
Mengingat ujian sudah dalam waktu dekat dan Devina yang selalu mengalami kesulitan belajar akhirnya meminta kembarannya untuk membantu dia belajar setiap malam. Sekarang sudah pukul delapan mereka baru saja selesai makan malam dan sekarang Devina sedang mengambil buku Matematika di laci belajarnya lalu bergegas pergi ke kamar Devano.
Sudah tiga hari belakangan ini Devina belajar bersama dengan kembarannya bahkan terkadang hingga cukup larut dan kalau Devano memintanya untuk berhenti barulah Devina pergi ke kamarnya. Kedua orang tua mereka juga tau kalau setiap malam Devina selalu pergi ke kamar Devano untuk belajar dan tentu saja mereka ikut senang mendengarnya.
"Vanoo"
Mengetuk pintu kamar kembarannya Devina menunggu untuk dibukakan pintu dan langsung tersenyum ketika Devano membuka pintu. Pria itu memakai kaos dan celana pendek dia ikut tersenyum ketika melihat kembarannya.
"Mau belajar lagi?" Tanya Devano
Devina mengangguk dengan semangat dan langsung masuk ketika Devano memberikan ruang untuknya. Kamar Devano sangat rapih dan dia langsung duduk di karpet lalu menepuk-nepuk tempat di dekatnya.
"Ayoo belajarr"
Tertawa kecil Devano duduk disamping Devina lalu membuka buku cetak yang kembarannya itu bawa.
"Kemarin sampai mana?" Tanya Devano
Devina bergumam pelan sambil membuka bukunya ke halaman dua ratus sepuluh dan menunjuk bagian yang terakhir mereka berdua pelajari.
"Ini yang x y x y inii." Kata Devina
"Yang kemarin udah faham kan?" Tanya Devano
"Belumm." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
Menghela nafasnya pelan Devano tidak mengerti, kenapa susah sekali mengajari Devina?
Padahal mereka berdua telah mengulang berkali-kali kemarin.
"Mananya yang enggak faham?" Tanya Devano lembut
"Semuaa"
Mendengar hal itu Devano menatapnya dengan tidak percaya, yang benar saja mereka sudah mengulangnya berkali-kali kemarin.
"Semua?" Tanya Devano memastikan
"Iyaa orang jalannya panjang banget terus ribet, memang gak ada yang mudah ya Van?" Tanya Devina
"Enggak ada Vin." Kata Devano
"Susah tauu." Keluh Devina sambil mengerucutkan bibirnya
"Yaudah kita ulang lagi ya?" Kata Devano
"Iyaa"
"Tapi, perhatiin dan dengerin aku." Kata Devano yang dijawab dengan anggukan oleh kembarannya
Tersenyum tipis Devano membuka buku tulis kembarannya lalu mengambul pulpen.
"Nih lihat ya? Kita pakai soal yang nomor dua." Kata Devano
Kembali menganggukkan kepalanya Devano menjelaskan dengan penuh kesabaran dan menjawab semua pertanyaan juga keluhan Devina. Hampir setengah lembar itu penuh barulah mereka sampai di hasil akhir dan Devano membulatkan jawaban yang sudah didapatkan.
"Jawabannya ini Vin." Kata Devano
Devina hanya menganggukkan kepalanya, tapi wajahnya terlihat bingung.
"Sekarang coba kamu kerjaiin yang nomor tiga." Kata Devano
Menggeser bukunya kepada Devina dia dapat melihat wajah penuh kebingungan kembarannya bahkan gadis itu bingung harus memulai dari mana.
Sumpah demi apapun Devina susah sekali memahami pelajaran Matematika.
"Ini gimana?" Tanya Devina membuat Devano menghela nafasnya pelan
"Kan barusan aku jelasin Vin." Kata Devano
Sedikit lelah juga dia menjelaskan dua hari berturut-turut dan kembarannya masih belum faham.
