My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (110)



Devano dan Devina


Kedua nama itu tidak bisa dipisahkan, sejak masih di dalam kandungan keduanya bersama lalu menghabiskan masa kecil dan tumbuh dewasa bersama-sama. Memiliki hubungan batin yang sangat kuat keduanya selalu bisa merasakan apa yang sedang kembarannya rasakan.


Saat Devina sakit Devano akan merasakannya dan begitu pula sebaliknya, mereka selalu bisa merasakan perasaan masing-masing. Sekarang masih sama Devano dapat merasakan kebahagiaan yang kembarannya rasakan ketika tau bahwa pernikahan dia dan Ziko hanya tinggal dua minggu lagi.


Semakin dekat dengan hari pertunangan Devano harus kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa Devina akan baik-baik saja meskipun nanti tinggal jauh darinya. Rasanya benar-benar belum bisa merelakan, tapi Devano yakin bahwa hal itu akan terjadi seiring berjalannya waktu.


Sekarang Devano berada di kamar Devina sambil menatap kembarannya yang tengah tertidur dengan senyuman, dia sangat menyayangi Devina. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam Devina terlelap dalam tidurnya membuat Devano tersenyum dan mengusap sayang pipinya.


"Vin kamu bentar lagi jauh dari aku nanti aku gak bisa kayak gini lagi." Kata Devano pelan


Tentu saja Devina tidak dengar karena dia sedang tertidur nyenyak.


"Nanti gak ada lagi yang masuk kamar aku tiba-tiba atau minta anterin kesana sini sama aku atau merengek karena sesuatu, semua itu bakal dirasaiin sama Ziko." Kata Devano lagi


Masih sambil menatap kembarannya Devano tersenyum tipis lalu mencium kening Devina dengan sayang.


"Nanti gak ada lagi yang minta ditemenin sampai tidur." Kata Devano pelan


Saat melihat Devina bergerak pelan dalam tidurnya Devano menghentikan gerakan tangannya yang mengusap kepala Devina dan membuat kembarannya itu kembali tenang dalam tidurnya.


"Kamu bahagia sama Ziko ya Vin nanti kalau kamu bahagia aku juga akan bahagia"


Setelah mengatakan hal itu dengan hati-hati Devano naik ke atas ranjang lalu berbaring tepat disebelah Devina dan memeluknya perlahan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


Malam ini dia akan tidur bersama Devina.


¤¤¤


"Enggak mau Vanooo!"


Devina kecil menangis ketika dia diminta untuk tidur terpisah dengan Devano karena pria itu sedang sakit cacar dan takut menularkan Devina yang belum pernah kena, tapi anak itu menangis. Sekarang Devano sudah berada di kamar bersama dengan Fahisa yang menjaganya, sedangkan Devina masih menangis di kamar orang tuanya bersama Daffa dan Sahara.


Sulit sekali memang memisahkan keduanya padahal sering kali mereka bertengkar kalau lagi bersama-sama, tapi Devina tidak pernah mau kalau harus berpisah dari Devano. Seperti sekarang dia menangis tidak mau berhenti meskipun Daffa dan Sahara menawarkan dia untuk membeli ice cream atau bermain.


"Vano mau Vanoo! Vina mau sama Vanoo"


Devina mengerucutkan bibirnya sebal dia menarik-narik tangan Daddy nya meminta dia untuk keluar dan membuka pintu kamar yang Fahisa kunci dari dalam.


"Daddy mau Vano bukaiin pintunya bukaiinn!" Rengek Devina


"Vina enggak boleh Vano nya lagi sakit sini sama Kak Ara aja." Kata Sahara


"Enggak Vano mau sama Vano! Daddy bukaiin pintunya bukaiinn." Rengek Devina


"Devina gak boleh gitu sayang Vano lagi sakit nanti kamu sakit juga, disini aja sama Daddy dan Kakak." Kata Daffa


"Enggak enggak mau Vano." Kata Devina sambil memukul-mukul pelan Daffa


Daffa hampir kebingungan harus bagaimana apalagi ketika Devina turun dari ranjang dan berlari ke kamarnya membuat Daffa serta Sahara langsung menyusulnya. Dari luar Devina mengetuk-ngetuk pintu dan meminta dibuka sambil menangis.


"Mommy buka Mommy aku mau Vano." Kata Devina


Devina memukul pintunya dengan cukup kuat agar Fahisa bisa mendengarnya.


Dari dalam Fahisa memang mendengarnya dia menghela nafasnya pelan lalu menatap Devano yang sudah tidur. Masalahnya kalau sampai tertular Devina itu fisiknya lemah dia takut malah parah nantinya.


