My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (43)



Senyum manis Devina mengembang sesaat setelah mata kuliah pertama selesai dan tugasnya telah di kumpul, untung Devano tadi malam membantu dia jadi Devina tidak mengantuk di dalam kelas. Sekarang dia akan pergi ke kantin untuk makan siang sambil menunggu jam selanjutnya yang masih satu jam lagi.


Seperti biasa Devina akan pergi bersama kedua temannya sambil mengobrol masalah tugas yang menumpuk dan mereka yang sebentar lagi akan menghadapi ujian. Rasanya baru kemarin, tapi ternyata sudah lebih dari tiga bulan mereka kuliah.


Ada banyak sekali kejadian kurang menyenangkan yang dihadapi Devina, tapi dia sedang berusaha melupakan semuanya dan Devina juga tidak mau lagi mengingatnya. Meskipun tidak mau bohong Devina masih sering ketakutan ketika dia hanya sendirian.


"Devina"


Panggilan itu membuat Devina menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakang dan melihat Kakak tingkatnya yang berjalan menghampirinya. Raut wajah Devina langsung berubah datar karena melihat Lucas.


"Kenapa Kak?" Tanya Devina tidak suka


"Kemarin aku masuk kelas terus nemuin ini, punya kamu kan?" Tanya Lucas sambil memberikan buku yang memang milik Devina


Buku antalogi puisi yang kemarin memang tertinggal dan Devina cari kemana-mana, tapi tidak menemukannya.


"Ada nama kamu di dalamnya makanya aku bawa." Kata Lucas


"Makasih Kak." Kata Devina sambil tersenyum


"Iya, tadinya mau kasih tau lewat chat atau dm cuman lupa semua kontak aku kamu blokir." Kata Lucas yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis olehnya


"Em makasih ya Kak sekali lagi kalau gitu aku duluan." Kata Devina


"Vin"


"Iya?"


"Boleh buka blokir aku?" Tanya Lucas


"Maaf Kak aku...."


"Aku gak bakal aneh-aneh dan gak bakal hubungin kamu kalau bukan hal yang penting." Kata Lucas dengan penuh harap


Devina terdiam sebentar lalu mengangguk singkat dan mengajak yang lainnya untuk segera pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Sungguh Devina sangat tidak bisa melihat wajah penuh permohonan seperti itu, dia tidak bisa menolaknya.


Tetap saja dia akan mengatakan pada Ziko dan Devano dulu nantinya.


Begitu sampai di kantin Devina segera duduk bersama dengan Intan dan Hanifa pergi untuk memesan makan juga minuman.


"Vin jangan buka deh blokirnya nanti lo kena marah sama cowok dan kembaran lo lagi." Kata Intan


"Em nanti aku juga bilang kok ke mereka." Kata Devina sambil tersenyum


"Eh lo kapan mau tunangannya?" Tanya Intan


"Minggu depan." Kata Devina dengan senyuman manisnya


"Gue diundang enggak nih?" Tanya Intan


"Enggak Hanifa aja yang diundang." Canda Devina membuat Intan mendengus kesal


"Oh gitu yaudah gue...."


"Ambekan ih Intan mah aku kan cuman bercanda." Kata Devina sambil tertawa kecil


"Kiraiin beneran gue marah sih kalau lo gak ngundang gue." Kata Intan


"Enggak mungkin dong." Kata Devina


"Vin lo sama Ziko pernah berantem gitu gak sih? Kayaknya gue lihat lo sama dia akur terus." Kata Intan membuat Devina tersenyum ketika mendengarnya


"Ya pernah lah masa enggak pernah, tapi jarang terus gak pernah lama-lama juga." Kata Devina


"Siapa yang sering ngalah Vin?" Tanya Intan lagi


"Ziko"


Mendengar hal itu Intan berdecak kagum beberapa kali dia memiliki kekasih, tapi setiap ada masalah dia yang selalu mengalah dan meminta maaf bahkan meskipun dia tidak salah.


Tak lama setelahnya Hanifa datang dan bersama seorang pegawai kantin membawa pesanan mereka. Begitu melihat makanannya di meja Devina tersenyum senang dia memang sudah lapar karena ini sudah waktu makan siang.


Mereka memakan makanan masing-masing dalam diam tanpa mengatakan apapun hingga ponsel Devina yang ada di atas meja bergetar. Mengambil ponselnya Devina tersenyum kala melihat nama Ziko disana dan dia berhenti makan untuk sejenak karena mau membalas pesan kekasihnya.


Vina sayangg


Kamu pulang jam berapa?


Mau ke rumah aku dulu gak?


Iya Zikoo


Em Vina pulangnya jam empat dan Vina mauu main ke rumah Ziko


Tak butuh waktu lama bagi Devina untuk mendapat balasan dari kekasihnya.


Nanti aku jemput ya sayang


Iya Vina tungguin♡


Tersenyum manis Devina meletakkan ponselnya lagi dan melanjutkan makan siangnya dengan penuh semangat. Rasanya hampir setiap hari Devina dan Ziko pergi bersama entah ke luar atau ke rumah salah satu dari mereka, tapi Devina sangat suka.


Menghabiskan waktu bersama dengan Ziko adalah hal yang menyenangkan.


¤¤¤


"LICIK!"


Ziko tertawa ketika Devina berseru kesal lalu memukul lengannya karena tidak terima kalah ketika sedang bermain game. Sekarang mereka memang berada di rumah Ziko lalu kekasihnya itu mengajak Devina untuk bermain play station yang ada di ruang tengah.