"Tapi, bingung." Kata Devina
"Makanya dengerin Vina." Kata Devano
"Udah dengerin." Kata Devina
"Yaudah aku kasih tau sekali lagi." Kata Devano
Kembali menjelaskan dengan soal yang lainnya Devina kembali memperhatikan, tapi dia masih tetap bingung dan tidak mengerti apa yang kembarannya itu katakan. Entah penjelasan Devano yang sulit dimengerti atau Devina yang terlalu susah untuk memahami.
Setelah selesai Devano meminta Devina untuk mengerjakan soal selanjutnya dan dengan sedikit ingatakannya Devina mencoba untuk menjawab. Namun, baru setengah jalan dia sudah bingung lalu menatap Devano lagi.
Sudahlah dia malas!
"Terus kayak mana?" Tanya Devina
"Coba lihat contoh aku." Kata Devano sambil menunjuk lembar disampingnya
Devina menurut dan melihat jawaban yang tadi Devano cari, tapi tetap saja dia tidak mengerti.
"Vano susahh." Keluh Devina sambil meletakkan pulpennya begitu saja
"Enggak susah Vina coba dulu." Kata Devano
"Dari kemarin udah coba, tapi enggak bisa-bisa." Kata Devina
"Cob dulu enggak papa kalau jawabannya salah yang penting kamu tau dulu caranya." Kata Devano
"Udah bisanya sampai sini doang." Kata Devina sambil menunjuk hasil kerjanya
"Itu udah bener, tapi baru setengah Vin lanjutin dulu." Kata Devano
"Enggak bisa Vann." Keluh Devina
"Bisa Vina." Kata Devano dengan sabar
"Udah ah enggak bisa, pindah aja yang lain." Kata Devina sambil membalik ke lembar selanjutnya
"Vina satu-satu dulu belajarnya kalau yang ini udah faham baru ke selanjutnya, kamu tau kan ini sering muncul kalau ujian?" Kata Devano
Menghela nafasnya pelan Devina mengangguk singkat dan menurut lalu kembali mencoba melanjutkan soal yang sedang dikerjakan.
"Ini dikalikan Vin." Kata Devano
Mengikuti perkataan kembarannya Devina melakukan hal yang Vano katakan dengan keyakinan kalau dia bisa, meskipun dia juga ragu.
"Belumm"
"Masa belum Vin? Dari kemarin kan kita bahas ini terus, coba lagi ya?" Kata Devano membuat kembarannya itu diam
Devano mengatakannya dengan penuh kelembutan, tapi perkataannya membuat Devina diam dan merasa bersalah. Pasti Devano lelah mengajari dia yang bodoh ini dan sekarang Devina tidak mood lagi untuk belajar.
"Udah aku mau tidur aja." Kata Devina lesu
Mengerutkan dahinya bingung Devano menahan Devina yang ingin merapihkan buku-bukunya.
"Kan belum selesai biasanya sampai malam." Kata Devano sambil tersenyum
"Gak papa percuma sampai malam juga akunya enggak faham-faham, aku mau tidur aja besok juga gak mau belajar lagi." Kata Devina
"Gak ada yang percuma Devina." Kata Devano
"Akunya memang bodoh gak kayak Vano yang pintar." Kata Devina
"Kamu itu pintar Devina lemah di satu pelajaran bukan berarti kamu bodoh." Kata Devano dengan lembut
"Tapi, kamu capek ngajarin aku yang enggak ngerti-ngerti." Kata Devina membuat Devano tersenyum mendengarnya
"Capek apa Vin? Enggak lah aku malah senang bisa ajarin kamu." Kata Devano
"Bener?"
"Masa bohong? Udah sini belajar lagi." Kata Devano
Mengangguk patuh Devina menurut dan kembali membuka bukunya lalu menatap Devano sebentar.
"Sekali lagi ya?" Kata Devano
Mengerjakan soal lagi kali ini Devano menjelaskannya dengan perlahan agar Devina bisa menangkan semua yang dia ucapkan. Devina juga memperhatikan dalam diam mencoba untuk memahami penjelasan dari kembarannya.
Devina memang lemah sekali dalam pelajaran Matematika padahal orang tuanya beberapa kali melakukan les privat, tapi tetap saja Devina tidak faham.
