My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (74)



Sampai sekarang Ziko masih berada di rumah Devina tepatnya di ruang tengah, dia baru saja selesai mengobati luka di dahi serta sudut bibir kekasihnya dengan hati-hati. Beruntung di rumah tidak ada orang dan kata Bi Santi orang tua Devina sedang belanja keperluan rumah lalu Devano belum pulang kuliah.


Sejak sampai Ziko juga tidak banyak bicara karena dia tau Devina pasti butuh waktu untuk cerita, gadis itu terlihat sangat ketakutan. Sungguh Ziko sangat marah dan ingin memberi pelajaran pada orang yang membuat Devina begini, tapi dia juga tidak tega kalau harus meninggalkan Devina sendirian.


Meskipun sudah tidak menangis, tapi Devina masih ketakutan bahkan dia belum mau bicara. Ziko juga belum mengatakan apapun dia diam sambil mengusap kepala Devina dengan sayang.


"Aku disini Vina"


Devina menatapnya lalu mendekat dan memeluknya lagi membuat Ziko langsung membalas pelukan itu dengan sayang.


"Ziko"


"Hmm"


"Kenapa orang-orang jahat sama Vina?" Tanya Devina pelan


Ziko diam tidak menjawab, tapi dia mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala kekasihnya dengan sayang.


"Vina salah apa?" Tanya Devina lirih


"Kamu gak salah sayang." Kata Ziko


"Tapi, kenapa... kenapa mereka jahat sama Vina?" Tanya Devina lagi


Ziko melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Devina dan menatap mata gadisnya yang kembali berkaca-kaca.


"Vina... Vina gak kenal mereka, tapi kenapa... kenapa mereka jahat?" Isak Devina


"Sst jangan nangis Vina." Kata Ziko sambil mengusap air mata kekasihnya


"Mereka... mereka jahat"


"Udah Vina jangan nangis nanti aku bakal cari tau mereka siapa." Kata Ziko dengan penuh kelembutan


"Vina salah apa sama mereka? Vina.. Vina salah apa?" Kata Devina masih dengan isakannya


"Vina gak salah." Kata Ziko


"Nanti Vina bilang apa kalau Vano sama Mommy dan Daddy lihat?" Tanya Devina takut


"Kamu ceritakan semuanya." Kata Ziko


"Enggak... enggak mau." Kata Devina


"Vina cepat atau lambat mereka bakal tau." Kata Ziko


"Enggak mau Vina takut." Kata Devina


"Kenapa takut Vina? Mereka justru bakal lindungin kamu." Kata Ziko


Devina menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Ziko dengan sangat erat membuat pria itu langsung membalas pelukannya.


'Tadi ada yang tarik Vina ke gudang, dia pukul dan dorong Vina ke tembok'


Perkataan itu yang tadi Devina katakan di mobil, tapi ketika Ziko tanya Devina bilang dia tidak kenal dengan mereka dan Devina bilang ada dua orang tadi.


Satu pria dan satu wanita yang lebih dewasa darinya.


Masih menangis Devina terus memeluk kekasihnya dengan erat beruntung tadi ada Hanifa dan Intan yang menolongnya. Mereka juga tidak kenal dengan dua orang yang melukai Devina.


Devina tidak mengerti, kenapa banyak sekali orang yang tidak suka dengannya.


Sebenarnya apa dan dimana letak kesalahannya?


¤¤¤


Sekitar pukul setengah enam akhirnya Devano sampai di rumah, dia lelah sekali hingga ingin langsung mand lalu beristirahat. Harinya cukup melelahkan dengan serangkaian ujian dan tugas akhir mengingat kalau semester ini sebentar lagi akan usai.


Baru akan masuk ke kamarnya Devano yang baru saja melewati kamar kembarannya menghentikan langkah kakinya lalu berbalik. Senyumnya mengembang dia baru ingin masuk ke dalam kamar dan menemui Devina, tapi keningnya berkerut ketika pintu kamarnya tidak bisa dibuka.


"Vina?"


Sama sekali tidak sautan meskipun Devano berkali-kali memanggil, tidak biasanya Devina begini karena Devano tau betul Devina hanya akan mengunci pintu kalau dia lagi marah atau merajuk.


"Tuan Vano"


Devano menoleh ketika Bi Santi memanggilnya.


