My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (5)



Devano memangku gitar kesayangannya dan memetik senar perlahan sambil bersenandung pelan memyanyikan sebuah lagu biasanya selalu ada yang mendengarkan, tapi kali ini tidak Devano hanya bernyanyi sendirian. Kebiasaan ini memang sering dia lakukan kalau lagi di kamar sendirian karena sekarang jarang ada Devina yang datang ke kamar untuk mengganggunya.


Jujur saja Devano sering kali merindukan kembarannya karena biasanya lebih dari tiga kali Devina masuk ke dalam kamar untuk mengganggunya. Namun, Devano akui seiring berjalannya waktu dia sudah mulai terbiasa ya meskipun Devano sering sekali merindukan kembarannya.


Saat tengah asik bernyanyi suara pintu kamar yang dibuka terdengar membuat Devano mendongak dan melihat Fahisa yang berjalan masuk ke dalam. Tangannya terhenti memetik gitar Devano tersenyum pada Mommy nya yang masuk ke dalam kamar dan duduk disampingnya.


"Kok berhenti nyanyinya?" Tanya Fahisa dengan penuh kelembutan


"Kan ada Mommy." Kata Devano membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


"Suara kamu bagus." Kata Fahisa


"Banyak yang bilang gitu Mom." Kata Devano bangga


"Kamu sering nyanyi untuk Vina?" Tanya Fahisa


"Vina yang sering minta dinyanyiin." Kata Devano


Fahisa tersenyum lalu mengusap rambut anaknya dengan sayang.


"Daddy mana?" Tanya Devano


"Ada di kamar lagi mandi." Kata Fahisa


"Mom"


"Iya?"


"Mommy masak apa?" Tanya Devano


"Hm masak semur ayam." Kata Fahisa


"Vano lapar." Kata Devano membuat Fahisa terkekeh mendengarnya


"Mau makan duluan? Daddy masih mandi dulu." Kata Fahisa


"Nanti aja bareng-bareng Mom." Kata Devano


Fahisa mengangguk singkat lalu menatap anaknya yang sekarang menaruh gitar di dekat sofa dan mendekat padanya. Senyuman manis Devano terbentuk dan tanpa mengatakan apapun dia menyandarkan kepala dibahu Fahisa sambil memeluk lengannya.


Manja sekali seperti Devina dulu.


"Menurut Mommy aku manja gak?" Tanya Devano membuat Fahisa tertawa mendengarnya


"Kenapa nanya gitu?" Tanya Fahisa


"Gak tau kayaknya belakangan ini Vano jadi manja deh." Kata Devano jujur


"Hm sedikit kamu sedikit manja." Kata Fahisa sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang


"Iya ke Mommy kalau ke Daddy gak berani." Kata Devano


"Kenapa gak berani?" Tanya Fahisa


"Enggak berani lah Mom kalau sama Daddy bisa-bisa aku malah di marah masa cowok manja." Kata Devano


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa mencubit pipi Devano dengan gemas.


"Kamu kangen sama Vina?" Tanya Fahisa


"Banget, tapi besok kita mau ketemu di kampus soalnya Vina juga mau ke kampus." Kata Devano


"Wah seneng dong sampaikan salam Mommy ya?" Kata Fahisa


"Iya nanti Vano bilang." Kata Devano


"Nanti kalau kamu udah menikah tinggalnya disini aja, jadi Mommy tetap gak kesepian karena ada Adara jangan pindah apalagi tinggal jauh-jauh." Kata Fahisa


"Iya Mom padahal Daddy juga selalu bilang kayak gitu ke Vano." Kata Devano


"Daddy bilang gitu?" Tanya Fahisa


"Iya sering banget bilang kayak gitu ke Vano kalau Vano sih nurut aja." Kata Devano


"Iyalah harus nurut kalau kamu pindah nanti siapa yang bakal ngisi rumah segede gini masa cuman Mommy sama Daddy terus Bibi." Kata Fahisa


"Iya Mom lagian belum tau juga kapan." Kata Devano


"Gak papa jangan dipaksa Adara nya kalau belum siap." Kata Fahisa


"Iya Mommy sayang aku gak pernah maksa Adara kok yang penting aku sama dia kan udah tunangan." Kata Devano


Fahisa tersenyum mendengarnya lalu mengusap kepala Devano dengan sayang.


