mastiin aja." Kata Ziko membuat Devina mengangguk faham


"Vina suka banget yang ini." Kata Devina


"Iya Vin"


Setelahnya mereka diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga akhirnya mobil Ziko berhenti di salah satu restoran yang sering menjadi tempat makan untuk keduanya. Keluar dari mobil Ziko menggenggam tangan kekasihnya dan bersama-sama masuk ke dalam lalu duduk di bangku yang kosong.


Sesaat kemudian seorang pelayang datang untuk menanyakan pesanan mereka dan Ziko langsung menyebutkan menu yang mereka pesan. Begitu pelayan itu pergi dan meminta keduanya untuk menunggu Ziko menatap Devina yang masih sibuk dengan ponselnya.


Melirik sebentar Ziko dapat melihat Devina yang masih melihat-lihat gaun pernikahan, dia antusias sekali.


"Vina udh nanti lagi lihatnya." Kata Ziko


"Vina suka bajunya bagus-bagus." Kata Devina


Ya ampun menggemaskan sekali kekasihnya.


"Iya nanti bisa lihat lagi, tapi sekarang udahan dulu sini lihat aku aja." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya


"Em Ziko gak marah meskipun Vina suka paksa Ziko untuk nurutin maunya Vina?" Tanya Devina


"Enggak"


"Vina gak mau ngalah ya?" Kata Devina


"Udah ah jangan dibahas." Kata Ziko sambil mengusap kepala Devina dengan sayang


"Vina mau minta sesuatu boleh?" Tanya Devina


"Boleh"


"Vina mau jujur kalau emm Vinaa gak mau punya anak dulu, jadi Ziko jangan..."


"Iya aku ngerti Devina kita juga masih akan kuliah dulu." Kata Ziko sambil tertawa kecil


"Hehe Vina kan cuman mau bilang aja." Kata Devina


"Iya sayang"


"Vina masih takut kalau habis menikah nanti...."


"Vin udah ah jangan dipikirin nanti aja dijalanin." Kata Ziko membuat Devina memgerucutkan bibirnya sebal


"Ih Zikoo"


"Lagian kamu sih, gak sabar ya? Kamu mau ngerasaiin?" Tanya Ziko sambil tertawa


"Ish nyebelin!" Kata Devina dengan tangan yang memukul lengan Ziko kuat


"Iya maaf"


Baru ingin bicara lagi pesana keduanya sudah datang dan membuat Devina mengurungkan niatnya, tapi dia tetap menatap kekasihnya itu dengan kesal.


Ziko tertawa kecil melihatnya.


¤¤¤


Devano sedang pergi ke pantai bersama dengan kekasihnya saat ini keduanya tengah duduk di pasir pantai sambil menatap lurus ke depan. Kepala Adara bersandar di bahu sang kekasih dia menggenggam sayang tangan Devano juga.


Ada banyak sekali hal yang tadi Devano ceritakan dan Adara mendengarkan tanpa banyak protes. Salah satu hal yang Devano bahas masalah pernikahan kembarannya dan yang lainnya masalah Devano yang menanyakan kesiapannya untuk menikah.


"Ra"


"Em"


"Aku sayang banget sama kamu, apa kamu gak percaya?" Tanya Devano sambil menjauhkan tubuhnya dan menatap Adara


"Aku percaya"


"Lalu apa yang menahan kamu? Aku gak akan maksa kamu untuk menikah sekarang, tapi aku mau kita bertunangan, kenapa kamu gak mau?" Tanya Devano


"Kamu yakin sama aku?" Tanya Adara membuat Devano menghepa nafasnya pelan dam menatap dengan kecewa


"Jadi, maksud kamu aku gak yakin atau kamu pikir aku hanya main-main? Aku serius Adara." Kata Devano


"Aku bukan wanita yang..."


"Bisa kamu berhenti bicara masalah kekurangan kamu Adara? Aku sama sekali gak mempermasalahkan hal itu dan orang tuaku juga." Kata Devano


"Van..."


"Aku mencintai kamu, apa itu tidak cukup?" Tanya Devano


"Maaf"


"Sekarang katakan apa yang begitu menahan kamu?" Tanya Devano


"Aku takut Vano kamu tau sendiri aku ini beda sama kamu kita gak setara." Kata Adara


"Hanya itu masalahnya?" Tanya Devano


"Orang-orang akan berpikir bahwa aku hanya mengincar harta kamu saja." Kata Adara


"Apa kamu hanya akan berpikir tentang perkataan orang? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa kamu akan mengabaikannya?" Tanya Devano


"Vano aku minta maaf." Kata Adara


"Dengar, jangan pernah pikirkan apa kata orang just look at me jangan pikirkan hal yang lain dan lihat aku saja." Kata Devano


Adara menatap kekasihnya dalam diam membuat Devano menghela nafasnya pelan lalu mengusap sayang kedua pipinya.


"Trust me"


Tersenyum manis Adara mengangguk singkat lalu memeluk Devano dengan sayang.


"Kalau kamu masih berpikiran untuk menolak aku akan menculik kamu"


Tawa kecil Adara terdengar ketika dia mendengar perkataan yang kekasihnya ucapkan.


"Culik aku Vanoo"


Melepaskan pelukannya Devano mencubit pipi Adara cukup kuat.


"Aku culik beneran nanti"


¤¤¤


Yuhu updatee kali ini kita langsung bertemu dengan si kembar dan pasangan merekaa😚