My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (36)



Sekitar pukul enam Fahisa pergi ke dapur untuk membuat sarapan meninggalkan Devina yang masih tertidur dengan lelap. Di lain sisi Devano yang baru saja selesai mandi langsung mengganti bajunya dan pergi ke kamar Devina lagi untuk menjaga kembarannya.


Sungguh dia tidak tega apalagi kemarin Devina menangis hingga pingsan ditambah lagi ada banyak luka di tubuh kembarannya, dia sangat marah. Melangkahkan kakinya ke kamar kembarannya Devano menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam, tapi ranjang Devina kosong tidak ada siapapun disana.


Hingga mata Devano menangkap sosok Devina yang ada di lantai dekat sofa sambil melipat lututnya dan menutup kedua kupingnya dengan tangan. Tentu saja Devano panik hingga berlari menghampiri Devina, tapi ketika dia menyentuh pundaknya Devina malah bergerak mundur dan terlihat begitu takut.


Devano merasa sesak melihatnya.


"Enggak jangan jangan"


"Vin ini aku Vano." Kata Devano sambil menyentuh pelan bahunya


"Jangan! Enggak jangan sentuh Vina!" Pinta Devina


"Devina ini Devano kembaran kamu." Kata Devano lagi


"Enggak jangan! Daddy Daddy tolongin Vina." Kata Devina


Devana menahan nafasnya melihat Devina seperti ini dia mendekat dan berusaha memeluknya, tapi Devina memberontak dan berteriak.


"DADDYY"


"Vina tenang ini aku Vin ini aku." Kata Devano sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang


"Enggak lepas! Daddyy Daddyy"


Devina terus mendorong tubuhnya dan bersamaan dengan itu Daffa masuk bersama Fahisa dengan raut wajah cemas.


"Ada apa Vano?" Tanya Daffa


"Vano gak tau Dad tadi Vina ada disini dan waktu Vano panggil dia ketakutan." Kata Devano


Daffa mendekat dan membuat Devano memberikan ruang untuknya, tapi ketika dia menyentuh pundak anaknya Devina kembali bergerak mundur.


"Enggak jangan! Daddy tolongin Vina"


Sungguh Daffa tidak tega melihatnya dia memegang kedua bahu Devina dan membuat anaknya itu semakin terlihat takut.


"Ini Daddy sayang"


"Lepasin! Lepas jangan sentuh Vina." Kata Devina takut


"Devina!"


Daffa menyentak Devina hingga membuat anaknya itu mendongak dan menatapnya.


"Ini Daddy sayang." Kata Daffa pelan


"Daddy?"


"Ini Daddy kamu aman sayang, lihat? Ada Mommy sama Vano dan Kak Ara juga." Kata Daffa


Devina mendongak lalu menatap Devano dan Fahisa juga Kakaknya Sahara yang ada di dekat pintu.


"Daddy?"


"Iya tenang sayang ada Daddy disini." Kata Daffa


Daffa memeluk Devina dengan sayang membuat anaknya itu kembali terisak dan memeluknya dengan begitu erat seolah takut kehilangan. Melihat hal itu Fahisa jadi ingin menangis anaknya yang selalu ceria itu kini terlihat begitu ketakutan.


Dengan hati-hati Daffa menggendong tubuh anaknya dan kembali membawanya ke ranjang sambil terus memeluknya dan mencoba untuk memberikan ketenangan.


"Tenang sayang ini Daddy." Kata Daffa lagi


"Daddy... jangan tinggalin Vina.. jangan tinggalin Vina." Kata Devina


"Tidak sayang Daddy disini ya? Daddy gak akan kemana-mana." Kata Daffa


"Takut.. Vina takut." Kata Devina


"Iya sayang Daddy disini jagaiin Vina, sekarang Vina istirahat lagi ya?" Kata Daffa


"Enggak... Vina mau sama Daddy." Kata Devina


"Iya sayang Daddy akan temani Vina." Kata Daffa


Membawa tubuh anaknya untuk berbaring Daffa menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya dan tetap berada disana sambil terus mengusap rambut anaknya dengan sayang.


