
Brakk
Pintu utama benar-benar di dobrak hingga terbuka dan Juan dengan wajah memerahnya masuk ke dalam rumah membuat Devina semakin takut, tapi Adara terlihat biasa dia justru melepaskan tangan Devina karena ingin menghampiri Ayahnya. Saat ingin keluar kamar Ziko menahan lengannya karena dia juga seorang pria dan tidak mungkin membiarkan Adara keluar sendirian.
Suara teriakan kembali terdengar lalu Ziko membuka pintu kamar Adara dan berjalan keluar sambil menutupnya lagi. Melihat seorang pria keluar dari kamar anaknya Juan bergegas kesana untuk menghampiri Ziko.
"Katakan dimana anak sialan itu?! Dia di dalam sana kan?! Minggir kamu!" Kata Juan marah
"Maaf Om saya tidak mungkin membiarkan anda masuk Adara dia..."
Belum selesai Ziko bicara Adara sudah keluar dan menghampiri Ayahnya dengan mata memerah karena habis menangis.
"Ayah mau apa lagi sih? Semua sudah Adara kasih bahkan rumah ini penjualan rumah ini semuanya ada di tangan Ayah lalu apa lagi?" Tanya Adara lelah
"Apa lagi?! Tentu saja semua yang telah Ayah saya berikan untuk kamu! Tidak seharusnya kamu pantas mendapatkan itu semua!" Bentak Juan
"Kakek kasih itu semua untuk saya! Atas nama saya." Kata Adara
"Lihat kan? Kamu memang benar-benar tidak tau diri! Sama saja seperti Ella kalian berdua sama-sama murahan dan mata duitan." Kata Juan
"Jangan bicara hal buruk tentang Bunda!" Sentak Adara tidak terima
"Om lebih baik Om pergi sekarang atau saya akan panggil polisi." Kata Ziko
Juan memang melangkahkan kakinya pergi, tapi dia menarik tangan Adara dengan kasar dan memaksanya untuk ikut sambil mencengkran kuat.
"Ikut saya bilang!" Kata Juan
"Om jangan kasar." Kata Ziko tidak suka
Dia menahan tangan Juan, tapi pria itu menepisnya hingga tubuh Ziko terhuyung ke belakang dan hampir jatuh.
"Lepasss"
Tidak bisa diam saja Ziko kembali mendekat dan menahan tangan Adara hingga Juan berhenti melangkah.
Dari dalam Devina sama sekali tidak berani keluar dia terus terbayang hari dimana dia di culik. Bentakan juga tarikan yang dia rasakan membuatnya ketakutan setengah mati.
Tidak tau harus melakukan apa Devina mengedarkan pandangannya hingga menemukan sepatu Adara dan mengambilnya. Membuka pintu dengan pelan Devina melihat mereka masih terlihat berdebat dan dengan hati-hati dia keluar.
Saat tubuh kekasihnya di dorong Devina menatapnya dengan tidak suka lalu melempar sepatu itu hingga tepat mengenai kepala Juan dan membuatnya refleks melepaskan tangannya. Bukan hanya Juan, tapi Adara dan Ziko juga menoleh mereka menatap Devina yang sekarang takut karena mendapat tatapan tajam itu.
"KAU!"
Juan terlihat sangat marah hingga membuat Devina semakin merasa takut, tapi dia kesal.
"APA?!" Kata Devina
Pria paruh baya itu berjalan mendekat membuat Ziko refleks menahannya untuk mendekati kekasihnya, tapi Juan kembali mendorong tubuhnya hingga jatuh. Melihat hal itu Devina merasa takut dia berlari memutar sambil memanggil nama Daddy nya.
"DADDYYYY"
Saat mendongak Devina benar-benar melihat Daddy nya disana dan membuat dia tersenyum lalu berlari menghampiri Daffa untuk memeluknya.
"Daddy dia jahat!" Kata Devina sambil menunjuk Juan
"Ziko bawa Adara dan Devina keluar masuk ke dalam mobil bawa dia ke rumah saya." Kata Daffa sambil membalas pelukan anaknya
Mengangguk singkat Ziko membawa kedua wanita itu keluar dan meninggalkan Daffa bersama dengan Juan di dalam sana hanya berdua. Langkah kaki Daffa terlihat pasti tangannya juga terkepal dengan sangat kuat, dia masih bisa memukul orang hingga terluka tenaganya maish kuat.
Begitu mereka berhadapan Daffa memukulnya hingga jatuh tersungkur.
"Kau benar-benar kurang ajar! Berani sekali mengganggu anakku dan berniat membuatnya celaka! Apa kau ingin mati Juan?!" Bentak Daffa
"Salahkan anakmu yang terlalu ikut campur! Dia benar-benar sok jagoan aku muak melihatnya!" Kata Juan membuat Daffa maju dan kembali memukulnya
"Aku juga muak melihatmu kalau kau tau! Kau benar-benar haus kekuasaan! Kenapa masih mengusik hidup anakmu yang tenang?! Bahkan dia tidak pernah sekalipun mengusik hidupmu." Kata Daffa
Sungguh dia merasa iba pada Adara padahal gadis itu sangat baik dia mengalami banyak sekali kesulitan apalagi dengan tingkah Juan yang benar-benar tidak tau diri. Tidak pernah sekalipun Adara mengusik hidup Ayahnya dengan keluarga barunya, tidak sekalipun.
Adara tidak pernah menemui Juan kalau Ayahnya itu tidak memintanya.
