My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (1)



Asing


Hanya satu kata itu yang bisa Devina gambarkan ketika untuk pertama kalinya dia duduk di kelas pada awal perkuliahan. Beberapa mahasiswa sibuk berbincang sedangkan Devina hanya diam, dia sulit untuk memulai percakapan Devina terlalu malu dia hanya berharap akan ada yang menegurnya.


Sebelumnya dia sudah mengenal beberapa orang, tapi mereka tidak ada disini sekarang dan Devina merasa asing dengan mereka yang sama sekali tidak dia kenal. Sudah dia katakan bahwa dia sulit mendapatkan teman baru rasanya Devina ingin kembali pada masa SMA aja dimana ada Mona dan yang lainnya.


Sungguh Devina berharap akan ada dosen yang masuk atau orang yang mengajaknya bicara sehingga dia tidak terlihat seperti anak hilang. Mereka semua terlihat saling mengenal, tapi Devina tidak karena dia tidak mengenal siapapun.


Sampai akhirnya seseorang datang dari arah pintu dan duduk disampingnya lalu menatap sebentar, raut wajahnya datar sama seperti dulu ketika Devina pertama kali melihat Adara. Senyum tipis Devina terbentuk, tapi tidak dengan orang itu dia hanya diam lalu sesaat setelahnya mengulurkan tangan.


"Hai"


Sapaannya datar gadis itu benar-benar tidak berekpresi, tapi Devina menyambut uluran tangannya.


"Hai"


"Hanifa"


Devina fikir dia menyebutkan namanya, jadi Devina juga melakukan hal yang sama.


"Devina"


Mengangguk singkat gadis bernama Hanifa menarik tangannya dan diam tidak mengajak bicara lagi membuat Devina menghela nafasnya pelan. Sudah lima belas menit berlalu dari jam seharusnya kelas berlangsung akhirnya Devina mengeluarkan ponselnya, tapi tidak ada satupun pesan.


Mereka juga pasti sama sibuk dengan hari pertama kuliahnya atau sibuk dengan teman-teman barunya.


"Sekolah dimana?"


Pertanyaan itu membuat Devina menoleh dan melihat Hanifa yang masih dengan raut wajah sama.


"SMA Kencana, kamu?" Tanya Devina


"SMA 01"


Hanya jawaban singkat itu Devina berdeham pelan lalu kembali bertanya agar dia tidak bosan.


"Disini ada teman kamu?" Tanya Devina


Hanifa mengedarkan pandangannya lalu menggelengkan kepala pelan.


"Enggak, temen lo?" Tanya Hanifa


"Mereka beda jurusan sama aku." Kata Devina


Sekali lagi Hanifa mengangguk lalu diam membuat Devina kembai berfikir hal apa yang perlu dia tanyakan.


"Kamu kost?" Tanya Devina


"Iya rumah gue jauh makanya kost." Kata Hanifa


"Emm kalau aku tinggal di rumah." Kata Devina


"Kenapa gak ngobrol sama mereka?" Tanya Hanifa sambil melirik ke belakang


"Mereka gak ajakin." Kata Devina pelan


"Ya lo yang nanya." Kata Hanifa


"Enggak bisa." Kata Devina sambil menghela nafasnya pelan


"Masih awal masuk gak usah sedih gitu orang-orang bakal nyari temen banyak, tapi semakin lama mereka bakal deket sama beberapa orang aja." Kata Hanifa


Devina menatapnya lalu tersenyum.


"Kamu gak mau ngobrol sama mereka juga?" Tanya Devina


"Gue? Enggak gue bukan tipe orang yang suka kumpul-kumpul gitu." Kata Hanifa


"Kamu suka baca atau nulis?" Tanya Devina mengalihkan pembicaraan


"Keduanya, gue suka baca buku dan nulis beberapa puisi juga kalau lagi senggang." Kata Hanifa


"Kamu suka menyendiri ya?" Tebak Devina


Hanifa mengangguk sebagai jawaban.


"Mungkin dosennya gak datang." Ujar Hanifa sambil melirik jam ditangannya


"Habis ini masih ada pelajaran lagi, tapi masih agak lama." Kata Devina


"Iya"


Devina setelahnya diam dan tidak bicara lagi, tidak enak dia lebih suka sekolah dimana ada Mona juga yang lainnya. Berkali-kali Devina memainkan jari-jari tangannya dia benar-benar bosan dan ingin pulang saja.


