My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (31)



Pernikahan yang selama ini Devano tunggu akhirnya terlaksana juga tepat di ballroom sebuah hotel mewah, semua sudah selesai di persiapkan dan pagi ini Devano dengan senyuman yang manis di wajahnya telah terlihat gagah serta tampan dengan jas membalut tubuhnya. Jantung Devano berdetak dengan sangat cepat, dia benar-benar tidak menyangka kalau hari ini dia akan merasa sangat gugup.


Rasanya Devano ingin cepat melihat Adara yang akan terlihat anggun dengan gaun pernikahannya yang berwarna putih juga riasan di wajahnya yang sebenarnya tidak Adara sukai, maksudnya sejak dulu Adara memang tidak suka merias diri bukan tidak suka, tapi memang tidak bisa juga. Sekarang Devano berada di dalam mobil dengan kedua orang tua yang mengapitnya dan sesekali dia menghela nafasnya pelan membuat Fahisa menggenggam sayang tangan anaknya.


Hari ini bukan hanya menjadi hari bahagia untuk Devano, tapi juga untuk semua orang terdekatnya bahkan Devina dengan Sahara sangat antusias mereka terus berceloteh dan mengatakan rencana untuk mengambil foto yang banyak di acara pernikahan mereka bersama dengan Devano dan Adara.


"Gugup ya?"


Pertanyaan itu membuat Devano menoleh dan menatap Daffa yang tersenyum padanya.


"Sedikit Dad." Kata Devano sambil menghela nafasnya pelan


"Tenang"


Daffa menepuk pelan pundaknya membuat Devano mengangguk seraya tersenyum.


"Sebentar lagi kita sampai Devano." Kata Fahisa


Devano merasa jantungnya berdetak semakin cepat, sebentar lagi hanya sebentar lagi Adara akan menjadi miliknya, dia akan memiliki gadis yang sangat dia cintai itu sepenuhnya.


Tersenyum lebar Devano berusaha menghilangkan rasa gugupnya begitu mobil yang dia tumpangi berhenti.


"Ayo turun." Kata Daffa


Devano mengangguk dia turun dari dalam mobil dan melangkah masuk bersama dengan kedua orang tua yang menggandeng tangannya.


Matahari pagi masih terlihat begitu cerah seolah ia ikut berbahagia dengan hari pernikahan Devano dan Adara.


"Adara sudah di jalan sebentar lagi mereka akan sampai." Kata Fahisa berbisik pelan di telinga anaknya


Devano menghela nafasnya lagi dia sangat gugup sekali.


Astaga kenapa bisa segugup ini padahal dia selalu bersemangat dan tidak sabar menantikan hari bahagia ini?!


Tenanglah jantung Devano bahkan Adara belum datang, tapi kamu sudah secepat ini berdetak.


°°°°


Ada satu hal yang membuat Adara sedikit sedih di hari pernikahannya dan itu adalah tidak ada Bunda di sampingnya padahal Adara selalu berharap jika sang Bunda akan selalu menemani dia di setiap hal penting yang Adara lakukan. Meskipun ada Juan serta Hellena yang menemani Adara untuk pernikahannya, tapi Adara masih merasa ada yang kurang.


Seandainya Bunda masih hidup dia pasti akan sangat bahagia apalagi ketika tau bahwa Devano yang menikah dengannya, Adara benar-benar rindu. Menghela nafasnya pelan Adara menoleh kala sang Ayah mengusap tangannya yang di genggam lalu tersenyum.


"Anak Ayah udah besar ya? Dia sebentar lagi akan menjadi milik suaminya." Kata Juan


Adara hanya tersenyum mendengarnya, saat ini mereka sedang melangkah masuk dan jantung Adara berdetak sangat cepat kala dia melihat keluarga Devano serta teman-teman mereka yang sudah berada di tempat. Jantungnya semakin berdetak tak karuan ketika matanya menangkap sosok Devano yang terlihat begitu tampan tengah berdiri sambil menatapnya.


Tatapan mata itu penuh dengan cinta Devano menatapnya seolah dia adalah wanita yang begitu spesial. Langkah kakinya semakin dekat mereka hampir bertemu dan Adara semakin gugup tangannya sedikit berkeringat, tapi genggaman yang Hellena juga Juan berikan membuatnya merasa sedikit tenang.


