My Possessive Twins

My Possessive Twins
81 : Kalau Aku Pergi



"Ihh jangannn"


Suara tawa Ziko terdengar ketika Devina memasang wajah kesal dan memukul-mukul lengannya, wajah kekasihnya terlihat lucu makanya Ziko suka sekali mengganggunya. Beberapa saat yang lalu dia mengganggu Devina yang tengah bermain game dengan menekan-nekan layar ponselnya asal hingga Devina kalah.


Tentu saja Devina sangat kesal masalahnya tadi Ziko mengabaikannya dan sibuk bermain gitar jadi Devina juga memainkan ponselnya, tapi pria itu malah mengganggunya. Terlihat sekali wajah kesal Devina bahkan pukulannya cukup kuat dan berhasil membuat Ziko meringis.


"Aww Vinn"


"Jahat banget sihhh!" Kata Devina kesal


Menangkap tangan kekasihnya Ziko tertawa dan menarik Devina kedalam pelukannya.


"Ya ampun ngambekk yaa?" Kata Ziko


"Lepasss!" Ketus Devina sambil mendorong tubuh kekasihnya


Bukan melepas Ziko malah semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Devina akhirnya memilih untuk diam.


Saat ini mereka berada di rumah Ziko tepatnya di ruang musik dan sudah cukup lama mereka disana menghabiskan waktu berdua dengan obrolan juga perdebatan.


"Ngambek yaa?" Tanya Ziko sambil tertawa


"Nyebelin!" Ketus Devina sambil memukul dada kekasihnya pelan


Devina sangat kesal, tapi langsung diam ketika merasakan puncak kepalanya dicium bahkan berkali-kali Devina mengerjapkan matanya.


Saat Ziko melepaskan pelukannya dan menatap Devina yang diam dengan mata membulat dia kembali tertawa lalu malah mencium keningnya. Sekali lagi Devina semakin terkejut karena tidak pernah ada pria yang menciumnya selain Vano dan Daffa juga Pamannya Gibran.


Sangking terkejutnya Devina diam dan menatap Ziko dengan wajah lugunya membuat pria itu merasa sangat gemas melihatnya.


"Kamu ngapainnn?" Tanya Devina setelah sekian lama terdiam


Wajahnya mulai menunjukkan rona merah dan terus menjalar hingga ke kupingnya.


"Cium kan?" Kata Ziko sambil tersenyum


Berdeham pelan Devina mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa gugup juga terkejut. Rasanya aneh ketika ada seorang pria selain keluarga yang menciumnya, tapi dia juga merasa senang jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga Devina merasa sesak.


"Vin marah ya?" Tanya Ziko


Merasakan pundaknya di sentuh Devina sedikit memundurkan tubuhnya dan membuat Ziko jadi takut kalau kekasihnya itu marah atau tidak suka dengan perbuatannya.


"Vina, kamu marah?" Tanya Ziko dengan lembut


Devina menoleh lalu menggelengkan kepalanya pelan, tapi tetap tidak bicara karena dia masih merasa kaget.


"Vin, marah kan? Maaf ya?" Kata Ziko merasa bersalah


Tersenyum tipis Devina menggelengkan kepalanya pelan dan mengatakan kalau dia ingin ke kamar mandi. Tanpa menunggu jawaban dari Ziko dia berlari kecil ke kamar mandi dan menutup pintu lalu memegang dadanya yang terasa sesak.


Jantungnya berdetak dengan sangat cepat Devina merasa aneh, tapi senang. Memegang kedua pipinya yang terasa panas Devina jadi takut untuk keluar.


Takut kalau Ziko kembali bertanya, dia bingung mau bicara apa.


Menghela nafasnya panjang Devina dengan ragu membuka pintu kamar mandi dan kembali menghampiri Ziko. Mendudukknya dirinya di samping pria itu Devina memainkan jari tangannya karena merasa gugup.


"Vina aku minta maaf, janji gak bakal gitu lagi." Kata Ziko sambil meraih tangannya dan menggenggam dengan lembut


"Aku enggak marah." Kata Devina pelan


"Tapi, diem aja." Kata Ziko


Devina tersenyum dan mencubit pelan pipi kekasihnya.


"Aku kaget kamunya tiba-tiba gitu biasanya peluk doang." Kata Devina


"Enggak suka ya?" Tanya Ziko


Sekali lagi Devina menggelengkan kepalanya dia bukan tidak suka, tapi kaget karena tidak ada yang pernah menciumnya selain keluarganya.


