My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (19)



Rasanya cukup canggung bagi Juan untuk bertemu dengan Daffa karena sebelumnya dia pernah hampir membuat anaknya celaka lebih dari itu Juan juga pernah hampir memukul Devina ketika gadis itu bersama Adara. Sebenarnya Daffa sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena dia sudah cukup memberikan balasan untuk Juan waktu itu dan bagi dia yang terpenting kebahagiaan anaknya.


Siang ini secara kebetulan ada pertemuan penting bersama beberapa rekan kerjanya dan ternyata ada Juan di sana yang membuat Daffa langsung mengajak Juan untuk bicara. Mereka pergi ke ruang kerja Daffa karena pertemuan tadi menang dilangsungkan di kantornya dan sekarang keduanya duduk berhadapan dengan secangkir kopi yang ada di meja.


"Selamat siang Juan"


"Ya selamat siang"


"Saya rasa kamu sudah tau apa yang akan saya bicarakan?" Kata Daffa


"Ya tentang Adara dan Devano." Kata Juan dengan senyuman tipis di wajahnya


"Saya berniat pergi ke rumah kalian untuk melamar Adara secara resmi." Kata Daffa


"Kapan tepatnya?" Tanya Juan


"Minggu ini, tapi untuk pernikahan akan dilangsungkan setelah mereka selesai ujian dan libur kuliah hanya saja kalau kamu memiliki rencana lain tidak masalah." Kata Daffa sambil tersenyum


"Tidak, saya rasa rencana itu sudah cukup bagus, tapi nanti saya akan tanya pada Adara dia mau di rumah saya atau di rumahnya." Kata Juan


Daffa mengangguk faham lalu meminum kopi yang ada di meja.


"Seperti yang anda tau hubungan Adara dan istri serta anak laki-laki saya tidak baik, jadi saya akan pikirkan hal ini dulu agar tidak ada masalah." Kata Juan


"Ya benar jangan sampai ada masalah." Kata Daffa


"Saya akan bertanya pada Adara lalu bicara dengan istri serta anak laki-laki saya." Kata Juan


"Terima kasih"


"Tidak perlu berterima kasih saya memang harus melakukan ini demi Adara." Kata Juan


Daffa tersenyum mendengarnya, setidaknya dia sedikit lebih tenang karena hubungan Adara dengan Juan sudah sangat membaik, jadi dia tidak perlu cemas kalau Juan akan mengganggu apalagi mencoba membuat anaknya celaka.


"Jujur saya masih ingin minta maaf untuk kejadian dimana saya pernah hampir memukul Devina dan berniat membuat Devano celaka." Kata Juan tiba-tiba


Raut wajahnya terlihat serius membuat Daffa tersenyum tipis, beruntung Juan tidak sampai memukul Devina karena kalau sampai tangan pria itu menyentuh anaknya Daffa tidak akan pernah memberikan maaf.


"Lupakan yang terpenting bagi saya sekarang kebahagiaan Devano dan dia bahagia bersama Adara." Kata Daffa


Juan tersenyum mendengarnya, kebahagiaan Adara juga ada bersama dengan Devano.


Dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan putrinya karena setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk menebus semua kesalahannya pada Adara dengan membuat putrinya itu bahagia.


Salah satunya memberikan kepercayaan pada Devano yang sudah siap menikahi anaknya.


°°°°


Mata Adara menatap lurus ke rumah besar yang ada di hadapannya dia masih berdiri di depan pagar, belum berniat untuk melangkahkan kakinya memasuki rumah orang tuanya. Tadi Juan mengirim pesan dan meminta Adara untuk datang ke rumah setelah sebelumnya mengatakan bahwa dia ingin membahas masalah rencana dia dan Devano yang akan menikah.


Tentu Adara tau hubungannya dengan Hellena atau Julian sangat tidak baik dan timbul rasa takut di hatinya kalau kedua orang itu mengatakan hal yang buruk tentangnya kepada Devano atau kedua orang tua Devano. Menghela nafasnya panjang Adara melangkahkan kakinya ke dalam dengan segenap keberanian dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.


Devano sudah berjuang banyak untuknya dan Adara tidak boleh membuat pria itu kecewa kan?


Begitu masuk melalui pintu utama Adara tersenyum karena dia melihat sosok Juan yang langsung menyambut hangat kedatangannya bahkan memberikan pelukan untuknya. Berbeda dengan Julian yang terlihat tidak senang dengan kedatangannya, tapi Adara memilih acuh dan membiarkan hal itu karena Julian memang selalu bersikap begitu padanya.


"Kemari duduk." Kata Juan


Adara menurut dan mengikuti langkah kaki Ayahnya lalu duduk di ruang tengah bersama dengan yang lainnya.


"Mama dan Julian ada yang ingin Papa bicarakan tolong dengarkan dan jangan menyela." Kata Juan


Julian hanya bergumam pelan dan Hellena mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Minggu ini Devano dan keluarganya berniat untuk melamar Adara sebelumnya Papa sudah tanya pada Adara ingin dilangsungkan dimana, tapi Adara bilang terserah Papa dan Papa sudah memutuskan untuk melangsungkan acaranya di rumah kita," Kata Juan.