Entah berapa lama, tapi yang jelas ketika hanya tersisa beberapa menit lagi yang lainnya pada keluar kelas dan seseorang menepuk bahunya sambil mengatakan sesuatu.


"Dosennya gak datang"


Helaan nafas terdengar ketika Devina melihat kelas yang hampir kosong, susah untuknya mendapatkan teman baru. Disampingnya Hanifa sudah berjalan keluar kelas hingga Devina benar-benar sendirian.


Devina ingin menangis saja, tapi dia tersenyum tipis lalu berjalan keluar kelas. Tidak terlalu memperhatikan jalan dan sibuk dengan fikirannya sendiri tanpa sengaja Devina menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh.


"Ehh maaf"


Devina mendongak dan melihat seorang pria yang mengulurkan tangannya dengan ragu Devina menyambut uluran tangan itu dan berdiri.


"Maaf gue gak sengaja." Katanya


"Iya gak papa aku yang salah jalannya gak lihat-lihat." Kata Devina sambil tersenyum tipis


Orang itu terpaku ketika melihat Devina dan ikut menoleh untuk memperhatikan Devina yang berjalan menjauh lalu tersenyum tanpa sadar.


"Cantik"


Kembali pada Devina yang terlihat bingung harus pergi kemana memutuskan untuk ke perpustakaan utama sambil mencoba untuk menghubungi seseorang. Memasuki perpustakaan yang cukup ramai Devina duduk sebentar lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada teman-temannya yang mungkin juga sedang tidak ada kegiatan.


Tapi, tidak ada balasan.


Masih berusaha tersenyum Devina memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan pulang saja masih setengah jam lagi, cukup singkat sebenarnya karena rumahnya lumayan jauh.


Hanya saja Devina tidak ada teman.


Begitu keluar dari perpustakaan dan berjalan ke arah gerbang sambil mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online Devina bertemu Hanifa.


"Ngapain?" Tanya Hanifa


"Mau pulang." Kata Devina pelan


"Rumahnya deket memang?" Tanya Hanifa


Devina menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Aku kira kamu udah pulang." Kata Devina


"Habis ketemu temen kalau jauh gak usah pulang, ikut gue aja mau?" Kata Hanifa


Dengan cepat Devina menganggukkan kepalanya.


"Yuk kost gue deket kok jalan juga sampe." Kata Hanifa


"Gue kira lo mau ketemu temen lo tadi, ternyata malah mau pulang." Kata Hanifa


"Teman aku beda fakultas semua." Kata Devina


"Lo itu cantik kalau mau nyari temen pasti gampang." Kata Hanifa


"Enggak, aku malah susah cari teman." Kata Devina pelan


Sekitar lima menit berjalan sambil berbincang singkat akhirnya mereka sampai di salah satu kost yang cukup besar. Devina hanya mengikuti Hanifa yang naik melalui tangga dan masuk di kamar nomor 24.


Ruangannya cukup besar dengan kamar serta lemari juga kamar mandi, tapi tidak membuat sempit. Setelah dipersilahkan Devina duduk di atas ranjang sambil mengedarkan pandangannya.


"Gue ada beberapa makanan ringan." Kata Hanifa sambil mengeluarkan dari dalam lacinya


Devina tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


"Kelas kamu sama semua kayak aku kan?" Tanya Devina


Hanifa mengangkat bahunya acuh lalu menyerahkan kartu rencana studinya yang ada di dalam map pada Devina dan memintanya untuk melihat sendiri. Senyum Devina mengembang ketika melihat bahwa kelas mereka sama semua.


"Aku mau minta nomor whats app kamu." Kata Devina sambil menyerahkan ponselnya


Mengangguk singkat Hanifa menuliskan nomornya disana lalu memberikan kembali ponselnya pada Devina.


"Hanifa"


"Iya"


"Mau jadi teman aku gak?" Tanya Devina membuat Hanifa tertawa kecil mendengarnya


"Lo kayak anak sd tau gak?" Ledeknya


Devina diam dengan wajah cemberut, kenapa orang-orang selalu menganggapnya anak kecil?