"Aku kaget Ziko." Kata Devina pelan


"Iya, tapi kamu enggak suka kan? Maaf ya Vin nanti kalau mau cium aku izin dulu." Kata Ziko membuat Devina tertawa kecil ketika mendengarnya


"Ziko"


"Iya?"


"Vina mau pulang." Kata Devina


"Tuh kan marah." Kata Ziko


Memegang bahu kekasihnya Ziko membawa Devina untuk menghadap ke arahnya dan membuat gadis itu mendongak sambil menatapnya dengan senyuman.


"Maaf"


"Enggak marah." Kata Devina lagi


Dia mau pulang karena ini sudah hampir malam bisa habis dia dimarahi Devano nanti.


"Tapi, enggak suka?" Tanya Ziko yang tidak dijawab dengan Devina


"Anterinnn"


Menghela nafasnya pelan Ziko mengusap puncak kepala kekasihnya dengan lembut dan mengangguk singkat.


"Yaudah aku ambil kunci dulu." Kata Ziko


Tersenyum manis Devina langsung mengambil tas juga jaketnya lalu keluar dari ruangan. Kedua orang tua Ziko sedang tidak ada di rumah makanya Devina tidak mau sampai malam berada disana.


Tak butuh waktu lama Ziko kembali dan mengajak Devina untuk keluar, ternyata pria itu ingin membawa mobil bukan motor seperti biasanya. Kalau sudah begini itu artinya Ziko ingin mengajak Devina mengobrol di perjalanan.


Sampai di luar Devina langsung memasuki mobil dan memasang sabuk pengamannya. Menatap kekasihnya Devina tersenyum membuat Ziko ikut tersenyum dan mengusap lembut pipinya.


Selama perjalanan Devina hanya diam sambil menatap lurus ke depan, dia berfikir apa tidak berlebihan mereka sampai berciuma seperti itu?


Memang ada yang lebih padah dari mereka, tapi mereka kan masih SMA dan Ziko sudah menciumnya meskipun hanya di kening juga kepalanya.


Apa itu wajar?


"Zikoo"


"Iya Vina?"


"Emm kamu tau tanggal lahir aku enggak?" Tanya Devina


Baiklah dia akan membahas hal yang lain saja agar Ziko tidak mengira kalau dia marah karena Devina memang tidak marah.


"Tau lah Vin." Kata Ziko


"Kapann?" Tanya Devina


"20 Oktober kan? Aku tau Devina." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang mendengarnya


"Kiraiin enggak tau." Kata Devina


"Tau, sebentar lagi kan?" Kata Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Aku juga tau ulang tahun Ziko." Kata Devina


"Kapan?" Tanya Ziko


"10 Desember." Kata Devina


"Pinter, tau dari siapa?" Tanya Ziko


"Ihh kan dari dulu juga udah tau aku kan ngucapin terus." Kata Devina dengan bibir mengerucut


"Lah aku juga sama Vin." Kekeh Ziko


"Hehe ya kan biar kita ngobrol." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Kamu pernah kasih aku kado dan masih aku simpen, kado dari aku disimpen juga gak?" Tanya Ziko


"Aku juga masih simpen gelang dari kamu." Kata Ziko


"Awas kalau di buang Vina marah." Kata Devina sambil memasang wajah galaknya


"Enggak lah Vin." Kata Ziko


Tersenyum senang Devina mengambil ponsel Ziko di dashboard lalu menghidupkannya dan melihat-lihat akun sosial media kekasihnya. Jujur Ziko cukup populer dan memiliki banyak pengikut di instagram padahal pria itu jarang upload foto atau membuat story.


"Ziko aku mau buat story pakai foto aku ya?" Kata Devina


"Hmm buat aja upload foto juga boleh." Kata Ziko santai


Devina tersenyum dan mulai bergaya di ponsel Ziko membuat kekasihnya itu tertawa ketika meliriknya.


Selesai berfoto Devina memberi gif lucu dan langsung mengirim story di instagram kekasihnya. Setelah itu Devina melihat-lihat beranda kekasihnya yang rata-rata teman-temannya juga DM yang tidak pernah Ziko baca.


Kalau ditanya Ziko selalu bilang dia tidak terlalu suka membuka instagran dan hanya sesekali saja kalau sedang bosan.


Dan tentu saja untuk memberi tau ke semua orang kalau dia kekasih dari Devina.


"Lihat Ziko ada yang balas story nya." Kata Devina


Dia membuka balasan dari teman Ziko yang bernama Lucas.


