
"Amaaaa"
Nathan berlari menghampiri Adara yang baru saja pulang setelah pergi untuk belanja bulanan bersama dengan Fahisa, anak itu berlari membuat Adara tertawa lalu langsung memeluk dan menggendongnya. Tawa Nathan terdengar ketika Adara menghujani anak itu dengan ciuman karena merasa gemas.
Sambil masuk ke dalam Adara melihat Nadhin yang duduk di atas perut Devano sambil menumpahkan banyak bedak ke atas perutnya lalu tertawa senang. Sedangkan Devano hanya bisa pasrah dia tersenyum sambil menatap Nadhin yang asik sendiri.
Pemandangan itu membuat Adara juga Fahisa tertawa melihatnya dan Devano yang langsung mengalihkan pandangannya. Melihat ada Adara membuat Nadhin berseru senang dia turun dari atas tubuh Devano dan berlari menghampiri Adara juga.
Anak itu penuh dengan bedak mulai dari tangan, baju, muka hingga kakinya semua putih karena bedak.
"Eh jangan lari nanti jatuh." Kata Adara
Karena Adara menggendong Nathan langsung saja Fahisa mendekat dan memeluk Nadhin.
"Main apa sih cantik? Sampai putih semua gitu." Kata Fahisa sambil mencium pipi Nadhin
"Papaaa"
Nadhin menunjuk Devano dia berlari mengambil bedak dan menunjukkannya pada Fahisa juga Adara.
"Niii Adhinn main niii." Kata Nadhin sambil menyengir lucu
"Habis tuh Ra bedaknya." Kata Devano
Devano berdiri membuat kebulan asap karena bedak di atas tubuhnya.
Karpet pun sudah mau berubah warna jadi putih karena ulah Nadhin.
"Adhin ain telus." Kata Nathan
"Hm Nathan enggak ikut main?" Tanya Adara sambil menatap anaknya
Nathan menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk leher Adara dengan manja.
"Jolok"
Adara tertawa mendengarnya dia mencium singkat pipi anak itu.
"Nadhin ayo ganti bajunya dulu ya ampun sayang itu putih semua jadinya." Kata Adara
"Gakk mau ain agi." Kata Nadhin sambil berlari mendekati Devano
"Papa ain agii." Kata Nadhin
"Udah ah habis nanti bedaknya." Kata Devano
"Gakk anti beli agii." Kata Nadhin
Devano tertawa mendengarnya dia menatap Nadhin yang menarik tangannya dan meminta dia untuk berbaring lagi.
"Umpah agii umpah." Kata Nadhin
Nadhin menumpahkan bedaknya di atas tubuh Devano lalu menepuk-nepuk nya pelan.
Anak itu lalu tertawa membuat Fahisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Nadhin udah ah sayang ganti bajunya itu putih semua ya ampun karpetnya berubah warna jadi putih itu juga bajunya Papa jadi putih." Kata Adara
"Gakk"
Nadhin lalu memeluk Devano hingga kini pipinya menempel di baju Devano yang penuh dengan bedak hingga pipinya semakin putih.
"Udah ya sayang cantiknya Papa mainnya udah ya? Habis ini jalan-jalan ketemu Arthan." Kata Devano
"Aaaa gakk! Gakkk." Kata Nadhin galak
Anak itu mendengar nama Arthan saja sudah kesal sendiri.
"Iya udahan mainnya kalau Nadhin enggak mau udah Papa panggil Arthan suruh ke sini." Kata Devano
Nadhin cemberut dia memukul Devano karena kesal yang malah membuat pria itu tertawa.
"Udah ah nanti kita beli mainan ya habis ganti baju." Kata Devano
Nadhin akhirnya menurut dia langsung menempel ketika Devano menggendong tubuhnya.
"Omaa Adhin mandii." Kata Nadhin
"Iya nanti main lagi habis mandi." Kata Fahisa
Nadhin tersenyum senang mendengarnya dia lalu bersandar dengan manja di bahu Devano.
"Lihat deh Adara dua orang ini penuh sama bedak." Kata Fahisa sambil tertawa melihat Devano dan Nadhin yang berjalan lebih dulu
"Ma aku ke kamar dulu ya?" Kata Adara
"Iya sayang." Kata Fahisa
Adara melangkahkan kakinya ke kamar menyusul Devano dan di kamar ternyata kedua orang itu malah duduk di sofa. Anak perempuannya ada dalam pangkuan Devano dia memeluk Papa nya itu dengan sayang.
Tersenyum manis Adara duduk disebelah mereka membuat Nadhin kini menatapnya.
"Mandi dulu yuk Nadhin badannya bedak semua." Kata Adara
"Antiii"
Kata Nadhin nanti dia mengatakannya dengan wajah cemberut.
"Adhin jolok." Kata Nathan
"Gakkk"
Nadhin melotot mendengar perkataan Nathan dia langsung memeluk Devano.
"Athann nakann." Adu Nadhin
Devano hanya tertawa dia melihat Nathan yang juga menatapnya.
"Papa uga jolok." Kata Nathan
Adara ikut tertawa dia mencubit pelan pipi Nathan karena gemas.
"Terus tadi kamu sama Nadhin main Nathan ngapain sayang?" Tanya Adara
"Main sendiri dia di ajak bareng-bareng enggak mau katanya jorok." Kata Devano sambil tertawa
Anaknya yang satu itu memang bersih sekali bahkan Nathan tidak suka main tanah berbeda dengan Nadhin yang kalau di biarkan main keluar rumah, sudah deh bajunya berubah warna.
Berbeda sekali memang Nathan dan Nadhin.
°°°°
"Auu esklimmm"
Nadhin merengek dia memukuli wajah Adara sambil menangis karena mau ice cream, tapi tidak Adara belikan karena sudah terlalu malam belum lagi dari siang tadi Nadhin sudah makan dua. Di tempatnya Nathan hanya diam sambil memperhatikan kembarannya dengan wajah lucu.
Seharian ini Nathan lebih banyak diam dia hanya asik dengan mainannya atau menonton tv dan meminum susu. Berbeda dengan Nadhin yang sedikit rewel dan selalu ingin bermain dia terus saja menarik Devano untuk mengajaknya bermain.
Maklum hanya akhir pekan saja anak-anaknya bisa memiliki waktu dengan Devano.
"Nadhin udah malam susu aja ya?" Kata Adara
"Gakk esklimmm esklimmm"
"Nadhin enggak boleh ini udah malam, ayo nurut sama Papa nanti enggak Papa belikan mainan lagi, minum susu aja ya?" Kata Devano
"Cama Papaa." Kata Nadhin manja
"Ya ampun iya sini cantik." Kata Devano
Nadhin berpindah ke dalam gendongan Devano anak itu menempel pada Papa nya.
"Aku aja yang bikin susu Ra kamu sini aja sama Nathan nanti aku buat dua sama untuk Nathan juga." Kata Devano
Adara tersenyum dan mengangguk lalu menatap Devano yang berjalan keluar kamar bersama dengan Nadhin.
"Amaa"
Nathan memanggilnya membuat Adara tersenyum lalu menghampirinya.
"Ngantuk belum ganteng?" Tanya Adara
Nathan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku mau tidulan di kacul Ama." Kata Nathan
Adara tertawa lalu membiarkan Nathan naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.
Adara duduk di tepian ranjang dia mengusap kepala anak itu dengan sayang lalu mencium keningnya membuat Nathan tersenyum.
Anak itu memang sangat manis, dia terlihat mirip dengan Devano, tapi juga sedikit mirip dengannya, ya perpaduan yang sempurna.
°°°°
Haiiii🥰