Bukan permainan sulit dan Ziko juga sudah mengajari Devina, tapi berkali-kali main kekasihnya itu tetap saja kalah dan hal itu ternyata membuat Devina kesal. Mengerucutkan bibirnya sebal Devina meletakkan stik ps nya di karpet lalu merengek pada Ziko.


"Masa kalah! Ziko pasti mainnya curang." Keluh Devina


"Ishh Ziko yang curang!" Kata Devina galak


"Kok aku sih Vinaa?" Tanya Ziko


"Ya emang Ziko pokoknya Ziko yang salah! Ziko curang kann?!" Tuding Devina


Bukan menjawab Ziko malah tertawa melihatnya lalu mencubit pipi Devina dengan gemas.


"Ish jangann!" Kata Devina galak


"Aku gak..."


"Curang! Pokoknya Ziko curang!" Kata Devina


Menggelengkan kepalanya pelan akhirnya Ziko mengangguk saja dan mengalah dari pada malah berdebat.


"Iya yaudah aku curang." Kata Ziko


"Ya emang curang." Kata Devina


"Sini peluk." Kata Ziko


Mengerucutkan bibirnya sebal Devina mendekat dan memeluk kekasihnya membuat Ziko tersenyum sambil mengeratkan pelukannya lalu mencium puncak kepala Devina dengan sayang.


Cukup lama hingga suara dehaman terdengar membuat Devina melepaskan pelukannya dan menjauh dengan wajah panik. Sedangkan Ziko terlihat biasa dia mendongak dan menatap Mama nya yang ternyata baru pulang dari arisan bersama teman-temannya.


Wajah Devina memerah karena malu dia menunduk dan tidak mau mendongak.


"Ya ampun anak Mama lagi ngebucin." Goda Nazwa


Ziko tertawa mendengarnya, tapi Devina semakin menunduk karena merasa malu.


"Devina kenapa nunduk gitu?" Tanya Nazwa


Menggigit bibir bawahnya pelan Devina mendongak dengan wajah memerah hingga ke kupingnya lalu mengatakan hal yang membuat Ziko juga Nazwa tertawa mendengarnya.


"Vina maluu"


Ya ampun bagaimana bisa ada wanita yang begitu menggemaskan seperti Devina?


¤¤¤


"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun pada Daddy?!"


Suara Daffa yang begitu keras terdengar hingga ke telinga Devina dan membuat dia yang baru saja sampai ke rumah langsung berlari ke dalam. Saat mendengar suara itu lagi ternyata suaranya berasal dari kamar Devano dan hal itu membuat Devina bergegas pergi ke kamar kembarannya.


Begitu sampai disana Devano terlihat sedang berdiri di hadapan Daffa yang sepertinya sangat marah dan di belakang mereka juga ada Fahisa yang berusaha menenangkan Daffa agar tidak marah. Sama sekali tidak ada sahutan hingga Daffa kembali membentaknya dan membuat Devina memundurkan sedikit langkahnya karena kaget.


Dada Devina terasa sesak hingga dia berteriak kencang dan berlari masuk lalu memeluk Devano masih dengan membawa tasnya.


"DADDYY"


Mereka terlihat kaget dengan kehadiran Devina yang tiba-tiba datang apalagi ketika Devina melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan Devano.


"Jangan marahin Vano!" Kata Devina


"Devina awas." Kata Daffa sambil memejamkan matanya sebentar


"Enggak! Daddy gak boleh marahin Vano!" Kata Devina


"Vina aku gak papa kamu keluar dulu." Kata Devano membuat Devina mendongak untuk menatapnya


Menggelengkan kepalanya dengan cepat Devina kembali menatap Daffa juga Fahisa yang kini menatapnya.


"Daddy gak boleh marahin Vano." Kata Devina lagi


"Devina, keluar Daddy mau bicara sama Vano berdua." Kata Daffa


"Enggak! Daddy jahat bentak-bentak Vano." Kata Devina


"Fahisa bawa Devina keluar." Pinta Daffa


"Mas"


"Sekarang Fahisa!" Tekan Daffa membuat Fahisa menghela nafasnya pelan


"Vin aku gak papa keluar ya? Aku mau bicara sama Daddy." Kata Devano


"Enggak! Vina gak mau keluar! Mommy pokoknya Vina gak mau keluar." Kata Devina sambil menarik tangannya dan kembali memeluk Devano


"Devina! Kamu dengar Daddy atau tidak?!" Tanya Daffa marah


Kali ini Devina menoleh dan menatap Daddy nya dengan takut bahkan dia langsung mempererat pelukannya pada Devano.


"Vin keluar sebentar ya? Aku janji habis ini bakal ceritaiin semuanya sama kamu." Kata Devano


"Vina sayang ayo ikut Mommy ya? Biarkan Daddy sama Vano bicara jangan cemas hmm? Daddy gak akan marahin Vano." Kata Fahisa


"Daddy tadi bentak Vano! Aku dengar dari bawah!" Kata Devina


"Vina sebentar aja aku mohon." Kata Devano


Menjauhkan tubuhnya Devano mengusap pipi Devina sebentar sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Vina gak mau bicara sama Daddy kalau Daddy bentak Vano lagi!"


¤¤¤


Hah kenapa itu Daddy Daffa marahin Vanooo😱😱