My Possessive Twins

My Possessive Twins
67 : Terlupakan



Sudah lima hari berlalu sejak Devano berangkat ke Bali dan Adara benar-benar merasa kesepian dia jadi malas untuk berangkat ke sekolah karena tidak ada kekasihnya, entahlah dia bucin sekali sekarang. Setiap hari Adara hanya menunggu pesan dari Devano dan tersenyum bahkan tertawa sendiri ketika mereka berdua sedang berbalas pesan.


Intinya Devano benar-benar telah merubah Adara sepenuhnya.


Seperti sekarang ketika jam istirahat Adara bukan pergi ke kantin, tapi ke rooftop karena Devano sudah berjanji akan menelponnya dan tentu saja dia tidak akan mau melakukannya di kelas. Namun, sudah sepuluh menit berlalu belum ada panggilan masuk bahkan pesan yang dia kirim juga belum mendapatkan balasan.


Menghela nafasnya pelan Adara berdiri dan berjalan ke pagar pembatas lalu sedikit mengintip ke bawah untuk melihat aktififas murid lain ketika sedang istirahat. Tentu saja lapangan dan kantin merupakan tempat yang paling ramai dikunjungi.


"Apa enaknya sih sendirian?"


Pertanyaan itu membuat Adara menoleh dan melihat Satria yang berjalan mendekat sambil tersenyum, dia ikut tersenyum untuk sesaat lalu mengalihkan pandangannya. Menyadari kalau Satria kini sudah ada disampingnya Adara tetap tidak mau memulai pembicaraan karena dia masih sangat ingat dengan perkataan kekasihnya.


'Aku gak suka kalau kamu dekat-dekat dengan pria lain Dar bahkan meskipun itu teman dekat kamu sendiri'


Dia tidak mengusir Satria hanya berusaha menjaga jarak saja.


"Lo sekarang pendiem Dar." Kata Satria yang berhasil membuat Adara menoleh lalu terkekeh


Dia juga menyadari hal itu sebenarnya.


"Masa? Perasaan biasa aja deh." Kata Adara


"Iya biasanya kalau sama gue lo banyak omong." Kata Satria


"Mau belajar berubah Sat gue kayaknya begini lebih nyaman." Kata Adara


Satria mengangguk faham lalu menyentuh pagar membatas dan ikut melihat ke bawah.


"Setiap orang berubah kok Dar dan jujur gue suka perubahan lo yang sekarang, lo kelihatan bahagia." Kata Satria tulus


Tersenyum manis Adara menatap lurus ke depan dan menghela nafasnya panjang.


"Bunda minta gue untuk jadi anak baik dan gue mau wujudin keingan itu." Kata Adara


"Sejak pertama ngeliat lo gue tau kalau lo itu anak baik Dar." Kata Satria membuat Adara jadi teringat pada kekasihnya


Devano juga pernah mengatakan hal yang sama.


"Everything happens for a reason dan gue yakin kalau ada alasan di balik semua sikap juga perlakuan kasar lo ke orang-orang, makanya gue gak pernah benci sama lo." Kata Satria


Adara tersenyum tulus ketika mendengarnya mereka memang saling mengenal untuk waktu yang cukup lama.


Satria yang sama-sama berasal dari keluarga broken home seolah bisa membaca fikirannya dan mengerti apa yang dia rasakan, menghiburnya juga memberikan cara untuk melupakan semua masalahnya.


Meskipun cara yang dia berikan bisa dibilang salah, tapi Satria sangat berterima kasih padanya.


"Makasih Satria"


Mengucapkan dengan penuh ketulusan Adara berhasil Satria tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Mendapat perlakuan itu Adara tersentak dan langsung memundurkan langkahnya.


"Lo itu udah kayak adik gue Dar." Kata Satria


Setiap kali tawuran atau bertengkar Satria memang selalu melindunginya dan tidak pernah membiarkan Adara menjaub dari penglihatannya. Satu fakta yang perlu kalian tau Satria pernah kehilangan adik perempuannya dan karena hal itu juga keluarga berantakan hingga kedua orang tuanya bercerai.