"Siapa yang balas?" Tanya Ziko penasaran


"Namanya Lucas." Kata Devina membuat mata Ziko membulat


"Apa katanya?" Tanya Ziko


"Katanya aku cantik hehe di balas gak?" Tanya Devina


Ziko berdecak kesal mendengarnya Lucas itu tetangganya dan teman masa kecilnya yang sangat-sangat playboy.


"Balas gini gak usah ganjen sama pacar gue, gitu Vin." Kata Ziko


"Ihh masa gitu harusnya bilang makasih." Kata Devina


"Bales gitu aja Vina kalau gak biarin." Kata Ziko


"Yaudah iya." Kata Devina sambil menuruti perkataan kekasihnya


"Kalau dia follow kamu blokir aja." Kata Ziko


"Enggak sopan dong dia kan teman kamu." Kata Devina


"Biarin dia itu playboy nanti godaiin kamu." Kata Ziko tidak suka


Devina tertawa kecil lalu meletakkan ponsel kekasihnya di tempat semula.


"Ziko sayang banget sama aku ya?" Kata Devina


"Iya Vin sayang banget." Kata Ziko


"Kalau aku pergi gimana?" Tanya Devina membuat Ziko secara refleks menoleh


"Aku ikut." Kata Ziko


"Kalau jauh?" Tanya Devina


"I don't care! Aku bakal tetap ikut." Kata Ziko


"Kalau perginya gak balik lagi?" Tanya Devina asal


"Vin apaan sih ngomongnya gitu?" Kata Ziko tidak suka


Devina tertawa kecil lalu meraih tangan Ziko dan menggenggamnya sebentar.


"Bercanda doang tau." Kata Devina


"Bercandanya gak lucu Devina! Aku gak mungkin lah biarin kamu pergi kemanapun itu aku bakal ikut dan hampirin kamu." Kata Ziko dengan penuh penekanan


"Iya iya maaff"


Menghela nafasnya pelan Ziko mengusap pipi kekasihnya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam mobil Ziko berhenti di area rumah Devina dan dia menatap kekasihnya dengan senyuman.


"Ziko"


"Hmm"


"Aku enggak marah atau enggak suka waktu kamu cium aku, tapi aku cuman kaget soalnya gak ada cowok yang pernah ngelakuin hal itu selain Vano dan Daddy." Kata Devina


Ziko tersenyum dan mengangguk faham lalu mengusap pipi Devina dengan sangat lembut.


"Nanti aku kabarin kalau udah sampai ya?"


Devina mengangguk dan sebelum keluar dia mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi pria itu sekilas.


"Aku pulang dadahhh"


Dengan wajah memerah Devina berlari memasuki rumah dan meninggalkan Ziko yang hanya bisa tersenyum.


Devina benar-benar membuatnya gila.


¤¤¤


Malam ini Devina minta ditemani oleh kembarannya sampai dia tertidur dengan lelap dan sekarang mereka berdua tidur bersisihan di ranjang, saling terdiam tanpa ada pembicaraan. Sebentar lagi mereka akan berulang tahun hanya satu minggu lagi sampai hari itu tiba dan tentu saja Devina sangat tidak sabar karena biasanya selalu ada kejutan spesial untuknya dan Devano.


Hanya saja Devina sejak tadi merasa tidak tenang entah karena alasan apa, tapi yang jelas Devina merasa sesuatu akan terjadi. Menghela nafasnya pelan Devina menghadap ke samping dan memeluk Devano dengan cukup erat.


"Vanoo"


"Hmm"


"Sebentar lagi kita ulang tahun." Kata Devina


"Iya"


"Kamu harus kasih aku kado." Kata Devina membuat kembarannya itu tertawa


"Iya Vinnn"


Tersenyum senang Devina semakin mengeratkan pelukannya pada Devano.


"Vano"


"Iya Vin"


"Kalau aku pergi gimana?" Tanya Devina


"Aku ikut lah kamu kan kalau mau kemana-mana selalu sama aku." Kata Devano


"Kalau kamu gak bisa ikut?" Tanya Devina


Mengerutkan dahinya Devano menjauhkan dirinya dan menatap Devina yang juga menatapnya dalam diam.


"Aku selalu bisa ikut kemanapun kamu pergi karena aku gak akan pernah biarin kamu pergi sendirian"


Devina tersenyum dan kembali memeluk kembarannya.


"Vina sayang banget sama Vano"


Ya, Devano juga sama.


¤¤¤


Satu lagi nanti malam yaaaa😉


Agak malam dan mungkin malam banget😂