My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (14)



Asam lambung


Berbeda dengan Sahara yang sering terkena tifus Devina memiliki asam lambung yang selalu kambuh setiap kali dia telat makan. Mungkin itu sebabnya Devano selalu memperhatikan makanan Devina serta mengingatkan jam makannya agar tidak telat.


Sayangnya karena kemarin dia marah dan pergi ke rumah temannya Devina melewatkan makan malamnya juga hanya memakan sarapan sedikit sekali tak sampai disitu Devina juga telat makan siang. Awalnya Devina terlihat baik-baik saja, tapi setelah keluar dari kelas dia mulai merasa pusing serta perih diperutnya dan ketika pulang rasa sakitnya semakin menjadi.


Tanpa sadar Devina jatuh pingsan hingga membuat Devano serta Fahisa langsung membawanya ke rumah sakit. Sekarang mereka masih berada di IGD menunggu Devina yang masih diperiksa dan kembarannya itu masih belum membuka matanya.


Devano panik sekali dan sekarang dia jadi merasa bersalah, semua salahnya harusnya dia tidak marah.


"Mommy maaf semua salah Vano." Kata Devano pelan


Fahisa hanya diam tidak mengatakan apapun hingga akhirnya suara Daffa terdengar dan membuat mereka berdua menoleh.


"Hisa gimana keadaan Devina?" Tanya Daffa panik


"Belum tau Mas masih diperiksa tadi dia belum sadar." Kata Fahisa


Menghela nafasnya pelan kini Daffa menatap anaknya dengan tajam.


"Kamu Devano kenapa kemarin tidak pulang?!" Tanya Daffa marah


"Mas udah ah jangan ribut ini di rumah sakit." Kata Fahisa sambil memegang lengan suaminya


Devano juga masih diam dia takut sekali kalau Devina sampai kenapa-kenapa.


Beberapa menit setelahnya seorang dokter menemui mereka dan membuat Daffa langsung bertanya tentang keadaan anaknya. Pria berjas putih itu pun menjelaskan tentang keadaan Devina yang asam lambungnya kambuh serta tekanan darah yang cukup rendah dan dia mengatakan kalau Devina perlu dirawat untuk beberapa hari kedepan.


Tentu saja Daffa langsung setuju meskipun tau kalau Devina benci sekali dengan rumah sakit, tapi kesehatan anaknya lebih penting dari apapun.


"Dia sudah sadar." Kata Dokter itu ketika Devano bertanya


Tanpa mengatakan apapun atau meminta izin dari kedua orang tuanya Devano bergegas masuk dan melihat keadaan Devina. Matanya menangkap sosok yang tadi begitu manja padanya kini terlihat begitu lemah dengan wajah yang sangat pucat.


Tanpa berfikir lagi Devano menghampiri Devina dan menggenggam tangannya membuat Devina menatapnya dengan sayu.


"Maaf ya?" Kata Devano pelan


Devina hanya bergumam pelan karena sekarang dia lemas sekali kepalanya juga sakit.


"Vina"


"Hmm"


"Maaf Vin." Kata Devano lagi


Devina kembali bergumam lalu meringis ketika perutnya kembali terasa sakit.


"Vin kenapa?" Tanya Devano cemas


Devina tidak memberikan jawaban apapun dia hanya menggenggam kuat tangan kembarannya.


"Vano sakitt"


Devina merengek sambil memegangi perutnya yang terasa perih.


Tentu saja Devano merasa panik dan cemas, tapi beberapa saat setelahnya beberapa perawat datang lalu mengatakan kalau dia ingin memasang infus.


"Enggak mauu." Rengek Devina sambil berusaha menarik tangannya


"Vina biar cepat sembuh." Kata Devano


"Enggak Van aku enggak mau." Kata Devina dengan air mata yang mengalir


Bersamaan dengan itu Fahisa datang dan meminta Devano untuk keluar biar dia yang menemani serta membujuk Devina. Merasa kalau Fahisa lebih mengerti Devano mengangguk singkat dan berjalan keluar sambil sesekali menoleh ke belakang.


Kembali pada Devina yang malah menangis dan menggenggam tangan Fahisa kuat sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak Vina enggak mau." Isak Devina


"Sayang jangan gitu ya? Biar cepet sembuh." Kata Fahisa


"Enggak Mommy"


"Hey cuman sebentar kok, mau ya? Biar cepat sembuh memang Vina mau sakit terus?" Kata Fahisa berusaha membujuk anaknya


"Enggak Mom"


"Devina sayang, sini lihat Mommy kalau takut." Kata Fahisa


Devina menatap Fahisa dengan mata berkaca-kaca, dia tidak mau diinfus apalagi sampai di rawat, tapi perutnya sakit sekali.


