
Satu hari menjelang pernikahan.
Semakin dekat hari pernikahan kembarannya akan dilangsungkan dan keadaan rumah sangat ramai dengan kehadiran Sahara serta si kecil Airlangga yang selalu bermain bersama Daffa juga Fahisa. Menjelang pernikahan Devano selalu datang ke kamar Devina lalu tidur bersamanya atau paling tidak menunggu Devina hingga tertidur.
Setidaknya Devano ingin menatap wajah kembarannya itu untuk waktu yang cukup lama sebelum mereka tinggal di tempat yang berbeda. Seperti sekarang Devano yang baru saja dari kamar mandi langsung masuk ke dalam kamar Devina dan melihat gadis itu sedang menyisir rambutnya.
Tersenyum manis Devano berjalan mendekat lalu merebut sisir di tangan Devina membuat kembarannya itu tersentak, tapi setelahnya tersenyum dan menoleh. Tanpa banyak bicara Devano mulai menyisir rambut Devina dengan penuh kelembutan sesekali dia juga mengusap rambut hitam yang sudah mulai panjang itu.
Tidak terasa Devina akan menikah sebentar lagi.
"Vano mau temenin Vina tidur lagi?" Tanya Devina
"Em boleh kan?" Tanya Devano
Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Vin nanti kamu sering-sering kasih kabar ya? Kamu juga sering-sering main ke rumah." Kata Devano membuat Devina jadi sedih mendengarnya
"Emm"
"Kalau aku mau ketemu kamu harus mau ya?" Kata Devano lagi
"Ihh Vano mah buat sedih." Kata Devina sambil menoleh dan menatap Devano dengan air mata yang menggenang
"Kamu harus makan tepat waktu kalau gak bisa tidur telpon aku dan kamu jangan sering-sering makan mie terus bangunnya juga..."
"Vano mah udahh." Rengek Devina
Menutup wajahnya dengan kedua tangan Devina menangis dan terisak pelan membuat Devano juga ikut merasa sedih. Meletakkan sisirnya Devano bertumpu pada kedua lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di paha Devina dan menatap kembarannya itu dari bawah.
"Vano jangan gitu Vina nya jadi sedih mau nangis." Isak Devina masih dengan menutupi wajahnya
"Kamu udah nangis." Kata Devano
"Ya Vano udah makanya! Jangan bilang gitu Vina nya jadi sedih." Kata Devina
Membuka tangannya Devano dapat melihat Devina yang berlinang air mata dan menangis layaknya seorang anak kecil.
"Kamu kan besok menikah makanya aku bilang gitu." Kata Devano pelan
"Jangann! Jangan bilang gitu enggak mauu dengernya Vina sedih." Kata Devina sambil memukul pelan pundak Devano
Menangkap tangan Devina yang memukulnya Devano berdiri lalu memeluk kembarannya dan membuat Devina menangis dengan keras di dalam pelukannya.
"Enggak mauu enggak mau denger Vano ngomong gitu." Kata Devina sambil terisak
"Aku harus ngomong gitu." Kata Devano
"Ih gak bolehhh! Pokoknya gak boleh!" Rengek Devina sambil memukul-mukul dada Devano dengan tangannya
Devano menatapnya dalam diam lalu menghapus air mata Devina dengan sayang dan mengatakan hal yang kembali membuat air mata Devina berjatuhan.
"Aku sayang banget sama kamu Vin kalau ada apa-apa kamu harus kasih tau aku ya? Kamu disana harus bahagia sama Ziko." Kata Devano
Devina semakin menangis lalu dia memukul kuat lengan Devano dan mendorongnya hingga menjauh. Berlari kecil Devina menjatuhkan dirinya di atas ranjang laku menutup wajahnya dengan bantal dan kembali menangis.
Berjalan mendekat Devano duduk ditepian ranjang lalu menyentuh pundak Devina membuat gadis itu bangun dan memukulnya dengan bantal hingga berkali-kali.
"Vina bilang diam! Enggak boleh ngomong gitu lagi! Enggak mau Vina enggak mau dengarr!" Kata Devina marah
Devina terus memukul Devano menggunakan bantal hingga Devano memgambil bantal itu dan menangkup wajahnya. Tersenyum tipis Devano mengusap kedua pipi Devina dengan sayang.
"Jangan nangis kamu kan besok mau nikah nanti matanya sembab." Kata Devano
Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu berusaha melepaskan tangan Devano dari wajahnya.