Fakta lainnya nama adik perempuannya adalah Dara.


Tentu saja bukan Adara, tapi karena hal itu Satria selalu menganggap kalau Adara adalah adiknya dia memperlakukan Adara seperti adiknya sendiri.


"Hubungan lo sama Vano gimana? Baik kan?" Tanya Satria


Adara tersenyum dan mengangguk singkat, hubungannya sangat-sangat baik.


"Lo mau tau gak Sat? Dulu gue pernah janji sama diri gue sendiri kalau sampai kapanpun gue gak akan pernah percaya sama yang namakanya laki-laki dan hubungan apalagi cinta." Kata Adara


"Dan Devano merubah semuanya, right?" Kata Satria


Terkekeh pelan Adara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Benar, Devano telah merubah semua prinsipnya.


"Dia bilang hubungan itu gak pernah salah dan gue harus bisa melangkah maju supaya gak selalu terbayang dengan masa lalu." Kata Adara


Entah kenapa dia selalu suka ketika Devano berbicara.


"Semua laki-laki itu gak sama Dar, mungkin memang ada banyak laki-laki brengsek di dunia ini, tapi masih banyak juga laki-laki baik yang selalu menghargai seorang wanita." Kata Satria


Sekarang Satria juga mulai bicara dengan bijak, tapi memang benar tidak ada istilah bahwa semua lelaki itu sama karena nyatanya mereka berbeda. Seperti Satria dia selalu menjaga Adara dan memperlakukannya seperti adik sendiri, ya meskipun dulu sering ngajak ikut tawuran.


"Iya dulu gue gak percaya, tapi sekarang gue percaya karena laki-laki yang berbeda itu adalah milik gue sekarang." Kata Adara


Satria tersenyum dan kembali mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang, dia bahagia dengan kenyataan bahwa Adara sudah menemukan pujaan hatinya.


"Lo jangan sering berantem lagi Sat." Kata Adara dengan penuh permintaan


Tertawa kecil Satria menjauhkan tubuhnya dan mengangkat bahunya acuh sambil mengatakan hal yang membuat Adara berdecak.


"Berantem itu style gue kalau gue berhenti nanti gak keliatan keren." Kata Satria


"Lo makin nyebelin ya?" Ketus Adara membuat Satria tertawa lalu merangkulnya


"Kalau ada apa-apa tetap cerita sama gue ya Dar?" Kata Satria yang dijawab dengan gumaman olehnya


"Gue seneng setiap kali lo cerita sama gue karena gue ngerasa diandalkan dan hal itu menyenangkan gue suka." Kata Satria


"Iya gue bakal tetep cerita ke lo kalau ada apa-apa tenang aja, tapi lo juga ya?" Kata Adara


"Iyaa"


Mereka berdua saling melemparkan senyum dan untuk sejenak Adara melupakan bahwa Devano baru saja mengingkari perkataannya yang ingin menelpon Adara karena hingga bel masuk berbunyi pria itu tidak menelpon. Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk mengobrol dengan Satria kini keduanya berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.


Di depan pintu kelas Alex dan Erick terlihat sedang memperhatikan mereka berdua dengan mata memicing. Sejak istirahat mereka mencari Adara, tapi ternyata gadis itu sedang bersama Satria dan mereka yakin kalau Devano tau pasti akan marah.


Kembali pada Adara yang kini menghentikan langkahnya dan menatap Satria dengan senyuman tipis.


"Gue ke kelas ya? Makasih udah ngajakin ngobrol dan maaf karena belakangan ini gue sedikit menghindar." Kata Adara


"It's okay. Gue faham kok dan itu bukan masalah besar." Kata Satria


Adara tersenyun singkat dan kembali melangkahkan kakinya, tapi panggilan Satria membuatnya kembali menoleh.


"Pulang bareng gue mau gak?" Tanya Satria


Adara hanya mengangguk sebagai balasan lalu melangkahkan kakinya menuju kelas tanpa mengatakan apapun lagi.


Tidak papa hanya pulang bersama.