Satu tangan Devano terulur kala mereka saling berhadapan dan kedua orang tuanya itu melepaskan tangannya membuat Adara menyambut uluran tangan Devano. Setelahnya Adara bergabung bersama dengan Devano dan dia tersenyum kala mata mereka bertemu.


Kupingnya memerah ketika Devano memujinya.


"Cantik banget"


Serangkaian acara pernikahan di lakukan dengan penuh kebahagiaan bukan hanya untuk kedua pengantin, tapi juga untuk semuanya bahkan Fahisa sampai menangis melihatnya.


Waktu terus berjalan dengan rangkaian acara yang telah selesai di lakukan dan sekarang saat nya untuk Devano memakaikan cincin untuk Adara yang sudah resmi menjadi istrinya.


Begitu cincin sudah melingkar manis di jari keduanya Devano mendekat dan mempersempit jarak di antara mereka lalu memberikan ciuman hangat di kening istrinya membuat suasana yang hening menjadi penuh dengan suara tepuk tangan.


Adara tidak menyangka dia akan sampai di titik ini bersama dengan Devano.


°°°°


"Anak kita semua sudah menikah Mas"


Perkataan itu membuat Daffa menoleh dan menatap Fahisa yang mengusap air matanya membuat dia langsung mengusap punggung istrinya dengan sayang juga memberikan ciuman di kepalanya. Benar sekali anak mereka sudah menikah sekarang Daffa dan Fahisa sudah menikahkan ketiga anak mereka.


Sungguh keduanya merasa bahagia karena masih tetap bersama hingga bisa menyaksikan ketiga anaknya menikah dan keduanya berharap mereka akan tetap bersama hingga anak-anaknya memberikan mereka cucu yang lucu seperti Sahara. Dari tempatnya berdiri Fahisa menatap Devano yang dengan senyuman penuh arti, dia ingin menangis melihat anak laki-lakinya itu kini sudah menikah.


"Hey jangan menangis nanti make up kamu luntur." Canda Daffa


"Mas kamu tuh ya?" Kata Fahisa kesal


Daffa tertawa dia mencium lagi puncak kepala Fahisa dan kali ini membuat istrinya tersenyum.


"Setelah ini aku akan mengajari Devano sedikit demi sedikit masalah perusahaan." Kata Daffa


Fahisa bergumam pelan lalu bersandar pada lengan sang suami.


"Devano akan pergi kemana untuk tiga hari ke depan?" Tanya Fahisa


"Dia minta ke villa padahal aku menawarkan dia untuk liburan ke Bali atau tempat lain, tapi Devano bilang dia mau ke villa saja dan nanti mereka sendiri yang akan berlibur di sana." Kata Daffa


"Biarkan saja." Kata Fahisa


"Iya sayang"


"Setidaknya Devano akan tetap tinggal bersama kita aku tidak bisa membayangkan kalau hanya kita berdua yang tinggal di rumah besar kita." Kata Fahisa


"Tidak masalah kita bisa leluasa aw iya maaf." Kata Daffa sambil tertawa


Ah sampai sekarang kedua pasangan itu masih saja suka mengumbar kemesraan bahkan di pernikahan anak sendiri.


°°°°


Devano memasang wajah sebalnya begitu Alex bersama dengan Cessa berniat menghampiri mereka bahkan wajah pria itu sudah terlihat tengil, pasti mau meledeknya. Di tempatnya Adara juga melihat, tapi berbeda dengan Devano dia malah tersenyum senang.


Kedua orang yang dulu sering bertengkar ini datang bersamaan dengan tangan Alex yang melingkar manis di pinggang Cessa. Sekarang mereka terlihat begitu serasi semoga saja akan cepat menyusul keduanya untuk menikah.


"Eitss udah nikah aja nih." Kata Alex


Devano berdecak pelan ketika Alex memeluknya, tapi Adara dan Cessa justru tertawa melihatnya.


"Selamat Dardara." Kata Alex


Pria itu berniat memeluk Adara juga, tapi Devano langsung menahannya membuat Adara memasang wajah kesalnya berbeda dengan Adara yang tersipu malu.


"Besok cerita sama gue Van." Kata Alex


"Cerita apa?" Tanya Devano tidak mengerti


"Malam pertama Van"


"Brengsek lo Lex." Kata Devano pelan


"Haha jangan lupa ya Van cerita." Kata Alex lagi


"Kalau ini bukan lagi pernikahan lo udah gue hajar." Kata Devano


"Van jangan gitu." Kata Adara membuat Devano menghela nafasnya pelan


"Cepet nikah lo sama Cessa." Kata Devano


"Iya besok ya Sa?" Kata Alex sambil menatap Cessa yang mendengus pelan mendengarnya


"Matamu"


Adara tertawa lalu menatap keduanya yang setelah mengucapkan selamat berjalan menjauh karena masih banyak orang yang mau menemui sang pengantin.


