My Possessive Twins

My Possessive Twins
39 : Aku Cemburu!



Satu minggu telah berlalu sejak kematian Ella dan sekarang Adara sudah mulai bisa menerima meskipun setiap malam dia masih sering menangis sambil memeluk foto Ella, tapi seiring berjalannya waktu dia mulai terbiasa apalagi ada Devano bersamanya. Sampai sekarang Juan dan keluarganya belum mengunjungi Adara meskipun untuk sekedar berbela sungkawa, tidak masalah lagipula Adara tidak pernah mengharapkan kehadirannya.


Bagi Adara Ayahnya telah tiada.


Sejak hari itu Devano menjadi sangat perhatian pada Adara bahkan dia mulai membawa mobil ke sekolah agar bisa mengantar dan menjemput Adara tanpa melupakan kembarannya. Selain itu Adara dan Devina juga semakin dekat mereka terlihat seperti sahabat baik sekarang apalagi Adara beberapa kali menginap dan keduanya menghabiskan waktu bersama.


Setidaknya Adara bersyukur masih memiliki Devano yang membuatnya kembali menemukan alasan untuk tetap bertahan.


"Kalau gue bisa masukin lo mau kasih gue apa?"


Mendengar suara Adara yang cukup keras Devano mendongak dan tersenyum melihat gadisnya yang semakin hari menjadi lebih baik.


Sekarang mereka berada di lapangan karena jam kosong sedang berlangsung dan Alex langsung mengajak yang lainnya untuk bermain basket. Saat Adara memegang bola yang lain meremehkan gadis itu dan mengatakan bahwa dia tidak akan bisa memasukkan bola ke dalam ring.


"Lo mau apa emang?" Tanya Alex dengan alis bertaut


"Jalan jongkok ke kantin ya?" Kata Adara sambil tersenyum miring


"Setuju!"


Bukan Alex, tapi yang lainnya yang menjawab membuat Alex melotot ke arah mereka.


"Takut lo ya?" Tuding Adara ketika melihat Alex tak mau menjawab


"Sembarangan lo Dardara! Oke, jalan jongkok gue sampe kantin, tapi dua kali masukin gimana?" Kata Alex sambil menaik turunkan alisnya


"OKE!"


Adara terlihat bersemangat membuat Alex cukup ngeri juga, tapi tidak masalah untuk menghibur gadis itu juga bagaimanapun dia sudah menganggap Adara seperti sahabtnya sendiri.


"Nyari mati lo Lex." Kata Devano sambil menggelengkan kepalanya pelan


Di tempatnya Adara memantulkan bola basketnya beberapa kali sebelum melompat dan melemparnya ke adah ring.


Gotcha!


Berhasil! Senyum manisnya mengembang lebar dia berlari kecil mengambil bola dan menatap Alex dengan menyebalkan.


"Siap-siap Alexander untuk jalan jongkok ke kantin." Kata Adara


Menarik nafasnya panjang Adara memperhatikan ring yang cukup tinggi itu lalu kembali melemparkan bolanya ke sana dan berhasil lagi.


Merasa senang Adara sampai melompat lalu menjulurkan lidahnya ke arah Alex dan membuat pria itu memasang wajah masamnya. Bukan hanya Adara, tapi yang lainnya juga tertawa senang karena berhasil membuat pria itu kalah dan melakukan hal memalukan.


Memalukan untuk Alex yang selalu tebar pesona.


"Ayoo jalan Lex." Kata Adara dengan semangat


Dia memukul-mukul pelan pundak Alex dan memintanya untuk berjongkok membuat pria itu mengumpat, tapi tetap melakukannya.


Adara tertawa senang begitu juga dengan yang lainnya.


"Kapan lagi bisa ngerjaiin Alex?" Kata Yuda sambil tertawa


"Brengsek lo Yud." Kata Alex membuat pria itu semakin tertawa


"Ayo ke kantin Alex jalan di depan." Kata Adara membuat pria itu melotot


"Wah gila lo Dar! Malu-maluiin gue." Kata Alex


Adara mengangkat bahunya acuh membuat Alex berdecak kesal dan melakukan hal yang gadis itu minta.


