
"Vina jangan melamun"
Devina mendongak lalu menghela nafasnya pelan ketika Ziko menegurnya karena sejak tadi malah melamun dan tidak mengatakan apapun, dia masih tidak bersemangat karena terus kepikiran pada Devano yang belum membaik. Sekarang keduanya ada di kantin rumah sakit karena Ziko baru saja menjenguk Devano lalu keduanya pergi ke kantin rumah sakit ketika orang tua Devina datang dan meminta Ziko untuk menemani Devina makan.
Sayangnya bukan malah makan Devina justru menatap makanan dihadapannya tanpa minat lalu melamun dan enggan untuk bicara membuat Ziko juga ikut merasakan kesedihan yang gadis itu rasakan. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Devina dengan sayang hingga gadis itu mendongak dan menatapnya dengan sedih.
Sebelumnya baik Daffa atau Fahisa sudah mengatakan pada dia kalau Devina sudah seperti itu sejak kemarin ketika Devano masuk ke rumah sakit. Memang ketika Ziko lihat tadi Devano masih pucat dan tidak banyak bicara suaranya juga terdengar serak pantas saja Devina cemas sekali.
"Hey makan dulu hmm"
"Gak nafsu makan Ziko." Kata Devina pelan
Dia bahkan meletakkan lagi sendoknya ke atas piring tanpa mau menyentuh makanannya.
"Kamu harus makan Devina nanti sakit." Kata Ziko lagi
"Gak mau makan." Rengek Devina
Menghela nafasnya pelan Ziko mendekatkan kursinya lalu memeluk Devina dengan sayang.
"Aku tau kamu sedih karena Devano lagi sakit, tapi kamu harus makan." Kata Ziko
"Gak mauuu"
"Nanti kalau kamu sakit Devano bakal sedih dan merasa bersalah." Kata Ziko
"Gak mau makan." Kata Devina lagi
"Sedikit aja ya? Kamu harus makan Devina sayang." Kata Ziko dengan penuh kelembutan
Menghela nafasnya pelan Devina menjauhkan tubuhnya lalu menatap Ziko yang kini menatapnya dengan penuh harap.
"Mau ya?" Pinta Ziko lagi
"Sedikit aja." Kata Devina
"Iya sedikit aja aku gak akan maksa lagi setelah kamu makan dan mengisi perut kamu." Kata Ziko
Tersenyum tipis Devina memegang kembali sendok yang ada di atas meja lalu mulai menyuapi dirinya sendiri dan makan dengan perlahan. Melihat hal itu membuat Ziko merasa senang dan lega disaat yang bersamaan.
Kini Ziko semakin tau bahwa Devano benar-benar berharga untuk Devina hingga membuat gadis itu kehilangan semangatnya. Bisa dimengerti karena Devano kembaran Devina keduanya bersama-sama bahkan ketika di dalam kandungan tentu saja Devina bisa sesedih ini sekarang.
Menatap Devina yang sedang makan Ziko masih dengan senyumannya mengusap kepala gadis itu dengan sayang dan membuat Devina menatapnya.
"Devano bakal baik-baik aja, jadi kamu juga harus jaga kesehatan kamu." Kata Ziko
"Em makasih Ziko"
Ziko hanya tersenyum lalu menghela nafasnya pelan dan menyantap juga makanan miliknya. Keduanya tak banyak bicara dan Ziko juga tidak terlalu memaksa Devina untuk bicara.
Dia mengerti ketika seseorang yang kamu sayangi sakit pasti akan begitu, malas untuk bicara.
"Ziko"
"Hm"
"Vina mau ice cream." Kata Devina
"Ice cream? Boleh aku belikan, mau rasa coklat kan?" Tanya Ziko
Devina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Satu aja ya? Sama coklat." Kata Devina
"Okay tunggu ya?" Kata Ziko yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Devina
Melihat kekasihnya yang pergi untuk membeli ice cream dan coklat Devina tersenyum manis lalu meraih ponsel Ziko yang ada di meja karena baru saja bergetar. Ada telpon dari Nizam, jadi Devina memutuskan untuk mengangkatnya saja.
"Halo"
'Eh bukan Ziko ya?'
"Ini Devina, kenapa Nizam?" Tanya Devina
'Ziko ada Vin? Aduh gue mau nanya itu dia baik-baik aja kan?'
"Hm baik-baik aja kok memang kenapa?" Tanya Devina
'Tadi jatuh dari motor Vin tangannya luka kakinya juga'
Perkataan itu membuat Devina diam lalu menatap Ziko yang berada tak jauh dari tempatnya.
"Beneran? Tapi, dia keliatan baik-baik aja." Kata Devina
'Tadi jatuh karena jalan licin kan habis hujan dia juga bawa motornya cepet banget, makanya gue nanya tadi gak mau diobatin sih'
"Em yaudah nanti aku lihat." Kata Devina
'Iya Vin'
Mematikan panggilan telponnya Devina menaruh lagi ponsel milik Ziko lalu melihat pria itu berjalan dengan pelan ke tempatnya. Sejak tadi Devina sama sekali tidak memperhatikannya, jadi begitu Ziko kembali dan duduk di dekatnya Devina langsung meraih tangan Ziko.
