My Possessive Twins

My Possessive Twins
Extra Part (2)



Hari ini Devano menghabiskan waktunya bersama dengan Adara di rumah gadis itu sambil menonton film dan memakan beberapa cemilan yang sudah dia beli. Selama tiga hari Ziko tinggal di rumah Devano mulai terbiasa dengan itu semua bahkan dia juga terbiasa melihat kembarannya menempel terus pada Ziko.


Dulu sebelum keduanya menikah Devano suka sensi sendiri kalau melihat Devina yang terlalu menempel pada Ziko, tapi sekarang dia sudah merasa bahwa itu hal yang biasa karena keduanya sudah menikah dan sah-sah saja untuk berdekatan begitu. Meskipun Devano tidak bohong kalai terkadang dia merindukan Devina yang biasanya masuk ke dalam kamar lalu memeluknya sambil merengek minta ditemani untuk tidur.


Tidak masalah dia sudah mulai terbiasa asalkan Devano bisa melihat Devina bahagia itu sudah sangat cukup untuknya.


"Raa itu kan punya akuu"


Satu hal yang berbeda dari Devano kini pria itu sangat manja entah pada kedua orang tuanya atau Adara. Seperti sekarang Devano protes karena Adara memakan cemilan miliknya padahal masih ada banyak di meja.


"Itu kan masih ada Van aku malas bukanya." Kata Adara sambil tersenyum dan mencubit pelan pipi kekasihnya


Menghela nafasnya pelan Devano mengambil cemilan satu lagi dan membukanya lalu memakannya mrmbuat Adara tertawa kecil melihatnya.


"Kamu sekarang gemesin deh Van." Kata Adara


"Dari dulu juga memang gemesin." Kata Devano dengan penuh percaya diri


"Ih mana ada kamu tuh dulu nyebelin." Kata Adara


"Enggak Ra aku gak nyebelin kamu tuh yang nyebelin." Kata Devano


"Kok aku sihh?" Kata Adara tidak terima


"Ya kamu nyebelin jadi cewek sok kuat banget awal-awal aku deketin nolak terus, tapi sekarang nempel terus sama aku." Kata Devano membuat Adara menatapnya dengan sebal juga pipi memerah


"Ish nyebelin banget sih." Kata Adara


"Bener kan? Kamu itu nolak aku awal-awalnya bahkan di deketin aja gak mau sampai aku nekat nyusulin kamu pas lagi tawuran dan berakhir kena pukul balok kayu sampai pingsan." Kata Devano


"Vann udah dong aku jadi merasa bersalah kalau inget kamu kena pukul karena aku." Kata Adara


"Enggak papa Ra kan udah lewat lagian aku sama kamu udah semakin dekat sekarang." Kata Devano


"Hm apalagi kita udah tunangan." Kata Adara dengan senyuman


"Tinggal nunggu nikahan, kapan Ra?" Tanya Devano membuat kekasihnya itu salah tingkah sendiri mendengarnya


"Kok nanya aku." Kata Adara pelan


"Iya lah kalau nanya aku nanti aku jawab maunya sekarang." Kata Devano


Adara semakin merona malu ketika mendengarnya.


"Kamu bener-bener mau nikah sama aku?" Tanya Adara


Devano tersenyum lalu menoleh dan menaruh kedua tangannya di bahu Adara membawa gadis itu untuk menghadapnya.


"Kapan aku bilang kalau aku bercanda Ra?" Tanya Devano


"Maaf aku sering ragu Van." Kata Adara


"Aku maafin kali ini, tapi lain kali jangan lagi aku gak pernah bercanda soal perasaan." Kata Devano serius


"Iyaa"


"Sekarang cium dulu." Kata Devano


"Ih apaan gak mau." Kata Adara


"Cium dulu sebentar." Kata Devano lagi


Adara memasang wajah cemberutnya, tapi tetap mendekat dan mencium sekilas bibir Devano membuat pria itu tersenyum senang.


