My Possessive Twins

My Possessive Twins
85 : Cepat Sembuh Sayang



Menahan nafasnya Devina merasa perih juga sakit pada tangan dan kakinya ketika seorang dokter tengah mengganti perbannya. Sebentar lagi dia akan pulang ke rumah, tapi sebelum itu perbannya diganti lebih dulu dan sekarang sudah ada Devano juga Kakaknya yang menunggu sedangkan orang tuanya sedang mengurus administrasi.


Mata Devina berkaca-kaca dia ingin menangis karena merasa begitu perih dan ketika selesai Sahara langsung mendekat sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang. Nafas Devina tak beraturan dia menahan perih juga sakit ditangan serta kakinya ditambah lagi tubuhnya juga terasa sakit.


Melihat hal itu Devano merasa sangat sedih juga bersalah, dia tidak pernah melihat Devina seperti itu sebelumnya. Biasanya Devina hanya sakit seperti alergu kambuh, flu, atau demam dan tidak pernah mengalami luka seperti sekarang.


"Sakit hmm?" Tanya Sahara pelan


Devina hanya mengangguk singkat dan membuat Sahara memeluknya dengan hati-hati. Tadi malam dia diberi kabar dan mendengar itu semua membuat Sahara begitu panik hingga memaksa untuk pergi ke rumah sakit saat itu juga, tapi ketika orang tuanya mengatakan Devina akan pulang besok dia sedikit tenang.


Dia takut seperti Devano dulu di rawat karena kecelakaan hingga harus mendapatkan perawatan selama satu minggu lamanya.


"Perih Kak." Kata Devina pelan


"Iya tahan ya? Nanti sembuh kok." Kata Sahara


Beberapa saat setelahnya orang tua mereka datang dan mengatakan kalau Devina sudah bisa pulang. Membantu Devina untuk duduk di kursi roda Devano mendorong kursinya menuju parkiran.


Sampai di parkiran Devina dibantu untuk berdiri dan duduk, tapi gadis itu meringis kesakitan membuat Devano jadi cemas.


"Sakit Vin?" Tanya Devano panik


"Emm sedikit"


Setelah masuk ke dalam mobil Devina menghela nafasnya lega dia ada ditengah-tengah antara Sahara dan Devano, sedangkan Fahisa duduk di depan. Selama perjalanan Devina hanya diam dan menyandarkan kepalanya di bahu Sahara sambil berusaha untuk memejamkan matanya.


Sekarang sudah pukul sembilan pasti sekolah sudah masuk dan itu artinya Devano tidak berangkat ke sekolah, karena dirinya. Perlahan mata Devina terasa begitu berat hingga dia mulai terlelap dengan nafas teratur.


"Pasti sakit sekali." Kata Sahara sedih


Dia tau kalau Devina hampir tidak pernah terluka dan pasti mendapat luka yang cukup banyak seperti sekarang membuat gadis itu merasakam sakit yang teramat sangat.


"Tadi malam dia berkali-kali bangun." Kata Fahisa sambil menghela nafasnya pelan


Berkali-kali Devina memang terbangun dan mengeluh sakit, tapi tidak menangis selain itu Devina juga mengatakan kalau dia merasa tidak nyaman. Rumah sakit memang tempat yang sangat tidak dia sukai dan berada disana semalaman membuat Devina tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Padahal Vina sama Vano sebentar lagi ulang tahun." Kata Sahara lagi


Devano menghela nafasnya pelan lalu meraih tangan Devina yang ada di atas pahanya dan menggenggam dengan begitu lembut.


Dia benar-benar merasa bersalah.


"Sepertinya Mommy harus menemani Vina tidur beberapa hari ini." Kata Fahisa


"Vano saja." Kata Devano yang sejak tadi diam


Biar dia saja yang menemani Devina dan menjaganya.


Perkataan Devano membuat Fahisa tersenyum, tapi tidak mengatakan apapun dia akan tetap menemani anaknya dan kalau Devano masih bersikeras dia akan mengizinkan.


Dia tau kalau Devano sangat mengkhawatirkan kembarannya dan lagi mereka saudara kembar.


Katanya saudara kembar itu memiliki ikatan yang sangat kuat.


