
Terbangun dengan melihat wajah kembarannya Devano baru sadar kalau ternyata semalaman dia tidak pindah dan benar-benar tidur disamping Devina, tapi bedanya gadis itu sudah berada di ujung ranjang sekarang. Memang begitu Devina kalau tidur bergerak kesana kemarin bahkan bukan tidak mungkin kalau tadi malam gadis itu menendangnya, Devina juga beberapa kali terjatuh dari kasur.
Melirik jam yang masih menunjukkan pukul lima Devano dengan hati-hati turun dari ranjang dan pergi ke kamarnya, tidak mau mengganggu tidur kembarannya. Bersamaan dengan dia yang keluar dari kamar Fahisa juga baru saja keluar dari kamarnya dan sekarang wanita paruh baya itu menatapnya dengan bingung.
Menghampiri anak laki-lakinya Fahisa bertanya, apa yang Devano lakukan?
"Tadi malam Vina minta ditemani tidur Mom, tapi aku malah ikut ketiduran." Kata Devano membuat Fahisa menggelengkan kepalanya pelan
"Yaudah nanti kalau udah agak pagi bangunin Devina biar tidak bangun kesiangan." Kata Fahisa
Devano mengangguk patuh lalu Fahisa menepuk pelan pundaknya dan berlalu pergi menuju dapur, tentu saja untuk mempersiapkan makanan. Memang selalu begitu Fahisa terbiasa bangun sangat pagi dan langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Kembali ke kamarnya Devano mengambil ponselnya yang tergeletak di atas bantal dan ada cukup banyak pesan dari Adara yang membuatnya tersenyum.
Vannn
Lagi sibuk yaa?
Yaudah gak papa nanti kalau udah gak sibuk balas yaaa!
Mendudukkan dirinya ditepian ranjang Devano membalas pesan dari kekasihnya itu dan hal yang tak terduga Adara langsung membacanya.
Apa gadis itu sudah bangun?
^^^Maaf Dar tadi malam ketiduran^^^
Iyaa gak papa
^^^Kamu gak tidur?^^^
Ini barusan bangun, aku ngidupin alarm hehe
^^^Yaudah mandi dulu dan jangan lupa sarapan sebelum berangkat^^^
Iyaa siap laksanakan
Devano tertawa kecil ketika membaca balasan pesan dari kekasihnya.
^^^Aku mau mandi dulu biar gak kesiangan dan biar bisa lihat kamu juga di sekolah^^^
Ihh gomballl :(
^^^Gak suka?^^^
Sukaaaa
Menggelengkan kepalanya pelan Devano kembali meletakkan ponselnya dan pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Butuh waktu selama kurang lebih tiga puluh menit untuk Devano keluar dari dalam kamar mandi dengan sudah memakai seragam sekolahnya. Sambil mengeringkan rambutnya Devano mengambil ponselnya yang tergeletak di atas bantal dan ternyata belum ada balasan lagi dari kekasihnya, mungkin dia lagi bersiap.
Setelah selesai Devano pergi ke kamar kembarannya untuk membangunkan gadis itu, tapi ternyata dia sudah bangun dan sedang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah bantalnya. Melihat hal itu Devano tertawa lalu mengetuk pintu kamarnya pelan dan melangkahkan masuk.
Mata Devina menyipit, tapi ketika tau kalau kembarannya yang baru saja masuk dia tersenyum.
"Baru mau aku bangunin." Kata Devano
"Emm udah bangun, kamu rajin banget udah selesai siap-siap." Kata Devina pelan
Dia masih terlihat mengantuk.
"Memang rajin kan? Yang pemalas kan kamu bukan aku." Canda Devano yang berhasil membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal
"Yaudah kamu siap-siap dulu aku mau ke bawah, cepetan nanti kita terlambat." Kata Devano
"Belum ada jam enam." Kata Devina
"Kamu kan siap-siapnya lama Vina." Kata Devano lembut
"Hmm iya iya yaudah kamu pergi aja sana." Kata Devina
Gadis itu bangun dari tempat tidurnya dan mendorong tubuh Devano agar keluar dari dalam kamarnya.
"Yaudah aku mau mandi sanaaaa"
Tertawa kecil sebelum pergi Devano mencium pipi kembarannya lama dan membuat Devina sedikit tersentak lalu menatap Devano yang sekarang tersenyum manis ke arahnya.
Devina masih tetap diam ketika Devano melangkahkan kakinya menjauh.
Dia terkejut karena Devano tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.
¤¤¤
Pukul enam lewat empat puluh lima menit Motor Devano sudah terparkir di parkiran yang sekolah yang masih cukup sepi. Disampingnya ada Devina yang menyerahkan helm yang tadi dia kenakan lalu mereka berdua berjalan beringan menuju kelas.
Seperti biasa Devano selalu menggenggam erat tangan kembarannya meskipun mereka berdua hanya jalan menuju kelas. Keadaan sekolah masih sepi dan Devina sangat yakin kalau teman-temannya belum pada datang apalagi Mona, mungkin baru Nayla.