"Yaudah kita turun sepertinya Daddy sebentar lagi selesai." Kata Fahisa


Devano mengangguk patuh lalu menyambut uluran tangan Fahisa dan keduanya bersama-sama pergi ke ruang makan. Selagi Devano duduk di ruang makan Fahisa bersama Bibi menyiapkan meja makan dan tak lama setelahnya Daffa turun.


Pria paruh baya itu tersenyum lalu menepuk pelan pundak anaknya membuat Devano tersenyum padanya. Setelah Devina pindah Daffa merasa sangat kehilangan karena tidak ada anaknya yang selalu bermanja padanya kalau Devano sih tidak pernah.


"Besok jadi ke kampus?" Tanya Daffa setelah duduk di dekat anaknya


"Jadi Dad besok kebetulan Devina juga mau ke kampus dan Vano udah janjian mau ketemu sama dia." Kata Devano membuat Daffa menatapnya dengan senyuman


Rindu sekali Daffa dengan anaknya.


"Devina? Sampaikan salam Daddy untuk dia ya? Bilang Daddy rindu sekali sama dia dan minta Vina untuk sesekali main ke rumah." Kata Daffa


"Iya Dad"


"Eh udah selesai Mas? Yaudah kita langsung makan malam aja." Kata Fahisa yang baru datang dari dapur


Daffa tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mereka bertiga makan bersama tanpa ada percakapan.


Ya Devano jarang berbicara beda dengan Devina yang selalu memulai percakapan.


Suasana rumah memang berbeda tanpa ada Devina.


¤¤¤


Senyuman manis Devano mengembang dengan sempurna begitu melihat kembarannya yang berdiri tidak jauh darinya, mereka janjian untuk bertemu di kantin. Saat kembarannya itu mendekat dan berdiri dihadapannya Devano langsung mendapatkan pelukan yang sangat erat dari Devina.


Setelah merasa cukup kembarannya itu melepaskan pelukannya lalu menatap Devano dengan senyuman dan perlahan tangan Devano terulur untuk mengusap kepala Devina dengan sayang. Mata mereka saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama sampai Devano memutuskan untuk memesan sesuatu, mereka hanya pesan minum saja karena Devina bilang dia masih kenyang.


Devano rindu sekali pada Devina.


"Vanoo apa kabar?" Tanya Devina membuat Devano tertawa mendengarnya


Untuk apa Devina menanyakan kabar?


Lucu sekali.


"Vina kangen banget sama Vano rasanya udah lama banget kita enggak ketemu." Kata Devina sambil menatap kembarannya itu dengan sendu


"Gak boleh sedih." Kata Devano dengan tangan yang mencubit gemas pipi kembarannya


"Ish masih aja nyebelin." Kata Devina sebal


"Pipi kamu nambah tembem." Kata Devano


Devina mengerucutkan bibirnya sebal ketika Devano terus mencubit pipinya, tapi Devano tidak bohong dengan mengatakan bahwa Devina lebih berisi sekarang.


"Ishh udahh"


Tertawa kecil Devano menjauhkan tangannya lalu menatap Devina lagi.


"Mommy sama Daddy gimana?" Tanya Devina


"Mereka baik Vin jangan khawatir." Kata Devano membuat Devina tersenyum senang


"Vano sama Adara juga gimanaa?" Tanya Devina lagi


"Apalagi itu baik banget." Kata Devano membuat Devina tertawa mendengarnya


"Vano kesini sendirian?" Tanya Devina


"Hmm sendirian terus ini lagi nungguin Alex dari tadi bilang lagi dijalan terus." Kata Devano


Devina mengangguk faham dan tak lama setelahnya minuman yang Devano pesan datang.