"Setelah Devina membaik dan mulai sekolah Daddy yang akan mengantar jemput kalian sampai selesai ujian." Kata Daffa


Devano tidak melayangkan protes dan hanya diam saja, dia akan menurut pada perkataan Daddy nya.


Melihat Devano yang diam dengan mata yang memancarkan kesedihan membuat Sahara juga ikut sedih. Apalagi ketika melihat tangan Devano yang menggenggam tangan Devina dengan lembut sambil sesekali mengusapnya.


Saat mereka sampai di rumah Sahara dengan hati-hati membangunkan adiknya dan Devina perlahan membuka matanya. Menyadari kalau mobil yang dia naiki sudah berhenti Devina mengalihkan pandangannya dan ternyata mereka sudah sampai.


"Bangun dulu sebentar ya?" Kata Fahisa


"Heem"


Dengan bantuan Devina kembali duduk di kursi roda dan Devano langsung mengantarnya ke kamar. Sampai di kamarnya Devina kembali berbaring di ranjang lalu memejamkan matanya lagi.


Sahara langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya hingga ke pundak lalu mencium puncak kepalanya dengan lembut. Mata Devina kembali terbuka lalu tersenyum tipis sambil menatap Kakaknya.


"Mau tidur lagi?" Tanya Sahara


"Temenin." Kata Devina


Sahara tersenyum dan mengangguk singkat lalu berbaring di sisi ranjang lainnya.


"Tidur ya? Biar cepet sembuh." Kata Sahara


Devina bergumam pelan dan memejamkan matanya lagi dengan Sahara yang terus mengusap rambutnya.


Tak butuh waktu lama Devina kembali terlelap membuat Sahara juga Devano merasa lega. Mungkin tadi Devina terus merasa sakit karena perbannya baru diganti juga habis di kasih obat.


Semakin Devina terlalap Sahara beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati lalu menghampiri Devano yang duduk di sofa. Tadi Fahisa bercerita kalau Devano kemarin dimarahi oleh Daffa hingga tidak diizinkan bertemu Devina bahkan disalahkan.


Sahara mengerti kalau Daddy nya marah, tapi bukankah itu sedikit kerterlaluan adiknya ini juga pasti sangat cemas kemarin.


"Tidur Vano, mata kamu merah." Kata Sahara membuat Devano mendongak dan tersenyum


"Nanti Kak aku belum mengantuk." Kata Devano


Menghela nafasnya pelan Sahara membawa adiknya itu ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan sayang.


"Vano jangan salahkan diri kamu sendiri ya? Semua ini bukan salah kamu dan bukan salah siapapun juga." Kata Sahara


Devano memejamkan matanya dan bergumam pelan, dia tidak bisa berhenti menyakahkan dirinya sendiri.


"Kakak tau kamu pasti sedih dan merasa bersalah karena melihat Devina, tapi ini bukan salah kamu ini semua kecelakaan Vano." Kata Sahara dengan lembut


"Iya Kak"


"Di sini saja Kak." Kata Devano


"Baiklah, tapi harus tidur ya? Mata kamu merah nanti malah sakit." Kata Sahara yang dijawab dengan anggukan oleh adiknya


Mencium kening Devano pelan barulah Sahara melangkahkan kakinya keluar dan membiarkan Devano menemani kembarannya.


Wajah Devano terlihat berbeda meskipun dia memang jarang berekspresi, tapi wajah sedihnya tidak bisa disembunyikan.


Sahara yakin adiknya itu pasti menangis ketika malam.


¤¤¤


Selama di sekolah Ziko benar-benar tidak tenang karena mengetahui kalau kekasihnya habis kecelakaan dan rasanya dia mau kabur saja dari sekolah. Makanya sesaat setelah bel pulang berbunyi Ziko langsung bergegas keluar dari kelas dan berlari ke parkiran untuk pergi ke rumah kekasihnya.


Melajukan motonya dengan kecepatan cukup tinggi Ziko sampai di rumah Devina dalam waktu lima belas menit dan setelah memarkirkan motornya dia pergi menuju pintu utama lalu memgetuk pintu. Saat pintu terbuka Ziko melihat Kakak dari kekasihnya yang tengah menggendong seorang anak laki-laki.