Apalagi kekasihnya pria itu sering datang terlambat atau bersamaan dengan bel masuk yang berbunyi. Bicara tentang kekasih dia jadi ingat kemarin ketika mereka menghabiskan waktu dengan banyak hal dan tanpa sadar senyumnya mengembang.
"Vanooo"
"Iyaa"
"Tadi malam kamu gak balik lagi ke kamar ya?" Tanya Devina membuat Devano menoleh sebentar dan mengangguk
"Hmm malah ikut ketiduran, kamu tendangin aku pas tidur." Kata Devano
"Ihh enggak kamu bohong." Kata Devina tidak terima
Devano tertawa kecil dan kembali mengatakan hal yang membuat Devina kesal bukan main.
"Bener, kamu kan tidur gak mungkin ingat." Kata Devano
"Enggak Vano jangan bohong!" Kata Devina sambil mencubit lengannya
"Aku gak bohong, kamu kan kalau tidur memang kayak gitu." Kata Devano lagi
"Enggak!" Kata Devina
Gadis itu memukul lengan kembarannya lalu melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Devano dengan perasaan kesal. Sedangkan Devano hanya bisa tertawa melihatnya lalu tetap berjalan di belakang Devina dan memperhatikan gadis itu dengan baik.
Padahal kalau tidur Devina memang seperti itu tidak bisa diam, tapi setiap kali dikatakan begitu dia pasti marah dan ngambek.
Sibuk memperhatikan Devina mata Devano membulat ketika matanya menangkap sosok yang tengah berlari sambil menoleh ke belakang dan secara refleks dia langsung menarik tangan Devina.
"Awas Vin"
Tubuh Devina terhuyung ke belakang dan dia dapat melihat kembarannya yang menggerutu sambil menoleh ke belakang dimana dua orang tengah berlari.
"Gak punya mata"
Devina tersenyum lalu mengajak Devano untuk kembali jalan ke kelas, lagi pula dia baik-baik saja.
"Kamu juga lihat ke depan Vin kalau jalan, gimana coba kalau tadi dia nabrak kamu beneran?" Tanya Devano
"Ya aku jatuh." Kata Devina sambil tertawa
Tapi, tawanya terhenti ketika Devano menatapnya dengan serius.
"Jangan ngomong gitu." Kata Devano tegas
"Ihh iya enggak." Kata Devina dengan senyuman
Akhirnya mereka berdua kembali berjalan menuju kelas tanpa ada percakapan dan ketika Devina melihat sosok temannya dari arah yang berlawanan dia berseru. Saat mata mereka bertemu Devina melambaikan tangannya dengan semangat lalu dia melepaskan tangan Devano dan berlari ke arah Nayla.
"NAYLAAA"
Benar dugaannya baru Nayla yang datang bahkan kelasnya masih cukup sepi.
Karena Devina sudah bersama temannya Devano memilih untuk pergi ke kelasnya, dia juga ingin bertemu kekasihnya.
"Yang lain lama ya datangnya?" Kata Devina dengan wajah cemberut
"Nanti Vin detik-detik terakhir baru muncul." Kekeh Nayla
"Kamu kok berangkatnya pagi banget sih Nay?" Tanya Devina penasaran
Nayla menghela nafasnya pelan dan memberi tau alasan kenapa dia selalu datang pagi.
"Soalnya Ayah nganterin gue sama adek gue dan ya karena sekolah adek gue cukup jauh jadi berangkatnya pagi-pagi banget, gue gak ada pilihan lain selain ikut datang pagi, malas banget kalau harus keluar duit untuk naik bus." Kata Nayla
Devina mengangguk faham, dia juga hampir tidak pernah naik kendaraan umum karena setiap mau pergi pasti di antar dan di jemput.
Naik ojek online saja baru waktu itu ketika dia dan Devano sedang marahan.
"Ehh Vin gue sama yang lain nanti pulang sekolah mau main, mau ikut gak?" Tanya Nayla
"Memang mau kemana?" Tanya Devina dengan antusias
"Niatnya sih mau ke rumah Mona." Kata Nayla
"Ihh mau ikut nanti aku bilang sama Vano dulu ya?" Kata Devina
"Iya kalau itu harus gue gak mau lo dimarahin nanti." Kata Nayla sambil tertawa kecil
"Mau ngapain aja di rumah Mona?" Tanya Devina lagi
"Girls time aja Vin kita nonton film, curhat-curhatan dan banyak deh yang bisa dilakuin." Kata Nayla membuat Devina semakin bersemangat
"Kalau gitu aku harus ikut." Kata Devina senang
Mereka berdua lalu mengobrol sambil menunggu bel masuk juga yang lainnya datang.
Devina suka sekali mengobrol dengan Nayla karena gadis itu selalu memiliki topik bahasan yang menyenangkan.