Sial, dia tidak akan mau lagi menantang Adara.


Sepanjang perjalanan menuju kantin orang-orang memperhatikan mereka, Alex khususnya lalu menahan tawa terutama para siswi yang malah merasa gemas melihatnya. Memang dasar Alex yang tidak tau malu dia tetap tebar pesona dan tersenyum kala banyak siswi menatapnya sambil tersenyum geli.


"Awas lo diintip Alex." Celetuk Erick ke salah satu siswi yang langsung salah tingkah dan memundurkan tubuhnya


"Sialin lo Rick gue bukan pedofil." Kata Alex masam


Mereka tertawa senang karena bisa mengerjai Alex, tapi pria itu langsung membulatkan matanya ketika melihat Devina bersama yang lainnya berjalan dari arah berlawanan.


Sial!


Semakin dekat Alex dapat melihat mata gadis itu menyipit lalu tersenyum geli ketika sudah bisa melihatnya dengan jelas.


"Ehh kamu ngapain Lex?" Tanya Devina sambil tertawa kecil


Bukan hanya Devina, tapi yang lainnya juga ikut menahan tawa kecuali Ziko yang malah memasang wajah kesalnya.


Ingat ya dia tetap cemburu pada Alex.


"Kerjaannya Dardara." Kata Alex


"Dih apaan lu sendiri yang bilang kalau gue berhasil masukin bola ke ring lo bakal nurutin kemauan gue." Kata Adara sengit


"Mana gue tau kalau lo bakal minta kayak gini." Kata Alex kesal


Devina tertawa melihatnya lalu bersama yang lainnya dia berjalan lebih dulu ke kantin meninggalkan Alex yang menatapnya.


Entah kenapa pria itu merasa kesal melihat tangan Ziko yang bertengger manis di bahu Devina.


Sial


Sial


Sial


Dia masih belum terima!


"Udah deh Lex udah sampe kantin juga." Kata Adara


Menghela nafasnya lega Alex langsung berdiri dan menoyor kepala gadis itu pelan hal yang membuat Devano melotot lalu menegurnya.


"Iya maaf dah Van pelan lagian." Kata Alex sambil terkekeh


Bersama-sama mereka memasuki area kantin dan mencari tempat yang kosong untuk duduk. Belum menemukan tempat akhirnya Devano memutuskan untuk mengajak yang lainnya agar bergabung bersama kembarannya karena masih ada cukup tempat untuk mereka.


Saat melihat kembarannya Devina tersenyum begitu juga dengan yang lainnya, hanya Ziko yang terlihat tidak suka karena ada Alex disana bahkan dia langsung mendekat ke arah Devina membuat kekasihnya itu menoleh dan menatapnya dengan bingung. Namun, tingkah posesif Ziko itu justru membuat Alex menyeringai melihatnya, takut sekali rupanya dan Alex langsung mengambil tempat duduk tepat dihadapan Devina.


"Vin udah lama lo gak ikut Vano latihan." Kata Yuda membuat Devina mendongan dan menunjukkan cengirannya


"Perasaan baru dua kali." Kata Devina


"Masa? Kayaknya lama banget biasa ada lo sih Vin." Kata Yuda sambil tertawa


"Iya geh baru dua kali waktu itu karena aku sakit terus karena aku pergi sama Ziko juga." Kata Devina


Mereka mengangguk faham, benar juga Devina sudah punya pacar dan mana mungkin pacarnya akan membiarkan Devina datang ke lapangan yang mana rata-rata laki-laki semua yang ada disana.


Sebenarnya Ziko bukan satu-satunya alasan, tapi memang benar kalau pria itu melarangnya bukan melarang sih hanya menyarankan supaya dia tidak ke lapangan karena Ziko mengatakan kalau dia cemburu.