"Mommy buka mau Vanoo! Ih bukaa Mommyyy." Kata Devina dari luar


Tak lama setelah itu Daffa datang dia menggendong tubuh Devina yang membuat anak itu kembali menangis sambil memberontak minta diturunkan.


"Enggak Vano Vano aku mau tidur sama Vano gak mau sama Daddy jahat! Daddy jahatt! Ish gak mau gak mauu"


Fahisa benar-benar kesulitan kalau salah satu dari si kembar sedang sakit karena mereka berdua tidak mau berjauhan.


¤¤¤


Merasakan silau karena teriknya sinar matahari Devina membuka matanya perlahan dan berniat untuk bangun, tapi karena ada tangan yang melingkar di perutnya Devina tidak bisa bangun. Merasa bingung Devina membalikkan tubuhnya lalu melihat Devano yang masih tidur dengan nyenyak disampingnya membuat senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna.


Mengusap pipi Devano dengan sayang Devina mendekat lalu memeluknya juga, dia tidak tau kapan Devano datang ke kamarnya dan tidur disampingnya. Tak lama dari Devina memeluknya Devano terusik dalam tidurnya membuat Devina menjauhkan tubuhnya.


Saat mata indah Devano terbuka hal yang pertama dia lihat adalah wajah kembarannya yang tengah tersenyum padanya. Masih mengantuk dan belum sadar sepenuhnya Devano masih diam sambil menatap Devina.


"Vano masih ngantuk ya?" Tanya Devina


"Vina mau mandi lepasin dulu peluknya." Kata Devina


Mendengar hal itu Devano langsung menjauhkan tangannya dan menatap Devina yang kini bangun dari tidurnya, dia tidak langsung berdiri, tapi duduk dulu sambil bersandar di kepala ranjang.


"Vano kapan masuk kamar aku?" Tanya Devina


"Hm jam sepuluh kayaknya." Kata Devano


"Kangen ya?" Tanya Devina


"Iya"


Devina tersenyum lalu menunduk dan mencium kening kembarannya sambil mengusap pelan pipinya.


"Sana Vano ke kamar lagi." Kata Devina


"Enggak mau disini aja dulu." Kata Devano


"Hm yaudah Vano tunggu disini aja ya? Aku mau mandi nanti ganti bajunya di kamar mandi aja." Kata Devina


Devano mengangguk sebagai jawaban dan membiarkan Devina pergi ke kamar mandi, dia masih ingin disini. Setelah mendengar pintu yang ditutup Devano bangun dan bersandar pada kepala ranjang.


Dia tersenyum ketika melihat foto mereka berdua yang tergantung didinding kamar. Tadi malam dia memimpikan Devina dan melihat gadis itu menikah dengan Ziko.


Karena sering memikirkannya Devano sampai terbawa mimpi.


¤¤¤


"Sini aku suapinn"


Devina ingin menolak ketika Devano mau menyuapi dia makan, tapi melihat wajah galaknya membuat Devina mengalah dan menurut saja. Membuka mulutnya Devina menerima suapan yang kembarannya berikan membuat kedua orang tua mereka menatap dengan senyuman.


Mereka jelas tau kesedihan yang Devano rasakan karena kembarannya akan menikah, tapi mereka juga tau bahwa nanti Devano akan ikut merasa senang. Cukup dengan senyuman Devina saja sudah membuat pria itu merasa bahagia.


"Vano aku kan bisa sendiri." Kata Devina


"Vina aku kan mau suapin kamu." Kata Devano


"Mommy Daddy lihat Vano masa suapin Vina." Kata Devina pada kedua orang tuanya


"Gak papa Vina dia lagi mau suapin kamu." Kata Fahisa


"Iya sayang biarkan saja." Kata Daffa


Menghela nafasnya pelan Devina mengangguk dan terus menerima suapan yang kembarannya berikan.


Devano bergantin dia menyuapi Devina lalu makan untuk dirinya sendiri, aneh sekali.


"Habis ini kamu ada rencana apa?" Tanya Devano


"Enggak ada." Kata Devina


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan." Kata Devano


"Kemanaa?" Tanya Devina dengan antusias


"Pantai, kamu mau gak?" Tanya Devano


Tersenyum senang Devina menganggukkan kepalanya membuat Devano ikut tersenyum lalu mencubit pelan pipinya.


"Ya ampun kalian berdua ini." Kata Daffa sambil menggelengkan kepalanya pelan


Devano hanya tersenyum saja, dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan kembarannya.


¤¤¤


Hai aku update lagii😚


Di part-part akhir ini aku kasih beberapa flashback😂


Besok udah bulan februari kita mulai up istri manja Ziko setelah cerita yang disini bener-bener end ya😄


Yang jelas awal bulan, tapi tanggal masih dirahasiakan😆