Devina tidak mengatakan apapun hanya diam sambil berusaha memejamkan matanya, tapi dengan tangan yang menggenggam erat tangan Daddy nya.


Melihat hal itu Fahisa juga Sahara sangat sedih terutama Fahisa yang matanya berkaca-kaca ingin menangis lalu pergi dari kamar anaknya. Sahara langsung mengikutinya dan memeluk Fahisa ketika wanita paruh baya itu menangis.


"Ara kasihan Vina dia pasti ketakutan, apa yang sudah orang-orang itu lakukan padanya kemarin?" Tanya Fahisa sedih


"Iya Mommy yang penting Vina sekarang sudah ada di sini sama kita dan kita akan menenangkan dia." Kata Sahara


"Dia biasanya selalu ceria Ara kamu tau kan? Vina selalu menghibur Mommy." Kata Fahisa


"Mommy udah ya? Jangan nangis." Kata Sahara sedih


Sahara melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Mommy nya dengan sayang.


"Iya sayang sekarang kita masak ya? Vina harus makan dia pasti lapar." Kata Fahisa sambil menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum


Di dalam kamar masih ada Daffa juga Devano yang menemani Devina dan sekarang Devina mulai kembali terlelap dalam tidurnya. Masih ada jejak air mata di pipinya membuat Daffa menghapusnya dengan penuh kelembutan agar tidak mengganggu tidur anaknya.


"Maafin Daddy sayang"


Daffa benar-benar akan membuat mereka tersiksa di penjara!


¤¤¤


"Vina kenapa?!"


Seruan keras Ziko terdengar dan membuat kedua orang tuanya yang sedang menyantap sarapan tersentak lalu menoleh ke arahnya. Baru saja Ziko selesai mandi dia sudah siap untuk berangkat ke kampus hingga Devano menelponnya dan mengatakan kejadian yang menimpa kekasihnya.


Sontak saja hal itu membuat Ziko terkejut bukan main dan marah karena tidak ada yang memberitau dia masalah itu. Tadi malam Ziko memang tidak menghubungi Devina, tapi itu karena ketika makan siang kekasihnya bilang bahwa dia akan sibuk.


'Ziko kayaknya aku gak bisa chat kamu nanti malam tugas aku banyak banget untuk besok ini aja aku kuliah sampai sore'


Makanya Ziko tidak mau mengganggu, tapi ternyata sejak sore kekasihnya hilang dan tidak ada yang memberitau dia masalah itu?!


'....'


"Terus Vina gimana?" Tanya Ziko cemas


'....'


"Shit! Lo harusnya bilang Van! Bilang supaya gue bisa bantu! Agh sial gue kesana sekarang." Kata Ziko


Tanpa mengatakan apapun lagi Ziko mematikan sambungan telponnya lalu bergegas pergi, tapi sebelum itu dia berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Vina kenapa sayang?" Tanya Nazwa


"Vina kemarin hilang, tapi sekarang sudah ditemukan makanya Ziko mau kesana nanti Ziko jelasin lagi." Kata Ziko


Menghiraukan panggilan orang tuanya Ziko langsung naik ke atas motornya agar dia bisa lebih cepat sampai lalu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah kekasihnya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat membayangkan kejadian buruk yang menimpa kembarannya.


Ziko benar-benar cemas andai saja Devano memberitau dia kemarin pasti dia akan ikut membantu juga.


'Vina diam aja sejak dia bangun gue gak tau lagi harus gimana, kita semua udah coba ajak Vina bicara dan bujuk dia makan, tapi dia gak mau'


Mendengar penjelasan itu saja Ziko sudah sangat yakin bahwa kekasihnya mengalami kejadian yang begitu buruk kemarin. Fikiran Ziko kacau, tapi dia beruntung bisa sampai di rumah kekasihnya dengan selamat.