Refleks Ziko menunduk dan menyapanya dengan ramah membuat Sahara tersenyum dan mempersilahkannya untuk masuk. Ziko duduk di ruang tamu dengan Sahara yang duduk dihadapannya lalu dia mengatakan kalau Devina sedang membersihkan diri.


"Tunggu ya Devina lagi ganti baju." Kata Sahara


Ziko mengangguk faham dan memperhatikan anak laki-laki yang sekarang sedang meronta untuk diturunkan. Menghela nafasnya pelan Sahara menurunkan anaknya yang sekarang berjalan ke arah Ziko.


"Ehh"


Sedikit terkejut Ziko mengusap pipi anak itu dengan lembut yang entah kenapa malah membuat Airlangga tertawa.


"Dia tau kalau kamu kekasih Aunty nya." Kata Sahara membuat Ziko tersenyum canggung


"Em Kak aku boleh tanya?" Kata Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh Sahara


"Vina.. dia bagaimana keadaannya?" Tanya Ziko


"Tangan dan kakinya luka kemarin malam dia hampir tidak bisa tidur, tapi sekarang sudah lebih baik." Kata Sahara


Mengangguk faham Ziko mendongak ketika mendengar suara orang tua kekasihnya dan dia langsung beranjak unthk mencium punggung tangan Fahisa dengan sopan. Tersenyum manis Fahisa mengatakan kalau Ziko mau menemui anaknya dia ada di kamar karena Devina belum bisa keluar kamar.


Tersenyum singkat Ziko langsung pergi ke kamar kekasihnya dan dia dapat melihat Devina yang berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Tangan gadis itu diperban membuat Ziko jadi cemas dan dia langsung memanggil Devina lalu bergegas menghampirinya.


"Vina"


Sedikit tersentak Devina tersenyum ketika melihat kekasihnya datang, baru saja dia mengeluh bosan.


"Ehh kamu udah pulang sekolah?" Tanya Devina pelan


"Udah, kamu kenapa Vin? Harusnya kemarin telpon aku biar aku yang anter kamu." Kata Ziko sedih


"Kemarin kan kamu ke rumah Nenek kamu." Kata Devina sambil tersenyum


Menghela nafasnya pelan Ziko mengusap pipi kekasihnya dengan sayang dan menyentuh pelan luka di sudut bibir Devina.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Ziko


"Hmm sudah lebih baik, tapi kalau habis ganti perban sakit banget aku mau nangis." Kata Devina jujur


"Cepet sembuh sayang." Kata Ziko sedih


Devina tersenyum dan mengangguk singkat.


Menoleh sebentar Ziko mendekatkan wajahnya dan mencium kening Devina sebentar ketika dia melihat tidak ada siapapun.


"Aku gak tenang di sekolah." Kata Ziko


"Aku enggak papa Ziko." Kata Devina


"Kamu sakit"


"Iya, tapi sebentar lagi sembuh." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Ziko mengusap telapak tangan kekasihnya dengan lembut sambil menatapnya. Tersenyum manis Devina menanyakan teman-temannya dan Ziko menjawab kalau mereka akan segera kesini.


"Mereka nungguin Mona ngambil motor dulu." Kata Ziko


"Ziko mau minum." Kata Devina


Mengangguk singkat Ziko membantu Devina untuk duduk lalu memberikan minum yang ada di nakas.


"Udah capek tidur terus." Kata Devina ketika Ziko ingin membantunya untuk berbaring lagi


"Yaudah duduk aja." Kata Ziko


"Ziko peluk akuu." Kata Devina


"Boleh?" Tanya Ziko ragu


Dia takut malah menyakiti Devina nantinya, tapi Devina mengangguk dengan pasti.


"Emm, tapi pelan-pelan." Kata Devina


Tersenyum senang Ziko memeluk kekasihnya dengan hati-hati dan membuat Devina tersenyum senang.


"Cepet sembuh sayang"


Devina tersenyum dan mengangguk singkat dalam pelukan kekasihnya.


¤¤¤


Hmm baru satu yaa inii masih ada lagii😂