
"Ihh Vano mau kemana?!"
Devina berseru kesal ketika dia baru saja mandi dan kembali ke kamar Devano lalu melihat kembarannya itu sudah rapih dengan memakai kemeja serta memasukkan buku ke dalam tas. Melihat kedatangan kembarannya Devano menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri Devina dan mengatakan bahwa dia ingin ke kampus.
Sontak aja perkataan itu membuat Devina kesal hingga refleks memukul lengan Devano. Padahal wajahnya masih pucat bahkan tadi sehabis sarapan Devano mengatakan kalau kepalanya pusing, tapi sekarang malah mau ke kampus.
Dengan kesal Devina merebut tas milik kembarannya dan menatap Devano dengan galak, tidak akan Devina biarkan kembarannya itu ke kampus.
"Masih sakit! Di rumah aja." Kata Devina galak
"Aku udah gak papa Vin." Kata Devano sambil berusaha untuk tersenyum
Berdecak kesal Devina berjalan mendekat lalu menyentuh dahi Devano yang sama hangatnya seperti tadi malam.
"Masih panas tuh lihat Vano juga masih pucat." Kata Devina
"Vin aku gak papa kok." Kata Devano lagi
"Enggak! Vano di rumah aja kuliahnya libur dulu! Sini hp Vano biar aku telpon temen kamu." Kata Devina sambil berusaha mengambil ponsel Devano
Tapi, kembarannya itu menghalangi Devina.
"Aku udah gak papa Vin." Kata Devano lagi
"Ihh denger gak sih Vano?! Aku bilang gak usah ke kampus kamu di rumah aja istirahat!" Kata Devina kesal
"Vin aku harus ke kampus." Kata Devano
"Enggak!"
"Sini Vin tas aku." Kata Devano
"Ihh enggak boleh!" Kata Devina sambil menepis tangan Devano yang berusaha mengambil tasnya
Devano menghela nafasnya pelan, dia bosan di rumah dan lagi dia sudah merasa lebih baik meskipun masih sedikit pusing.
"Vina aku mau ke kampus nanti telat." Kata Devano
"Ya Vano gak usah kesana!" Kata Devina galak bahkan matanya melotot karena kesal
"Aku udah gak papa Devina." Kata Devano entah untuk yang keberapa kalinya
Devina tetap pada pendiriannya dia tidak akan mengizinkan Devano pergi ke kampus ketika pria itu sedang sakit. Biarkan saja dia kan keras kepala, jadi Devina akan menunjukkan seberapa keras kepalanya dia.
"Vina"
"Sana tiduran lagi." Kata Devina
"Vin aku beneran harus ke kampus nanti telat." Kata Devano
"Enggak boleh." Kata Devina lagi
"Kamu kenapa sih Vin? Aku mau ke kampus." Kata Devano
Mendengar nada kekesalan kembarannya membuat Devina diam dengan tangan terkepal kuat lalu dia melempar tas Devano.
"Yaudah sana! Aku kalau sakit nurut sama Vano, tapi Vano enggak padahal aku gak mau Vano sakit!" Kata Devina
"Vin"
"Yaudah terserah Vano ke kampus aja sana! Biarin sakit lagi Vina gak peduli." Kata Devina
Dengan penuh kekesalan Devina keluar dari kamar lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu dari dalam. Biarkan saja dia kesal pada Devano padahal dia kan ingin menjaga Devano seperti pria itu menjaganya ketika dia sakit.
Menghela nafasnya panjang Devina mengambil ponselnya untuk menelpon Ziko, tapi Devano membuka pintu kamarnya menggunakan kunci cadangan dan masuk ke dalam.
"Vin"
"Apa?! Udah gak usah bilang kalau mau berangkat sana berangkat aja!" Kata Devina ketus
"Jangan marah, aku gak jadi ke kampus." Kata Devano
Devina menoleh sebentar dan melihat Devano yang kini sudah mengganti kemejanya dengan kaos hitam.