"Eh pensi sabtu ini kan ya?" Kata Erick


"Iya sabtu ini gak sabar deh denger-denger banyak banget penampilan keren dari anak tari." Celetuk Mona


"Vano juga bakal nyanyi, ya kan Van?" Kata Devina sambil menatap kembarannya dengan penuh semangat


"Hati-hati Dar biasanya abis Vano tampil bakal ada bunga sama coklat yang berdatangan plus surat cinta." Kata Alex membuat Devano menatapnya dengan tajam


"Biarin aja nanti kalau ada yang kasih coklatnya buat gue ya Van?" Kata Adara santai


Devina tertawa melihatnya membuat beberapa teman Devano menatapnya kagum dan hal itu semakin membuat Ziko merasa kesal, dia tidak suka gadisnya diperhatikan seperti itu.


Selama menghabiskan makanan di kantin Ziko benar-benar tidak mood bahkan dia hanya memakan setengah saja lalu menyibukkan diri dengan ponselnya. Sedangkan yang lainnya sibuk mengobrol satu sama lain, tapi Ziko benar-benar tidak berniat untuk bergabung di pembicaraan mereka.


"Kamu udah makannya?" Tanya Devina membuat Ziko menatapnya lalu mengangguk singkat


"Baru sedikit tau makannya." Kata Devina dengan mata memicing


"Kenyang Vin." Kata Ziko sambil tersenyum


Devina mengangguk faham lalu menatap yang lainnya yang sedang mengobrol.


"Dih apaan?! Mana ada gue suka sama cewek galak kayak gitu." Kata Erick ketika yang lain meledeknya dan mengatakan kalau dia menyukai Mona


Sedangkan Mona sendiri yang mendengar perkataan itu hanya bisa mendengus kesal, dia juga tidak suka dengan Erick yang banyak gaya.


"Siapa juga yang suka sama cowok tukang tebar pesona kayak lo." Kata Mona


"Awas loh nanti kalian malah saling suka." Kata Devina sambil tersenyum manis


"Amit-amit"


Mereka mengatakannya secara bersamaan membuat yang lainnya tertawa.


Sebenarnya Erick dan Mona dulu pernah dekat bahkan sempat pacaran, tapi putus karena Erick yang menjalin kasih dengan wanita lain.


Dan sekarang keduanya belum pacaran dengan orang lain lagi.


"Vin"


Suara Alex yang memanggil Devina membuat keadaan seketika hening dan langsung menatap Alex membuat pria itu tertawa karena mendapat respon seperti itu dari teman-temannya.


"Ngapa sih gue kan cuman manggil Devina doang." Kekeh Alex


Mereka semua diam apalagi Ziko yang mengepalkan tangannya dengan kuat, tapi Devina yang memang tidak terlalu peduli hanya tersenyum.


"Gak jelas Alex." Katanya sambil tertawa


"Emang gak jelas dia Vin." Kata Yuda


"Ngomong-ngomong semenjak pacaran Vina jadi lebih cantik ya?" Kata Erick membuat Ziko menatapnya dengan tajam


Tidak suka dengan pujian yang diberikan pria itu untuk kekasihnya


Entah kenapa Ziko masih sangat sensitif kalau ada orang orang yang menggoda kekasihnya, dia tidak suka.


"Sama aja tau." Kata Devina


"Lebih cantik karena dia bahagia, makanya punya pacar lo pada biar tau." Kata Adara


"Kamu bahagia Vin?" Tanya Alex membuat orang-orang kembali menatapnya


Devina tersenyum manis, dia lebih dari bahagia bahkan kata bahagia tidak cukup untuk mengekspresikan perasaannya.


"Bangett"


Mendengar hal itu Ziko menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lalu menatap sang kekasih yang tersenyum manis.


Rasanya Ziko ingin membawa Devina pergi ke tempat dimana hanya ada mereka berdua.


Dia ingin serakah dan mau kalau Devina hanya untuknya saja.