Adara tidak pernah meminta uang atau keperluan yang dia butuhkan.
"Dengar Juan Alexander! Kau sudah menggali kuburmu sendiri dengan mengusik keluargaku! Ini peringatan terakhir berhenti mengganggu anakku dan mengusik hidup Adara!" Tegas Daffa
Mencengkram kuat kerah baju yang Juan kenakan Daffa menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
"Setidaknya bersikaplah layaknya manusia! Jangan mengusik kalau kau tidak mau diusik!"
Kembali memberikan satu pukulan Daffa berdiri dan menatap Juan yang mengusap sudut bibirnya yang berdarah, berani sekali dia berurusan dengannya.
"Ini terakhir kali! Sekali lagi kau mengusik anak-anakku atau Adara akan kupastikan kau menyesal Juan Alexander! Dalam waktu singkat aku bisa membuat semua usahamu itu hancur asal kau tau!" Tekan Daffa
Menghela nafasnya panjang Daffa melangkahkan kakinya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil sambil meminta Pak Hadi untuk jalan. Sebelumnya dia memang pergi ke rumah Juan, tapi pria itu tidak ada disana lalu dia menelpon Devina untuk menanyakan Devano dan ternyata Ziko yang mengangkat sambil mengatakan bahwa dia ada di rumah Adara.
Beruntung Daffa datang kalau tidak bisa terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, dia juga tidak mau sampai Adara terluka karena Daffa sangat tau betapa gadis itu berharga untuk anaknya.
Segala hal yang merupakan letak kebahagiaan anaknya berada maka dia akan menjaganya.
¤¤¤
"Adara udah jangan nangis lagi"
Helaan nafas Devina terdengar ketika Adara kembali menangis setelah menemui Devano beberapa saat yang lalu dan sekarang gadis itu berada di kamarnya, Adara akan menginap. Mengingat Devina selalu tidur sendirian jadi dia meminta Adara untuk tidur di kamarnya saja dan saat ini keduanya duduk di atas ranjang dengan Adara yang menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya serta Devina yang mengusap punggungnya dengan lembut.
Kalau Devano tau pasti dia sedih dan Devina tidak mau kalau kembarannya itu sedih. Dia akan memastikan air mata Adara berhenti lalu senyuman manis akan terbentuk disana.
"Gak boleh nangis." Kata Devina sambil menarik lepas kedua tangan Adara
Tersenyum lebar Devina menghapus air mata Adara dengan lembut.
"Kalau kamu nangis nanti Vano sedih." Kata Devina
"Kamu gak marah sama aku Vin? Karena.... karena aku Vano hampir celaka." Kata Adara pelan
"Marah! Makanya Adara diam kalau nangis aku tambah marah." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal
"Maaf"
"Berenti gak nangisnyaa! Sekarang senyum cepetan senyummm." Kata Devina
"Vinn"
"Cepetan senyum kalau kamu senyum Vano ikutan senyum dan aku gak akan marah lagi." Kata Devina
Adara terdiam sebentar lalu mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
"Nah gitu cantikk." Kata Devina
"Makasih"
"Kata Mommy kalau ada yang lagi nangis itu harus di hibur, sekarang kamu tunggu sebentar." Kata Devina sambil beranjak dari tempat tidurnya
Mengambil ponselnya yang sedang di cas Devina kembali lalu menghidupkan ponselnya dan membuka galeri. Cukup lama dia terus menggerakkan jarinya ke bawah dan Adara hanya diam saja sambil memperhatikannya.
Begitu menemukannya Devina tersenyum senang.
"Aku bakal kasih kamu lihat aib Devano yang aku simpan, tapi jangan bilang dia nanti Vano nya marah sama aku." Kata Devina
"Iya"
Melepaskan tangannya yang menutupi ponsel Devina menunjukkan foto ketika dia memakaikan make up pada Devano kepada Adara membuat gadis itu terdiam sebentar.
"Aku paksa Vano waktu itu lucu kann?" Kata Devina
Adara tertawa kecil dan mengambil alih ponsel itu sambil menatap fotonya dengan gemas.
"Ada lagi ada lagii"
Devina menggeser fotonya beberapa kali dan memperlihatkan foto yang lebih lucu hingga membuat Adara tertawa.
"Kenapa dia mau?" Tanya Adara
"Aku paksa hehe waktu itu aku ngambek karena Vano gak mau temenin aku ke toko buku." Kata Devina
Tersenyum manis Adara memperhatikan wajah kekasihnya yang biasa terlihat cool dan dingin itu berubah sangat menggemaskan karena Devina.
"Nanti kalau Adara sama Vano sering-sering aja kerjaiin dia gampang tau kamu pura-pura ngambek aja nanti dia bakal nurut." Kata Devina
Kembali menggeser fotonya Devina memperlihatkan foto ketika dia memaksa Devano untuk memakai masker wajah.
"Lihat kann"
Adara tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap Devina dengan senyuman.
"Makasih banyak Vin"
Devina tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya.
"Sini peluk akuu biasanya kalau aku sedih Vano selalu peluk aku biar tenang"
Ikut tersenyum Adara mendekat dan memeluk Devina dengan erat membuat seseorang yang sejak tadi mengintip dari celah pintu tersenyum senang.
Devano
Iya, sejak tadi Devano berada disana dan memperhatikan mereka sekarang dia lega karena ada Devina.
Makasih Vin, gumamnya pelan.
¤¤¤
Aku sayang Devina banyak-banyak❤