My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (26)



"Devina ada niat untuk nikah muda?"


Pertanyaan yang diajukan Daddy nya bukan hanya membuat Devina terkejut, tapi Devano serta Fahisa juga yang langsung menatap proa paruh baya itu dengan bingung. Mereka sedang makan malam sekarang hingga akhirnya Daffa menanyakan sesuatu yang membuat semua orang terkejut bukan main.


Sebenarnya ada alasan Daffa bertanya hal begitu karena tadi Ziko memang sempat menemuinya sekitar pukul lima sore di sebuah cafe untuk mengatakan sesuatu. Selain itu orang tuanya Ziko juga menghubungi Daffa, makanya dia bertanya.


"Dad apaan sih nanya gitu? Vina harus kuliah dulu sampai lulus." Kata Devano dengan raut wajah tidak suka


"Devano bukan kamu yang Daddy tanya, tapi Devina." Kata Daffa


"Mas kamu kenapa nanya gitu? Kamu gak ada niatan buat jodohin Devina kan?" Tanya Fahisa


Daffa tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah ada niat untuk menjodohkan anaknya.


"Tidak Fahisa aku hanya bertanya karena kekasih Devina mengatakan sesuatu tadi sore." Kata Daffa


"Apa? Ziko ngomong apa Daddy?" Tanya Devano


Daffa tertawa kecil ketika mendengar perkataan anaknya yang terlihat tidak suka dengan topik pembicaraannya.


"Ziko ngomong apa Daddy?" Tanya Devina penasaran


"Dia bilang mau ajak kamu menikah atau bertunangan kalau Daddy izinkan dan orang tuanya juga telpon Daddy." Kata Daffa


Devina tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya, dia tidak menyangka kalau Ziko benar-benar serius dengan ucapannya.


"Enggak! Devina gak boleh!" Kata Devano


"Vano"


"Enggak pokoknya gak boleh! Vina kan masih kuliah." Kata Devano


Devina menatap kembarannya yang terlihat tidak bersemangat lalu pergi begitu saja dari ruang makan tanpa menghabiskan makan malamnya yang baru setengah. Kedua orang tuanya menggelengkan kepala pelan melihat Devano yang merajuk.


Sebenarnya Daffa juga tidak mau anaknya nikah muda bukan tidak setuju, tapi lebih ke belum siap kalau Devina harus pergi dari rumahnya. Apalagi Devina yang selalu meramaikan suasana rumah setiap harinya, tidak terbayang gimana sepinya nanti.


"Daddy tau Ziko pasti sudah bicara dengan kamu kan?" Kata Daffa


"Emm udah cuman Vina kira dia gak serius." Kata Devina dengan senyumannya


"Menurut kamu gimana Devina?" Tanya Daffa


"Emm Vina gak tau Daddy cuman Vina kan masih kuliah." Kata Devina


"Yaudah gak usah difikirin, tapi kalau tunangan kamu mau?" Tanya Daffa


Devina tersenyum lalu mengangguk dengan semangat, tentu saja dia ingin apalagi bersama dengan kekasihnya.


"Yaudah lanjutin dulu makannya." Kata Daffa


"Tapi, Vano..."


"Kamu makan duku baru nanti temuin Vano." Kata Fahisa


Devina mengangguk patuh lalu melanjutkan makan malamnya dengan semangat. Sungguh Devina tidak menyangka kalau Ziko serius dengan ucapannya.


Jujur kalau untuk bertunangan Devina sangat ingin, tapi kalau menikah sepertinya dia belum siap. Kalian tau Devina masih sangat manja dan lagi mereka berdua masih sama-sama kuliah.


Emm mungkin kalau ajakan bertunangan Devina akan langsung setuju.


Nanti akan ada cincin di jari manis mereka berdua.


Selesai menghabiskan makan malamnya Devina pamit untuk pergi ke kamar dan sebelum itu dia memeluk serta mencium pipi kedua orang tuanta bergantian. Melangkahkan kakinya ke atas Devina lebih dulu pergi ke kamar kembarannya dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Di dalam dia melihat Devano yang memandang keluar jendela membuat Devina tersenyum dan berjalan mendekat.


"Vanooo"


Devano menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depan membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal. Begitu sampai disamping Devano ditariknya sebuah kursi untuk dia duduk.


"Vano kenapa pergi? Enggak habisin makan malamnya juga." Kata Devina


"Gak papa"


Devano menjawabnya dengan ketus membuat Devina memasang wajah cemberutnya lalu menarik tangan Devano dan membuat pria itu menunduk untuk menatapnya.


"Vano kenapa sih?" Tanya Devina


Devano diam untuk waktu yang cukup lama dan hanya menatap kembarannya sampai akhirnya dia mengusap pipi Devina dengan sayang.


"Vin"


"Hmm"


"Kamu mau nikah?" Tanya Devano


"Ya mau lahh apalagi sama Ziko." Kata Devina senang


"Jangan Vin"


"Kok jangann?" Tanya Devina tidak suka


"Jangan menikah dalam waktu dekat ini." Kata Devano


Devina mengerutkan dahinya dan menatap kembarannya dengan bingung, memang siapa yang mau menikah dalam waktu dekat?