"Jangan marah"
Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu menghampiri Devano yang merentangkan tangannya dan berhambur ke pelukan kembarannya.
"Vano kan sakit jangan kemana-mana." Kata Devina
"Iya enggak"
Senyum Devina mengembang dia melepaskan pelukannya lalu mengajak Devano untuk berbaring di ranjang kamarnya.
"Sini Vano tidur aku mau ambilin buah." Kata Devina
"Gak perlu Vin.... iya yaudah." Kata Devano ketika melihat wajah Devina yang cemberut
"Yaudah Vano tunggu ya? Mau disini apa mau ke kamar Vano?" Tanya Devina
"Disini aja, tapi aku mau ambil hp dulu." Kata Devano
"Vina aja nanti sekalian." Kata Devina dengan semangat
Setelah itu Devina pergi dengan senyuman manisnya meninggalkan Devano yang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sambil menunggu kembarannya Devano mengambil ponsel Devina lalu membukanya dan dia melihat ada pesan dari Adara disana yang membuatnya tersenyum senang.
Vinn gimana keadaan Vano?
Dia udah sehat kan?
Aku mau kesana nanti siang habis kuliah
Dia udah baikan kan?
Dengan senyuman Devano mengetikkan balasan untuk kekasihnya lalu mengambil foto dengan ponsel Devina dan mengirimkan pada Adara.
^^^Udah baikan Adara sayang^^^
^^^Cepet kesini aku kangen^^^
Setelah membalas pesan itu Devano melihat semua chat yang masuk ke ponsel Devina kalau saja ada yang mengganggu kembarannya lagi, tapi ternyata tidak ada. Ada empat chat yang Devina pin agar berada di atas chat dengan Ziko, dia, dan kedua orang tuanya.
Kemudian Devano membuka galeri ponsel Devina lalu melihat foto yang ada disana dan dia tersenyum kala melihat foto dia bersama dengan Devina yang tengah berpelukan. Ada juga foto Devina dengan rambut pendeknya yang membuat Devano tersenyum.
"Ini hp Vano." Kata Devina
Devano mengambil ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk lalu Devina naik ke sisi ranjang yang lain.
"Aku bawa melon untuk Vano tadi Mommy yang ambilin." Kata Devina
Devano menatap kembarannya sebentar lalu tersenyum.
"Makasih Vin." Kata Devano
Devina hanya megangguk lalu menyuapi Devano dengan melon yang tadi dia bawa.
"Kamu gak mau?" Tanya Devano
"Enggak"
"Tadi aku pinjem hp kamu." Kata Devano
"Iya pakai aja." Kata Devina santai
"Hmm tadi balas pesan dari Adara juga." Kata Devano
"Iya dari kemarin malam dia chat terus tanyaiin keadaan Vano." Kata Devina
"Nanti siang katanya dia mau kesini." Kata Devano
"Iya bagus dong nanti Vano jadi cepet sembuh, aku kalau lagi sakit terus Ziko jengukin jadi seneng banget." Kata Devina sambil tersenyum
Devano hanya ikut tersenyum dan kembali menerima suapan yang Devina berikan untuknya hingga satu piring melon yang tadi Devina bawa habis.
Setelah habis Devina meletakkan piringnya di nakas lalu menangkup wajah Devano agar menatapnya dan mengatakan sesuatu sambil tersenyum.
Devina mengatakan hal yang membuat Devano tidak bisa menahan senyumnya.
"Vina mau jagaiin Vano seperti Vano yang selalu jagaiin Vina kalau sakit, jadi Vano gak boleh protes"
Ya, baiklah Devano akan menjadi sangat penurut.
¤¤¤
Benar kata Devina kedatangan Adara semakin membuat Devano merasa lebih baik bahkan sekarang pria itu bersikap sangat manja dengan berbaring di atas paha Adara. Sebenarnya Adara takut kalau ada yang melihat mereka karena dia bisa malu setengah mati, tapi dia juga tidak bisa berbohong kalau Adara merasa senang.