Merasa bingung Ziko menatapnya dengan alis bertaut lalu bertanya kenapa, tapi Devina tidak memberikan jawaban apapun.
"Ada apa hmm?" Tanya Ziko
Tidak menjawab Devina membalik tangan Ziko dan melihat telapak tangannya yang terluka lalu dia mengangkat sedikit lengan kemeja Ziko hingga pria itu meringis pelan.
"Kenapa enggak bilang?" Tanya Devina pelan
"Hah? Udah gak papa kok Vin." Kata Ziko
"Ziko jatuh dari motor, mana lihat luka yang ada di kaki?" Kata Devina
"Kamu tau?" Tanya Ziko
Menghela nafasnya pelan Ziko menunjukkan kakinya yang terluka dan membuat Devina memasang wajah sedihnya
"Kenapa gak diobatin dulu?" Tanya Devina
"Gak papa Vin." Kata Ziko
"Itu luka Ziko berdarah." Kata Devina
"Tadi udah aku obatin sendiri di mobil." Kata Ziko sambil tersenyum
"Kenapa bisa jatuh?" Tanya Devina
"Jalannya licin karena habis hujan." Kata Ziko
"Makanya bawa motornya pelan-pelan, terus kesini sendirian?" Tanya Devina
"Hm sendirian bawa mobil." Kata Ziko
"Bahaya Ziko kamu lagi sakit." Kata Devina
"Gak papa Vin." Kata Ziko lagi
"Kita ke ugd aja minta diobatin." Kata Devina
"Devina enggak usah ya? Nanti habis ini aku janji bakal ke klinik." Kata Ziko
"Janji? Harus diobatin ya? Nanti infeksi gimana?" Kata Devina cemas
"Iya janji sini jari kelingkingnya." Kata Ziko
Mengulurkan tangannya Devina menautkan jari kelingkingnya disana lalu menatap Ziko dengan senyuman tipis.
"Aku bakal fotoiin nanti sebagai bukti kalau aku gak ingkar janji." Kata Ziko
"Yaudah kita balik lagi aja terus Ziko ke klinik, maaf tadi Vina gak perhatiin apa-apa." Kata Devina merasa bersalah
"Kenapa minta maaf? Gak papa yaudah ini makannya udah selesai?" Tanya Ziko
"Hm udah"
"Yaudah ayo"
Devina langsung merangkul pinggang Ziko dan meminta pria itu untuk pelan-pelan membuat Ziko tidak bisa menahan senyumnya. Sebenarnya lukanya memang masih sedikit perih, tapi tadi Ziko benar-benar cemas memikirkan Devina makanya dia langsung kesini dan hanya mengobati lukanya sendiri di mobil.
"Pelan-pelan Ziko jalannya nanti sakit luka kamu." Kata Devina
"Iya Vin"
"Vina minta maaf baru tau kalau Ziko habis jatuh." Kata Devina
"Gak masalah Vin jangan minta maaf." Kata Ziko
"Udah sampai sini aja Ziko langsung ke mobil aja." Kata Devina
"Aku harus masuk dan pamit sama orang tua kamu." Kata Ziko
Tidak bisa memberikan penolakan keduanya masuk lagi ke dalam ruang rawat Devano dan keduanya dapat melihat pria itu duduk sambil menerima suapan dari Fahisa.
"Eh udah balik lagi? Vina gimana mau makan?" Tanya Daffa
"Mau"
"Loh ini kamu kenapa tangan sama kakinya?" Tanya Daffa
"Tadi jatuh dari motor." Kata Ziko
"Belum diobatin?" Tanya Daffa
"Habis ini mau ke klinik." Kata Ziko
"Kenapa gak disini aja Ziko?" Tanya Fahisa
"Hm gak papa Tante nanti aja ke klinik dekat sini." Kata Ziko
"Yaudah kamu hati-hati ya? Apa perlu Om minta supir Om untuk antar kamu?" Tanya Daffa
"Enggak perlu Om aku bisa kok." Kata Ziko
"Yaudah hati-hati." Kata Daffa
Ziko mengangguk lalu mencium punggung tangan orang tua kekasihnya dan menepuk pelan pundak Devano membuat pria itu tersenyum tipis padanya.
"Cepet sembuh Van"
Setelah mengatakan hal itu Ziko keluar dan Devina mengantarnya hingga pria itu keluar dari pintu.
"Nanti langsung kasih tau." Kata Devina
"Iya Vina"
"Ziko hati-hati dijalan." Kata Devina
"Iya, kamu juga jangan lupa makan gak boleh gak makan." Kata Ziko
Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangan pada Ziko sambil menunggu hingga pria itu menghilang dari pandangannya.
Setiap Ziko sakit pasti dia tau dari orang lain pria itu tidak pernah mau bilang sendiri padanya.
'Ziko gak mau bikin kamu sedih dan khawatir'
¤¤¤
Aku update lagi hehe💞