Hanya dia tidak boleh ada orang lain yang merebutnya.


Tidak akan pernah dia biarkan.


¤¤¤


Bukannya Devina tidak tau arti dari sikap Ziko selama di kantin tadi bahkan sampai sepulang sekolah pria itu masih terlihat murung dan tidak bersemangat, tapi Devina senang melihatnya karena mengetahui kalau kekasihnya cemburu itu sangat menyenangkan. Kekasihnya yang biasa humoris kini terlihat sangat tidak bersemangat bahkan untuk bicara saja dia malas dan terkesan mengabaikan Devina yang berbicara.


"Zikooooo"


Saat pulang sekolah Devina menahan pria itu untuk pergi hingga kelas kosong dia langsung mendorong bahu kekasihnya agar duduk disampingnya dan menatap dengan wajah cemberut. Namun, Ziko masih terlihat sama dia sepertinya sangat kesal hingga betah mengabaikan Devina sampai pulang sekolah.


"Ihh kenapa? Kok dari tadi diem aja? Marah ya sama Vina?" Tanya Devina dengan wajah cemberut


Ziko menghela nafasnya pelan lalu menggelengkan kepalanya singkat, masih tidak mau bicara.


"Bohong! Marah kan? Kalau gak marah masa dari tadi diem aja terus gak mau senyum." Kata Devina lagi


Wajah Devina terlihat menggemaskan membuat Ziko mau tak mau menyunggingkan senyum manisnya.


"Gak marah Vinaa." Kata Ziko


Mendengar kekasihnya sudah mau bicara Devina tersenyum.


"Terus kenapa diem aja? Masa aku dicuekin." Keluh Devina


Menatap kekasihnya dengan penuh arti Ziko mengusap puncak kepalamya dengan lembut.


"Aku kesel"


"Kesel sama aku?"


"Bukan"


"Terus sama siapaaa?" Tanya Devina penasaran


"Sama Alex dan teman-temannya." Kata Ziko membuat Devina menatapnya dengan mata memicing


"Kenapa kok kesal sama mereka?" Tanya Devina pura-pura tidak tau


Padahal jelas dia sangat tau kalau kekasihnya itu cemburu.


Merasa kalau Devina benar-benar tidak tau Ziko mencubit pipinya dengan gemas.


"Aku cemburu Vin! Gak suka mereka godaiin kamu kayak gitu." Kata Ziko


"Tapi, aku kan biasa aja sama mereka." Kata Devina sambil tersenyum polos


"Tetap aja aku gak suka, cuman aku yang boleh mereka jangan." Kata Ziko posesif


Devina tertawa mendengarnya lalu mengacak rambut kekasihnya itu dengan gemas.


"Jangan cemburu Vina kan sukanya cuman sama Ziko"


Setelah mengatakan hal itu Devina bergegas pergi karena merasa malu, tapi dia tidak melihat kalau kekasihnya sekarang tersenyum lebar dan langsung berlari menghampirinya. Saat langkah kaki mereka sejajar Ziko langsung merangkul gadis itu dengan sayang membuat Devina tersentak karena perlakuan tiba-tibanya.


"Pulang sama aku aja ya Vin? Kita ke rumah"


Perkataan itu membuat Devina menoleh dan menatapnya dengan bingung.


"Rumah kamu?" Tanya Devina tidak yakin


Ziko mengangguk senang lalu mengatakan hal yang membuat gadisnya tersenyum malu.


"Iya mumpung ada Mama di rumah aku mau kenalin kamu ke Mama"


Astaga, Devina akan bertemu orang tua Ziko?


"Kamu kan pacar aku jadi harus kenal sama Mama aku"


Sial! Ziko benar-benar berhasil membuat wajahnya memanas.


Jadi, Devina boleh menganggap kalau Ziko benar-benar serius dengan perasaannya kan?


¤¤¤


Ajak aku juga dong Ziko kan aku yang jodohin😋