"Aku harus lihat wajah kamu untuk waktu yang lama sebelum Ziko bawa kamu ke rumahnya." Kata Devano dengan senyuman
"Vano udahh." Rengek Devina
"Aku bakal bilang sama Ziko supaya peluk kamu kalau mau tidur dan minta dia untuk perhatiin pakaian kamu biar gak pakai yang pendek-pendek." Kata Devano
"Vanooo"
"Aku bakal bilang juga sama Ziko supaya sering ajak kamu jalan-jalan dan nanya tentang keinginan kamu." Kata Devano
"Ih udahh"
Kali ini Devano berhenti bicara lalu memeluk Devina dengan sayang dan mencium puncak kepalanya.
"Iya Vin udah jangan nangis." Kata Devano
"Vano yang buat aku nangis." Kata Devina
"Iya maaf sekarang kita tidur ya?" Kata Devano
Devina mengangguk singkat lalu menurut ketika Devano memintanya untuk berbaring di ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya Devano menatap Devina dengan sayang sambil mengusap pipinya.
Mendekatkan wajahnya Devano mencium kening Devina dengan sayang lalu memeluknya dan memejamkan mata.
Besok dia akan melihat kembarannya menikah.
¤¤¤
Hari pernikahan.
Sejak pagi Devina sudah dirias oleh beberapa orang dia juga sudah memakai gaun berwarna putih yang sangat cantik dan pas di tubuhnya. Acaranya dilangsungkan di sebuah gedung tepat jam sembilan dan sekarang sudah pukul tujuh Devina baru saja selesai dengan make up nya.
Berada di dalam kamar Devina menatap tangannya yang sudah dihiasi hena lalu tersenyum singkat dan ketika suara pintu yang dibuka terdengar Devina mendongak. Senyumnya mengembang dengan sempurna melihat kedua orang tuanya yang masuk ke dalam, dia belum melihat Devano sejak tadi karena pria itu pergi dari kamarnya pagi-pagi sekali.
"Cantiknya anak Mommy." Kata Fahisa
"Makasih Mommy." Kata Devina
"Sudah siap Devina?" Tanya Daffa
"Em sudah Daddy." Kata Devina
"Daddy tidak menyangka akan mengantarkan kamu menikah secepat ini rasanya masih sedikit belum rela kamu akan tinggal jauh." Kata Daffa sambil mengusap kepala Devina dengan sayang
Devina tersenyum tipis ketika mendengarnya.
"Yuk kita berangkat." Kata Daffa
"Vano?"
"Vano ada di depan sayang." Kata Fahisa
Devina tersenyum tipis lalu dia mengikuti orang tuanya dengan Fahisa yang menggenggam tangannya. Sampai di bawah Devina melihat Devano serta Kakaknya yang sudah menunggu mereka.
Matanya dengan mata Devano bertemu dan Devina dapat merasakan bahwa Devano berusaha menghindari tatapan matanya.
Masuk ke dalam mobil Devina duduk diantara Fahisa dan Sahara sedangkan Devano ada di mobil lainnya bersama dengan Arjuna. Sepanjang perjalanan Devina diam sambil memainkan jari-jari tangannya hingga Fahisa meraih dan menggenggam tangannya.
"Tenang sayang"
Devina tersenyum dan mengangguk singkat.
Selama perjalanan tidak ada percakapan hingga akhirnya mereka sampai di gedung tempat pernikahan akan dilangsungkan. Jantung Devina berdetak dengan sangat cepat begitu turun dari mobil Devina masuk ke dalam dengan Devano yang menggenggam tangannya.
Mereka tidak banyak bicara hanya melangkahkan kakinya ke dalam hingga cukup banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka begitu masuk ke dalam. Dari sini Devina dapat melihat Ziko yang sudah terlihat sangat tampan disana lalu dia menoleh pada Devano dan tersenyum.
"Happy wedding my twins"
Devano mengatakannya dengan senyuman, dia akan melepaskan Devina kepada Ziko sekarang.
Memberikan tanggung jawab untuk menjaga Devina pada pria yang akan menjadi suami kembarannya.
Selamat menikah Devina, aku sayang kamu.
...THE END...
Iya ini udah ending aku gak bohong hehe😂
Makasih ya semuanya untuk dukungan kalian aku seneng banget kalau baca-baca komentar dari kalian💞
Untuk yang nanya cerita Vano aku belum kepikiran untuk buat cerita khusus dia sama Adara karena aku juga lagi nulis cerita yang lainnya😶
Aku takut kalau nanti bikin cerita banyak di waktu yang bersamaan malah bikin aku pusing sendiri dan jadi gak maksimal nulisnya, jadi untuk sementara kita bikin cerita Vina-Ziko dulu ya💞
Aku janji bakal tetep kasih hadir Devano dan Adara disana juga😚
Nah untuk cerita ini masih ada tiga extra part ya sebelum aku ubah status ceritanya dari on going ke tamat hehe😂
Mau nanya dong, kenapa kalian suka baca My Possessive Twins? Apa yang spesial dari cerita ini?