Astaga hari ini sangat membahagiakan untuk semua orang.


°°°°


"Vanoooo udah nikah"


Devano tersenyum ketika Devina bersama dengan Ziko naik ke atas untuk menemui mereka berdua setelah Devina terus merengek pada Ziko agar mereka menghampiri kembarannya. Senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna dia memeluk Devano dan Adara secara bergantian, tapi ketika memeluk Adara dia tidak langsung melepaskannya.


Sekarang Devina sangat senang karena kembarannya itu sudah menikah dengan wanita yang Devano cintai. Mereka berdua sudah sama-sama memiliki pasangan hidup yang mereka cintai.


"Dari tadi ribut terus katanya mau ngobrol sama lo Van." Kekeh Ziko


Devina tersenyum dia melepaskan pelukannya lalu menatap Adara yang juga tersenyum padanya.


"Adara aku titip Devano ya? Dia sayang banget sama kamu hehe nanti kalau malam dia pasti minta kamu peluk terus." Kata Devina


Senyuman Devina terlihat sangat tulus tatapan matanya juga membuat Adara tersentuh melihatnya.


"Kalau ada apa-apa Adara kasih tau aku ya?" Kata Devina lagi


"Iya Vin"


Devina terdiam sejenak dia terlihat seperti ingin menangis membuat Adara kembali memeluknya.


"Kok malah kamu yang nangis Vin?" Kekeh Adara


"Vina nangis karena senang." Kata Devina


Melepaskan pelukannya Devina menghapus air matanya sebentar lalu menanyakan hal yang membuat mereka tertawa mendengarnya.


"Make up aku enggak luntur kan?"


Ya ampun kembarannya itu sangat lucu.


°°°°


Tamu yang datang sudah mulai berkurang kini Devano bersama dengan Adara bisa duduk tenang sambil menunggu tamu lain yang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat. Ada banyak sekali tamu terutama rekan kerja Daffa yang Devano sendiri tidak mengenalnya.


Sekarang Devano bisa leluasa melihat Adara dari samping istrinya itu terlihat sangat cantik ah Devano senang sekali bisa menyebut Adara sebagai istrinya. Matanya terus menatap Adara yang sejak tadi menatap lurus ke depan hingga kini memijat pelan kakinya.


"Pegal ya?" Kata Devano


"Em sedikit Van dari tadi berdiri terus." Kata Adara sambil tersenyum


"Masih dua jam lagi baru acaranya selesai." Kata Devano


"Iya Van"


"Kamu cantik banget Ra." Kata Devano


"Kamu juga ganteng banget." Kata Adara


"Aku mau cium kamu." Kata Devano tiba-tiba


"Ehh"


"Mau cium bibir kamu Ra." Kata Devano dengan santainya


"Van nanti ada yang dengar." Kata Adara malu


"Aku cium ya? Kan udah boleh." Kata Devano


"Van ini masih banyak orang." Kata Adara pelan


"Enggak papa kan udah nikah, janji enggak bakal bikin lipstik kamu berantakan." Kata Devano


"Vann"


Seolah tidak mendengar Devano mendekatkan wajahnya dia semakin mendekat, tapi suara Alex membuatnya berdecak kesal.


"VAN SABAR VAN SABAR"


Devano menatapnya dengan tajam, tapi dia sedikit canggung ketika banyak mata menatap ke arahnya karena suara Alex yang sangat keras.


Bahkan Daffa sampai menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah anaknya.


Ah sudah terlanjur di lihat juga tidak masalah Devano akhirnya mendekat lagi dan mencuri ciuman singkat di bibir Adara.


"MASIH RAME VAN"


Adara diam membeku dia merasa malu dan langsung menunduk berbeda dengan Devano yang merasa senang.


Astaga masih banyak orang saja sudah begini, bagaimana jika hanya berdua?!


°°°°


INI KAN YANG SELAMA INI KALIAN TUNGGU?


Next part jangan di baca enggak boleh😭 Update kapan yaa?


Malem aja deh kayaknya yaaa🌚