"It's okay sayang Mommy disini." Kata Fahisa


Melihat Devina yang perlahan tenang Fahisa melepaskan tangan Devina yang menggenggamnya dan membiarkan perawat untuk melakukan tugas mereka. Mata Devina terpejam ketika dia merasakan suntikan ditangannya dan dia baru merasa lega setelah selesai.


Begitu perawat itu pergi Fahisa menatap anaknya dengan senyuman lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Habis ini Vina pindah ke ruang rawat." Kata Fahisa


Devina tidak mengatakan apapun dan hanya diam, dia ingin bertanya tentang kembarannya hanya saja dia sangat lemas sekarang bahkan untuk bicara saja dia enggan.


Selagi menunggu Devina dipindahkan ke ruang rakat Fahisa menunggu dan duduk didekat anaknya sambil menggenggam tangan Devina yang tidak diinfus. Sekarang Devina benar-benar hanya diam dngan tatapan lurus ke depan benar-benar membuat Fahisa tidak tega melihatnya


Entah berapa lama, tapi begitu dua orang perawat datang dengan kursi roda Fahisa langsung membantu anaknya untuk bangun dan mereka mengantar Devina ke ruang rawatnya. Setelah sampai Devina langsung dibantu untuk berbaring di ranjang dan Devina yang memang lemas sekali hanya diam lalu memejamkan matanya ketika dia sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Begitu perawat itu keluar Fahisa langsung menelpon suaminya dan mengirim pesan pada Devano bahwa sekarang Devina sudah ada di ruang rawatnya.


"Mom"


"Iya Vina?"


"Minum"


Fahisa mengangguk singkat dan bergegas mengambilkan minum lalu membantu Devina untuk minum.


"Sudah?"


"Hmm sudah"


"Apa yang sakit sayang?" Tanya Fahisa dengan penuh kelembutan


"Perutnya perih dan kepalanya sakit." Kata Devina pelan


"Vina kenapa tadi gak makan siang dulu pas mau ke kampus hmm?" Tanya Fahisa


"Vina takut telat dan tadi juga belum lapar." Kata Devina


Helaan nafas Fahisa terdengar dia mengusap kepala anaknya dengan sayang dan bersamaan dengan itu pintu terbuka dengan Daffa bersama Devano yang langsung masuk ke dalam.


"Vina, kenapa bisa sampai begini? Daddy kan bilang jangan sampai telat makan kamu juga tadi malam gak makan." Kata Daffa panik


Devina hanya diam sambil menatap Daffa dengan raut wajah memelas, meminta agar pria paruh baya itu tidak memarahinya.


"Kamu akan di rawat untuk beberapa hari ke depan sampai sembuh, kali ini jangan membantah Daddy." Kata Daffa


Hanya anggukan singkat yang dapat Devina berikan.


"Nanti malam biar Mommy yang menginap Vano sama Daddy akan pulang." Kata Daffa


"Dad enggak aku mau ja..."


"Devano, biar Mommy saja ya? Kamu sering kali panik berlebihan kalau masalah Devina, jadi biarkan Mommy yang menjaga malam ini dan Daddy tidak akan halangi kalau kamu besok pagi mau datang." Kata Daffa


Devano akhirnya diam dan tidak bisa melayangkan protes apapun.


"Iya"


Tersenyum tipis Devano langsung menghampiri Devina dan mengusap kepalanya dengan sayang membuat gadis itu memejamkan matanya.


"Maaf"


"Bukan salah Vano." Kata Devina pelan


"Masih sakit?" Tanya Devano


"Hmm masih"


"Vano kamu disini sama Vina ya? Biar Daddy antar Mommy pulang untuk ambil keperluan." Kata Daffa membuat Devano menoleh lalu mengangguk


"Iya Dad"


"Hubungi Daddy kalau ada apa-apa." Kata Daffa


Devano kembali mengangguk sambil menatap kedua orang tuanya yang berjalan menjauh keluar dari ruangan. Setelah pintu ruangan tertutup Devano menatap kembarannya lagi dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Vano aku mau tidur ya?" Kata Devina pelan


"Iya Vin tidur aja aku disini." Kata Devano


"Vano jangan kemana-mana." Kata Devina manja


"Iya Devina"


Devina menggenggam tangan kembarannya lalu mulai memejamkan mata, rasa kantuk mendadak menyerangnya hingga Devina ingin tidur.