Pria paruh baya itu menatap Hellena dan Julian bergantian sebelum melanjutkan perkataannya.


"Dalam waktu dekat Papa akan persiapkan semuanya untuk Adara dan tolong kalian terutama kamu Julian jangan buat masalah di acara nanti, demi Papa." Kata Juan


"Iya"


"Papa tau dari awal memang Papa yang salah sudah membuat kalian begitu membenci Adara, tapi kali ini Papa harap kalian bisa menuruti keinginan Papa jangan mengacaukan acaranya dan jangan bicara hal buruk tentang Adara." Kata Juan


"Iya Pa lagian biarin aja dia nikah biar gak nyusahin." Kata Julian


"Kenapa sih Pa? Lagian dari dulu juga Papa yang selalu bilang kalau Adara dan Mamanya itu hanya bisa nyusahin dan bawa sial untuk Papa." Kata Julian


Juan dan Hellena baru akan bicara, tapi Adara sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.


"Siapa yang nyusahin lo atau gue? Sejak awal kalau gue bermasalah entah di sekolah atau bukan memang siapa yang urus? Bunda gue yang urus semuanya! Lebih dari itu Bunda bahkan kerja untuk menghidupi gue selama ini, jadi jangan bicara hal yang buruk tentang Bunda!" Kata Adara dengan tangan terkepal kuat


"Tetap aja wanita itu bikin susah, apa lo gak inget kalau wanita penyakitan itu udah berapa lama di rumah sakit? Memang dari mana biaya pengobatannya?" Kata Julian


"Julian! Berhenti bicara!" Bentak Juan


Adara mengepalkan tangannya kuat lalu meraih tasnya dan mengatakan sesuatu sebelum pergi.


"Aku pulang"


Setelah mengatakan hal itu Adara benar-benar pergi membuat Juan langsung berlari menyusulnya nanti dia akan memberikan anaknya itu pelajaran.


"Adara"


"Adara mau pulang tolong Ayah bicara sama Julian dan minta dia jaga ucapannya! Adara gak mau buat masalah karena itu permintaan terakhir dari Bunda." Kata Adara


"Adara setidaknya kamu bisa pulang di antar oleh supir jangan sendirian." Kata Juan


"Adara bisa sendiri." Kata Adara


"Adara jangan buat Ayah semakin merasa bersalah." Kata Juan


Menghela nafasnya pelan akhirnya Adara luluh dan masuk ke dalam mobil begitu Juan membuka pintu untuknya. Sebelum pergi Juan mencium keningnya juga memberikan pelukan hangat untuknya.


"Ayah akan bicara sama mereka dan memberikan pelajaran untuk Julian karena sudah bicara hal buruk tentang kamu dan Bunda"


Adara hanya bergumam pelan lalu begitu pintu mobil tertutup Adara memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


Seandainya dia tidak ingat perkataan Bunda sudah dapat dipastikan bahwa Julian akan babak belur karena pukulan yang dia berikan, tapi Adara tidak bisa lagi.


Adara tidak mau membuat Bunda nya kecewa jika melihat dia yang kembali berkelahi.


°°°°


Devano tersenyum ketika masuk ke dalam rumah Adara karena tadi gadis itu meminta dia untuk datang ke rumah, tapi senyumnya perlahan pudar ketika melihat Adara yang terlihat sedih. Saat Devano mendekat dan duduk disampingnya Adara memeluknya dengan sangat erat dan menyandarkan kepala di bahunya.


Mata Adara terpejam dia sangat menikmati berada di dalam pelukan Devano rasanya semua sesak dan beban yang dia rasakan mulai menghilang. Tak ada suara yang Adara keluarkan gadis itu hanya memeluknya, tapi pelukan itu seolah mengatakan bahwa Adara membutuhkan tempat untuk bersandar.


"Kenapa hm?"


Adara menggelengkan kepalanya pelan dia mengeratkan pelukannya pada Devano masih dengan mata terpejam.


"Kangen sama Bunda ya?" Tebak Devano


Biasanya memang begitu kalau Adara sedang merindukan sosok Bunda nya dia akan berubah manja atau terkadang minta untuk diantarkan ke makam Bunda nya.


"Heem"


"Mau mengunjungi Bunda?" Tanya Devano pelan


"Enggak mau disini aja Van mau peluk kamu." Kata Adara membuat Devano tersenyum mendengarnya


"Yaudah"


Devano tidak tau berapa lama Adara memeluknya, tapi gadis itu sama sekali belum mau menjauh darinya.


"Adara"


"Em nanti Van belum puas." Kata Adara


Devano hanya bisa tersenyum lalu mengusap kepala Adara dengan sayang membuat gadis itu kembali memejamkan matanya.


Bersama dengan Devano dia selalu merasa tenang dan aman.


°°°°


Update duluu🥰