"Iya Vin sumpah lo pernah gak sih kayak gitu? Gue kan gak tau apa-apa ya masa di salahin." Kata Nayla kesal
"Emm enggak pernah." Kata Devina
"Padahal semua orang juga tau itu cowok suka sama cewek lain, tapi malah gue yang disalahin mana langsung di jutekin sama tetangga gue." Kata Nayla membuat Devina tertawa
"Kok bisa Nay?" Tanya Devina
"Ya itu mulut ghibahnya si Naomi yang bilang kalau gue ngerebut gebetan dia padahal enggak, lagian masih gebetan juga udah kegeeran." Kata Nayla dengan wajah yang lucu dan membuat Devina tertawa
Baru akan menanggapi suara seseorang yang sangat dia kenal terdengar dan sesaat setelahnya orang itu duduk di atas meja sambil menatapnya dengan senyuman.
Devina menggelengkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya dan melihat kalau sekarang teman-temannya sedang menatap dia.
"Hai Vina"
Dia Ziko yang baru saja datang.
"Hai juga Ziko, sekarang kamu turun kata Mommy gak boleh duduk di meja." Kata Devina sambil mendorong tubuh Ziko pelan
Tertawa kecil Ziko akhirnya menyingkir dan sebelum ke tempat duduknya dia mencubit pelan pipi Devina.
"Ishhh jahil!"
Nayla yang memperhatikan itu semua hanya bisa diam, terkadang dia ingin pergi saja kalau Ziko dan Devina sedang berdua.
Tidak, tapi bertiga juga bagi mereka tetap berdua.
"Vin"
"Emm apa lagi lanjutannya?" Tanya Devina
"Enggak bukan mau cerita, mau nanya gue." Kata Nayla
"Nanya apa?" Tanya Devina sambil tersenyum dan menatapnya
Berdeham pelan Nayla bertanya dengan suara yang pelan agar tidak terdengar Ziko.
"Lo gak ada niatan mau nyariin pacar untuk gue apa? Ngenes banget tiap hari ngeliat lo sama Ziko"
Mendengar hal itu Devina tertawa, astaga Nayla lucu sekali.
Tapi, kalau kalian jadi Nayla kalian pasti akan mengerti.
¤¤¤
Wajah cemberut Devina terlihat sejak kekasihnya bersama teman-temannya sedang bermain futsal di lapangan, memang sedang jam kosong. Hal yang membuat Devina kesal adalah Ziko melepas seragam sekolahnya dan hanya menyisakan kaos putih polos yang malah membuat dia semakin tampan.
Selain itu keringat yang mengalir juga rambut yang basah serta acak-acakan membuat Ziko terlihat semakin tampan, Devina kesal. Seragam sekolah pria itu ada di dekatnya karena tadi Ziko menyampirkannya di bangku yang sekarang Devina dan yang lainnta duduki.
"Mau tebar pesona itu Vin." Kata Mona membuat Devina semakin cemberut
"Iya Vin ini kan udah mau istirahat nanti banyak cewek-cewek yang lewat." Kata Cessa semakin memancing
Benar
Beberapa saat setelahnya suara bel istirahat berbunyi dan orang-orang mulai pada keluar dari kelas lalu berbondong-bondong pergi ke kantin. Saat melewati lapangan banyak siswi yang melirik lalu berbisik-bisik dan membuat Devina semakin kesal.
Apalagi ketika dia tanpa sengaja mendengar.
"Kak Ziko ganteng banget ya?"
"Sstt ada pacarnya"
Wajahnya semakin muram dan hal itu semakin membuat teman-temannya ingin tertawa juga memanas-manasi Devina.
Mata Devina membulat ketika Ziko berjalan untuk mengambil bola yang keluar dari lapangan. Bola itu berhenti ketika mengenai sepatu seorang siswi dan setelah Ziko mengambilnya lalu berdiri dia tersenyum.
Tersenyum pada gadis itu.
Bukan hanya teman-teman Devina saja, tapi Gio juga malihat perubahan ekspresinya dan membuat dia menyeringai.
"Ehh Ziko ngapain kedip-kedip mata gitu." Kata Gio dengan suara keras
Secara refleks Ziko menoleh dan melotot, tapi Gio malah tertawa lalu melirik Devina yang terlihat semakin kesal.
Mengikuti arah pandang temannya Ziko langsung membatin ketika melihat wajah kesal kekasihnya.
'Habis lo Ziko'
Menendang bolanya dan memberikan pada yang lain Ziko berlari kecil menghampiri Devina.
Dia tersenyum ketika mereka sudah berhadapan, tapi Devina masih terlihat kesal.
"Ganjen itu Vin"
"Menel banget Vin si Ziko"
"Tebar pesona ke cewek-cewek dia Vin"
Ziko melotot pada mereka bertiga, tapi mereka tidak peduli dan malah menatapnya dengan penuh ledekan.
Baru ingin bicara Devina berdiri dan mengambil seragam sekolah Ziko lalu meletakkan di kepala pria itu hingga menutupi wajahnya.
"Pake bajunyaa"
Habis sudah Devina terlihat sangat kesal.
¤¤¤
Haii maaf baru bisaa update😔
Bagaimana dengan episode iniiii???