"Aku juga gak mau." Kata Devina


"Tadi katanya mau." Kata Devano


"Iya mau, tapi nanti kalau udah lulus kuliah." Kata Devina


"Terus tadi kata Daddy?" Tanya Devano


"Ehm jadi Ziko itu memang pernah ajak aku nikah, tapi aku belum mau karena kan masih kuliah terus dia ajakin tunangan aja dulu." Kata Devina


Devano terdiam dan mengangguk faham lalu dia menyeret kursi ke dekatnya agar bisa duduk dihadapan kembarannya.


"Memang Vano gak mau kalau aku nikah muda?" Tanya Devina


"Kenapa?" Tanya Devina


"Aku bingung jelasinnya." Kata Devano


"Ihh kenapa bingung?" Tanya Devina


Menghela nafasnya pelan Devano meletakkan kedua tangannya di bahu Devina membuat kembarannya itu menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Aku belum mau kehilangan kamu." Kata Devano


"Kehilangan aku? Kok kehilangan aku?" Tanya Devina tidak mengerti


"Kalau kamu menikah itu artinya kamu bakal pergi dari rumah ini dan ikut sama Ziko dan aku belum mau Devina nanti aku kesepian." Kata Devano


Devina terdiam sebentar lalu dia tertawa kecil ketika sadar apa maksud dari perkataan kembarannya.


"Vano gak mau jauh dari aku?" Tanya Devina


"Iya"


"Kenapa nanti kalau kita menikah juga jauhan?" Tanya Devina


"Aku tau, tapi jangan dalam waktu dekat ini aku gak mau jauh dari kamu nanti gak ada yang gangguin aku lagi." Kata Devano


"Biasanya Vano kesel kalau aku gangguin." Kata Devina


"Iya memang, tapi kalau kamu gak gangguin aku dan gak dateng ke kamar aku sehari aja pasti aku kangen soalnya kan kamu selalu nyamperin aku Devina." Kata Devano


Devina tersenyum senang ketika mendengarnya.


"Vano belum mau kalau aku jauh dari Vano ya?" Kata Devina


"Iya aku gak mau"


Mengangguk faham Devina mendekat lalu memeluk kembarannya dengan sayang membuat Devano tersenyum dan membalas pelukannya.


"Lagian Ziko gak sabaran banget." Kata Devano


Devina tertawa kecil ketika mendengarnya.


"Aku gak tau kalau dia bakal bilang sama Daddy tadinya aku fikir dia cuman sekedar bilang aja." Kata Devina


"Tapi, aku senang Devina karena itu artinya Ziko serius sama kamu dan gak mau kehilangan kamu makanya dia mau mengikat kamu dengan hubungan yang lebih serius." Kata Devano


"Mm Vano gak mau gitu juga sama Adara?" Tanya Devina


"Mau, tapi Adara masih belum kasih jawaban apa-apa." Kata Devano


Devina mengangguk faham dan masih memeluk kembarannya itu dengan cukup erat. Tangan Devano kini terulur untuk mengusap rambut hitamnya membuat Devina tidak bisa menahan senyumannya.


"Vano"


"Hmm"


"Kalau misal aku mau gimana?" Tanya Devina


"Mau apa?" Tanya Devano


"Mau nikah sama Ziko dalam waktu dekat." Kata Devina


Devano melepaskan pelukannya dan menatap Devina dengan murung lalu mencubit kedua pipinya dengan gemas.


"Jangan"


"Kalau aku maksa?" Tanya Devina lagi


"Aku gak bisa maksa kamu sebenarnya Devina karena ini hidup kamu dan kamu yang berhak menentukan semuanya, tapi tetap aja kalau kamu tanya pendapat aku maka aku akan bilang enggak," Kata Devano.


Devina menatap kembarannya yang kini mengusap pipinya dengan lembut.


"Enggak kalau dalam waktu dekat, tapi ketika udah lulus kuliah nanti aku gak bakal larang karena Devina aku masih mau habisin waktu sama kamu dan aku masih mau kalau kamu manja sama aku." Kata Devano


"Vano sayang sama aku?" Tanya Devina


"Sayang banget"


"Emm Vano jangan khawatir Vina sama Ziko bakal tunangan dulu aja, gak papa kan?" Kata Devina


Devano menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk kembarannya.


"Vano kenapa kita gak tunangan bareng-bareng aja?"


Pertanyaan itu membuat Devano diam, dia juga mau, tapi Adara masih belum memberikan jawaban apapun.


"Vin"


"Hmm"


"Aku gak bisa bayangin kalau nanti kita udah sama-sama menikah terus gak tinggal satu rumah lagi, gimana ya?" Tanya Devano


"Emm gak tau, tapi Vina gak mau bayangin." Kata Devina


Devano tertawa kecil lalu mencium puncak kepala Devina dengan lembut.


"Jangan berubah ya Vin." Kata Devano


"Berubah gimana?" Tanya Devina


Devano tersenyum sambil mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di kepala Devina lalu mengatakan sesuatu.


"Tetep jadi Devina yang manja sama Devano"


¤¤¤


Aduhh Vano nyaa gak mau ditinggalin Devinaaa😂