Melihat Devano yang sudah lebih baik membuat Adara merasa lega karena tadi malam dia cemas sekali dan terus memikirkan kekasihnya. Tadi malam dia berbalas pesan dengan Devina untuk menyakan keadaan Devano.
"Kamu kenapa bisa sakit sih Van?" Tanya Adara sambil mengusap kepala Devano dengan lembut
"Enggak tau kemarin tiba-tiba pusing banget untung masih bisa bawa mobil sampai rumah." Kata Devano membuat Adara menghela nafasnya pelan
"Makanya Van kamu itu jangan kebanyakan begadang dan lagi jangan kecapean juga, kamu gak usah antar jamput aku lagi deh lagian aku bisa kok kemana-mana sendirian." Kata Adara
Devano menatapnya dengan tidak suka.
"Enggak aku bakal tetap antar dan jemput kamu." Kata Devano
"Tapi, Van...."
"Udah ah Dar aku lagi sakit juga bukannya di manjaiin." Kata Devano
"Dih apaan aku cubit aja nih." Kata Adara sambil mencubit pipi Devano cukup kuat
"Jahat banget sih sama pacar sendiri." Kata Devano membuat Adara terkekeh mendengarnya
"Lagian kamu pake sakit segala aku cemas tau Van." Kata Adara
Devano tersenyum sambil menatap wajah kekasihnya.
"Kamu khawatir sama aku?" Tanya Devano
"Banget aku kepikiran terus dari tadi malam malah maunya aku pagi-pagi kesini, tapi tadi ada ujian makanya baru kesini sekarang." Kata Adara
"Aku seneng kalau kamu khawatir sama aku." Kata Devano
"Devina kasih tau aku terus tentang keadaan kamu termasuk kamu yang tadi mau berangkat ke kampus padahal masih sakit." Kata Adara
"Aku bosan Dar di rumah, tapi waktu Devina marah aku jadi gak bisa ngapa-ngapain dan berakhir nurut." Kata Devano
"Kamu sayang banget sama Vina ya?" Tanya Adara
"Hmn aku sama Devina itu kembar kita berdua punya ikatan yang begitu kuat aku selalu bisa rasaiin apa yang Devina rasaiin makanya ngeliat wajah sedih dia aja aku ikut ngerasa sedih." Kata Devano
"Iya aku tau Van." Kata Adara
"Tapi, aku juga sayang kamu kok Dar sayang banget sampai aku gak mau kehilangan kamu." Kata Devano membuat Adara tersenyum senang mendengarnya
"Aku juga Van." Kata Adara
"Kamu beneran gak mau Adara? Aku ajakin kamu tunangan, kamu gak mau?" Tanya Devano membuat Adara terdiam
"Van aku..."
"Kasih tau apa alasannya? Karena latar belakang keluarga kamu atau status kamu yang hidup sebatang kara?" Tanya Devano
"Aku gak tau Van jujur aku mau banget bahkan aku seneng waktu kamu bilang hal itu, tapi aku selalu takut dan merasa bahwa aku gak pantes untuk kamu." Kata Adara sambil menghela nafasnya pelan
"Kamu fikirin lagi ya? Devina juga mau tunangan dan aku berniat tunangan sama kamu juga." Kata Devano
"Iya Van"
Devano bangun lalu menghadap ke arah kekasihnya sambil melirik ke arah pintu yang tidak ada siapapun disana. Kemudian tanpa basa-basi Devano mendekatkan wajahnya membuat Adara refleks memejamkan matanya.
Hanya sedikit lagi saja, tapi suara Devina membuat keduanya langsung memberikan jarak dengan sama-sama salah tingkah.
"Ihh Vano ngapain hayooo"
Ya ampun jadi seperti ini rasanya diganggu.
¤¤¤
Makanya Vano jangan suka gangguin Vina sama Ziko😂
Kasih tau Daddy lo nanti sama Vina😋