"Kamu betah kan disana?" Tanya Devano ketika kembarannya itu kembali menatapnya


Devano masih selalu merasa khawatir dan takut kalau saja Devina tidak betah tinggal disana, dia mau Devina merasa nyaman.


"Betah Vanoo." Kata Devina


"Sepi deh Vin gak ada yang ke kamar minta ditemenin sampai tidur lagi." Kata Devano


"Makanya Vano nikah sama Adara." Kata Devina


"Nanti habis lulus kuliah." Kata Devano


"Kenapa enggak sekarang?" Tanya Devina


"Dia belum siap, aku gak mau maksa Vin sama seperti tunangan aku gak memaksa Adara kalau dia memang belum siap gak papa." Kata Devano


"Vano baik banget." Kata Devina


"Kamu juga." Kata Devano sambil mencubit pipi Devina lagi


"Vano tau gak? Sekarang Vina sering bantuin Mama masak kalau di rumah enggak pernah soalnya Mommy gak kasih izin." Kata Devina


Kembarannya itu bicara dengan bangga membuat Devano tersenyum mendengarnya.


"Jadi kamu bisa masak?" Tanya Devano


"Enggak, Vina belum belajar cuman sering bantuin Mama aja." Kata Devina


Devano mengangguk faham lalu menatap Devina lagi dan tersenyum senang.


"Em Vano kata Papa yang bayar uang kuliah Vina itu Papa bukan Daddy lagi." Kata Devina


"Iya Vin kamu kan sudah jadi istrinya Ziko dan Papa nya Ziko memang bilang hal itu ke Daddy." Kata Devano


"Bilang apa?" Tanya Devina penasaran


"Bilang kalau kamu udah jadi tanggungan Papa nya Ziko juga karena kamu menantu di sana, istri dari anaknya." Kata Devano


"Vina kangen Daddy." Kata Devina tiba-tiba


Memang begitu Devina dia sering tiba-tiba mengubah arah pembicaraan.


"Nanti main ke rumah lagi kalau ada waktu." Kata Devano


"Heem nanti Vina bilang Ziko." Kata Devina


Devano tersenyum senang, dia juga sangat rindu suasana rumah dengan kehadiran Devina seperti biasanya.


"Vano nanti malam Vina mau makan malam lagi sama keluarganya Ziko." Kata Devina


"Kamu kan udah kenal sama mereka." Kata Devano


"Iya udah, tapi Vina takut." Kata Devina


"Kenapa takut?" Tanya Devano


"Gak tauu takut aja mungkin karena Vina kan baru dua kali makan malam sama keluarga besarnya Ziko." Kata Devina


"Kalau gitu jangan takut kan ada Ziko." Kata Devano


Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan sebuah suara terdengar membuat keduanya menoleh ke belakang.


Ternyata Alex.


"Ehh Alex apa kabar?" Tanya Devina dengan senyuman


Alex tersenyum lalu duduuk dihadapan keduanya.


"Baik dong"


"Lama banget Lex sampenya." Kata Devano


"Macet"


"Basi banget alesannya." Kata Devano sambil berdecak pelan


Alex hanya tertawa mendengarnya lalu dia pergi memesan minuman.


"Vano sama Alex enak ya? Ketemu terus kalau Vina sama yang lainnya jarang." Kata Devina


"Aku malah bosan Vin." Kata Devano


"Ih Vano gak boleh gitu nanti Alex ngambek." Kata Devina


Devano hanya tersenyum mendengarnya lalu mencubit gemas pipi kembarannya.


Rasanya sudah lama sekali dia tidak mencubit pipi Devina.


¤¤¤


Devano updateee💞