¤¤¤


"Senyum dong Vin"


Perkataan itu sudah berulang kali Devina dengar, tapi dia terus memasang wajah cemberutnya dan enggan untuk tersenyum. Sudah sejak kemarin Devina seperti itu dia terlihat sangat murung dan enggan bicara, tentu saja mereka semua tau ini semua karena Devano yang sedang pergi.


Padahal mereka semua sudah berusahs menghibur Devina, tapi tetap saja gadis itu terlihat murung dia kesal sekali karena Devano tidak kunjung pulang. Selain itu Devano juga jarang membalas pesannya padahal pria itu mengatakab akan menelpon setiap hari, tapi ternyata bohong.


"Manyun terus sih Vin senyum dong biar cantik." Kata Ziko sambil menarik kursi dan duduk didekat kekasihnya


Devina menghela nafasnya pelan dan menatap Ziko sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Vin ya ampun gue ngeri lo kesurupan deh sumpah." Kata Mona


Kali ini Devina berdecak kesal lalu memukul pelan lengan temannya.


"Kamu tuh yang kesurupan!" Ketus Devina membuat yang lainnya tertawa


"Jangan galak gitu ah Vin." Kata Ziko


"Kan dua hari lagi pulang Vin." Kata Ziko


"Tetep ajaa! Dari kemaren dia juga kayak gitu aku kesel!" Kata Devina


"Yaudah iya nanti kalau Vano pulang kamu marahin aja dia." Kata Ziko


Menghela nafasnya pelan wajah Devina semakin murung, dia sangat kesal bahkan bisa bilang marah.


Pasti Devano sering menghubungi Adara, tapi tidak dengan Devina sekarang pria itu sudah melupakannya karena Adara.


Devano jadi sering menghubungi Adara, tapi tidak dengan dia.


Dia kesal sangat kesal.


Kemarin Devina bertanya dan Adara bilang sesekali Devano melakukan panggilan vidio, tapi tidak dengan Devina malah kembarannya itu jarang menelpon.


Pokoknya dia kesal!


Devina merasa dilupakan padahal biasanya Devano selalu mendahulukan dia bahkan ketika pria itu pergi meski hanya beberapa jam Devina yang paling pertama dikabari, tapi sekarang Devano melupakannya.


Dia jarang mengirim kabar hanya di awal-awal saja.


Devina tidak suka diabaikan padahal ketika dia lebih sering menghabiskan waktu bersama Ziko kembarannya itu sering marah dan protes, tapi sekarang Devano juga sama saja.


"Kenapa sih Vin? Kalian kan satu rumah nanti juga pas Vano pulang dia langsung nemuin lo maklum aja namanya juga baru pacaran." Kata Nayla


"Tapi, aku gak gitu! Aku selalu kasih kabar ke dia malah dia juga sering marah kalau aku sering sama Ziko." Kata Devina


Ziko menatap Nayla ketika gadis itu ingin bicara lagi.


Ayolah biarkan saja Devina jangan menyalahkan dia karena hal itu sangat sensitif untuknya.


Dia mengerti kenapa Devina begitu kesal.


Saat orang yang biasanya selalu menomor satukan kamu lalu dia menemukan orang lain dan mulai mengabaikan kamu pasti rasanya sangat menyebalkan.


Apalagi ini Devano kembaran dari Devina yang biasanya selalu memperhatikan gadis itu.


¤¤¤


Ketukan di pintu rumahnya membuat Adara yang sedang bersantai sambil menonton tv berdecak kesal lalu berjalan dan membuka pintu, tapi ketika melihat siapa yang ada disana dia langsung tersenyum lebar. Berseru senang Adara langsung memeluk Devano dengan begitu erat menyalurkan rasa rindunya selama lima hari belakangan.


Iya, pria itu adalah Devano.


Baru beberapa menit yang lalu Adara sampai di rumah bahkan dia masih memakai seragam sekolahnya. Kedatangan Devano membuat semangatnya kembali datang hingga membuat Devano tertawa kecul dan membalas pelukannya.