Segera turun dari motor Ziko mengetuk pintu dengan cepat hingga Fahisa membuka pintu untuknya lalu tersenyum paksa. Terlihat sekali Ibu kekasihnya itu habis menangis karena matanya memerah dan begitu masuk dia juga melihat ada Kakaknya Devina disana.


"Vina ada di atas." Kata Fahisa


Ziko meminta izin untuk kesana lalu bergegas naik dan dia bertemu Devano yang baru saja keluar dari kamar.


"Lo kenapa gak bilang gue sih Van?" Tanya Ziko lagi


"Ko gue sama sekali gak mikir kesana karena kemarin semua orang bener-bener panik kita gak tau Devina dimana dan lagi ponsel dia jatuh, jadi bener-bener susah untuk cari dia dan gue gak ada fikiran untuk hubungin lo." Kata Devano menjelaskan


"Devina udah bangun?" Tanya Ziko


"Udah dia belum mau makan dan gak mau diajak bicara gue cemas banget badannya juga banyak luka." Kata Devano


"Gue masuk ya? Ada Daddy lo disana?" Tanya Ziko


"Daddy di kamar mandi." Kata Devano


Tanpa mengatakan apapun lagi Ziko masuk ke dalam dan benar dia melihat kekasihnya yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat juga tatapan mata kosong. Mendekat ke arah ranjang Ziko duduk dan menyentuh pundak Devina, tapi kekasihnya itu terlihat ketakutan.


"Jangann"


"Vina ini Ziko." Kata Ziko pelan


Devina tidak menjawab membuat Ziko cemas sekali melihatnya.


"Ini Ziko kesayangannya Vina." Kata Ziko lagi


Tetap tidak ada jawaban pandangan mata Devina benar-benar kosong.


"Devina sayang ini Ziko." Kata Ziko dengan suara yang lebih kencang


Berhasil Devina mendongak dan menatap mata Ziko.


"Ziko"


"Iya Vina ini aku." Kata Ziko


Perlahan Devina berusaha untuk bangun membuat Ziko membantunya dan mereka kembali bertatapan.


Mata Devina mulai berkaca-kaca lalu dia mengatakan sesuatu dengan suara yang begitu pelan bahkan nyaris tak terdengar.


"Ziko peluk Vina"


Mendengar hal itu Ziko langsung memeluknya dan Devina menangis sambil mengeratkan pelukannya.


"Vina takut... orang itu jahat." Kata Devina


"Iya Vina tenang ya? Kamu udah aman sekarang." Kata Ziko berusaha menenangkan kekasihnya


Cukup lama berpelukan dan menenangkan kekasihnya Ziko melepaskan pelukannya sambil mengusap pipi Devina dengan lembut lalu mencium keningnya juga kedua bola matanya.


"Aku disini Vina." Kata Ziko


"Ziko"


"Iya?"


Devina mengangkat tangannya dan menunjukkan pergelangan tangannya yang terluka, tapi bukan itu tujuannya.


"Gelang dari Mama kamu hilang." Kata Devina pelan


Ziko tersenyum sambil mengusap pipinya dengan lembut.


"Gak penting Vin, tangan kamu sakit?" Tanya Ziko


Devina mengangguk lalu melepaskan selimutnya dan menunjukkan kakinya yang juga banyak luka.


"Sakit"


Melihat hal itu Ziko merasa sangat sedih, dia tidak bisa membayangkan betapa Devina menahan sakit serta ketakutan kemarin.


"Makan ya?"


Devina menggelengkan kepalanya pelan.


"Makan ya? Aku suapin." Pinta Ziko


Devina diam sambil menatap mata kekasihnya lalu mengangguk singkat membuat Ziko tersenyum.


¤¤¤


Seperti janji aku update tiga hari inii😂


Siapa yang ngira hari ini bakal update yang uwu-uwu😂 Hehe aku kasih kejutann nihh😋