"Coba lagi." Kata Devano
Mengangguk singkat Devina kembali mencona untuk mengisi jawaban dari nomor selanjutnya. Berbeda dengan Devano yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit Devina benar-benar menghabiskan waktu sampai empat puluh lima menit untuk mengisi satu nomor.
"Bener gak?" Tanya Devina sambil tersenyum
Bangga karena berhasil selesai.
Devano memperhatikannya satu per satu lalu mengangguk dan membuat Devina bersorak senang.
"Yesa benerr." Kata Devina
Tertawa kecil Devano mengusap keringat di dekat dahi Devina bahkan gadis itu sampai mengeluarkan keringat.
"Aku udah bekerja sangat keras makanya sampai keringatan." Kata Devina
Mencubit gemas pipi kembarannya Devano lalu membalik ke halaman selanjutnya.
"Aku jelasin satu lagi ya? Nanti kita kerjaiin solan lagi." Kata Devano
"Siap Bosss"
Baiklah kali ini Devina menghabiskan berjam-jam dengan angka dan suara penjelasan Devano.
Demi ujian dia rela melakukan ini semua.
¤¤¤
"MOMMY VINA KESIANGAN!"
Wajah panik Devina terlihat bersamaan dengan dia yang berlari turun ke bawah sambil membawa tas, rambutnya masih setengah basah karena Devina sangat terburu-buru. Rasanya kesal karena tidak ada yang membangunkannya apalagi ketika sampai di bawah yang lainnya tengah sibuk sarapan, mereka tidak membangunkan Devina.
Memgerucutkan bibirnya kesal Devina menarik kursinya dengan penuh kekesalan lalu duduk dan mengambil sendok, enggan untuk menyapa. Tadi Devina bangun ketika pukul setengah tujuh dan dia belum mandi atau menyiapkan bukunya.
Tentu saja Devina panik setengah mati.
"Vina nanti sore kita ke rumah Tante Dara." Kata Fahisa
Devina hanya bergumam pelan dan memakan sarapannya dengan malas bahkan baru beberapa suap Devina berhenti lalu meminum air hangatnya.
"Vin habisin." Kata Devano
"Malas nanti kita telat, buruan!" Kata Devina galak
Bukan hanya Devano, tapi yang lainnya juga menatap Devina dengan bingung padahal ini masih pagi.
"Telat apasih Vin? Ini kan masih setengah tujuh." Kata Devano
"Iyatah? Aku tadi bangun jam setengah tujuh." Kata Devina bingung
"Mungkin jam kamar kamu mati sayang coba lihat di hp." Kata Daffa
Mengeluarkan ponselnya Devina langsung lesu ketika melihat memang masih jam setengah tujuh, ternyata jam di kamarnya yang mati padahal dia sudah buru-buru sekali tadi.
"Belum kan? Makan dulu habisin." Kata Fahisa
"Vina kiraiin Vina kesiangan." Kata Devina membuat yang lainnya tertawa
"Enggak sayang kamu gak kesiangan." Kata Daffa
"Daddy kita kenapa ke rumah Tante Dara?" Tanya Devina
"Tante Dara yang minta." Kata Fahisa membuat Devina mengangguk faham dan kembali memakan sarapannya
Selesai menyantap sarapannya si kembar pamit untuk berangkat ke sekolah dan hari ini Devano pergi dengan motor. Setelah memakaikan helm pada Devina barulah mereka berdua pergi ke sekolah bersama-sama.
Selama perjalanan Devina mengalihkan pandangannya ke jalanan, merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya dan lagi sebentar lagi mereka berdua ulang tahun. Tidak sabar menunggu hadiah yang akan kedua orang tuanya berikan dan Devano serta Ziko berikan padanya.
Devina penasaran siapa yang akan mengucapkan paling pertama di ulang tahunnya.
¤¤¤
Kenapa yya Vano bisa sabar?
Aku kalo sama Kakak aku belajar bareng pasti dehh udah dimarahin😑
Ihh masa gitu aja gak bisa
Berikan aku saudara seperti Devano donggg😌