"Bi tadi Vina udah pulang kan?" Tanya Devano


"Sudah Tuan tadi diantar sama pacarnya." Kata Bi Santi


"Ada yang aneh gak sama Vina?" Tanya Devano


"Saya tidak tau Tuan, tapi tadi kekasih Non Devina minta diambilkan kotak obat." Kata Bi Santi


"Kotak obat? Yaudah Bi makasih kalau Mommy sama Daddy?" Tanya Devano


"Tuan sama Nyonya belum pulang." Kata Bi Santi


Setelah mengatakan itu Bi Santi pergi dan meninggalkan Devano yang semakin kebingungan juga cemas hingga dia kembali mengetuk pintu.


"Devina kamu di dalam?" Tanya Devano dengan suara yang lebih keras


Tersenyum tipis Devano berjalan mendekat lalu duduk ditepian ranjang dan menyentuh pelan pundak Devina, tapi sepertinya gadis itu tidur karena tidak ada pergerakan apapun. Mengusap kepala Devina dengan sayang Devano menarik sedikit selimut yang menutupi tubuh Devina.


Tapi, dia malah melihat luka seperti memar di dahi Devina.


Jantungnya berdetak dengan sangat cepat Devano semakin membuka selimutnya dan malah melihat ada luka di sudut bibirnya juga. Merasa cemas Devano beranjak dari tempat tidur lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon Ziko untuk menanyakan semuanya.


"Vina kenapa?! Luka itu kenapa?!" Tanya Devano begitu panggilannya diangkat


'Vina gak ce...'


"Dia tidur gue gak mungkin bangunin dia tadi gue masuk kamarnya pakai kunci cadangan." Kata Devano


Terdengar helaan nafas sebelum akhirnya Ziko menceritakan semua yang tadi Devina ceritakan padanya. Mendengar itu semua tangan Devano mengepal dengan kuat sesaat setelah Ziko menyelesaikan ucapannya Devano mematikan sambungan itu secara sepihak lalu beralih menelpon Daddy nya.


Dia menoleh dan menatap Devina yang bergerak gelisah dalam tidurnya membuat Devano langsung menghampirinya.


"Vanoo"


Devina menggumamkan namanya membuat Devano langsung menggenggam tangannya dan mengusapnya pelan.


"Halo Dad bisa pulang sekarang?" Tanya Devano


'Pulang? Apa terjadi sesuatu?'


"Ini tentang Vina, tapi Daddy pulang dulu." Kata Devano


'Vina? Iya iya Daddy sama Mommy pulang sekarang'


"Iya Dad"


Setelah panggilannya di matikan Devano meletakkan ponselnya di nakas lalu menatap Devina yang perlahan membuka matanya.


Dia menatap Devano dengan sayu karena baru bangun tidur dan merasa perih dimatanya karena sejak tadi menangis.


"Vano"


Devano bergumam pelan sambil mencium kening kembarannya dengan lembut.


"Takut"


Satu kata itu sudah cukup untuk menggambarkan keadaan Devina sekarang.


¤¤¤


"Vina kenapa hmm?"


Daffa memeluk anaknya dengan sayang sambil mengusap kepalanya dan menciumnya berkali-kali, tapi Devina tetap diam tanpa mengatakan apapun. Sebelumnya Devano sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Devina padanya dan hal itu benar-benar membuat Daffa marah.


Apalagi melihat anaknya yang terluka hal itu sekali lagi membuat Daffa merasa sanga tidak berguna, dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Setelah cukup lama Daffa melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Devina dan menatapnya.


"Vina"


"Em"


"Vina kenapa bisa kayak gini?" Tanya Daffa


Devina menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak tau Vina juga gak kenal mereka." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan dengan ragu Daffa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang ada disana.


"Mereka?"


Devina menatapnya sebentar lalu menunjuk salah satu orang yang ada di foto.


"Ini"


"Dia sendirian?" Tanya Daffa


"Berdua, tapi yang satunya gak ada disini." Kata Devina pelan


Daffa menghela nafasnya kasar membuat Fahisa dan Devano menatapnya dengan penasaran.


"Mas itu siapa?" Tanya Fahisa


"Anaknya Firga aku juga baru tau tadi Kak Farhan yang kirim fotonya dan minta aku untuk hati-hati karena salah satu anaknya satu kampus dengan Devina." Kata Daffa sambil memijat dahinya cukup kuat


Menghela nafasnya pelan Fahisa mendekat lalu memeluk anaknya dengan sayang.


"Mommy ngantuk"


Devina mengatakannya dengan suara pelan sambil mengeratkan pelukannya pada Mommy nya.


Dia lelah sekali.


¤¤¤


Eyyy aku updateeee💞