"Gimana hubungan kamu sama Om Juan?" Tanya Devano


"Baikk bangett." Kata Adara senang


"Makasih Van kamu udah buat hubungan aku sama Ayah semakin membaik dan meskipun terlambat, tapi Ayah udah minta maaf untuk semuanya bahkan kami ke makam Bunda sama-sama." Kata Adara


"Ayah kamu memang membuat kesalahan besar, tapi dia tetap Ayah kamu dan dia tetap berhak mendapat kesempatan kedua." Kata Devano


"Menurut kamu semua orang pantas dapat kesempatan kedua Van?" Tanya Adara


"Iya, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan Ra bahkan aku juga dan gak ada yang salah dengan memberikan kesempatan kedua karena setiap orang bisa berubah." Kata Devano


"Kalau perasaan seseorang? Apa perasaan seseorang juga bisa berubah? Misalnya perasaan kamu untuk aku?" Tanya Adara


"Bisa, perasaan juga bisa berubah." Kata Devano


"Jadi perasaan kamu untuk aku juga bisa berubah?" Tanya Adara


"Bisa"


"Bisa ya?" Kata Adara sedih


"Hm bisa misalnya aku sekarang cinta sama kamu mungkin aja perasaan itu berubah jadi.."


"Jadi apa?" Tanya Adara penasaran karena Devano tidak melanjutkan ucapannya


"Mungkin aja aku bukan hanya cinta sama kamu, tapi juga cinta mati." Kata Devano


Adara tersenyum mendengarnya lalu mendekat dan memeluk Devano dengan sayang yang dengan senang hati Devano balas pelukan itu cukup erat.


"Aku sayang banget sama kamu Ra"


Adara juga sangat menyayangi Devano hingga dia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya kalau mereka sampai berpisah.


Tapi, Adara tidak menginginkan hal itu dia ingin selalu bersama Devano.


¤¤¤


"Ziko udahh"


Devina berusaha mendorong tubuh Ziko yang malah membuat pria itu menahan kedua tangannya dan kembali menciumnya dengan penuh kelembutan. Tidak bisa menolak Devina hanya diam lalu membuka mulutnya ketika Ziko menggigit pelan bibir bawahnya, mereka ada di kamar Devina sekarang.


Dapat Devina lihat kalau Ziko tengah memejamkan matanya dengan bibir yang terus bergerak diatas bibirnya membuat Devina merasa darahnya berdesir hebat. Tangan Ziko ada ditengkuknya dan menahan Devina agar tidak bisa menjauhkan wajahnya.


Perlahan tangan Devina dibawa untuk melingkar di leher Ziko dan bersamaan dengan itu Ziko mengangkat tubuhnya lalu membawa Devina ke ranjang. Membaringkan tubuhnya disana Ziko menjauhkan wajahnya dan menatap Devina dengan nafas terengah.


"Devina"


Devina bergumam pelan sebagai jawaban.


"Kamu cantik banget Vin." Kata Ziko sambil membelai wajahnya dengan penuh kelembutan


Devina memejamkan matanya ketika tangan Ziko terus membelai wajahnya lalu memiringkan sedikit tubuhnya. Masih tetap diam Devina merasakan rambutnya disampirkan lalu Ziko mendekatkan wajahnya ke belekang leher Devina.


"Ziko mau ngapa... ngh Zikoo!"


Ziko tersenyum lalu menjauhkan wajahnya dan melihat apa yang baru saja dia lakukan.


"Jangan kuncir rambut kamu kalau kamu gak mau diledekin sayang"


Devina membaringkan tubuhnya lagi dan menatap Ziko dengan bibir mengerucut sebal, tapi pria itu malah tertawa.


Dasar menyebalkan!


¤¤¤


Masih tersisa satu extra part lagi yaa💞


Di cerita ini tokoh siapa yang paling kalian sukaa?