Tak butuh waktu lama nafas Devina mulai teratur dengan Devano yang tersenyum melihatnya.


Tak sampai sehari Devano marah dan mendiamkan Devina, tapi kembarannya itu sampai sakit.


Menghela nafasnya pelan Devano menciun keningnya dengan lembut dan bergumam pelan.


"Maaf Devina dan cepat sembuh"


¤¤¤


Malam ini Devina hampir tidak bisa tidur dia terus terbangun sambil meringis sakit atau merengek pada Fahisa yang dengan setia menemaninya. Perut Devina kembali sakit bahkan tadi ketika dia makan Devina kembali muntah, tapi Fahisa meminta dia untuk terus makan agar perutnya tidak kosong.


Sekarang Devina kembali terbangun padahal jam sudah menunjukkan pukul dua malam, tapi matanya kembali terbuka dan dia merengek pada Fahisa. Dengan sedikit isak tangis Devina meminta untuk pulang saja karena dia tidak betah.


"Vina kan masih sakit tidak boleh pulang sama Dokter." Kata Fahisa


"Vina mau pulang aja Mommy bilangin sama Daddy." Kata Devina


"Iya besok Mommy bilang ya?" Kata Fahisa


"Sekarang Mommy." Rengek Devina


"Sayang sekarang Daddy pasti sudah tidur, besok ya?" Kata Fahisa dengan penuh pengertian


Setidaknya dia akan membujuk Devina untuk malam ini dan masalah besok ada Daffa yang selalu bisa membuat anaknya menurut.


"Vina mau pulang." Kata Devina pelan


"Iya besok kita pulang, sekaranv Vina tidur biar besok sama Daddy boleh pulang." Kata Fahisa


"Mommy sini aja jangan kemana-mana." Kata Devina sambil menggenggam erat tangan Fahisa


"Iya Mommy disini." Kata Fahisa


"Mommy telpon Vano." Kata Devina lagi


"Vano pasti sudah tidur sayang dan sekarang kamu juga harus tidur ya?" Kata Fahisa


"Sebentar aja Mommy kalau gak diangkat gak papa." Kata Devina dengan raut wajah memelas


Fahisa menghela nafasnya pelan lalu mengambil ponselnya dan menghubungi anak laki-lakinya.


Ternyata diangkat Devano langsung bertanya dengan suara paniknya.


"Vina tidak bisa tidur dan dia minta Mommy untuk telpon kamu." Kata Fahisa


'Apa dia masih kesakitan?'


"Hmm masih, Vina ini sayang bicara sama Vano." Kata Fahisa


Devina mengambil ponsel itu dan meletakkannya di dekat telinga.


"Vano"


'Kenapa belum tidur?'


"Enggak bisa tidur." Kata Devina pelan


'Tidur Devina biar cepat sembuh, besok pagi aku kesana'


"Besok Vina mau pulang." Kata Devina


'Mana bisa Devina kamu kan masih sakit'


"Tapi, Vina mau pulang." Kata Devina


Devani tidak menjawab dan hanya bergumam pelan, dia tau orang tuanya tidak akan membolehkan Devina pulang sampai dia sembuh.


"Vanoo"


'Iya'


"Aku mau peluk." Kata Devina membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


'Besok pagi kan aku kesana'


"Yaudah Vina matiin telponnya." Kata Devina


'Istirahat ya Devina dan cepat sembuh'


"Emm dadah Vano." Kata Devina


'Hmm sampai ketemu besok Devina'


Bergumam pelan Devina mengatakan kalau dia sudah selesai dan meminta Fahisa untuk mematikan telponnya.


"Sudah sayang?" Tanya Fahisa


"Sudah, Vina cuman mau denger suara Vano." Kata Devina


Tersenyum manis Fahisa kembali mengusap kepala anaknya dan Devina memejamkan matanya lagi berusaha untuk kembali tidur.


Mendengar dan berbicara dengan Devano meski hanya sebentar membuat Devina tenang.


Perlahan Devina mulai terlelap.


¤¤¤


Gak tau deh badmood parahh jadi gak semangat lagi mau nuliss😳


Maaf banget udah buat nunggu dan semoga suka sama partnya😊