
Devano tersenyum ketika mendengar cerita dari kembarannya yang mengatakan bahwa dia mengerjai Julian ketika bertemu di cafe dan bertemu lagi dengannya di kampus, dia dapat melihat raut wajah senang di sana. Sebenarnya Devano sedikit khawatir kalau Julian juga akan berbuat buruk pada Devina, tapi dia berusaha percaya bahwa Julian tidak akan berbuat buruk.
Selain itu Devina ada Ziko yang selalu menjaganya dan dia juga tidak akan tinggal diam kalau Devina sampai terluka. Sekarang Devano berusaha mengerti bahwa apa yang Devina lakukan karena dirinya, mereka kembar dan Devina selalu bisa merasakan apa yang dia rasakan.
Kalian ingat ketika Devina tiba-tiba datang ke rumah hanya karena memikirkan Devano kan?
Kenyataannya Devano memang terluka karena habis berkelahi dengan Julian, jadi Devano juga tidak bisa menyalahkan Devina karena pria itu berbuat sesuatu untuk dirinya.
'Habisnya Vina kesal dia udah buat Vano luka'
Sekali lagi Devano tersenyum sambil menatap wajah Devina yang ada di layar ponselnya, dia sangat ingin memeluknya.
"Makasih Vin, tapi lain kali jangan kayak gitu lagi." Kata Devano
'Em kayak gitu lagi'
"Ngeyel banget." Kata Devano membuat Devina tersenyum lebar di sana
'Vina enggak mauu diem aja kalau ada yang sakitin Vano'
"Makasih Vin." Kata Devano lagi
'Ish makasih terus dari tadi'
"Aku mau peluk kamu." Kata Devano
'Vina jugaaa'
"Julian enggak apa-apain kamu kan?" Kata Devano
'Enggak dia pergi gitu aja terus Vina bilang kalau nanti Vina bilang sama Daddy, jadi waktu Vina pergi dia diam aja'
Sekali lagi Devano tersenyum, dia rindu sekali dengan Devina yang masuk ke dalam kamar lalu bercerita tentang banyak hal dengan wajah antusias.
'Vano kok sedih?'
"Iya kangen kamu." Kata Devano
'Em jangan sedih nanti Vina ke sana sama Ziko ya?'
"Iya Vin"
'Senyumnya manaa? Cepetan senyum nanti Vina ngambek'
Tertawa kecil Devano menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman membuat Devina ikut tersenyum.
'Vano udah ya? Vina mau lihat Mama ke dapur Vano jangan sedih nanti Vina main ke sana'
Devano mengangguk singkat lalu melambaikan tangannya pada Devina dan ketika kembarannya itu mematikan sambungan telpon Devano menghela nafasnya pelan. Setelahnya dia melihat Devina yang mengirimkan foto untuknya dan sebuah pesan yang membuat Devano tersenyum sambil mengusap pelan layar ponselnya.
Biar Vano enggak sedih lagi
Vina sayang sama Vano❤
Devano menghela nafasnya pelan tak lama setelahnya pintu kamar terbuka dan ternyata ada Fahisa yang masuk ke dalam kamar. Tersenyum tipis Devano menatap Fahisa yang kini duduk tepat di sampingnya.
Matanya terpejam ketika Mommy nya itu memberikan usapan penuh kasih sayang di kepalanya.
"Udah waktu makan siang Vano, kenapa belum turun?" Tanya Fahisa
"Hm habis telpon sama Vina." Kata Devano sambil membuka matanya
Perkataan itu membuat Fahisa tersenyum senang.
"Sama Vina? Vina baik-baik aja kan sayang?" Kata Fahisa
"Baik banget Mom tadi dia cerita kalau kemarin dia ketemu Julian di kampus." Kata Devano
"Benarkah? Julian tidak melakukan apapun kan?" Kata Fahisa
Devano tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Justru Vina yang melakukan sesuatu pada Julian karena di hari sebelumnya dia ketemu Julian di cafe dan Devina membuat ban motor pria itu kempes katanya karena kesal Julian udah buat aku luka." Kata Devano
Devano tertawa kecil lalu mendekat dan memberikan pelukan kepada Fahisa sambil mengatakan sesuatu yang membuat Fahisa tersenyum.
"Biasanya aku peluk Vina, tapi sekarang Vina enggak ada jadi peluk Mommy." Kata Devano
"Udah ketularan manjanya Vina ya?" Kata Fahisa sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang
"Mommy kangen enggak sama Vina?" Tanya Devano
"Kangen dong biasanya dia yang suka gangguin Mommy." Kata Fahisa
"Biasanya juga dia yang gangguin Vano apalagi hampir tiap hari ajakin Vano ke super market untuk minta beli jajan." Kata Devano
Fahisa tertawa kecil lalu ketika Devano melepaskan pelukannya dia menangkup wajah anaknya dan memberikan ciuman sayang di keningnya.
"Udah ah jangan sedih nanti Vano gak bakal kesepian kalau sudah menikah dengan Adara." Kata Fahisa
Devano tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia tidak akan sedih jika sudah bersama Adara karena Devano tidak akan terlalu merasa kesepian.
Tapi, sungguh dia sangat merindukan si manja Devina yang selalu mengganggunya.
°°°°
"Mommy Mommyyyy"
Devina berlari menghampiri Fahisa dengan raut wajah seperti ingin menangis membuat Mommy nya itu langsung menunduk dan menanyakan alasanya menangis. Bukan jawaban Devina justru memeluk Fahisa dengan erat dan terisak pelan membuat Fahisa bingung juga cemas.
Cukup lama memeluknya Devina melepaskan pelukannya dan menatap Fahisa dengan air mata yang berlinang membuat Mommy nya itu menghapus air matanya dengan sayang.
"Mommy"
"Ada apa cantik?" Tanya Fahisa pada anaknya yang sangat menggemaskan
"Mommy Vano jatuh dali sepeda telus kakinya beldalah." Kata Devina sambil menunjuk ke belakang
Fahisa mengikuti arah pandang Devina dan benar saja dia melihat Devano yang berjalan tertatih dia juga dapat melihat lutut anaknya yang terluka, tapi Devano tidak menangis dia malah tersenyum.
"Vano kenapa bisa jatuh? Sini Mommy obati." Kata Fahisa
"Tadi ada batu." Kata Devano
"Sakit enggak sayang?" Tanya Fahisa
Devano menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sedikit aja sakitnya." Kata Devano
Devina berlari mendekat lalu berdiri di samping kembarannya dan melihat luka yang ada di lutut Devano.
"Mommy obati nanti Vano sakitt lukanya beldalah." Kata Devina
Fahisa tersenyum lalu dia menggendong tubuh Devano dan membawanya ke sofa.
"Vina sama Vano tunggu ya? Mommy mau ambil kotak obat dulu." Kata Fahisa
Begitu Fahisa pergi Devina kembali menatap lutut kembarannya yang berdarah karena jatuh dari sepeda.
"Sakit ya Vano?" Kata Devina
Devano menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi, kakinya beldalah masa enggak sakit." Kata Devina
"Memang enggak sakitnya sedikit aja." Kata Devano
Devina mengerucutkan bibirnya sebal membuat Devano tersenyum lalu mencubit gemas pipinya.
Aneh memang sejak dulu kalau Devano yang jatuh dan terluka Devina yang akan menangis.
°°°°
Lagi kangen si kembar hehe🥰