Cukup lama berpelukan Adara lalu menjauhkan dirinya dan mengajak Devano untuk masuk ke dalam. Dengan penuh semangat dia meminta kekasihnya itu untuk duduk lalu berlari ke dapur untuk mengambilkan minum.


Tak butuh waktu lama Adara kembali dan duduk disampingnya sambil menatap Devani dengan senyuman lebar.


"Apa kabar?" Tanya Devano


"Baik, kamu apa kabar?" Tanya Adara dengan semangat


"Baik dan lebih baik lagi setelah ketemu kamu." Kata Devano membuat Adara tersenyum lebar


"Kamu kok udah pulang?" Tanya Adara


"Hmm urusan Daddy selesai lebih awal makanya aku pulang lebih cepat." Kata Devano


Adara mengangguk faham dan kembali menatap wajah tampan yang sejak kemarin ia rindukan.


"Kapan sampainya?" Tanya Adara lagi


"Baru satu jam yang lalu deh kayaknya." Kata Devano


"Kamu langsung kesini?" Tanya Adara


"Hmm pulang dulu sebentar buat naruh barang-barang." Kata Devano


Adara tersenyum senang apalagi ketika Devano mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Katanya kangen." Kata Devano


"Iya kangen banget, mau peluk boleh gak?" Tanya Adara membuat Devano tertawa kecil ketika mendengarnya


Tanpa banyak bicara Devano menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan hal itu membuat Adara tersenyum senang lalu membalas pelukan yang terasa begitu menenangkan.


Akhirnya Devano kembali dan Adara tidak akan merasa rindu lagi.


¤¤¤


Devina sedang bersama kekasihnya ketika Fahisa menelpon dan mengatakan kalau Daffa juga Devano sudah pulang, tentu saja hal itu membuat Devina senang bukan main. Dengan penuh semangat dan sedikit terburu-buru Devina mengajak kekasihnya untuk pulang.


Tentu saja Ziko tidak kesal dia malah senang melihat kekasihnya itu tersenyum senang dan langsung mengantarnya pulang. Setelah pulang sekolah Ziko memang mengajaknya pergi ke kedai ice cream untuk menghiburnya.


Sekarang semua rasa kesal Devina hilang dia berfikir kalau Devano tidak menghubunginya sejak tadi pasti karena sibuk mempersiapkan banyak hal, dia pasti ingin memberikan kejutan.


Devina tidak sabar ingin memeluknya.


Saat sampai di rumah Devina langsung turun dari motor dan mengucapkan terima kasih sambil memeluk singkat kekasihnya.


"Ziko makasih yaa?" Kata Devina


"Hmm kembali kasih sayang." Kata Ziko sambil mengusap puncak kepalanya dengan lembut


Setelah motor Ziko berlalu pergi Devina langsung berlari ke dalam rumah dan ketika melihat Daffa dia memeluknya dengan erat hingga membuat kedua orang tuanya tertawa kecil.


"Daddyyyy"


Membalas pelukan anaknya Daffa mengusap sayang rambut hitam anaknya dan mencium puncak kepalanya.


Setelah merasa puas Devina menjauhkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya, mencari Devano.


"Vano mana? Di kamar ya?" Tanya Devina dengan semangat


Dia sudah ingin pergi ke kamar Devano, tapi perkataan Fahisa langsung membuat semangatnya hilang dan senyumnya pudar.


"Devano tadi pergi sayang mungkin sebentar lagi pulang"


Pria itu pasti menemui Adara.


Benar kan?


Devano sudah melupakannya bahkan dia memilih untuk menemui Adara dulu dari pada dia.


"Vina"


Mendongakkan kepalanya Devina menatap orang tuanya dengan senyuman tipis dan dengan lesu pergi ke kamarnya.


Dia benci Devano!


Menutup pintu dengan sedikit kencang Devina langsung menjatuhkan dirinya di ranjang tanpa mengganti pakaian atau melepas sepatunya.


Dia kesal sangat kesal.


¤¤¤


Nahlohh kalo udah gini siapa yang salahhh😂


Hmm update lagi gak yaaaa😶