"Aku gak punya teman di kelas." Kata Devina


"Yaudah terserah lo." Kata Hanifa


Devina tersenyum mendengarnya lalu mengeluarkan ponselnya yang bergetar ada beberapa balasan dari temannya, tapi Devina memilih untuk tidak membalasnya.


Mona : Maaf Vin gue baru bubar kelas


Nayla : Gue habis dari kantin Vin


Cessa : Maaf ya Vin baru buka hp


Tersenyum singkat Devina memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas lalu mengajak Hanifa untuk mengobrol.


Ternyata dia tidak sedingin itu juga Hanifa menyenangkan apalagi untuk membicarakan masalah buku.


Devina mungkin sudah mendapatkan seorang teman.


¤¤¤


"Gimana kuliahnya?"


Pertanyaan itu diajukan oleh Devano ketika dia menyusul kembarannya ke depan kelas Devina tepat pukul dua siang dan tentu saja Devano selalu menjadi pusat perhatian. Jawaban yang Devina berikan hanya senyuman lalu dia mengajak Devano untuk segera pulang sambil melambaikan tangannya pada Hanifa.


Mereka semua seolah memiliki dunia masing-masing Devina hanya mengobrol dengan Hanifa saja, tidak ada yang berusaha mengajaknya berbincang. Selama perjalanan Devano merangkul kembarannya dengan sayang dan Devina merasa kalau ada yang memperhatikannya hingga dia menoleh hanya saja tidak ada siapapun disana.


"Mau langsung pulang?" Tanya Devano


Devina mengangguk singkat dan begitu sampai diparkiran Devano memakaikan helm untuknya. Naik ke atas motor Devina berpegangan ketika Devano mulai melaju meninggalkan area kampus.


Jarang kampus dengan rumahnya cukup jauh memakan waktu sekitar dua puluh menit. Selama perjalanan Devina diam dengan fikiran yang berkelana.


Hanifa baik, tapi dia sedikit terkejut ketika melihat kotak rokok di kamar kostnya apalagi ketika Hanifa mengatakan itu miliknya. Sungguh Devina yakin kalau Devano tau dia akan melarangnya untuk dekat dengan Hanifa.


Hanya saja dia sangat baik dan tidak membawa pengaruh apapun.


'gue gak pernah ngerokok di depan orang cuman kalau pas sendirian aja dan gak sering juga'


Sesampainya di rumah Devina bergegas pergi ke kamar lalu berbaring di atas ranjangnya dan mengeluarkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari kekasihnya yang membuat Devina tersenyum.


Sayangnya Ziko


Gimana kuliahnya? Udah pulang belum?


Aku baru sampai rumah dan tadi gak deket-deket sama cewek kok


Kangen, mau peluk Vinaa


Menekan ikon telpon Devina meletakkan ponselnya di telinga dan senyumnya semakin mengembang ketika suara Ziko terdengar.


'Gimana kuliahnya sayang?'


"Hmm baik kok, Ziko gimana?" Tanya Devina


'Baik juga, kamu deket-deket sama cowok gak?'


"Enggak Ziko." Kekeh Devina


'Kangen nih Vin nanti malam keluar yuk? Jalan-jalan ke pasar malam gimana?'


"Mauuu." Kata Devina senang


'Jam tujuh ya cantik nanti aku jemput'


"Siap Zikoo"


Mengobrol cukup lama di telpon mereka baru berhenti ketika suara Nazwa terdengar dan begitu panggilannya di matikan Devina melirik chatnya yang bermunculan. Ada grup kelas yang baru saja dibuat dan beberapa pesan masuk yang meminta dia untuk menyimpan nomor lalu chat yang baru saja masuk.


Devina ya?


Devina memilih untuk mengabaikannya dan membuka chat bersama teman-temannya yang hanya ada balasan Mona disana.


Baik-baik temennya


Gue nemu temen yang kayak Cessa haha mirip banget sumpah


Balasan itu membuat senyum Devina pudar dan memilih untuk tidak memberikan balasan lalu memejamkan matanya.


Masih hari pertama kuliah bukan masalah dia akan terbiasa nantinya.


¤¤¤


Selamat datang di musim kedua My Possessive Twins😚


Tetap ya tentang si kembar dan bakal tetap ada Ziko, Adara sama yang lainnya juga😉


Masih update lagi kok tunggu aja ya😚


Devina : Temenin dong Vina gak punya temen😢